Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 139



🌹HAPPY READING🌹


"Tuan Emir Geraldi. Aku ingin Ayah memberi dia kejutan," ucap Kenzo menyebutkan nama seseorang yang saat ini menjadi tujuannya.


"Emir Geraldi? Siapa dia?" tanya Kevin tak tahu.


Kenzo tergelak kecil. Ayahnya saja tidak mengenal nama itu, bagaimana istri lelaki itu bisa dengan sangat sombong menghina Sela dan Zahra, dua wanita kesayangan Kenzo.


"Emir Geraldi, salah satu sopir utama di Türk Mücevher," ucap Kenzo memberitahu pada Kevin.


"Sopir disini?" tanya Kevin bingung dari seberang sana.


"Iya, Ayah. Aku akan mengirimkan beberapa file ke email Ayah. Setelah Ayah baca, Ayah pasti tahu apa yang akan lakukan," ucap Kenzo.


"Baiklah, kirim sekarang," titah Kevin dan langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Selesai," ucap Kenzo menatap Arman yang kini juga tersenyum misterius. Memang tidak ada rahasia antara Kenzo dan Arman. Bahkan, Arman memang sudah mengetahui siapa Zahra sebenarnya dari cerita Kenzo.


"Siapapun yang menghina anak dan istriku, berarti siap untuk menerima balasannya!" ucap Kenzo tajam menatap lurus ke pintu ruangannya.


.....


Kenzo sedang berada di ruang kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, namun Kenzo masih berkutat dengan banyak kertas di depannya.


Sore tadi, adalah sore yang begitu memuakkan bagi Kenzo. Salah satu manajer yang dia percayai di perusahaanya berkhianat hingga menimbulkan kerugian. Bahkan, keuntungan kerja sama dengan salah satu perusahaan Singapura kemarin hanya menutupi sedikit kerugiannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kenzo seraya berpikir keras.


*Flashback On*


"Kenapa kau menyia-nyiakan kepercayaan ku?!" tanya Kenzo tajam pada seorang lelaki yang kini duduk bersimpuh di kakinya memohon maaf atas kesalahan yang dia perbuat.


"Maafkan aku, Tuan Kenzo. Aku terpaksa melakukannya," ucap lelaki itu dengan suara bergetar takut.


"Kau tahu? Perbuatanmu ini membuat perusahaan rugi besar!" ucap Kenzo murka.


"Maaf, Tuan. Aku terpaksa melakukan itu untuk biaya pengobatan anakku di luar negeri," jawabnya dengan suara takut.


"Kau bisa melakukan pinjaman tanpa harus berbuat curang dan mencuri seperti ini!" ucap Kenzo murka.


"Arman!" panggil Kenzo pada Arman yang sejak tadi menyaksikan di depan pintu.


"Iya Tuan," jawab Arman.


"Bawa dia ke penjara bawah tanah perusahaan. Tidak ada maaf bagi penghianat!" ucap Kenzo.


Arman menurut dan langsung membawa lelaki itu dengan bantuan beberapa bodyguard. Mereka melewati pintu rahasia yang ada diruangan Kenzo menuju tempat yang dikatakan oleh Kenzo tadi.


"Selidiki kebenaran alasannya, Arman. Jika memang iya, maka perusahaan akan menanggung pengobatan anaknya itu. Jika tidak, kau tahu apa yang harus kau lakukan!" ucap Kenzo dan berlalu pergi. Dia butuh istri dan anaknya saat ini untuk menenangkan hati dan pikirannya. Tidak hanya lelah fisik, tapi lelah pikiran membuat tubuh Kenzo benar-benar tak bertenaga.


*Flashback Off*


Kenzo menghela nafas pelan. "Sungguh melelahkan," gumamnya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sembari memejamkan mata.


.....


Dilamarnya, Zahra terbangun ketika tangannya tidak menyentuh apa-apa di kasur sebelahnya.


Dengan perlahan, Zahra membuka matanya dan tidak mendapati Kenzo. "Dimana Mas Kenzo?" gumam Zahra bertanya.


Zahra memasang tali kimono tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Namun, dia tidak melihat keberadaan Kenzo.


"Apa di ruang kerja?" gumam Zahra lagi.


Tidak mau bertanya-tanya sendiri, Zahra melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuruni tangga untuk menuju ruang kerja suaminya itu.


Zahra membuka pintu ruang kerja Kenzo dengan perlahan. Dia tersenyum mendapati suaminya yang tertidur dengan posisi duduk.


Zahra berjalan mendekat dan menatap lekat wajah suaminya itu. "Kamu pasti lelah sekali, Mas," gumam Zahra pelan.


Kenzo yang merasakan sentuhan di wajahnya membuka mata. "Sayang," ucapnya kaget melihat Zahra yang sudah berdiri dihadapannya.


"Ayo tidur di kamar, Mas. Tidak baik tidur disini, kan," ucap Zahra.


"Kerjaan aku belum selesai, Sayang," ucap Kenzo yang kembali membenarkan posisi duduknya.


"Apa ada masalah, Mas?" tanya Zahra hati-hati.


Kenzo mengangguk. "Salah satu manajer perusahaan menggelapkan uang hingga perusahan rugi besar, Sayang," ucap Kenzo.


"Apa itu bisa diatasi?" tanya Zahra.


Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Selama kamu selalu bersama dan mendoakan suamimu ini, maka semua bisa diatasi, Sayang," ucap Kenzo.


"Aku selalu melakukannya, Mas. Tapi aku tidak suka kalau kamu sampai lupa waktu sepeti ini," ucap Zahra.


"Satu jam lagi, ya," bujuk Kenzo.


Zahra menggeleng. "Istirahat, Mas. Untuk menyelesaikan masalahnya, kamu harus punya kesehatan yang baik juga, kan," ucap Zahra.


"Tapi tanggung, Sayang," ucap Kenzo kekeuh.


"Mas tidak mau tidur denganku?" tanya Zahra tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.


Kenzo kelabakan. Lelaki itu langsung berdiri dan merangkul istrinya. "Ayo tidur," final Kenzo menggiring Zahra untuk berjalan keluar ruang kerjanya.


Zahra tersenyum senang. Sikap cengengnya sangat berguna untuk membuat suaminya itu tunduk. Bukannya apa-apa, Zahra hanya takut Kenzo mengorbankan kesehatannya hanya karena urusan kerjaan yabg tak akan pernah habisnya.


"Mas," panggil Zahra. Kini mereka berdua sudah merebahkan diri di atas kasur dengan posisi saling memeluk.


"Iya, Sayang," jawab Kenzo.


"Apa kerugian itu bisa ditutupi dengan kerjasama antar perusahaan?" tanya Zahra hati-hati. Wanita itu tiba-tiba teringat sesuatu dan ingin sekali menanyakannya pada Kenzo.


Kenzo mengangguk. "Bisa Sayang. Tapi untuk bekerja sama kita harus mencari relasi yang cocok dengan perusahaan kita dulu," ucap Kenzo menjelaskan.


"Kenapa tidak minta tolong Papa, Mas?" tanya Zahra.


Kenzo menggeleng. "Aku merasa masih sanggup menyelesaikannya, Sayang," jawab Kenzo.


"Tidak ada salahnya meminta bantuan Papa kan, Mas," ucap Zahra.


Lagi-lagi Zahra menggeleng. "Kita berusaha dulu," jawab Kenzo.


"Minta tolong bukan berarti kita rendah, Mas," ucap Zahra.


Kenzo mengangguk setuju. "Tapi alangkah baik jika kita berusaha terlebih dahulu, Sayang," jawab Kenzo lagi menyampaikan apa yang menurutnya benar.


Zahra yang mengangguk saja. Besok dia akan mencoba melakukan apa yang menurutnya benar ini. Tidak ada salah jika dia bertindak membantu suaminya sendiri, bukan. Dan semoga saja memang berhasil.


.....


Zahra menatap sebuah nomor ponsel yang ada di layar ponselnya. Hari ini, wanita itu tidak menemani Sela di Sekolah, karena tadi pagi Dee datang menjemputnya bersama Shasa. Hari ini Nenek cantik itu ingin menemani kedua cucunya untuk bersekolah selagi sang suami Ibra pergi ke perusahaan bersama Al.


"Telfon tidak, ya," ucap Zahra dagu menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan.


"Bismillah, semoga saja tidak ketahuan."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏