Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 186



🌹HAPPY READING🌹


Kembalinya dari ruangan rahasia, Kenzo dan Zahra kini sudah duduk bersama di ruang lelaki itu. Zahra duduk di sofa dengan nafas yang sedikit berat karena lelah menaiki tangga. Diikuti Kenzo yang duduk santai disebelahnya.


Zahra menatap tajam suaminya itu. Sungguh, Kenzo benar-benar suami yang sangat tidak peka terhadap apa yang terjadi.


Kenzo yang tadi sibuk menata makanan yang memang sudah ada dimeja, mengalihkan pandangannya pada Zahra ketika merasa ada yang menatapnya. "Kenapa Sayang?" tanya Kenzo yang tidak paham dengan perubahan Zahra.


"Kamu benar-benar nggak peka ya, Mas," ucap Zahra ketus.


"Maksudnya?" tanya Kenzo tak mengerti.


"Harusnya tadi kamu gendong aku buat naik tangga. Tapi kamu malah biarin aku jalan sendiri. Capek tahu! Tenaga aku nggak sekuat tenaga kamu. Bukannya digendong istrinya yang lagi hamil, malah dibiarin jalan sendiri," omel Zahra mengeluarkan kekesalannya pada Kenzo.


"Tapi tarikan aku udah tawarin buat gendong, dan kamu nya nggak mau, Sayang," ucap Kenzo benar adanya. Tadi saat akan naik, Kenzo memang menawari Zahra untuk menggendongnya, tapi wanita itu menolak.


"Ya,,, ya,,, seharusnya kamu peka sendiri. Yang bilang enggak kan cuma mulut aku, bukan hati aku sama anak kamu. Kan anak kamu dan hati aku maunya digendong," jawab Zahra tak mau disalahkan.


Ya Salam. Bisakah saat ini Kenzo bunuh diri saja? Tingkah wanita hamil ini memang benar-benar menguji segala kesabaran dan keikhlasan Kenzo.


"Ya sudah, aku minta maaf ya," ucap Kenzo mengalah.


Zahra hanya mengangguk. Tangannya mengusap perutnya yang sudah terasa lapar. "Anak kamu udah mau makan," ucap Zahra.


"Anak aku atau Ibunya?" tanya Kenzo jahil.


"Jadi kamu hanya mau ngasih makan anak kamu? Aku nggak mau kamu kasih makan, begitu Mas? Tega kamu Mas," ucap Zahra lirih dengan mata berkaca-kaca.


"Eh,,, bukan begitu, Sayang. Ayo sekarang kita makan. Aku suapi ya," ucap Kenzo panik. Sepertinya apa yang keluar dari mulutnya saat ini akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri di depan ibu hamil ini.


Zahra menerima suapan dari Kenzo dengan air mata berderai di pipinya. Kenzo yang melihat itu jadi tidak tega. Istrinya memiliki sifat yang sangat susah sekali ditebak selama hamil ini.


"Sayang, aku minta maaf ya. Jangan menangis lagi," ucap Kenzo mengusap air mata di pipi Zahra dengan jarinya.


"Anak Ayah, bujuk Bunda biar nggak sedih, ya," ucap Kenzo sedikit membungkuk menyamakan kepalanya dengan perut Zahra.


"Dengan satu syarat," ucap Zahra.


"Apa sayang?" tanya Kenzo.


Zahra terdiam dengan senyum manisnya menatap Kenzo jahil. Membayangkan apa yang dia inginkan pasti akan terkabul membuat hatinya senang. Mood buruknya membaik seketika.


"Nanti sampai dirumah bakal aku bilang," ucap Zahra.


"Sayang, jangan aneh-aneh, ya," ucap Kenzo memohon.


"Tidak akan sulit, Mas. Ini akan menyenangkan nanti," ucap Zahra senang.


"Ayo makan lagi," ucap Zahra semangat dan mengambil sendok yang ada ditangan Kenzo.


Meskipun Zahra sudah bicara begitu, namun tetap saja perasaan Kenzo mengatakan akan terjadi hal buruk pada dirinya. Sungguh, dia tidak mau lagi disuruh berjoget tak jelas itu bersama anaknya.


.....


Lain Kenzo, lain pula dengan Arman. Lelaki itu dipusingkan dengan segala pertanyaan yang dilontarkan oleh anaknya itu. Sela selalu bertanya mengenai hal-hal yang membuat Arman pusing.


"Uncle, kenapa harus ada malam?" tanya Sela setelah menerima suapan makanannya dari Arman.


"Karena ada siang, Sela," jawab Arman sekenanya.


"Kenapa nggak malam terus? Soalnya kalau malam ada langit indah dan bintang. Kalau siang hanya ada matahari, panas," ucap Sela menyampaikan apa yang ada di otak kecilnya.


"Karena jika tidak ada siang, maka tidak ada orang yang bekerja," jawab Arman sesuka hatinya. Pertanyaan yang sungguh tidak masuk akal. Jika saja, Sela bertanya mengenai saham, pasti Arman akan menjelaskan dengan rinci.


Sela mengangguk-angguk mendengar jawaban Arman.


"Bukan panas, tapi dia memberi cahaya," jawab Arman.


"Kan ada lampu," celetuk Sela.


"Lampu kan tidak bisa menerangi seluruh isi Bumi," jawab Arman sabar.


"Kan setiap orang bisa menghidupkan lampu, jadi pasti akan terang," jawab Sela lagi menyampaikan apa yang masuk akal untuknya.


Ini anak kenapa semakin menjengkelkan sih. Batin Arman. Kalau tidak ingat ini anak bosnya, maka sudah dia biarkan Sela bicara sendiri.


"Semenyenangkan hatimu, Nak," ucap Arman pasrah dengan tangan yang terus menyuapi Sela.


"Oiya Uncle, kenapa harus ada perempuan dan laku-laki? Kenapa tidak perempuan semua dan kenapa tidak lelaki semua?" tanya Sela lagi.


Arman menghela nafas pelan. "Tanyakan pada Allah, Sela. Uncle nggak tahu," jawab Arman mulai kesal sendiri.


"Ih, Uncle banyak nggak tahunya," ucap Sela yang membuat Arman membesarkan matanya. Anak bosnya ini benar-benar sudah menguji kesabarannya.


"Kan tadi Uncle sudah menjawab pertanyaan sebelumnya," ucap Arman tak terima.


"Tapi kan Uncle tidak bisa jawab semua," jawab Sela tak terima.


"Sakarep mu, Nak," ucap Arman mengalah.


"Sarakep artinya apa, Uncle?" tanya Sela mengedip polos ketika mendengarkan Arman mengeluarkan kata asing baginya.


"Sakarep, bukan sarakep," ucap Arman membenarkan.


"Iya itu, apa artinya?" tanya Sela lagi.


"Sesuka mu saja," jawab Arman singkat.


Sela membulatkan bibirnya mendengar jawaban Arman sambil mengangguk. Arman yang melihat tingkah Sela dengan polosnya hanya bisa bersabar dan bersabar.


Allah benar-benar mengirim anak ini untuk ujian kesabaran ku. Batin Arman.


Sela dan Zahra benar-benar paket lengkap sekarang. Sang Ibu yang membuat suaminya pusing, sedangkan sang anak yang membuat asisten Ayahnya harus memiliki kesabaran ekstra.


.....


Dibelahan negara lain, tiga orang pria dewasa dengan usia yang berbeda-beda sedang melakukan pembicaraan video melalui sebuah aplikasi.


Dua orang pria dengan empat puluh tujuh tahun dan satu orangnya dengan usia delapan puluh tahun.


"Bagaimana keadaannya disana?" tanya lelaki yang berusia delapan puluh tahun itu pada sepasang suami yang ada di layar laptopnya.


"Sangat baik, Tuan. Dia hidup dengan sangat baik. Satu lagi, dia sangat mirip dengan Nyonya besar," jawab si istri.


Mendengar jawaban itu, pria tua itu tersenyum senang. Sedangkan lelaki yang berada disebelahnya berdecak pelan. "Sudah aku bilang dia sangat baik. Masih saja tidak percaya," ucapnya sedikit kesal.


"Karena kau tidak mau mempertemukan aku dengannya," jawab pria tua itu tak kalah ketus.


"Kau tahu alasannya, Baba. Tunggu sebentar lagi, aku akan mempertemukan kalian," ucap lelaki itu.


"Aku menunggu hari itu, Kevin."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏