
🌹HAPPY READING🌹
Ibra membelakangi mereka semua dan menghapus buliran kristal yang membasahi pipinya. Maafkan Abi, Nak. Abi menyayangimu. Tapi hati Abi masih sangat sakit. Abi tidak menyalahkan mu. Tapi maaf, melihatmu mengingatkan Abi pada Sofia dengan segala kejahatannya. Ini sesak sekali, Nak. Maafkan Abi. Batin Ibra benar-benar terluka akan semuanya.
Zahra menghapus air matanya dan mencoba menghentikan tangisnya. Dengan tertatih dan sekuat tenaga, Zahra mencoba untuk berdiri.
"Kakak," ucap Kina menahan tangan Zahra.
Zahra melepaskan tangan Kina dan dan juga Dee yang ikut menahannya. Setelah terlepas, Zahra berjalan mendekati Ibra.
"Abi," panggil Zahra lembut dengan suara bergetar. Dia sudah tidak ingin menangis, tapi ada daya, melihat wajah Ibra membuat air mata itu menetes tanpa henti.
"Jika memang bukan anak Abi, lalu siapa Ayah Zahra? Kenapa Abi benci Zahra? Apa karena Zahra anak Bunda Sofia?" ucap Zahra menanyakan penyebab kebencian Ibra padanya.
Kenzo yang mendengar pertanyaan Zahra langsung mendekati Zahra. "Ayo kita ke kamar saja, Sayang," ucap Kenzo memegang kedua bahu Zahra.
Zahra menggeleng dan melepaskan tangan Kenzo dari bahunya. "Semuanya harus jelas, Mas," ucap Zahra.
"Jawab, Abi. Mengapa Abi membenci Zahra? Dan siapa Ayah kandung Zahra?" tanya Zahra menuntut.
"Kamu adalah anak panti asuhan yang diambil oleh Sofia. Kamu digunakan sebagai alat balas dendam oleh Sofia untuk membuat luka hati anak dan istriku," jawab Ibra dengan pandangan lurus menghindari tatapan Zahra.
Zahra memejamkan matanya mendengar pengakuan Ibra. "Satu hal yang Zahra syukuri, Abi," ucap Zahra menjeda perkataanya. "Setidaknya, darah Sofia tidak mengalir dalam tubuh Zahra," lanjut Zahra menatap Ibra.
"Lalu kenapa Zahra yang dibenci Abi? Bukankah ini salah Bunda Sofia? Kenapa Zahra yang harus menerima semuanya?" tanya Zahra menatap Ibra sendu.
"Bunda Sofia yang jahat. Demi Tuhan, Zahra tidak pernah berniat jahat, Abi. Zahra tidak pernah tahu rencana Bunda Sofia. Tapi kenapa sekarang Abi benci sama Zahra? Kenapa Abi? JAWAB ZAHRA ABI?!" ucap Zahra dengan suara meninggi diakhir katanya.
"Karena keberadaan kamu dan Sofia memberi luka untuk anak dan istriku!" jawab Ibra tegas. Tapi tetap saja, Ibra tidak bisa menatap Zahra yang sudah kembali menangis di depannya.
"Tapi bukan keinginan Zahra untuk menjadi seorang anak di dunia ini, Abi. Bukan keinginan Zahra untuk di ambil oleh Bunda Sofia di panti asuhan. Bukan keinginan Zahra, hiks," ucap Zahra menangis mencoba memberi penjelasan kepada Ibra.
"Zahra terima, Zahra terima jika Ara bukan anak Abi. Tapi tolong," Zahra menjeda ucapannya dan mengatupkan kedua tangan di dada memohon kepada Ibra. "Jangan benci Zahra, Abi, hiks," lanjut Zahra menangis di depan Ibra.
"Zahra, Nak," panggil Dee memeluk Zahra dari belakang.
"Bagaimana Ara bisa hidup dengan kebencian dari Abi. Ara butuh Abi, Ara mohon Abi," ucap Zahra tanpa menghiraukan Dee.
Ibra menolehkan kepalanya menatap Zahra. Sungguh, hati Ibra sakit melihat Zahra yang seperti ini. Bukan ini yang dia inginkan, tapi ego dan pikiran menguasainya saat ini.
"Umi, tolong bicara sama Abi. Jangan benci Ara, Umi," ucap Zahra menatap Dee.
Dee mengangguk dengan dagu bergetar menahan tangisnya. Zahra, wanita yang sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri kini harus memohon untuk kasih sayang seorang Ayah.
"Mas, jangan membuat seorang anak memohon kasih sayang pada kita, Mas. Itu sudah kewajiban kita sebagai orang tua. Jangan sampai kita melukai hatinya dan menjadi orang tua yang durhaka, Mas. Tidak salah jika kita memberitahu Zahra yang sebenarnya, tapi turunkan ego dan gunakan sedikit hati kamu, Mas. Bagaimanapun, dia tetap anak kit," ucap Dee.
"Iya Abi. Kak Zahra tetap Kakaknya Adek. Mau ada hubungan darah atau tidak, Kak Zahra tetap anak tengah dari keluarga ini," ucap Kina ikut membetulkan apa yang dikatakan oleh Uminya.
Tanpa sepatah katapun, Ibra berbalik dan pergi meninggalkan mereka semua menuju kamarnya.
"Abi. Abi, jangan benci Ara, Abi. Jangan benci Zahra!" ucap Zahra yang mencoba mengejar Ibra. Namun ditahan oleh Dee.
"ABI MENGAJARKAN SEMUANYA SAMA ARA. TAPI ABI LUPA, ABI TIDAK MENGAJARKAN ARA UNTUK BAGAIMANA HIDUP TANPA KASIH SAYANG ABI. ARA MOHON ABI, ABI HARUS TANGGUNG JAWAB. ABI TIDAK BISA BENCI ARA SEPERTI INI, ABI, HIKS!" ucap Zahra berteriak memanggil Ibra.
"Hiks, Abi jangan benci Ara," ucap Zahra lemah dengan tubuh yang luruh ke lantai.
"Umi, hiks," panggil Zahra pada Dee yang memeluknya.
"Bagaimanapun, Zahra tetap anak Umi. Adik dari Al, dan kakak dari Kina," ucap Dee.
Dee menatap Kenzo, meminta agar membawa Zahra ke kamar sekarang.
"Al, ikut Uncle ke tempat Sofia. Aska, Thomas, kalian juga," ucap Kevin yang langsung dianggukki oleh mereka bertiga.
"Bujuk Ibra, Dee. Dia hanya butuh waktu," ucap Kevin pada Dee sebelum pergi meninggalkan ruang keluarga.
"Umi," panggil Al.
"Jangan marah pada Abi. Bicara baik-baik ya, Umi. Al mengerti, Al juga marah, tapi kita harus saling mengerti dalam kondisi seperti ini," ucap Al pada Dee.
Dee mengangguk. "Pergilah, Nak," ucap Dee pada Al.
Kevin, Al, Aska dan Thomas pergi meninggalkan ruang keluarga untuk segera ke tempat penyekapan Sofia.
"Bella, Kina, kalian urus Shasa dan Sela, ya. Umi harus bicara dulu sama Abi," ucap Dee.
"Iya Umi," jawab Bella dan Kina patuh.
.....
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Dee tidak melihat Ibra yang duduk di ranjang dengan posisi membelakanginya. Dapat Dee lihat, Ibra menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
"Mas," panggil Dee lembut.
"Aku tidak benci Zahra, tapi aku hanya belum bisa menerima," ucap Ibra tanpa berbalik.
Dee duduk di sebelah Ibra dan membawa Ibra ke dalam pelukannya. "Mana janji suami Dee yang akan bersama dengan masa lalu? Suami Dee tidak cengeng seperti ini," ucap Dee menghibur Ibra.
"Kita akan bicarakan ini baik-baik, Mas. Mas mau kan?" tanya Dee lembut.
Ibra mengangkat kepalanya dan menatap Dee. Lelaki itu nampak mengangguk menjawab pertanyaan Dee. "Jangan marahi aku," ucap Ibra sendu.
Dee mengangguk dan kembali memeluk Ibra. Sungguh, melihat Ibra yang seperti ini membuatnya sakit sekaligus sedih.
.....
Sedangkan di kamar lain, Kenzo menenangkan Zahra yang masih sesegukan di dalam pelukannya. "Sayang," panggil Kenzo lembut.
Zahra mendongak menatap Kenzo dengan mata sembabnya. "Aku orang asing," ucap Zahra sendu.
Kenzo menggeleng. "Kamu bukan orang asing. Kamu istriku, keluargaku, Ibu dari anakku. Kamu anak dai Umi Dee, Abi Ibra dan Ayah Kevin. Jangan lupakan Mama dan Papa, Sayang. Kamu bukan orang asing," ucap Kenzo meyakinkan Zahra.
"Tapi Abi membenciku," ucap Zahra.
Kenzo menggeleng. "Bukan, Sayang. Abi hanya butuh waktu, kita akan bicara baik-baik nanti," jawab Kenzo memeluk erat Zahra.
"Mas," panggil Zahra lirih.
"Iya, Sayang," jawab Kenzo.
"Pertemukan aku dengan Bunda Sofia."
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗