Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 202



🌹HAPPY READING🌹


Sela masih setia menunduk. Kenzo yang melihat tingkah anaknya mengangkat dagu Sela.


"Kenapa?" tanya Kenzo lembut melihat mata sang anak yang berkaca-kaca.


"Sela kangen Abang. Sela mau sekali bertemu Abang walau sekali di dalam mimpi Ayah, Bunda," ucap anak itu dengan tangis tertahannya.


Sejak dia mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang Abang yang merupakan kembarannya sendiri, tidak hentinya anak itu meminta agar dipertemukan dengan Abangnya meskipun hanya di dalam mimpi.


Kenzo mengusap air mata yang mengenang di mata anaknya hingga jatuh membasahi pipi gadis kecil itu. "Kenapa tiba-tiba kangen Abang?" tanya Kenzo lembut.


Sela menggeleng. "Bukan tiba-tiba, Ayah. Setiap hari Sela rindu sama Abang. Tapi meskipun diminta, Sela nggak dapat obatnya. Obat rindu hanya bertemu kan, Ayah," jawab Sela dengan suara bergetar.


Zahra yang mendengar perkataan Sela tidak kuasa menahan air matanya. Saat hamil saja dia tidak bisa menahan tangisnya, apalagi saat ini tengah hamil. Emosi wanita itu sangat tidak akan terkendali. Apalagi membahas mengenai anak mereka yang sudah bahagia di surga sana.


"Ada obat yang lebih baik daripada bertemu, Nak," ucap Kenzo.


"Apa Ayah?" tanya Sela sesegukan.


"Doa. Jangan pernah lupa untuk menyebut Abang dalam doa Sela. Karena yang diinginkan Abang sekarang bukan kesedihan kita, tapi senyum dan doa dari kita, Nak," jawab Kenzo menenangkan anaknya.


"Setiap hari setelah sholat, Sela selalu doa buat Abang. Sela selalu bilang sama Allah buat sampaikan cerita Sela sama Abang. Mengenai apa yang Sela rasakan dan lalui, tidak ada yang lebih tahu semua rahasia selain Abang. Abang juga udah Sela kasih tahu kalau kita mau punya adik lagi. Tapi Sela belum kasih tahu kalau kita mau punya adik kembar, Ayah. Soalnya kan Sela juga baru tahu," ucap anak itu panjang lebar.


Kenzo tersenyum mendengar penjelasan anaknya. Zahra yang rasanya tidak sanggup memilih untuk keluar dari kamar Sela.


"Terimakasih karena sudah memberitahu Abang, ya," ucap Kenzo lembut. Dia tidak ingin apa yang dikerjakan anaknya itu terdengar sia-sia. Meskipun memang setiap hari Jumat, Kenzo selalu ke makam anaknya itu tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk keluarganya.


"Kenapa Abang tidak pernah datang di mimpi Sela ya, Ayah?" tanya Sela sendu.


Kenzo tersenyum dan mengusap lembut rambut hitam anaknya. "Abang bukannya nggak datang, Nak. Tapi Abang memang selalu ada bersama kita. Abang selalu melihat apapun yang Sela lakukan. Abang selalu menjaga kita, kapanpun dan dimanapun," jawab Kenzo.


"Dimana Ayah?" tanya anak itu senang menatap sekeliling kamarnya. Berharap orang yang sangat dia rindukan memang benar-benar ada disini.


Tangan Kenzo bergerak mengambil sebelah telapak tangan Sela. "Abang selalu disini bersama kita, Nak," ucap Kenzo meletakkan telapak tangan Sela tepat di dada gadis itu.


"Abang disini?" beo Sela.


Kenzo mengangguk. "Jika sela rindu, maka tutup mata dan rasakan jika Abang memang ada bersama kita disini. Abang akan selalu ada di hati Ayah, Bunda dan juga Sela," jawab Kenzo lembut.


Sela mengangguk. Anak itu memejamkan mata dengan tangan di dadanya. Senyum terbit di wajah cantik anak itu.


Tidak ada yang indah dari sehuahpertemuan ketika rindu. Tapi doa dan hati memiliki cara sendiri untuk mengobatinya. Batin Kenzo terharu melihat anak gadisnya yang sangat mengerti dengan apa yang dia katakan.


Semoga Abang selalu bersama Sela disini, ya. Ada tempat khusus untuk Abang disini. Batin anak itu senang.


Sela membuka matanya dan menatap sang Ayah yang masih tersenyum di depannya. "Terimakasih Ayah," ucap Sela.


"Sudah tidak sedih lagi?" tanya Kenzo.


Sela menggeleng. "Sudah lebih lega," jawab Sela.


"Sekarang lanjut beres-beres ya," ajak Kenzo.


Sela menggeleng. "Ayah susul Bunda saja. Biar Sela yang selesaikan," jawab anak itu semangat.


"Benar tidak apa-apa Nak?" tanya Kenzo lagi.


Dengan yakin Sela mengangguk. "Baiklah. Nanti jika ada apa-apa panggil Ayah di kamar ya," ucap Kenzo.


"Iya Ayah," jawab Sela.


Melihat Ayahnya yang sudah menghilang dari balik pintu, Sela mengedarkan pandanganya keseluruh penjuru kamar. Senyum anak itu mengembang entah apa yang dia lihat. "Semoga kita cepat bertemu, Abang."


.....


"Mas," panggil Zahra dengan suara yang sedikit berbeda.


Kenzo tersenyum. "Sudah lebih tenang?" tanya Kenzo memeluk pinggang Zahra.


Zahra mengangguk. "Maaf kalau aku cengeng, ya," ucap Zahra tak enak.


"Tidak ada orang tua yang tidak cengeng jika mengenai anak mereka, Sayang," jawab Kenzo.


Kenzo menggiring Zahra untuk duduk di pinggir kasur. Setelah duduk, Zahra menenggak kan sedikit tubuhnya mengambil sesuatu di laci meja sebelah ranjang.


Di sana ada sebuah bingkai kecil dengan foto yang sedikit usang. "Jika dia ada, pasti rumah akan semakin heboh karena pertengkaran kalian, Mas," ucap Zahra menghayal.


Kenzo ikut memandangi foto tersebut. Foto yang menunjukkan seorang bayi kecil yang masih di bedong dalam dekapan Zahra.


"Maaf, Sayang," sesal Kenzo.


Zahra menggeleng. Dia meletakkan foto tersebut di kasur dengan posisi ditengah mereka. Tangannya terulur mengusap kedua sisi wajah sang suami. "Bukan bermaksud membuat kamu mengingat masa lalu, aku hanya tiba-tiba merindukannya, Mas," ucap Zahra.


"Aku juga merindukannya," jawab Kenzo.


Zahra tersenyum. Ibu jari Zahra terulur mengusap sudut mata sang suami yang sedikit berair. Air ini adalah air mata yang sejak tadi dia tahan saat bicara dengan sang anak. "Tidak ada yang perlu disesali. Memang tidak akan hilang, namun bisa digantikan dengan segala kebahagiaan saat ini, Mas. Akbar pasti nggak suka lihat Ayahnya sedih begini," ucap Zahra.


Kenzo mengangguk. Dia juga tidak mau jika istrinya ikut sedih jika dirinya kembali bersedih dan melihatkan penyesalan itu. Biar dia sendiri yang merasakan. Biar dia sendiri yang menanggung sakitnya penyesalan itu. Saat ini yang hanya dia lakukan adalah membuat keluarga kecilnya bahagia. Biar keheningan yang menjadi teman penyesalannya.


.....


Sesuai perkataan Kenzo kemarin sebelum pergi ke bandara, mereka akan pergi ke makam Akbar terlebih dahulu.


Kini, mereka bertiga sedang berjalan menuju makam dengan melewati beberapa makam lainnya. Tidak hanya mereka bertiga, Dee dan Ibra juga ikut ke makam atas desakan Dee. Wanita itu sudah cukup lama juga tidak berkunjung ke makam cucunya ini.


"Assalamu'alaikum Abang," ucap Sela begitu sampai di makam Akbar.


Anak itu melepas kaca mata hitamnya dan menyelipkan di baju bagian dadanya.


"Ayah," panggil Sela.


"Iya Nak," jawab Kenzo.


"Bisa tidak, kita sedikit lebih lama sama Abang?" pinta Sela.


"Nak-"


"Bisa Sayang," jawab Kenzo cepat yang tidak mau membuat anaknya sedih.


"Tapi pesawat-"


"Tenang Zahra. Kita pakai jet pribadi, bukan pesawat kelas ekonomi," jawab Ibra yang tidak mau membuat cucu perempuannya itu sedih.


Zahra yang mendengar itu hanya menghela nafas pelan dan mengangguk. Perkara tiket pesawat, sebenarnya Kenzo hanya bercanda, karena dia akan menggunakan pesawat pribadi miliknya. Begitu juga dengan Ibra dan Dee yang akan ikut bersama mereka. Dan untuk uang hasil bisnis Sela, tentu saja dimasukkan Kenzo ke dalam tabungan anak itu. Dia tidak mau harga dirinya jatuh hanya karena tidak mampu membiayai liburan keluarganya.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏