
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo membalik-balikkan badannya di Sofa. Sedangkan Zahra sudah terlelap dengan damainya di atas ranjang. Kenzo menatap kesal ke arah ranjang dimana tempat Zahra tidur. Perkataan Zahra terus terngiang dia benaknya.
Entah kenapa, mendengar Zahra pergi meninggalkannya membuat Kenzo merasa tidak rela jika itu terjadi.
"Apa yang kau pikirkan Kenzo. Itu tidak mungkin. Wanita cacat seperti itu tidak cocok untukmu," ucap Kenzo menyakinkan dirinya sendiri.
Kenzo menghembuskan nafasnya kasar. Dia bangkit dan mengubah posisi menjadi duduk di sofa dengan mata yang tak lepas dari Zahra.
Kenzo berdiri dan berjalan mendekati ranjang. Tangannya terulur memperbaiki selimut Zahra yang sedikit tersingkap.
"Aku akui kau cantik, Zahra. Sangat cantik, tapi sayangnya kau adalah adik dari Albarra," gumam Kenzo pelan.
"Maafkan aku, jika nanti aku menyakitimu begitu dalam, itu berarti tujuanku sudah tercapai. Kau boleh pergi kemanapun setelah itu. Tapi untuk saat ini, jangan harap kau bisa lepas dari genggamanku, Zahra," lanjut Kenzo.
Mata Kenzo beralih menatap setiap inci wajah Zahra dengan sangat lekat. Hidung yang kecil dan mancung, bibir pink alami dan tahi lalat tepat di dagu Zahra menambah kemanisan gadis ini.
Kenzo menggelengkan kepalanya mengusir pikiran kotor dari kepalanya. "Bisa-bisanya aku berpikir seperti itu saat seperti ini," ucap Kenzo memukul-mukul kepalanya sendiri.
Tapi hati Kenzo mengatakan hal yang berbeda dengan pikirannya. Mati-matian Kenzo menahan hasratnya untuk tidak melahap bibir mungil dan alami itu. Bibir Zahra yang sedikit terbuka membuat Kenzo semakin ingin melahapnya.
Kenzo berlari ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya tanpa melepas pakaiannya terlebih dahulu. Kenzo benar-benar butuh pendingin saat ini. Jika lama-lama dia di sana, sudah dipastikan Zahra akan kehilangan kesuciannya saat itu juga.
Zahra membuka matanya ketika mendengar langkah kaki memasuki kamar mandi. Zahra tahu apa yang terjadi pada Kenzo.
Saat Kenzo memperbaiki selimutnya, Zahra merasa terganggu. Hingga dia membuka sedikit matanya. Saat melihat Kenzo yang akan menatapnya, Zahra kembali memejamkan mata layaknya orang tidur. Senyum terbit di bibir gadis manis itu. "Ternyata Zahra bisa menggoda suami juga. Ini Ara baru tidur, bagaimana jika Ara pakai baju haram? Pasti Kak Ken langsung ileran deh, hihi," gumam Zahra sambil terkekeh pelan membayangkan apa yang terucap dari mulutnya.
"Kak Ken belum tahu aja, anak Umi dan Bunda ini nggak kalah menggoda tahu," lanjut Zahra bangga pada dirinya.
Takut ketahuan Kenzo jika dia pura-pura tidur, Zahra kembali memejamkan matanya. Melanjutkan mimpi yang sempat tertunda akibat Kenzo.
Pagi hari telah menjelang. Saat ini Zahra tengah sibuk membantu Melani di dapur untuk membuat sarapan. Setengah jam Melani dan Nana, serta dibantu oleh dua orang pelayan lainnya telah selesai membuat sarapan.
"Biar Zahra angkat ini ya, Ma?" ucap Zahra menunjuk nasi goreng yang sudah lengkap dengan sayur dan telur mata sapi.
"Tapi itu berat, Nak," ucap Melani takut. Nasi goreng itu masih panas, jika terkena Zahra bisa bahaya.
Zahra tersenyum. "Zahra bisa, Ma. Ini hal biasa buat Zahra," ucap Zahra kekeuh dengan tekadnya.
Melani mengangguk pasrah. Menantunya ini jika sudah ingin melakukan sesuatu, maka tidak bisa dicegah. Dan tentunya itu adalah hal yang baik untuk Zahra.
"Tapi hati-hati, ya," ucap Melani.
Zahra mengangguk. Pelayan membantu Zahra menyusun piring nasi goreng tersebut di atas nampan yang sudah dipegang Zahra.
"Terimakasih," ucap Zahra. Setelah itu dia menekan tombol pada kursi rodanya dengan perlahan menuju meja makan.
.....
Setelah sarapan, Kenzo memutuskan untuk langsung pergi dari rumah kedua orang tuanya. Lama-lama di sana bisa membuatnya bertambah kesal melihat Zahra yang begitu disayangi oleh Mama dan Papanya. Kini mereka berdua sedang berada di perjalanan menuju rumah.
"Em ... Kak Ken," panggil Zahra pelan.
Kenzo tidak menjawab, tapi dia menoleh ketika Zahra memanggilnya.
"Nanti siang, jam sebelas Zahra mau izin keluar, boleh nggak Kak?" tanya Zahra takut.
"Asal tidak membuat saya malu, silahkan!" ucap Kenzo dingin.
"Zahra izin pakai supir, ya Kak," ucap Zahra lagi.
"Ya," jawab Kenzo singkat.
"Terimakasih, Kak," ucap Zahra senang. Kenzo hanya diam tanpa berniat membalas perkataan Zahra.
Zahra terus memandangi Kenzo yang hanya fokus pada jalanan. "Jangan rusak wajah saya karena pandangan kamu!" ucap Kenzo tajam.
Zahra hanya tersenyum dan menggeleng. "Zahra cuma mau bilang, kalau hari ini Zahra ketemu sama Kina. Zahra ada janji sama Kina buat makan siang bareng," ucap Azahra. Dia sengaja mengatakan ini untuk melihat bagaimana ekspresi Kenzo ketika mendengar nama Kina.
Benar saja, Kenzo berubah lembut begitu mendengar Zahra mengucapkan nama wanita yang di cintainya. "Sampai kamu melukai Kina, dan mengatakan apa yang saya lakukan, jangan harap pernikahan Al dan istrinya akan bahagia," ancam Kenzo.
Zahra menggeleng cepat. "Zahra tidak akan melukai adik Zahra sendiri, Kak Ken. Apalagi dia adalah wanita yang sangat dicintai oleh suami Zahra, itu tidak mungkin. Dan Zahra tidak mungkin menyebar aib suami Zahra sendiri," ucap Zahra lembut namun terdengar sangat sendu di telinga Kenzo.
Entah kenapa, hatinya seolah tak tenang mendengar setiap kata-kata sendu yang keluar dari mulut Zahra. Tapi lagi-lagi egonya lebih tinggi dari apapun. Kenzo menepis itu dengan sangat keras.
"Sama seperti Kak Ken yang merelakan orang yang dicintai bahagia, dan memilih menikahi gadis lain untuk balas dendam, Zahra juga tidak mungkin menyia-nyiakan pengorbanan Kak Ken. Melukai Kina bukankah Zahra juga menyakiti hati Kak Ken?" tanya Zahra memandang Kenzo lekat.
Kenzo menoleh kepada Zahra. Dapat dia lihat raut sedih, terluka dan kecewa yang ada di mata Zahra. Setelah itu Kenzo kembali mengalihkan pandangannya karena mereka sudah sampai di rumah mereka.
"Turun!" ucap Kenzo dingin.
"Tapi Zahra-"
"TURUN ZAHRA!" bentak Kenzo.
Zahra menunduk mendengar bentakan Kenzo. "Kursi roda Zahra masih di belakang. Zahra nggak bisa kalau ngesot dari sini untuk masuk ke rumah," cicit Zahra menunduk takut.
Kenzo memukul kuat stir mobil mendengar perkataan Zahra. "Menyusahkan!" ucap Kenzo kesal lalu turun dan mengambil kursi roda Zahra yang ada di kursi belakang.
Kenzo meletakkan kursi roda tepat di depan pintu mobil tempat Zahra duduk. "Turun!" ucap Kenzo setelah membukakan pintu.
Zahra hanya mengangguk. Dalam keadaan seperti ini dia tidak berani untuk meminta Kenzo menggendongnya. Zahra menjatuhkan dirinya ke tanah terlebih dahulu. Setelah itu dia mendekatkan kursi roda kearahnya. Dengan segala kekuatan dan kepandaian yang Zahra miliki, dia berhasil menaiki kursi roda.
Kenzo yang melihat itu hanya diam dan kembali masuk mobil. Tanpa aba-aba lagi dia langsung menjalankan mobil dan pergi meninggalkan Zahra begitu saja.
Zahra menghela nafas pelan. "Mungkin nggak ya, waktu dimana Kak Ken akan mencintai Zahra itu akan tiba? Sepertinya mustahil sekali," gumam Zahra memandu gerbang rumah.
"Harus tetap usaha dan doa, Zahra! Zahra pasti bisa!" ucap Zahra menyemangati dirinya sendiri.
Setelah itu Zahra memanggil Satpam yang dari tadi melihat semuanya. "Pak, bisa bantu Zahra?" pinta Zahra dengan sedikit berteriak.
Satpam tersebut mengangguk dan segera berlari ke arah Zahra.
"Bapak melihat semuanya?" tanya Zahra ketika Satpam telah membantu menuju pintu rumah. Andai tidak ada tangga, pasti Zahra akan melakukannya sendiri.
"Jika tidak kuat, tinggalkan saja, Nyonya," ucap Satpam tersebut. Sudah dua kali dia melihat Zahra diperlakukan seperti oleh Kenzo. Tapi dia tidak berani bicara. Jika bicara, pekerjaannya akan terancam.
Zahra tersenyum dan menggeleng. "Dia suami Zahra, Pak, tolong jangan katakan pada siapapun. Sikapnya seperti tadi karena dia merasa kesal dengan Zahra. Biasanya juga Kak Ken akan gendong Zahra," ucap Zahra tersenyum lembut kepada Satpam tersebut.
"Nyonya adalah wujud dari sabar dan ikhlas yang sesungguhnya."
......................
Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘
Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗