
🌹HAPPY READING🌹
"Fisik Tuan memang baik, Nyonya. Tapi saya tidak bisa pastikan psikologisnya," jawab Dokter tersebut.
"Abi kenapa, Umi?"
"Zahra," gumam mereka semua melihat Zahra yang tiba-tiba ada disana.
Dee dan yang lainnya mencoba untuk menetralkan suasana. Mereka semua bersikap seolah semua baik-baik saja.
"Abi tidak apa-apa, Nak. Tadi Abi pingsan karena sedikit kecapean," ucap Dee menjawab pertanyaan Zahra.
"Zahra kenapa disini, Nak? Siapa yang menemani Kenzo?" lanjut Dee bertanya.
"Benar yang dikatakan Umi saya, Dokter?" tanya Zahra menatap Dokter yang masih ada disana tanpa menjawab pertanyaan Dee.
Dokter tersebut menatap Dee dan Al sebelum menjawab. Hingga akhirnya Dokter mengangguk dan tersenyum menatap Zahra. "Tuan Ibra butuh lebih banyak istirahat," jawab Dokter tersebut. Dee dan yang lainnya merasa lega mendengar jawaban Dokter. Setidaknya, untuk saat ini mereka tidak ingin Zahra mengetahui segala kebenaran mengenai Sofia dan semua situasi yang terjadi.
Zahra masih belum menyadari keberadaan Kevin. Karena dia berdiri membelakangi Kevin yang menatap rindu pada anaknya itu.
Kamu sudah jadi wanita sempurna, Nak. Batin Kevin senang melihat Zahra yang sudah berjalan normal seperti manusia lainnya. Sungguh, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini selain melihat perubahan yang ada pada Zahra.
Kevin tidak mau Zahra menyadari keberadaannya dalam keadaan seperti ini. Sungguh, dia bahkan tidak sanggup melihat bagaimana reaksi Zahra jika mengetahui semuanya. Untuk saat ini, biarlah Zahra menganggap dia masih berada di Turki, itu akan lebih baik.
Zahra mengangguk mendengar jawaban Dokter. "Umi, Zahra pulang sebentar, ya," ucap Zahra pamit.
"Sama sopir, ya Nak," ucap Dee menatap sendu Zahra. Entahlah, melihat Zahra, ada beribu jarum yang menghujam relung hati Dee.
Zahra mengangguk dengan senyumnya. Setelah itu dia beralih menatap Al. "Abang, Ara pulang sebentar, ga. Nanti Ara balik lagi," ucapnya pamit pada Al.
Tanpa aba-aba Al memeluk adiknya itu. Zahra kecil, gadis cilik yang dulu pernah sangat Al benci keberadaanya. Gadis cilik yang dulu dia anggap sebagai perusak dan perebut kebahagiaanya bersama Kina. Gadis cilik yang menjadi penyebab air mata Umi jatuh berkali-kali.
Tapi ternyata semua itu salah. Zahra adalah korban yang tidak tahu apa-apa. Dia hanya boneka yang dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Sofia.
Maafkan Abang, Ara kecil. Batin Al menyesal.
Zahra yang berada dalam pelukan Al mengernyit heran. "Abang kenapa?" tanya Zahra bingung.
Al melepaskan pelukannya dan menggeleng. "Ara pulang hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, hubungi Abang atau yang lainnya," ucap Al yang dibalas anggukan oleh Zahra.
"Kalau ada apa-apa sama Abi, hubungi Ara ya, Bang, Umi," ucap Zahra.
"Iya Nak," jawab Dee. Sedangkan Al hanya mengangguk dengan senyumnya menanggapi perkataan Zahra.
"Ara pulang dulu, Abang, Umi, Kak Aska, Kak Thomas," ucap Zahra sedikit kikuk melihat Thomas.
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.
"Hiks," tangis Dee pecah setelah kepergian Zahra. Air bening yang sejak tadi dia tahan memberontak keluar dari matanya. Hatinya sakit sekali, hancur berkeping-keping dengan darah tak kasat mata membasahi lukanya.
"Umi," ucap Al memeluk tubuh Dee.
"Hati Umi sakit, Nak," ucap Dee dalam pelukan Al sambil menekan-nekan dadanya sendiri yang terasa sesak.
"Jangan di tekan-tekan dadanya, Umi," ucap Al tak tega melihat Dee.
Kevin yang melihat semua itu mengepalkan tangannya. Memejamkan mata menahan segala emosi yang memenuhi hatinya.
Dee mengatur nafasnya dan menghapus jejak air matanya. Dia melepaskan pelukan Al dan menatap mereka semua. "Jangan beritahu siapa-siapa dulu mengenai ini. Kita akan pastikan keadaan Mas Ibra. Setelah itu baru selesaikan semuanya," ucap Dee yang dianggukki mereka semua.
"Umi mau lihat Abi kamu, Nak," ucap Dee yang berjalan memasuki UGD untuk melihat keadaan Ibra.
"Al ikut, ya Umi?" pinta Al.
"Umi mau berdua dulu dengan Abi," ucap Dee tegas yang membuat Al mengangguk pasrah.
Kevin berjalan mendekati Al. Menepuk pelan bahu Al memberi ketenangan bagi pria itu. "Percaya sama Uncle, Abimu bukan orang yang lemah," ucap Kevin.
Al hanya mengangguk lemah. Dalam hatinya, dia selalu berharap untuk kebaikan Ibra. Al percaya Abi kuat. Batin Al sendu.
.....
Zahra duduk termenung di kursi mobil. Matanya terus menatap keluar jalanan, tapi pikirannya mengingat kejadian di rumah sakit.
Umi pasti bohong. Sebenarnya Abi kenapa? Batin Zahra bertanya-tanya. Zahra bukan gadis yang gampang dibohongi. Dia pintar membaca setiap perubahan ekspresi wajah Umi dan Abangnya.
"Pak," panggil Zahra pada sopirnya.
"Bapak tadi pasti yang bawa Abi kerumah sakit, kan?" tanya Zahra memastikan.
Pak Sopir gelagapan. Dia sudah dikirim pesan oleh Al untuk tidak memberitahu semuanya pada Zahra, termasuk keluarga mereka yang lain jika bertanya mengenai Ibra.
"I-iya, Nona," jawab Sopir.
"Abi kenapa, Pak?" tanya Zahra tanpa basa-basi.
"Tuan hanya kelelahan, Nona," jawab Sopir tersebut tenang.
Zahra memicingkan mata menatap Sopir dari kaca depan mobil. "Bapak tidak bohong, kan? Bohong dosa loh Pak," ucap Zahra curiga.
"Benar, Nona. Saya tidak akan berani berbohong. Tapi saya lebih takut kehilangan pekerjaan Nona," lanjut Sopir di dalam hatinya.
Zahra hanya mengangguk. Entahlah, hatinya masih tetap tak percaya atas setiap jawaban yang dia dengar. Ragu, itulah yang kini menggambarkan perasaan Zahra.
.....
Diruangan Kenzo, Sela tidur di kasur yang sudah diminta Kenzo kepada pihak rumah sakit untuk anaknya itu. Dokter memasuki ruangan untuk memeriksa keadaan Kenzo.
"Dokter," panggil Kenzo setelah Dokter selesai memeriksa Kenzo.
"Iya, Tuan Kenzo," jawab Dokter.
"Saya pulang besok, ya," ucap Kenzo memohon.
Dokter mengangkat alisnya bingungnya. Dia melihat catatan mengenai kondisi kesehatan Kenzo. "Tunggu dua hari lagi, Taun," ucap Dokter.
"Ayolah, Dokter. Ini mengenai hidup dan mati saya," ucap Kenzo.
"Tapi-"
"Saya sudah merasa baik-baik saja, Dokter," ucap Kenzo memelas.
"Tapi Nyonya Zahra-"
"Saya mohon, Dokter," ucap Kenzo terus memohon.
Dokter tersebut menghela nafas pelan. "Baiklah, tapi kau harus rutin memakan vitamin yang aku berikan," ucap Dokter kepada Kenzo.
Kenzo mengangguk semangat. "Kau memang penyelamat masa depanku, Dokter," ucap Kenzo senang.
Dokter tersebut terkekeh pelan melihat Kenzo yang kesenangan layaknya anak kecil yang dikasi permen.
"Kali begitu saya permisi dulu, Tuan," ucap Dokter tersebut pamit.
Kenzo tersenyum senang setelah kepergian Dokter bersama perawat dari ruangannya. "Sebentar lagi kamu akan kembali ke rumahmu, Junior," ucap Kenzo menatap aset berharga miliknya yang sudah lama tidur itu.
.....
Dee memasuki ruang UGD. Dia melihat Ibra yang sudah membuka matanya, namun pandangan pria itu nampak kosong. Lelaki yang sudah tidak lagi muda, namun terlihat sangat tampan itu menatap kosong langit-langut rumah sakit.
"Mas," panggil Dee lembut.
Ibra menoleh. Air bening itu jatuh begitu saja dari sudut matanya melihat seorang wanita yang sangat dia cintai ada didekatnya.
"Sayang," ucap Ibra dengan suara bergetar.
"Zahra bukan anak kita, Sayang," lanjut Ibra.
Dee menggeleng. Dia menggenggam erat menyalurkan cinta yang tak berujung ini pada Ibra.
"Jangan ngomong gitu, Mas," ucap Zahra lirih.
"Dia menghancurkan rumah tangga kita, dia menganjurkan banyak hati," ucap Ibra dengan air mata yang sudah tak tertahan.
"Rasanya aku benci hidup, Sayang. Sakit sekali."
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗