Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 157



🌹HAPPY READING🌹


"Kak Kinzi," ucap Zahra sendu memeluk Kinzi yang kini sudah menangis tersedu.


"Mas, jangan main tangan seperti ini. Kamu melukai fisik Kakak ipar ku," ucap Zahra.


Kenzo menghela nafas berat. "Kinzi, jika kau masih memaksakan kehendak mu, berarti kau mempertaruhkan rumah tanggaku dengan Zahra. Kau harus memilih, membentuk hubungan baru atau malah menghancurkan hubungan yang sudah terjalin ini!" ucap Kenzo tegas.


"TIDAK AKAN ADA HUBUNGAN YANG HANCUR!"


Sebuah suara dari arah pintu membuat mereka semua menoleh. Di sana, sudah berdiri seorang lelaki yang sudah tak muda dengan wajah tegasnya.


"Ayah."


"Kevin."


Mereka semua melihat Kevin yang berjalan dengan gagahnya. Laki-laki nampak sangat tampan dengan pakaian casualnya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa lelaki ini sudah berusia setengah abad.


"Tidak akan ada hubungan yang hancur, Kenzo," ucap Kevin mengulangi perkataanya.


Kinzi menatap haru kedatangan lelaki yang sedang dia perjuangkan itu. Sungguh, dia tidak akan menyangka bahwa Kevin akan datang kesini untuk membantunya.


"Kevin," panggil Kinzi lirih.


"Jaga jarak kamu dengan saya, Kinzi," ucap Kevin menatap intens Kinzi yang sudah berlinang air mata dan wajah yang sudah sangat basah, serta pipi yang sedikit memerah.


Kevin sudah mendengar semuanya. Dia sengaja berdiri diambang pintu untuk mendengar semua pembicaraan itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk muncul karena sudah membawa hubungan rumah tangga anaknya, Zahra.


"Rumah tanggamu dan hubungan ku dengan Kinzi, tidak ada hubungannya Kenzo. Jadi jangan pernah mempertaruhkan rumah tanggamu disini," ucap Kevin menatap Kenzo.


"Maaf Anggara, semua ini terjadi karena saya. Keributan ini terjadi karena saya, oleh karena itu, saya minta maaf," ucap Kevin tulus.


"Apa benar yang Kinzi sampaikan, Kevin?" tanya Anggara.


Kevin mengangguk. "Satu bulan setelah kepergian Sofia, saya kembali bertemu dengan Kinzi. Tidak saya sangka jika anakmu memiliki perasaan terhadap lelaki ini. Saya minta maaf untuk itu," ucap Kevin tegas.


"Tidak perlu meminta maaf, karena perasaanku tidak salah, Kevin," ucap Kinzi.


Kevin mengalihkan pandangannya pada Kinzi. "Perasaanmu memang tidak salah. Tapi kau menjatuhkannya pada orang yang salah," ucap Kevin dengan mengedarkan pandangannya. Setelah mendengar semuanya, Kevin kembali berpikir untuk memperjuangkan cintanya. Akan banyak hati yang terluka, dan malu yang ditanggung keluarga jika mereka bersatu. Dan memang terdengar sangat mustahil.


Zahra yang sejak tadi diam memperhatikan Ayahnya yang berbicara dengan mata bergerak tak tenang.


Ayah mencintai Kak Kinzi, Zahra tahu itu. Mata Ayah tak bisa bohong. Batin Zahra.


"Aku tidak salah, Kevin. Aku memang mencintaimu," ucap Kinzi berani mengatakan isi hatinya didepan semua orang.


Kenzo mengusap wajahnya frustasi mendengar perkataan Kinzi. Sungguh, bukan ini yang dia harapkan. Dia senang Kinzi bisa membuka hati lagi, tapi tidak kepada Ayah mertuanya sendiri.


"Kau memang gak tahu malu, Kinzi. Kau menyatakan perasaanmu kepada Ayah Mertuaku sendiri? Benar-benar hina!" ucap Kenzo tajam dan berjalan meninggalkan mereka semua. Tujuan Kenzo adalah kamarnya yang ada dirumah ini untuk menenangkan sejenak pikirannya.


Hati Kinzi sakit sekali. Setelah bertahun-tahun, ini adalah pertama kali Kenzo mengatakan perkataan kasar kepadanya.


"Mas," panggil Zahra pada Kenzo yang sudah terlanjut pergi.


Kinzi yang melihat itu berjalan mendekati Zahra. Tangannya terulur mengambil tangan Zahra dan menggenggamnya. "Zahra, maaf jika aku menaruh hati pada Ayahmu. Tapi aku tidak main-main, Zahra. Aku sungguh mencintainya," ucap Kinzi dengan suara bergetar menatap Zahra sendu.


"Omong kosong, Zahra!" ucap Kevin tegas.


Anggara yang Melani yang mendengar itu sedikit lega. Karena nyatanya, Kevin tidak mencintai anaknya. "Papa tak habis pikir, Kinzi!" ucap Anggara dan ikut pergi meninggalkan mereka semua.


Melani menghela nafas pasrah melihat suami dan anaknya. "Kamu harus pikirkan semuanya, Nak. Jangan memaksa kehendak mu," ucap Melani lembut dan pergi menyusul Anggara.


Kini, disana hanya ada Kevin, Zahra dan Kinzi. Zahra tidak tahu harus berkata apa pada Kinzi. Satu sisi, dia ingin melihat Ayah dan kakak iparnya itu bahagia, tali disisi lain, ada hal yang membuat dia terpaksa diam.


"Kak Kinzi, jodoh ditangan Tuhan. Zahra tidak bisa berkata apa-apa, setidaknya, Allah melihat semua usaha Kakak ini," ucap Zahra.


"Tolong bujuk Kenzo, Zahra. Aku mohon, kali ini biarkan hatiku bahagia," ucap Kinzi sendu.


"Zahra pergilah. Temui Kenzo, tapi bukan untuk membujuknya. Tenangkan pikirannya karena masalah sepele ini. Pergilah, Nak," ucap Kevin lembut.


Hati Kinzi berdenyut sakit mendengar Kevin mengatakan bahwa ini adalah hal yang sepele. Dia serius dengan cintanya, tapi lelaki ini malah mematahkan semuanya.


"Kamu tidak harusnya begini karena saya, Kinzi," ucap Kevin dingin.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku hanya memperjuangkan cinta kita, apa itu salah?" tanya Kinzi sendu.


"Cinta kita? Itu hanya cintamu, obsesi mu, Kinzi!" jawab Kevin.


"Aku harus berkata apa agar semua percaya dengan cintaku, Kevin?" tanya Kinzi.


"Lupakan! Kita tidak mungkin bersama. Lagi pula, aku tidak mungkin memiliki hati kepada gadis sepertimu," jawab Kevin tegas.


Tidak ada yang tahu, Kevin menahan segala sesak dengan tangan terkepal disaku celananya. Laki-laki dengan sekuat tenaga menahan sesak yang menghantam ketika semua kata kasar itu keluar dari mulutnya untuk Kinzi.


Kinzi memejamkan mata mendengar perkataan Kevin. Apa dia begitu tidak pantas hingga Kevin begitu menolaknya dan semua orang meragukannya? Apa dia memang tidak berhak bahagia dengan pilihan hatinya?


"Lalu gadis seperti apa yang pantas untukmu, Kevin?" tanya Kinzi.


"Yang jelas bukan sepertimu. Dan ingat, bicara yang sopan kepadaku!" ucap Kevin mengingatkan Kinzi akan perbedaan mereka.


"Sakit sekali, Kevin. Jadi selama ini aku berjuang sendirian?" tanya Kinzi.


"Tentu. Aku bahkan tidak pernah menanggapi ungkapan hatimu!" jawab Kevin.


"Setidaknya, kali ini jujur pada hatimu, Kevin," ucap Kinzi sendu.


"Apa yang harus aku katakan? Bahkan aku tidak memiliki rasa apapun padamu!" jawab Kevin tegas.


Kinzi berjalan dan berdiri di depan Kevin. Wanita itu sedikit menengadah menatap mata Kevin, karena tinggi badannya yang hanya setinggi dada lelaki itu.


"Tatap aku jika kamu memang tak mencintaiku, Kevin," ucap Kinzi.


Kevin menurut. Dia menatap mata yang sudah sangat basah dan sedikit bengkak itu. Sungguh, hatinya sakit melihat ini, tapi ini harus dia lakukan bukan?


"Aku mencintai wanita lain yang tentunya bukan diriku, Kinzi!"


DEG


Jantung Kinzi berdetak kencang mendengar perkataan Kevin. Mata mereka masih saling bertaut dalam pandangan yang tak dapat diartikan.


"Itu bohong. Mulut bisa berbohong, tapi tidak dengan matamu, Kevin," ucap Kinzi.


"Mata memang tidak bisa berbohong, tapi ingat, prasangka mu juga tidak selalu benar," ucap Kevin.


Kinzi tersenyum sendu dengan air mata membasahi pipinya. "Sekejam ini yang harus aku terima. Aku mungkin bisa berjuang melawan wanita yang menyukaimu. Aku mungkin bisa berusaha mendapat restu keluargaku dan keluargamu. Tapi aku tidak bisa berjuang melawan wanita yang sudah kau pilih itu," ucap Zahra dengan suara bergetar.


"Hiks, apa saatnya aku menyerah?" tanya Kinzi dengan tangis yang sudah tak tertahan.


"Aku memang tak bisa melawan wanita yang memang kamu cintai, Kevin. Tapi ingat, usahaku di dunia akan saling bekerjasama dengan doa yang aku langit kan. Jika waktu sepertiga malam sudah bekerja, tidak ada yang bisa menyangka hasilnya," ucap Kinzi yakin.


Kinzi mencoba meredakan tangisnya. Wanita itu dengan lembut mengusap air mata di pipinya. Bibirnya mencoba memberikan senyum menatap intens Kevin.


"Kinzi tidak akan berhenti, Uncle. Saat ini mungkin Uncle butuh waktu. Tapi nanti, Kinzi akan kembali berjuang. Biar doa Kinzi yang saat ini bekerja. Kinzi Cinta Uncle Kevin," ucap Kinzi bergetar dan langsung pergi meninggalkan Kevin yang terdiam mendengar perkataan Kinzi.


Hati Kevin sakit sekali ketika mendengar Kinzi memanggilnya Uncle. Tapi ini yang dia inginkan, bukan? Kenapa dia yang menyesal sekarang?


Kevin terduduk di sofa dengan kepala tertunduk dalam. Ada rasa sakit, marah, kecewa, kesal bercampur jadi satu yang tak bisa dia keluarkan. Tidak tahu harus dia katakan pada siapa jeritan hatinya, dan diam adalah pilihan terbaik menurutnya saat ini.


......................


Kevin dan Kinzi bahagia nggak yaaaa????? Tunggu update berikutnya ya teman-teman


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏