Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 82



🌹HAPPY READING🌹


Tangan Kenzo dengan lihai membuka video yang tadi Arman kirimkan ke ponselnya.


DEG


Mata Kenzo memanas melihat semua ini. Kenyataan yang dimaksud Arman bahkan lebih mengerikan dari apa yang dia pikirkan. Ini terasa lebih menyakitkan dari apa yang dia bayangkan.


"Tidak mungkin," ucap Kenzo dengan tangan bergetar memegang ponselnya.


Kenzo melepas ponselnya. Dengan bergetar, tangan Kenzo tergerak untuk menyentuh perut bagian belakangnya. Pikirannya kembali teringat saat kejadian lima tahun lalu. Dimana hidup seorang Kenzo berada diambang Kematian. Kecanduan Alkohol dan rokok yang dia alami saat itu karena kehilangan Zahra yang dia ketahui meninggal karena bencana alam di kota Tarim, membuat Kenzo putus asa dan memilih untuk menghancurkan hidupnya sendiri. Penyesalan, kehilangan cinta yang saat itu dia rasakan membuat Kenzo benar-benar lupa diri.


"A-anakku," gumam Kenzo dengan suara seraknya.


"Akbar," ucap Kenzo pelan mengingat nama yang tadi dia dengar dari bibir Zahra melalui video tersebut.


"Ya Allah," ucap Kenzo dengan nafas tak beraturan menahan gejolak emosi yang memenuhi perasaanya saat ini. Rasa sesak kian menjalar di dada Kenzo. Seolah udara berhenti berhembus saat itu juga di dalam ruangan kerja Kenzo.


Sungguh, tidak bisa Kenzo bayangkan bagaimana perasaan Zahra saat itu. Seorang diri memikirkan biaya pengobatan Akbar, hingga harus menyerah. Dan Akbar kecil, dia memberi kehidupan baru untuk dirinya sendiri, yang merupakan Ayah kandungnya.


"Maafkan Ayah, Akbar. Maafkan aku, Zahra. Maafkan Ayah, Sela," gumam Kenzo pelan dengan penyesalan yang begitu besar menyeruak di relung hatinya. Ternyata benar, semakin lama, penyesalan bukannya hilang, namun dia semakin membesar. Sungguh, Kenzo mengutuk masa lalu kejam yang dia ciptakan sendiri.


"Andai waktu bisa diulang, Ya Allah. Aku mohon, kembalikan waktuku saat menikahi Zahra," ucap Kenzo kepada sang pencipta dengan segala sisa tenaganya.


Kenzo mengatur nafasnya yang tak beraturan


Dirasa sudah sedikit tenang, Kenzo segera memasang jas yang disangkutkan di sandaran kursinya dan segera pergi keluar ruangannya. Ada sesuatu yang harus dia pastikan saat ini. Jika ini benar, maka bisa dipastikan Zahra memang menghindarinya sejak dulu.


Dengan langkah panjang dan wajah yang sangat dingin. Kenzo berjalan keluar dari perusahaannya. Tapi sebelum pergi, Kenzo menyerahkan semua urusan perusahaan kepada Arman. Dan dengan patuh, Arman mengiyakan perintah Kenzo. Kenzo menaiki mobilnya yang tadi memang dia parkir diparkiran luar perusahaanya, yang memang khusus untuk petinggi perusahaan.


Dengan kecepatan penuh, Kenzo melajukan mobilnya kerumah sakit keluarga Hebi. Karena dulu, disana dia melakukan pengobatan atas penyakit ginjal yang dia derita.


"Bisa-bisanya kami semua tidak mengetahui mengenai ini, Zahra. Kamu benar-benar pintar menyembunyikan sesuatu. Tapi ini keterlaluan, Zahra. Ini keterlaluan!" ucap Kenzo marah memukul stir mobilnya. Dengan gas penuh, akhirnya Kenzo sampai di rumah sakit. Kenzo memarkirkan mobilnya sembarangan dan segera berlari menuju ruangan yang dia yakin pasti akan mendapat informasi yang dia inginkan.


BRAK


Dengan kasar Kenzo membuka ruangan seorang Dokter yang diketahui menangani penyakitnya dulu, sekaligus dia adalah Dokter pribadi Kenzo.


"Tidak bisakah kau sedikit sopan, Kenzo," ucap Dokter laki-laki paruh baya tersebut.


Tanpa menghiraukan perkataan Dokter tersebut, Kenzo langsung masuk dan duduk di kursi yang tersedia disana.


"Ada apa?" tanya Dokter tersebut setelah selesai memeriksa beberapa file pasien ditangannya.


"Siapa yang menjadi pendonor ginjal saya lima tahun lalu, Dokter?" tanya Kenzo tanpa basa-basi.


Dokter terdiam mendengar pertanyaan Kenzo. Pasalnya, ini pertama kali Kenzo bertanya mengenai siapa pendonor ginjalnya.


"Siapa Dokter?" tanya Kenzo lagi melihat Dokter dengan name tag Fahri di jas putih kebanggaannya.


Dokter Fahri menggeleng. "Itu hak pendonor untuk merahasiakan, Kenzo," jawab Dokter Fahri.


"Tapi saya membutuhkannya, Dokter," ucap Kenzo kekeuh dengan apa yang dia inginkan.


"Pelanggaran bagi rumah sakit, jika kami para Dokter membocorkan identitas pasien. Apalagi ini bukan pasien biasa. Dia adalah pendonor yang memang diberi ke istimewaan untuk itu Kenzo," jawab Dokter Fahri.


"Ini sangat penting, Dokter. Saya meminta kerja sama anda," ucap Kenzo sedikit tegas.


Dokter tersebut menggeleng menatap Kenzo. "Tidak bisa," jawab Dokter Fahri tegas.


"Om," panggil Fahri melemah melupakan bahwa Fahri adalah seorang Dokter. Kini dia menggunakan ikatan kekeluargaan yang mereka miliki.


"Kenzo mohon, Om," ucap Kenzo menangkup kedua tangannya di dada. Ya, bukan hanya Dokter pribadi, Fahri adalah adik dari Anggara, orang tua Kenzo. Yang otomatis, Fahri adalah Paman kandung Kenzo.


"Jika melakukan itu, Om akan melanggar peraturan rumah sakit, Kenzo," ucap Fahri.


"Kenzo akan bertanggung jawab. Ini rumah sakit Abi Ibra, Kenzo yakin Abi tidak akan marah," ucap Kenzo membawa nama Ibra.


Fahri menghela nafas pelan mendengar perkataan Kenzo. Anak ini pandai sekali memanfaatkan nama besar dan kekuasaan mertuanya. "Kenapa kamu membutuhkan identitas pendonor itu?" tanya Fahri.


Fahri menghela nafas pelan. Dia menyandarkan punggungnya sebentar ke sandaran kursi, setelah itu kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Kenzo lekat.


"Dia anak kamu, Kenzo," ucap Fahri yang mampu membuat jantung Kenzo benad-benar terasa akan lepas dari tubuhnya.


"Om," ucap Kenzo tak percaya.


Fahri mengangguk. "Lima tahun lalu, Ibu muda yang malang itu datang memohon ke rumah sakit untuk kesembuhan anaknya. Dan kebetulan, Om adalah Dokter yang menangani penyakit anaknya. Saat Om bertemu dengan Ibu muda tersebut, dia adalah istri kamu, Zahra," ucap Fahri menceritakan pada Kenzo.


BRAK


Kenzo memukul meja Fahri melampiaskan segala emosinya. Dia tidak marah pada Fahri, dia marah pada dirinya yang tidak mengetahui apa-apa. Kenzo mengatur nafasnya yang tidak beraturan, kenapa menjadi serumit ini akibat dari perbuatannya dimasa lalu.


"Kenapa tidak bilang pada Kenzo sejak dulu, Om?" tanya Kenzo dengan suara pelan. Lebih tepatnya suara putus asa yang benar-benar sudah tak bertenaga.


"Ingin sekali mengatakan pada kamu, Kenzo. Tapi, tidak ada lelaki yang tega melihat seorang wanita memohon seperti itu, Kenzo," ucap Fahri memberitahu.


"Memohon?" tanya Kenzo memastikan.


Fahri mengangguk. Fahri mengambil nafas banyak-banyak dan menghembuskan secara perlahan. "Akbar, anak kamu, wajahnya sangat mirip dengan kamu waktu kecil, Kenzo. Walaupun masih berusia enam bulan, dia sangat tampan. Namun sayang, Akbar menderita kelainan Jantung."


DEG


Jantung Kenzo seakan lepas dari tubuhnya mendengar pernyataan Fahri. "Om," ucap Kenzo tak percaya dengan suara bergetar.


Fahri mengangguk. "Akbar kecil menderita kelainan jantung yang dia derita sejak lahir. Hingga akhirnya, pada usia enam bulan, Akbar memilih menyerah. Dan takdir bermain dengan sangat cantik saat itu, Kenzo. Disaat anak kamu menyerah, tapi menyerahnya tidak sia-sia. Dia memberikan kehidupan baru kepada Ayahnya," ucap Dokter Fahri yang memberikan sesak begitu mendera di dada Kenzo.


"Sesak sekali, Om," ucap Kenzo meremas kuat dadanya. Air bening yang menganak sungai itu sudah tak sanggup lagi ditahan oleh pelupuk matanya.


"Om berniat akan memberitahu kamu dan juga kelurga Ibra, namun Zahra memohon kepada Om untuk tutup mulut, Kenzo," lanjut Fahri.


"Kenapa Om menuruti Zahra?"


"Karena jika tidak, dia tidak akan mengizinkan ginjal anaknya diberikan kepada kamu, Kenzo. Namun, setelah mengetahui bahwa lelaki yang membutuhkan organ tubuh anaknya adalah lelaki yang dia cintai, Zahra mengizinkan, tapi tetap dengan syarat agar kami tetap merahasiakannya," ucap Fahri.


"Tapi rahasia ini memberi efek besar, Om," ucap Kenzo.


Fahri mengangguk. "Om bisa apa? Bahkan Zahra sampai bersujud hanya untuk menyembunyikan identitas Akbar, Kenzo. Dan melihat keadaan kamu yang semakin memburuk, Om tidak punya pilihan lain selain memenuhi permintaan Zahra," ucap Dokter Fahri.


"Sebulan setelah transplantasi ginjal kamu, Om berniat untuk menemui Zahra. Namun sayang, Zahra sudah tidak tinggal di alamat yang Om tahu. Dia benar-benar menghindar," lanjut Fahri.


"Apa Om punya foto anak Kenzo?" tanya Kenzo sendu.


Fahri mengangguk. Dia berdiri dan mengambil sebuah file yang dia simpan di dalam brangkas khusu miliknya yang diletakkan di laci bagian bawah mejanya.


"Ini," ucap Dokter Fahri memberikan file tersebut.


Kenzo mengambilnya dengan tangan bergetar. Tanpa menunggu, Kenzo membuka file tersebut. Di sana terdapat informasi lengkap Akbar dan juga foto Akbar kecil, yang secara diam-diam diambil oleh Fahri. Di sana juga ada foto Zahra yang menggendong Akbar dengan senyum manisnya. "Foto ini ..."


"Foto itu diambil oleh salah satu perawat yang waktu itu Om tugaskan untuk merawat Akbar secara khusus," ucap Fahri menjawab pertanyaan Kenzo.


Tanpa aba-aba, Kenzo langsung berdiri setelah membaca isi file tersebut. "Kenzo pinjam file ini, Om," ucap Kenzo.


"Kamu mau kemana?" tanya Fahri ikut berdiri.


"Meminta penjelasan."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Mari kita selesaikan semua masalah Zahra dan Kenzo teman-teman.


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘