
🌹HAPPY READING🌹
Kamu ingat ini baik-baik! Meskipun kau membasuh tubuh anakku dengan darahmu, kata maaf itu tidak akan pernah kau dapatkan!
Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Kenzo. Kini Kenzo bersama dengan kedua orang tuanya sedang berada di dalam kamar inap Kinzi. Mereka duduk di sofa dengan kepala Kenzo yang menunduk dan mata yang terpejam. Jari-jari tangannya saling menyatu, seolah mengisyaratkan bahwa dia sedang berpikir keras. Wajahnya masih penuh dengan luka sobek dan lebam akibat pukulan dari Al dan Ibra. Sedangkan darah di wajahnya sudah mulai mengering. Bahkan Melani tidak berniat sedikitpun untuk membersihkan wajah anaknya itu.
"Kau puas, Kenzo?" tanya Anggara pada anaknya.
Kenzo membuka matanya dan mengangkat kepala untuk menatap Anggara. Dia hanya diam dan tidak berniat membalas perkataan Anggara.
"Kau kehilangan berlian hanya karena kotoran dalam hatimu, Kenzo," ucap Anggara tegas.
"Kenzo hanya melakukan apa yang seharusnya Kenzo lakukan, Pa," jawab Kenzo.
"Kamu pikir Kinzi akan senang dengan semua ini? Kamu pikir Kinzi akan senang dengan caramu yang sangat hina ini? Lelaki sejati tidak menyakiti seorang wanita, Kenzo. Apalagi dengan sangat dalam seperti kau menyakiti Zahra," ucap Anggara.
"Kenzo percaya Kinzi akan mendukung apa yang Kenzo lakukan," jawab Kenzo yakin.
"Jangan menyesal suatu saat nanti, Nak," ucap Melani ikut buka suara.
"Kenzo nggak akan menyesal, Ma," jawab Kenzo.
Melani tertawa sumbang mendengar jawaban anaknya yang terdengar sangat percaya diri itu. "Jika nanti penyesalan itu datang, jangan merengek dan datang kepada Mama dan Papa untuk bisa mempertemukanmu dengan menantu Mama. Ingat itu baik-baik Kenzo!" ucap Melaju tegas dan pergi keluar dari kamar Kinzi. Dia butuh waktu untuk menetralkan emosinya melihat kelakuan anak yang selama ini dia didik dengan penuh kasih sayang, harus melakukan kesalahan yang bahkan mungkin tidak akan pernah terbayangkan.
Anggara yang melihat istrinya keluar hanya menghela nafas pelan. Lalu dia kembali menatap Kenzo yang kini tengah menatap Kinzi dengan tatapan sendu.
"Papa mengerti bagaimana pentingnya Kinzi untuk kamu Kenzo. Begitu juga dengan Papa dan Mama. Kinzi juga anak kami, darah daging kami. Tapi kami tidak memiliki pikiran hina seperti mu ini, Kenzo. Jangan temui Papa jika kamu menyesal nanti," ucap Anggara dan langsung berdiri menyusup Melani keluar dari kamar inap Kinzi.
Air mata Kenzo mengalir setelah kepergian Papa dan Mamanya. "Aku tidak bisa jika terus menyakitinya lebih lama lagi. Maafkan aku, Istriku," gumam Kenzo sendu menutup wajah dengan kedua tangannya.
.....
Sedangkan di tempat lain, Keluarga Ibra sudah berada di kediamannya. Zahra hanya diam duduk di kursi rodanya dengan pandangan kosong. Kini mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
Al yang melihat adiknya seperti itu bersimpuh di depan kursi roda Zahra. "Zahra," panggil Al lembut.
Zahra mengalihkan tatapan kosongnya kepada Al. Dia mencoba tersenyum dibalik luka yang begitu dalam.
"Maafin Abang, ya," ucap Al dengan suara bergetar. Sungguh, setelah mendengar semua pengakuan Kenzo mengenai Kinzi, rasa bersalah itu menyeruak dalam dirinya.
Zahra menggeleng mendengar perkataan Al. "Bukan Abang yang salah. Mungkin ini sudah jalan hidup Zahra yang diberikan oleh Allah," jawab Zahra tenang.
Dee yang mendengar jawaban Zahra hanya bisa menangis diam dalam pelukan Ibra. Sedangkan Kina sudah lari ke kamarnya karena tidak sanggup melihat wajah Zahra yang begitu pilu baginya.
Tangan Zahra terulur menghapus air mata yang mengalir di pipi Al. "Abang, jangan sampai Kak Bella mengetahui ini, ya. Kak Bella bisa terluka karena mendengar hal ini. Zahra tidak mau rumah tangga Abang dan Kaka Bella goyah hanya karena Zahra," ucap Zahra.
"Tapi-"
"Jangan sia-siakan perjuangan Zahra, Abang," potong Zahra cepat dengan suara menahan tangisnya.
Al hanya bisa mengangguk dan memeluk adiknya itu. "Maafin Abang, Zahra," gumam Al berkali-kali.
Setelah beberapa lama, Zahra melepaskan pelukannya dari Al. Dia beralih menatap Dee yang menangis dipelukan Ibra. "Umi," panggil Zahra pelan.
Dee melepaskan pelukannya dari Ibra dan mendekat ke kursi roda Zahra. Al berdiri dan membiarkan Dee menggantikan posisinya bersimpuh di depan Zahra.
"Apa sakit seperti ini dulu yang Umi rasakan saat Bunda datang kedalam kehidupan Umi bersama Abi?" pertanyaan Zahra terlontar begitu saja dari dalam mulutnya yang mampu membuat tangis Dee semakin pecah.
"Kenapa bicara seperti itu, Nak?" tanya Dee lirih.
"Maafin Zahra dan Bunda yang dulu datang merusak kebahagiaan Umi dan Abi, ya. Ternyata sakitnya sangat tidak ada tandingannya, Umi. Bahkan kematian rasanya lebih baik lagi, hiks," ucap Zahra dengan air mata yang mengalir deras.
Dee menggeleng kuat mendengar perkataan Zahra. "Bukan salah Zahra, Nak. Umi sudah memaafkan segalanya," ucap Dee tak tega melihat Zahra.
Tangan Ibra mengepal kuat mendengar perkataan Zahra. Kesalahannya di masa lalu ternyata memberikan efek yang sangat besar seperti ini kepada keluarganya. Sungguh, penyesalan itu tidak pernah hilang di hati Ibra.
"Umi, Zahra mohon jangan menangis lagi untuk Zahra ya, Umi. Air mata Umi sudah terlalu banyak keluar hanya karena Zahra dan Bunda. Bahkan itu sudah terjadi sejak dulu. Maafkan Bunda, ya Umi," ucap Zahra.
Dee mengangguk kuat mengiyakan perkataan Zahra. "Umi sudah memaafkan Bunda Sofia sejak lama, Nak. Zahra sudah Umi anggap anak Umi sendiri. Zahra sama seperti Abang dan Adek. Kalian bertiga adalah anak Umi. Tidak ada yang bisa membantah itu," ucap Dee menghapus air mata Zahra.
"Abi," panggil Zahra pada Ibra.
"Iya, Nak," ucap Ibra berusaha tenang.
"Abi tidak menyesal mempunyai anak seperti Zahra, kan. Apalagi saat ini Zahra sudah hina, Abi. Tidak ada yang bisa Zahra banggakan," ucap Zahra menatap Ibra.
Ibra mendekat dan bersimpuh di bagian samping kursi roda Zahra. "Abi bersyukur memiliki Zahra. Abi bangga punya anak tangguh dan kuat seperti Zahra," ucap Ibra lembut mengusap lembut pucuk kepala Zahra.
Zahra tersenyum dalam tangisnya. "Terimakasih Abi," ucap Zahra.
"Kalau begitu Umi bantu Zahra bersih-bersih, ya," ucap Dee lembut.
"Apa noda itu bisa hilang dengan mandi, Umi?" tanya Zahra.
Dee mengangguk meskipun hatinya ngilu mendengar pertanyaan Zahra yang begitu dalam dan menyakitkan.
"Boleh Zahra minta peluk dari Umi terlebih dahulu?" pinta Zahra mencoba tersenyum.
Dee mengangguk dengan cepat. Dia memeluk Zahra yang juga melingkarkan tangannya di leher Dee. "Zahra sayang Umi," ucap Zahra.
"ZAHRA!" pekik Ibra, Al dan Dee melihat Zahra yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukan Dee. Tangannya yang tadi melingkar di leher Dee sudah terlepas begitu saja.
"Al angkat Zahra, Nak. Biar Umi telepon Dokter," ucap Dee.
Al mengangguk dan langsung mengangkat Zahra ke kamar yang dulu Zahra tempati sebelum menikah.
Sedangkan Kina yang melihat itu semua dari lantai dua dengan tangis yang sudah dia tahan sejak tadi langsung mengeluarkan ponsel dari saku gamisnya. Tangan Kina dengan gemetar mencari nama seseorang yang akan dia hubungi. Setelah ketemu, Kina langsung menekan tombol panggilan.
"Ayah Kevin, Pulang sekarang, ya."
......................
Maaf karena baru update teman-teman. Kondisi kesehatan yang sedikit menurun membuat author susah mikir. Semoga part ini tetap ngena di hati kalian semua ya 🤗🤗🌹
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz