Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 189



🌹HAPPY READING🌹


Lima haripun berlalu. Kini Zahra dan Kenzo sudah sampai dirumah sakit untuk memeriksakan kandungannya. "Semoga anak kita sehat ya, Mas," ucap Zahra mengusap perut lembutnya.


"Aamiin," jawab Kenzo tulus. Tangannya merangkul posesif pinggang sang istri. Seolah menunjukkan bahwa wanita disebelah ini adalah miliknya dan tak bisa diganggu gugat.


"Assalamu'alaikum," ucap Zahra dan Kenzo begitu memasuki ruang pemeriksaan.


"Waalaikumsalam. Silahkan duduk Pak Kenzo dan Bu Zahra," jawab Dokter itu sopan.


Zahra tersenyum, sedangkan Kenzo hanya mengangguk. Mereka berdua duduk di kursi berhadapan dengan Dokter. "Kita bertemu lagi dengan jadwal yang sama ya, Bu, Pak," ucap Dokter tersebut.


"Iya Dokter. Apa kita bisa langsung periksa?" tanya Kenzo.


"Tentu," jawab Dokter itu dan berdiri. Zahra dan Kenzo ikut berdiri. Mereka berjalan menuju kasur.


"Silahkan berbaring, Bu Zahra," ucap Dokter.


Zahra menurut dan berbaring dibantu oleh Kenzo. Dokter menyingkap gamis Zahra hingga ke perut untuk mengusapkan gel pemeriksaan kandungannya. Beruntung Zahra memakai leging, jadi kulit kakinya masih tertutup.


Setelah selesai mengoles kan gel itu, Dokter menempelkan alat di perut Zahra.


Beberapa detik setelah dokter menempelkan alat itu, Kenzo dan Zahra dapat mendengar suara detak jantung dari layar monitor. Mereka juga melihat janin yang sudah mulai terbentuk.


"Masya Allah, Mas," ucap Zahra terharu.


Kenzo mengangguk dan mencium dahi Zahra. Dia juga terharu. Untuk pertama kalinya, dia mendengar langsung detak jantung calon anak mereka. Dalam relung hati terdalamnya, terdapat penyesalan karena saat hamil Sela dulu, dua tidak dapat merasakan hal ini karena kesalahannya. Ada rasa bersalah yang ternyata besar kepada anaknya itu.


"Apa bapak dan Ibu mau lihat jenis kelaminnya?" tanya Dokter.


Zahra dan Kenzo sama-sama menggeleng. "Biar nanti jadi kejutan, Dokter," ucap Zahra yang disetujui Kenzo. Karena mau laki-laki ataupun perempuan, ini adalah anak mereka.


"Anak Ibu dan Bapak tumbuh dengan sangat baik. Dia sangat mengerti dengan keadaan ibunya," ucap Dokter setelah selesai.


Zahra kembali duduk dan dibantu turun dari kasur oleh Kenzo untuk kembali duduk di kursi.


"Apa Ibu masih merasakan nyeri atau keram seperti kemarin-kemarin ini, Bu?" tanya Dokter pada Zahra.


"Sudah tidak, Dokter," jawab Zahra jujur. Karena memang setelah memakan vitamin yang diresepkan dokter, nyeri dan keram itu memang sudah tidak dia rasakan.


"Kalau bercak darah?" tanya Dokter lagi.


"Enggak juga, Dokter," jawab Zahra.


"Alhamdulillah. Kandungan Ibu Zahra sudah tidak selemah sebelumnya. Tapi, Ibu harus tetap istirahat yang cukup dan pola makan yang benar ya, Bu," ucap Dokter.


"Boleh saya bertanya, Dokter?" tanya Kenzo.


"Silahkan, Pak," jawab Dokter tersebut.


"Apa istri saya diperbolehkan untuk melakukan perjalan melalu transportasi udara?" tanya Kenzo.


"Begini Pak, Bu. Bukannya saya melarang, tapi saya harap Bapak dan Ibu harus bersabar dulu hingga kehamilan Ibu Zahra memasuki usia enam belas Minggu, Pak. Saya hanya takut terjadi apa-apa, mengingat kandungan Bu Zahra pernah bermasalah," jawab Dokter tersebut.


"Sayang," panggil Kenzo menatap Zahra yang nampak sedikit kecewa.


"Tidak apa-apa, Mas," jawab Zahra dengan senyumnya. Dia tidak mau membuat Kenzo khawatir, dan dia harus mengikuti saran Dokter demi dia dan anaknya.


"Saya akan resep kan vitamin seperti biasa untuk Bu Zahra. Tapi maaf, Pak, Bu, kebetulan stok vitamin kehamilan yang saya resep kan untuk Bu Zahra habis. Jadi Ibu dan Bapak bisa membelinya di apotik luar rumah sakit," ucap Dokter dengan sedikit tak enak.


"Tidak apa-apa, Dokter. Itu tidak masalah," jawab Ke zo menerima kertas berisi resep itu dari Dokter.


"Kalau begitu kami permisi, Dokter," ucap Zahra pamit.


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


.....


"Sayang, aku turun sebentar untuk beli vitamin, ya," ucap Kenzo yang ternyata sudah memberhentikan mobilnya di depan apotik.


"Iya Mas. Aku nggak turun, ya," ucap Zahra.


Kenzo mengangguk.


"Cup. Aku tidak akan lama," ucap Kenzo dan keluar mobil setelah mengecup dahi Zahra.


Kenzo turun dari mobil dan memasuki apotik yang sedikit ramai itu. "Saya mau membeli ini," ucap Kenzo menyodorkan resep Dokter tadi.


"Sebentar, ya Pak," jawab pelayan apotik.


Tidak lama, pelayan itu kembali dengan membawa apa yang diminta Kenzo. "Ini, Pak. Semuanya dua ratus lima puluh ribu," ucap Kenzo dan langsung mengeluarkan uangnya sejumlah yang disebutkan pelayan itu.


Setelah selesai, Kenzo berjalan keluar apotik. Saat akan masuk mobil, langkah Kenzo terhenti melihat seseorang yang tidak asing menurutnya. Kenzo hanya bisa tersenyum. "Istriku benar-benar ratu," gumam Kenzo.


.....


"Sayang," panggil Kenzo pada Zahra. Kini mereka sudah sampai di rumah. Zahra meminta untuk langsung diantar pulang karena ingin istirahat.


"Kamu nggak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Kenzo.


Zahra mengangguk dan tersenyum. "Mas kembali lah ke kantor. Aku akan dirumah sendiri. Sebentar lagi juga Sela akan pulang sekolah diantar Kina," jawab Zahra.


Kina, Shasa dan Aska memang sudah kembali dari Padang kemarin siang.


"Aku antar kamu ke kamar dulu, ya," ucap Kenzo dan langsung mengangkat tubuh Zahra dan membawanya ke dalam rumah.


Zahra yang berada di gendongan Kenzo menyembunyikan kepalanya di dada lelaki itu.


Kaki Kenzo satu persatu menyusuri tangga. Dia menatap Zahra sekilas ketika merasakan sedikit basah di baju bagian dadanya.


Setelah sampai di kamar, Kenzo menidurkan Zahra dari gendongannya. Namun ketika Kenzo hendak melepaskan tangan Zahra dari bahunya, wanita itu tidak mau melepaskannya.


"Sayang," panggil Kenzo pelan.


"Hiks," akhirnya tangis itu pecah dari mulut Zahra. Setelah mendengar penuturan Dokter yang tidak memperbolehkan dirinya pergi jauh, Zahra memang sudah menahan tangisnya.


Kenzo menghela nafas pelan. Dia ikut mendudukkan dirinya di kasur sebelah Zahra. "Kenapa Sayang?" tanya Kenzo lembut.


"Kangen Ayah. Hiks," ucapnya terisak. Memang, Zahra sangat merindukan lelaki yang sudah menjadi pahlawan dalam hidupnya itu. Meskipun tidak ada hubungan darah, tapi dia sangat mencintai lelaki yang dia panggil Ayah sedari kecil.


"Tahan sebentar, ya. Hanya tiga Minggu lagi, kita akan bisa bertemu Ayah," ucap Kenzo bijak. Emosi ibu hamil seperti yang harus Kenzo pahami. Kenzo harus lebih mengerti mengenai sikap Zahra yang manja dan gampang menangis.


"Sayang, Ayah juga pasti merindukan kita. Tapi Ayah tidak bisa kesini karena ada hal penting yang harus dia kerjakan disana," ucap Kenzo lembut membujuk Zahra agar tenang.


"Jikapun kita pergi, ayah pasti akan melarang. Dia pasti lebih memilih kesehatan calon cucunya ini," lanjut Kenzo.


"Mas," panggil Zahra pelan.


"Iya Sayang," jawab Kenzo lembut.


Zahra nampak ragu untuk bicara. Dia hanya menatap Kenzo dengan matanya yang masih berair.


"Kenapa Sayang? Katakanlah," ucap Kenzo lembut mengusap pipi Zahra.


"Apa Ayah dan Kak Kinzi benar-benar tidak bisa bersama?"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏