
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo dan Zahra saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tua Kenzo. Sesuai dengan apa yang di bicarakan kemarin bersama Kinzi, mereka akan mengatakan mengenai Kinzi dan Kevin dengan orang tua Kenzo. Dan jangan lupakan seorang gadis kecil yang kini merajuk di kursi belakang.
"Ayah, Cela ikut ke lumah Opa dan Oma, ya," rengek anak itu untuk kesekian kalinya.
"Sela harus sekolah, Nak," ucap Kenzo lembut dengan pandangan terus fokus ke jalanan.
"Cela janji nggak nakal," ucap Sela tak mau berhenti merayu kedua orang tuanya.
Zahra memutar badannya menghadap anak itu. Kali ini entah mengapa, Sela memilih untuk duduk di belakang dari pada di depan. "Sela bukan anak yang nakal kan?" tanya Zahra lembut.
Sela mengangguk semangat dengan senyum manisnya. "Sela kan anak baiknya Buna cama Ayah," ucapnya semangat. Tentu dia bukan anak yang nakal, namun agak usil sedikit iya.
"Anak baik tidak bolos sekolah, Nak. Sekolah nomor satu. Nanti kalau Sela bolos, siapa yang jadi temannya Shasa di sekolah? Kalau Sela bolos, kan Shasa jadi duduk sendirian, Nak," ucap Zahra lembut memberi pengertian pada anaknya.
Sela terdiam. Benar juga apa yang dikatakan oleh Bundanya. Siapa nanti yang akan menjadi teman jahil saudaranya itu kalau dia libur? "Baik, Buna. Cela bakalan cekolah. Nanti kalau libul, kita ke lumah Opa cama Oma ya, Buna?" tanya Sela.
Zahra mengangguk mengiyakan perkataan anaknya itu. Anaknya memang mudah diberi pengertian dan tidak perlu menguras banyak tenaga.
"Kalau nurut kayak gitu kan Ayah jadi tambah sayang," ucap Kenzo tersenyum.
Sela mencondongkan tubuhnya ke depan. "Cayang Ayah cama Buna banyak-banyak," ucap Sela bergantian memeluk Kenzo dan Zahra dari belakang.
.....
Setelah mengantar Sela ke sekolah, mobil Kenzo kini sudah berjalan menuju rumah kedua orang tuanya. Sebelum pergi, dia sudah mengubungi Papa untuk tidak pergi ke kantor terlebih dahulu, karena anak sesuatu hal penting yang akan dia bicarakan.
Dua puluh menit, mobil Kenzo sampai di depan pagar besar rumah kedua orang tuanya. Setelah satpam membuka pagar, Kenzo memasukan mobilnya ke pekarangan dan tak lupa mengucapkan terimakasih sebelumnya.
"Mas," panggil Zahra pelan memegangi tangan Kenzo sebelum lelaki itu turun dari mobil.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
"Jika bisa, bicara dengan kepala dingin ya. Semua bisa diselesaikan dengan baik-baik," ucap Zahra lembut.
Kenzo tersenyum. "Aku tidak bisa janji, Sayang. Tapi akan aku usahakan," jawab Kenzo lembut.
"Kita turun ya," lanjut Kenzo lembut keluar dari mobil. Kenzo memutari mobilnya dan membukakan pintu untuk Zahra. Dengan bergandengan tangan, mereka berjalan memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka itu.
"Assalamu'alaikum," ucap Kenzo dan Zahra memasuki rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Anggara dan Melani yang duduk di ruang tamu.
Melani tersenyum melihat kedatangan menantu kesayangannya itu. Sudah lama sekali mereka tidak menginjakkan kaki dirumah ini.
"Ma, Pa," ucap Kenzo menyalami tangan Melani dan Anggara bergantian.
"Ma, Pa," ucap Zahra dengan melakukan apa yang Kenzo lakukan.
"Kamu apa kabar, Sayang?" tanya Melani memeluk menantunya.
Zahra tersenyum dan membalas pelukan Melani. "Alhamdulillah Zahra baik, Ma. Sela titip salam untuk Opa dan Omanya," ucap Zahra menatap Anggara dan Melani bergantian.
"Lama sekali Papa tidak bertemu cucu Papa itu. Dia masih sering buat kamu kesal, Ken?" tanya Anggara pada Kenzo yang sudah duduk di sebelahnya.
"Setiap waktu, Pa," jawab Kenzo tersenyum mengingat bagaimana sikap dan mulut lemes Sela. Tapi itu menjadi sebuah hiburan sendiri untuknya.
"Itu balasan karena waktu kecil dulu kamu sering buat Papa sama Mama kesal setengah mati," ucap Anggara yang dibalas tawa oleh mereka semua. Kenzo tidak marah, karena memang itu yang terjadi.
"Oiya, Kinzi dimana?" tanya Kenzo.
"Aku disini," ucap Kinzi yang baru saja turun dan langsung menuju ruang tamu.
Zahra tersenyum. Dia berpelukan dengan Kinzi dan saling bertanya kabar.
"Ada apa Kenzo? Kenapa kamu meminta Papa untuk tidak ke perusahaan?" tanya Anggara. Kini mereka semua sudah duduk di ruang tamu.
"Ada hal penting yang harus Papa dan Mama tahu," ucap Kenzo.
"Apa?" tanya Melani.
"Kinzi yang akan bicara," ucap Kenzo menatap Kinzi yang sejak tadi menunduk.
Semua mata menatap Kinzi. Jari tangan wanita itu saling bertaut, berusaha mengurangi kegugupannya. Tidak ada salahnya mencoba, bukan. Toh dia tidak berbuat dosa atau hal hina yang merugikan dirinya sendiri dan keluarga.
"Ada apa Kinzi? Bicaralah, Nak," ucap Anggara lembut menatap anaknya yang hanya diam.
"Pa, Ma," panggil Kinzi pelan.
"Kinzi sudah menemukan seseorang yang akan menjadi pendamping hidup Kinzi," lanjutnya menatap Anggara dan Melani bergantian.
Anggara dan Melani tersenyum. Mata mereka berbinar mendengar perkataan anaknya. Akhirnya, setelah banyak penolakan yang dilakukan Kinzi terhadap beberapa lelaki yang meminangnya, kini wanita itu sudah menemukan tambatan hatinya.
"Mama sangat senang mendengar kabar baik ini, Nak. Siapa?" tanya Melani antusias.
Kenzo dan Zahra hanya diam menyaksikan. Biarlah Kinzi yang bicara, itu haknya untuk menyampaikan segala perasaanya.
Kinzi menatap lama Melani dan Anggara. Setelahnya dia beralih menatap Kenzo dan Zahra. Sungguh, dia takut nama yang akan dia sebutkan akan menghancurkan binar bahagia Papa dan Mamanya.
"Kevin, Pa, Ma," ucap Kinzi.
Melani dan Anggara terdiam. Ekspresi yang tadinya berbinar itu tiba-tiba berubah tegang. "Kevin siapa?" tanya Anggara ragu.
"Kevin, mertuanya Kenzo. Ayah angkat Zahra," ucap Kinzi dengan segenap keberaniannya menyampaikan kepada Anggara dan Melani.
"JANGAN BERCANDA, KINZI!" teriak Anggara emosi mendengar perkataan Kinzi.
Semua terlonjak kaget mendengar teriakan Anggara. Kinzi hanya bisa memejamkan mata menahan sesaknya. Setelah ini, perjuangannya akan lebih sulit lagi.
"Mas, jaga emosi kamu," ucap Melani lembut menenangkan suaminya.
Anggara mengambil nafas banyak menormalkan detak jantungnya yang tak karuan setelah mendengar pengakuan Kinzi. "Kamu tahu jika Kevin itu adalah Ayah mertua kembaran kamu, Kinzi. Umurnya sangat berbeda jauh dari kamu. Kalian itu berbeda usia dua puluh tahun, Kinzi. Dua puluh tahun," ucap Anggara menekankan kata-katanya pada Kinzi.
"Kinzi tahu, Pa. Tapi hati Kinzi memilih Kevin. Untuk kali ini, izinkan Kinzi bahagia, Pa," ucap Kinzi dengan mengatupkan ke dua tangan di depan dadanya.
"Kak Kinzi," ucap Zahra lemah tak tega melihat Kinzi yang sudah hampir menangis.
"Kinzi sudah mengalah dan berbesar hati menerima penolakan Al dulu. Sekarang, jangan buat hati Kinzi bekerja lebih keras lagi dengan melupakan Kevin, Pa. Kinzi mohon, restui Kinzi. Ma, restui Kinzi, Ma," ucap Kinzi dengan suara bergetar menatap Papa dan Mamanya bergantian.
"Jangan egois, Kinzi. Sampai kapanpun, keinginanmu ini tentu tidak akan pernah terpenuhi!" ucap Kenzo menimpali.
"Aku egois untuk hatiku, Ken. Lagi pula semua ini sah untuk dilakukan. Tidak ada larangannya," ucap Kinzi sendu.
"Apa kau tak berpikir Kinzi? Ayah Kevin itu mertuaku, dan tidak mungkin dia menjadi adik ipar ku sekaligus. Gunakan akal sehatmu!" ucap Kenzo.
"Aku mohon Kenzo, jangan memperumit semuanya," ucap Kinzi lirih.
"Lupakan keinginanmu itu, Kinzi. Biar Papa yang akan mencari lelaki terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu!" ucap Anggara.
Kinzi menggeleng. "Ma, bantu Kinzi, Ma," ucap Kinzi menangis menatap sendu Melani.
Melain berdiri dan beralih duduk disebelah Kinzi. "Dengarkan apa kata Papa dan saudara kamu, Nak. Itu semua tidak mungkin. Masih banyak lelaki diluar sana yang akan menerima kamu menjadi istrinya," ucap Melani lembut.
"Tapi hati Kinzi memilih Kevin, Ma. Jika memang menerima lelaki itu mudah, sudah sejak dulu Kinzi menentukan hati Kinzi untuk memilih siapa," jawab Kinzi sendu.
Kinzi berdiri dan berjalan mendekati Anggara. "Pa, jika Papa merestui, maka semua akan mudah, Pa. Kinzi mohon," ucap Kinzi berlutut didepan Anggara.
"Itu adalah hal yang tak mungkin, Kinzi!" jawab Anggara tegas. Mata lelaki itu sudah memerah menahan semua amarahnya.
Kinzi berdiri dan menatap Papanya yang berdiri membelakanginya. "Kenapa tidak mungkin, Pa? Kinzi selalu menuruti perkataan Papa dan Mama untuk ikhlas dan merelakan Al dulu. Kinzi menuruti perkataan Papa dan Mama yang meminta Kinzi untuk melupakan Al. Kinzi melakukannya dengan besar hati. Tapi untuk kali ini, restui Kinzi, Pa," ucap Kinzi memohon kepada Anggara.
"Atau kalian semua mau Kinzi kembali merebut Al?"
PLAK.
Satu tamparan mendarat sempurna di wajah Kinzi. Wajah gadis itu sampai menoleh ke samping karena tamparan keras itu.
"MAS!"
"KENZO!" ucap mereka semua berteriak melihat Kenzo yang menampar Kinzi.
"Mas, kendalikan diri kamu," ucap Zahra menenangkan Kenzo.
"Jangan bawa-bawa rumah tangga Al dalam hal ini. Karena ini tidak ada hubungannya, Kinzi!" ucap Kenzo tegas.
Air mata Kinzi jatuh begitu deras bersama dengan hatinya yang sangat sesak. Dia tidak sungguh-sunggu mengatakan itu. Dia hanya berusaha memancing mereka semua agar memberinya restu. Kinzi tidak sejahat itu, dan lagi pula, hatinya sudah untuk Kevin seutuhnya. Kinzi juga tidak mungkin menyia-nyiakan perjuangan Zahra dulu untuk melindungi rumah tangga Al dari dendam Kenzo.
"Kak Kinzi," ucap Zahra sendu memeluk Kinzi yang kini sudah menangis tersedu.
"Mas, jangan main tangan seperti ini. Kamu melukai fisik Kakak ipar ku," ucap Zahra.
Kenzo menghela nafas berat. "Kinzi, jika kau masih memaksakan kehendak mu, berarti kau mempertaruhkan rumah tanggaku dengan Zahra. Mau harus memilih, membentuk hubungan baru atau malah menghancurkan hubungan yang sudah terjalin ini!" ucap Kenzo tegas.
"TIDAK AKAN ADA HUBUNGAN YANG HANCUR!"
Sebuah suara dari arah pintu membuat mereka semua menoleh. Di sana, sudah berdiri seorang lelaki yang sudah tak muda dengan wajah tegasnya.
"Ayah."
"Kevin."
......................
Kevin dan Kinzi bahagia nggak yaaaa????? Tunggu update berikutnya ya teman-teman
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏