Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 92



Dengan sekuat tenaga, Dee mendekat ke arah manusia tersebut. Manusia dengan tangan dan kaki yang di rantai mengangkat kepalanya saat merasakan seseorang mendekat ke arahnya.


"Dee."


"Sofia."


Dee diam mematung memandang wanita di depannya. Nampak sangat mengenaskan dengan penampilan yang sudah tak beraturan.


Dengan langkah gontai, Dee mendekati Sofia yang terlilit rantai besi. "Umi," ucap Al mencoba menahan bagi Dee dari belakang agar tak mendekati Sofia.


Dee menghentikan langkah kakinya dan melepaskan tangan Al. "Umi baik, Nak," ucap Dee dengan suara bergetar. Ibra yang berdiri di belakang Dee hanya diam memperhatikan. Entah apa yang ada di kepala pria itu saat ini, yang pasti, dengan mati-matian Ibra menahan segara amarah yang hendak memberontak keluar dari dirinya.


"Sofia," panggil Dee pelan.


Sofia mengangkat kepalanya. "Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Dee dengan suara bergetar. Tidak dapat Dee tahan lagi, air matanya jatuh begitu saja membasahi pipi mulus itu.


Sofia tertawa miring. Dia menatap rendah Dee yang ada didepannya. "Bukan urusanmu apa yang aku lakukan," jawab Sofia tegas.


Dee memejamkan matanya mendengar perkataan Sofia yang begitu menyakitkan untuk dirinya. "Apa dasar semua ini Sofia? Kamu membuat kami semua terluka bertahun-tahun," ucap Dee masih mencoba lembut.


"Aku hanya ingin melihat air bening itu jatuh dari mata mu, Dee," ucap Sofia tajam.


"Kamu dendam padaku, Sofia? Tapi kesalahan apa yang sudah aku lakukan?" tanya Dee menatap Sofia.


"Aku membencimu!" jawab Sofia berteriak keras.


"Turunkan suaramu, sialan!" sarkas Al yang melihat Dee kaget mendengar suara Sofia.


"Al," ucap Dee memperingati Al yang bersuara keras pada Sofia.


Al mengatur nafasnya yang naik turun melihat tingkah Sofia. Andai saja Sofia lelaki, mungkin Al sudah menghabisinya.


"Ini yang membuat aku ingin sekali melihatmu sakit dan menangis, Dee. Sikap naif dan sok baikmu ini membuatku muak. Semua orang membelamu, Almarhum Ayahku, Ibra, semua orang, bahkan Kevin, suamiku selalu membuat dirimu untuk menjadi contoh, Dee. Begitu juga Zahra, dia selalu membanggakanmu!" ucap Sofia menyampaikan segala kesal di hatinya.


"Apa maksudmu?" tanya Dee.


Sofia tertawa miring. Tawa yang nampak sangat menjengkelkan bagi semua orang yang ada disana. Ibra yang berdiri di belakang maju perlahan mendekati Dee. "Ayo kita pulang, Sayang. Tidak ada gunanya melihat wanita ini," ucap Ibra menarik tangan Dee.


"Tapi Mas-"


"Ayo Sayang," ucap Ibra menarik tangan Dee agar keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana rasanya membesarkan anak yang bukan anak kandungmu sendiri, Ibra?"


DEG


Jantung Dee dan Ibra berdetak cepat mendengar perkataan Sofia. Begitu juga dengan Al yang menatap tak percaya pada wanita itu.


Dee berbalik. Dia melepaskan tangan Ibra dari pergelangan tangannya dan berjalan mendekati Sofia. "Apa maksudmu?" tanya Dee menatap tajam Sofia.


Sofia menatap Dee tajam. Namun, wanita itu tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan Dee.


"Jawab Sofia! Apa maksudmu?" tanya Dee mendesak Sofia. Tangan Dee mengguncang bahu Sofia agar wanita itu segera menjawab pertanyaanya.


"Apa maksudmu, Sofia?" tanya Ibra menatap tajam Sofia.


Sofia tersenyum miring menatap Dee dan Ibra bergantian. "Kalian memang orang-orang bodoh!" ucap Sofia.


"Kau tahu, Dee. Keberhasilan program bayi tabung itu tidak sepenuhnya berhasil," ucap Sofia menatap Dee.


"Jangan bertele-tele, Sofia. Ada apa sebenarnya?" tanya Dee was-was. Rasanya Dee takut sekali untuk mendengar kenyataan pahit yang hendak Sofia sampaikan.


"Zahra hanya anak panti asuhan."


Plak.


"Uncle Kevin."


"Kevin."


"Kak Kevin."


ucap Al, Ibra dan Dee terkejut karena kedatangan Kevin yang tiba-tiba. Dibelakangnya di susul Aska yang berdiri diambang pintu bersama Thomas.


Kevin memandang lekat Sofia yang juga memandangnya sendu. "Aku berharap kau membantuku, Kevin," ucap Sofia sendu.


"Vin, ada apa ini?" tanya Ibra.


Kevin memejamkan matanya sebentar. Baru saja dia mendarat di tanah air, dia harus segera bertemu dengan situasi yang sangat menyakitkan seperti ini.


Kevin berbalik, menatap Dee dan Ibra bergantian. "Maafin gue, Ib, Dee," ucap Kevin memandang sendu Ibra dan Dee.


"Kak, ada apa ini?" tanya Dee semakin tak mengerti.


"Kenapa Sofia mengatakan bahwa Zahra adalah anak panti asuhan, bukankah Kak Kevin sendiri yang menemani Sofia saat melahirkan? Kamu sendiri yang bilang sama aku kan, Mas?" tanya Dee pada Kevin dan Ibra.


Ibra mengangguk menjawab pertanyaan Dee. "Vin, gue sendiri yang melihat Lo nemenin Sofia melahirkan di rumah sakit. Ada apa ini, Vin?" tanya Ibra.


Kevin menggeleng. Pria itu mengusap kasar wajahnya. Air mata tidak dapat dihentikan jatuh membasahi pipi Kevin. "Sofia bukan hamil karena Lo, Ib. Dia hamil anak calon suaminya yang meninggal karena kecelakaan itu."


"APA?" ucap Dee tak percaya. Sungguh, ini adalah sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan untuk Dee. Begitu juga Ibra dan Al.


"Jadi selama ini kami salah?" tanya Dee tak percaya.


Kevin mengangguk. "Anak itu tidak bisa diselamatkan. Anak yang saat itu gue bawa dari ruangan bersalin rumah sakit, adalah anak panti asuhan, Ib," ujar Kevin.


"Dan lo tahu semuanya, Vin?" tanya Ibra tak percaya.


"Maaf, Ib, Dee. Bukan maksud gue menyembunyikan semuanya. Gue tahu semuanya, dan itu juga alasan gue menikahi Sofia. Janji dia untuk tidak berulah mengganggu rumah tangga Lo dan Dee lagi saat kalian bersatu nanti, membuat gue bertekad untuk menikahi dia, Ib," ucap Kevin.


"Hingga, saat Zahra berusia tiga tahun, gue berniat memberitahu Lo semuanya. Tapi saat itu, saat Lo sedang mempertahankan cinta Lo buat Dee, gue rasa itu sudah tak perlu lagi. Dee dengan segala kebesaran hatinya sudah menerima Lo, Ib. Jadi gue menahan semuanya, dengan janji juga, bahwa Sofia tidak akan berulah," lanjut Kevin dengan mata berair.


"Kak-"


"Maaf, Dee. Bukannya aku menyembunyikan semuanya, tapi aku hanya menyayangi Zahra yang sudah seperti anakku sendiri. Dia akan semakin terpukul jika mengetahui semua ini," ucap Kevin menyesal menatap Dee.


"Satu tahun gue menikah dengan Sofia, gue mengetahui sebuah kenyataan besar. Sofia bukan anak dari Kiyai Rozak, Sofia hanya anak angkat Kiyai Rozak. Dan satu lagi kenyataan pahit yang harus gue ketahui, Ib. Dan karena itu juga, gue memutuskan untuk tinggal di Turki bersama dia dan Zahra. Gue hanya tidak ingin, dendamnya dan rasa tidak sukanya pada Dee membuat kita semu terluka. Gue tidak ingin, semua perjuangan Lo buat kembali pada Dee sia-sia, Ib," ucap Kevin menatap sendu Kevin.


"Vin."


"Gue tahu gue salah, Ib. Maaf," ucap Kevin menunduk dengan kedua tangan mengatup di depan dadanya.


"Tapi saat Zahra kembali, Kak Kevin bilang kondisi Sofia sedang tak baik-baik saja," tanya Dee bingung.


Kevin menggeleng. "Aku berbohong, Dee. Sofia kabur dari genggamanku. Itu yang menyebabkan aku belum bisa kembali ke Indonesia untuk bertemu Zahra. Tapi aku bodoh, ternyata wanita ini sudah lebih dulu pergi ke tanah air untuk merencanakan semuanya. Melihat kamu yang begitu menyayangi Zahra, membuat dia ingin menghancurkan Zahra, karena dengan begitu dia bisa melihat kamu menangis, Dee," ucap Kevin sendu.


Dee menutup mulut tak percaya. Jadi selama ini, kehancuran dalam rumah tangganya hanya sebuah kesalahpahaman.


Hati Dee sakit sekali. Begitu juga dengan Ibra dan Al, sangat sakit sekali.


Dee berjalan mendekati Sofia.


Plak.


"Itu untuk semua kesalahanmu yang menghancurkan rumah tanggaku, Sofia!"


Plak.


"Itu untukmu yang sudah berani membohongi kami semua."


Plak.


"Itu untukmu yang sudah berani mencelakai Zahra dan Kenzo."


Plak.


"Itu untuk semua sakit hatiku, Sofia!"


Plak.


Plak.


Plak.


"Sayang, Sudah," ucap Ibra memeluk Dee dari belakang agar mengentikan tamparannya pada Sofia.


"Jangan kotori tangan kamu, Sayang," ucap Ibra dengan suara bergetar.


"Hiks, dia keterlaluan, Mas. Dia sudah buat kita pernah berpisah, di buat Kak Kevin berkorban atas semua kesalahannya, dia membuat Kak Kevin mengorbankan semuanya. Dia sudah membuat Al dan Kina merasakan hidup tanpa Ayah. Dia juga membuat Zahra menerima semua dosa atas kesalahannya, Mas, hiks. Dia benar-benar Iblis, Mas. Dia sangat keterlaluan," ucap Dee menangis di pelukan Ibra.


Al yang mendengar semuanya tidak bisa berkata apapun. Sungguh, hati Al saat ini benar-benar tak karuan. Jadi selama ini, Ibra tidak pernah mengkhianati Dee, dan mereka semua salah paham akan hal itu.


Maafkan, Al, Abi. Batin Al menyesal karena selama ini salah paham pada Abinya.


"Maaf, Dee. Aku diam karena aku melihat keluarga kalian yang sudah bahagia. Aku takut, jika aku mengatakannya, maka semuanya akan semakin hancur, Dee," ucap Kevin memohon.


"Tapi ini benar-benar menyakitkan, Kak. Kenapa baru sekarang? Kenapa disaat seperti ini? Dan Zahra, bagaimana perasaanya jika dia mengetahui semua ini. Dia tidak bersalah," ucap Dee sendu.


"Bagaimanapun, Zahra tetap anakku, Dee," ucap Kevin tegas.


"Dan bagaimana dengan perasaan anak-anakku yang baru mengetahui kenyataan ini? Bahkan mereka sempat salah pada Abi mereka sendiri, Kak," ucap Dee memandang Al yang sejak tadi menunduk menyembunyikan air matanya.


Tidak bisa ditahan lagi, Al memeluk Ibra dengan begitu erat. "Maaf, Abi," ucap Al menyesal.


Ibra mendongak menahan laju air matanya. Sungguh, rasanya tidak ada tenaga saat ini untuk melakukan apapun.


"Abi tidak tahu harus bagaimana."


BRUK.


"ABI."


"Mas."


"IB."


......................


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘


Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗