Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 84



🌹HAPPY READING🌹


Satu jam sudah Kenzo berbagi cerita dengan gundukan tanah di depannya. Tidak banyak bicara, Kenzo hanya memandangi nisan Akbar. Hanya air mata yang tidak ada hentinya mengalir membasahi pipi Kenzo. Sakit sekali, tapi itu yang harus Kenzo terima.


"Kamu mengajarkan Ayah merasakan bagaimana rasanya sakit, tapi tidak berdarah, Nak," gumam Kenzo sendu. Percayalah, bukannya hanya cinta yang membuat hati sakit, tapi ini adalah bentuk nyata patah hati orang tua yang sebenarnya.


Dari jarak tiga meter, Tamara melihat apa yang Kenzo lakukan. Karena bosan menunggu di mobil, Tamara memutuskan untuk menyusul Kenzo. Tapi melihat kesedihan Kenzo, Tamara menghentikan langkah kakinya. Yang dia lakukan hanya menyaksikan dari kejauhan kesedihan sahabatnya itu.


"Terlepas dari apapun kesalahan Lo dimasa lalu, Ken. Gue akan bantu sampai Lo kembali pada Zahra. Hati Lo butuh obat penawar untuk kembali pulih," gumam Tamara sedih menatap Kenzo.


Tamara menghentikan penampilannya dari atas sampai bawah. Dirinya tersenyum kecut. "Kenzo yang seperti itu saja masih merasakan sakit hati, apa kabar gue dengan masa lalu kelam seperti ini," gumam Tamara miris menatap dirinya sendiri.


Kenzo mengusap kasar air matanya. Pipi lelaki itu sudah terhias tanah kuburan anaknya sendiri. Tidak jijik, bahkan Kenzo membiarkan tanah itu melekat di pipinya akibat tertidur sebentar di makam Akbar.


"Ayah minta restu, ya Nak. Meskipun caranya sedikit menyakitkan, tapi Ayah yakin ini bisa mengembalikan senyum Bunda dan Adik kamu, Nak," ucap Kenzo berjanji.


Kenzo memajukan wajahnya mencium batu nisan Akbar lama. Setelah dirasa puas, Kenzo berdiri dan berbalik meninggalkan makam Akbar.


Kenzo menatap Tamara yang tak berdiri jauh darinya. Dengan langkah gontai, Kenzo mendekati Tamara. Kenzo tersenyum sendu pada Tamara. "Andai Lo perempuan, Thom," ucap Kenzo yang mampu membuat Tamara terdiam kaku.


Setelah mengatakan itu, Kenzo langsung berjalan meninggalkan Tamara. "Astaga, Kenzo masih waras, kan?" tanya Tamara pada angin yang berlalu. Dengan segera Tamara berbalik badan sedikit berlari mengejar Kenzo.


"Ken," panggil Tamara dengan suara beratnya setelah mereka memasuki mobil.


Kenzo menoleh tanpa menjawab. "Lo masih waras kan, Ken? Lo nggak suka sama gue, kan?" tanya Tamara cemas.


Kenzo tersenyum miring. "Gue masih suka Zahra. Tapi, kalau Zahra nggak ada, lo bisa gue pertimbangkan," ucap Kenzo menatap Tamara jahil.


Plak.


Tamara langsung menampar lengan Kenzo keras dengan tenaga laki-lakinya. Dia merasa ngeri sendiri berhadapan dengan Kenzo saat ini.


Kenzo mengalihkan pandangannya pada jalanan. Senyum yang tadi dia perlihatkan pada Tamara kini berubah sendu, dan Tamara melihat itu.


Lo kuat, Ken. Gue belajar banyak dari Lo. Semangat gue untuk berubah menjadi membara setelah melihat perjuangan Lo. Batin Tamara salut menatap Kenzo.


"Thom," panggil Kenzo dengan tatapan tetap lurus ke depan.


"Hem," jawab Tamara.


"Nanti malam, Lo antar undangan pertunangan ke rumah Zahra," ucap Kenzo yang langsung mendapat pelototan dari Tamara.


"Rencana kita masih dua Minggu laki, Ken," jawab Tamara.


Kenzo menggeleng. "Gue mau dilakukan besok malam. Dan nanti malam, Lo kasi undangan ke Zahra," perintah Kenzo.


"Apa tidak terlalu cepat?" ucap Tamara.


Kenzo menggeleng. "Ini sudah terlalu lama," jawab Kenzo.


"Oke," ucap Tamara pasrah mematuhi perkataan Kenzo. Mungkin benar, semakin cepat, maka semuanya akan semakin cepat pula selesai.


.....


Sesuai perkataan Kenzo, malam ini Tamara datang ke rumah Zahra. Tamara datang dengan pakaian hijabnya yang sangat elegan.


"Huh, benar-benar totalitas kebancian gue," gumam Tamara sebelum mengetuk pintu rumah Zahra.


"Assalamu'alaikum," ucap Tamara sambil mengetuk pintu rumah Zahra.


Tanpa menunggu lama, pintu rumah terbuka dari dalam. "Waalaikumsalam," jawab Bu Sari yang datang membuka pintu.


Bu Sari tersenyum, begitu juga Tamara. "Masuk, Nak Tamara," ucap Bu Sari ramah. Bu Sari tahu, Tamara adalah wanita yang saat ini dekat dengan Kenzo.


"Siapa, Bu?" tanya Zahra yang datang dari arah dapur.


Tamara tersenyum ramah menatap Zahra. Sedangkan Zahra tersenyum kaku menatap Tamara.


"Tamara," ucap Zahra dan ikut duduk di sofa. Saat ini rumah Zahra sudah dipenuhi perabotan yang bagus, siapa lagi jika bukan Ibra yang memaksa Zahra untuk menerimanya.


"Ibu kebelakang dulu buat minum, ya," ucap Bu Sari.


"Tidak usah repot-repot, Bu," ucap Tamara dengan segala kemampuan aktingnya.


"Tidak merepotkan, Nak Tamara," ucap Bu Sari berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Zahra berdua dengan Tamara.


Zahra tersenyum lembut. "Alhamdulillah, Baik. Kamu bagaimana, Tamara?" tanya Zahra.


"Sangat baik," jawab Tamara. Tamara membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah undangan.


"Ini, Zahra," ucap Tamara memberikan undangan tersebut.


DEG


Jantung Zahra berdetak cepat melihat undangan tersebut. Di sana tertulis nama Kenzo dan Tamara yang akan melakukan pertunangan.


"Aku berharap kamu datang, Zahra," ucap Tamara.


"Ini ..."


"Iya. Besok malam, aku akan bertunangan dengan Kenzo. Kami akan memulai hidup baru dengan cerita baru," jawab Tamara.


Zahra dengan sekuat tenaga menahan air matanya. Dengan gerakan cepat, Zahra menghapus air bening disudut matanya.


Zahra menatap Tamara dan tersenyum. "Aku senang jika kamu dan Kenzo akan segera bertunangan," ucap Zahra.


Ditengah pembicaraan mereka Bu Sari datang mengantar minum. Karena tidak mau mengganggu, Bu Sari kembali ke kamarnya.


"Aku akan lebih senang lagi jika kamu datang, Zahra. Kehadiran kamu sangat berarti," ucap Tamara.


Dengan menguatkan hatinya, Zahra mencoba tersenyum. "Insyaallah, aku akan datang Tamara," jawab Zahra dengan perasaan tak menentu.


"Mama Tamala," ucap Sela senang melihat kedatangan Tamara dari kamarnya.


"Mama kapan datang?" ucap Sela berjalan mendekati Tamara dan menyalami tangan Tamara.


Tamara tersenyum melihat sikap hangat Sela padanya. Anak Kenzo berbakat sekali, ya jadi Artis. Kemarin jadi ustazah saat tau kebenaran gue, sekarang? Bapak dan anak benar-benar totalitas. Batin Kenzo takjub melihat kelihaian Sela dalam berakting.


"Baru saja, Nak," ucap Tamara mengusap lembut rambut Sela.


"Mama mau ngasih undangan buat Bunda," sambung Tamara menatap Zahra.


"Peltunangan?" tanya Sela memastikan. Tentu saja anak itu pura-pura tidak tahu, dia bermain sangat baik dalam perannya.


Tamara mengangguk mengiyakan pertanyaan Sela. "Wah, Cela cenang Mama dan Ayah akan beltunangan. Iya kan, Buna?" tanya Sela menatap Zahra.


Zahra hanya mengangguk kaku menjawab pertanyaan Sela.


Wah, wah, luar biasa. Batin Tamara senang. Tamara dan Sela nampak bermain mata saat Zahra hanya diam dan menunduk.


Mereka berbicara banyak, tentu saja hanya Sela dan Tamar. Zahra hanya mendengar dan sesekali menjawab. Setelah cukup lama, Tamara pamit dengan alasan mengantar undangan ke tempat lain.


"Sela," panggil Zahra setelah kepergian Tamara.


"Iya, Buna," jawab Sela.


"Apa Sela senang punya Mama lagi? Apa Sela bahagia dan rela Ayah menikah lagi?" tanya Zahra.


Sela mengangguk dan tersenyum. "Mama Tamara baik, Buna. Lagian, bukankah ini membuat Buna bahagia? Ayah dan Sela melakukan hal yang benarkan, Buna?" tanya Sela menatap lekat Zahra.


Zahra gugup sendiri melihat tatapan Sela. "T-tentu Bunda bahagia, Nak," jawab Zahra.


"Karena setelah ini pengganggu hidup Buna tidak ada lagi," ucap Sela tenang, namun terdengar sangat menyakitkan untuk Zahra.


Zahra mencoba tersenyum. Wanita itu pergi ke kamarnya membawa undangan pertunangan yang tadi diberikan oleh Tamara.


Maaf, Buna. Hanya dengan cala cepelti ini bial Buna mengelti. Batin Sela menatap sendu Zahra yang menghilang dari balik pintu kamarnya.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Tetap jaga kesehatan ya teman-teman, stay save dalam keadaan pandemi seperti ini. Semoga novel aku bisa jadi penghibur dan bahan bacaan yang bermanfaat dalam masa pembatasan kegiatan darurat seperti ini.


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘