
🌹HAPPY READING🌹
Kursi roda Zahra menyentuh tanah tempat baru yang dia datangi. Zahra menggeliat melepas penat akibat penerbangan yang memakan waktu lebih kurang sepuluh jam.
Zahra mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang akan menjadi temannya disini.
"Zahra," panggil suara lembut dari sebelah Zahra.
Zahra menoleh dan tersenyum dibalik cadarnya. Ya, Zahra memutuskan menggunakan cadar untuk tinggal di tempat barunya. Cadar yang dia pakai saat di pesawat tadi menambah aura kecantikan yang terpancar dari mata indah milik Zahra. Jika nanti kembali ke Indonesia, mungkin Zahra akan melepas kembali.
"Umi Yana," ucap Zahra mengingat sebuah nama yang disebutkan oleh Dee sebelum mereka berangkat kesini.
Wanita tersebut mengangguk membalas sapaan Zahra. "Selamat datang di Yaman, Zahra," ucap Umi Yana.
"Terimakasih, Umi Yana," jawab Zahra.
Yana merupakan salah seorang teman Dee yang berasal dari Indonesia. Dia memutuskan tinggal di negara Yaman mengikuti Almarhum suaminya. Meskipun suaminya sudah meninggal, tapi Yana memilih untuk tetap tinggal di negara ini. Banyak kenangan indah serta kenyamanan yang dia dapatkan disini.
"Siap untuk perjalanan berikutnya, Zahra?" tanya Yana memposisikan dirinya di belakang kursi roda Zahra.
Zahra mengangguk dan tersenyum. "Siap Umi," jawab Zahra.
Yana mendorong kursi roda Zahra dari belakang, sedangkan Zahra mendorong koper di depannya. Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang sesungguhnya.
Delapan jam lima puluh sembilan menit, Yana dan Zahra sampai di sebuah kota yang di juluki Al-Ghaza atau tempat yang subur. Ya, inilah pilihan Zahra. Tempatnya para bidadari Bumi. Tempatnya pada wali Allah berada, dan tempat dimana kedamaian itu akan ia dapatkan. Tarim, salah satu kota yang ada di Hadhramaut ini menjadi pilihan Zahra.
Selamat datang ketenangan, selamat tinggal luka. Batin Zahra memandangi sekelilingnya.
Zahra dan Yana sampai di sebuah rumah sederhana. Namun terasa sangat nyaman untuk Zahra. Disini, mereka hanya akan tinggal berdua, karena Yana tidak memiliki saudara lain ataupun seorang anak. Oleh karena itu, saat Dee mengatakan bahwa salah satu anaknya akan kesini, dengan senang hati Yana menerimanya. Kehadiran Zahra menambah harinya yang tadi hanya sepi, kini memiliki teman untuk saling bertukar cerita.
"Maaf jika Zahra merepotkan, Umi," ucap Zahra tak enak pada Yana.
Yana tersenyum dibalik cadarnya. Wanita itu membuka cadarnya dan bersimpuh di hadapan Zahra. Zahra terkesima melihat wajah cantik Yana yang nampak sangat alami. Kulit putih dengan pipi yang kemerahan alami.
"Umi Yana cantik sekali," ucap Zahra yang masih menggunakan cadar.
Yana tersenyum. "Terimakasih Zahra. Tidak ada wanita yang terlahir jelek. Kita semua adalah ciptaan Allah yang paling sempurna," ucap Yana lembut.
Tidak hentinya Zahra bersyukur, Ya Allah. Engkau selalu menghadirkan orang-orang baik dalam kehidupan Zahra. Terimakasih, Ya Allah. Bagi. Zahra bersyukur atas segala kebaikan Sang Pencipta kepadanya.
"Dan satu lagi, Zahra tidak merepotkan. Anggap Umi Yana sama seperti Umi Dee," lanjut Yana ramah.
Zahra mengangguk. "Terimakasih, Umi," jawab Zahra lembut.
Pandangan Zahra terhenti ketika matanya tak sengaja melihat sekitar sepuluh orang wanita bercadar di belakang rumah Yana.
"Mereka siapa, Umi?" tanya Zahra.
"Mereka adalah pekerja di ladang, Nak," jawab Yana.
"Apa mereka tidak capek dan kepanasan, Umi? Kenapa tidak suami mereka yang bekerja disana?" tanya Zahra penasaran.
"Masya Allah, tidak ada yang lebih mulia dari pada semua itu, Umi," ucap Zahra kagum.
Yana mengangguk menyetujui perkataan Zahra. "Dan apa Zahra tahu, pertengkaran dan kemarahan antara suami dan istri sangat dihindari disini. Jika suami marah, maka mereka akan menulis surat untuk sang istri, dan setelah itu mereka akan tidur untuk meredakan emosinya atau ke mesjid untuk beristigfar," ucap Yana.
Zahra terdiam mendengar penuturan Yana. Setelah itu dia menatap dalam mata Yana. "Apa wanita cacat seperti Zahra bisa merasakan keindahan berumah tangga seperti itu, Umi?" tanya Zahra pelan.
"Zahra, Umi Yana memang tidak tahu apa yang terjadi pada Zahra. Tapi satu hal yang harus Zahra ketahui, Allah tidak akan memberikan kita ujian dibatas ambang kesanggupan kita, Nak. Allah akan selalu menunjukkan jalan terbaik untuk setiap permasalahan hidup kita," ucap Yana lembut memberi pengertian kepada Zahra.
Zahra mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Yana. "Zahra pernah menolak takdir Allah, Umi. Dan itu sangat merugikan hidup Zahra. Zahra menyesal telah dengan beraninya mempertanyakan kehadiran Pencipta kita. Tapi sekarang satu hal yang Zahra percaya, dimanapun Zahra berada, Allah selalu bersama Zahra, Umi. Dia tidak pernah meninggalkan Zahra barang sedetikpun. Karena itulah Zahra kuat menghadapi rumah tangga Zahra," lanjut Zahra dalam hati.
"Jangan pernah tinggalkan Allah dan Al-Qur'an, Nak. Karena itu adalah teman setia kita nantinya," ucap Yana.
"Kalau begitu kita letak barang Zahra di kamar, ya," ucap Yana mengajak Zahra ke kamar yang sudah dia sediakan, dan langsung disetujui oleh Zahra.
.....
"Apa kau mendapatkan sesuatu?" tanya Kenzo pada Arman.
Kini mereka berdua berada di bandara untuk mengecek setiap penumpang yang melakukan penerbangan kemarin.
Arman menggeleng menjawab pertanyaan Kenzo. Sudah berbagai cara dia lakukan untuk membujuk petugas Bandara, namun nama Zahra memang tidak ada disana.
"Abi Ibra melakukan semuanya dengan sangat mulus. Benar-benar tidak ada jejak untuk mengetahui kemana Zahra," ucap Kenzo frustasi mengusap rambutnya kebelakang kepala.
Kenzo dan Arman mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu yang ada disana. Sudah dua jam mereka mencari, namun tidak mendapatkan hasil.
"Boleh saya bertanya, Tuan?" ucap Arman.
Kenzo menoleh dan mengangguk. "Apa?" ucap Kenzo.
"Bukankah waktu itu saya memberikan informasi mengenai Nyonya Zahra pada pagi hari?" tanya Arman.
Kenzo mengangguk. "Lalu?" ucapnya bingung.
"Tuan sudah mengetahui kebenaran, mengapa tidak langsung menemui Nyonya Zahra dan meminta maaf?" tanya Arman.
Kenzo terdiam. Dia memandang lurus ke depan mengingat kebodohannya itu. "Aku pikir, dengan aku mempersiapkan semuanya terlebih dahulu, Zahra akan senang dan memaafkan aku," ucap Kenzo sendu.
"Tidak ada penundaan dalam urusan hati, Tuan. Hanya ada dua kemungkinan jika anda menundanya. Dia diambil oleh lelaki lain yang lebih bertanggung jawab, atau dia akan pergi dengan kebahagiaan yang dia ciptakan sendiri. Sedangkan Tuan, penyesalan selalu hinggap disini, Tuan," ucap Arman berani menunjuk dada Arman bagian kiri.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz