
Haiiiiii,, berjumpa lagi teman-teman semua. Akhirnya Kenzo dan Zahra bisa update lagi setelah sekian purnama. Semoga kalian tetap suka dan menikmati kisah ini, yaaaaa
🌹HAPPY READING🌹
Lorong rumah sakit begitu menggema karena bunyi pertemuan telapak kaki beberapa orang yang berlari kecil dengan lantai. Mereka semua menatap cemas seorang wanita yang kini terbaring di kasur rumah sakit yang di dorong oleh beberapa orang itu. Tangan seorang laki-laki yang mencintai wanita itu tidak hentinya menguatkan dan menggenggam tangan wanita tersebut. Cairan merah kental tidak henti keluar dari dada dan juga perut wanita itu.
"Mas," panggilnya lirih pada lelaki tersebut.
"Kamu tenang ya, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita akan terus bersama, Sayang," ucapnya menatap wanita tersebut dengan mata berkaca-kaca.
"Doain aku, ya Mas," ucapnya dengan nafas tersengal.
"Hiks," hanya tangis yang keluar dari mulut lelaki itu. Dia tidak sanggup untuk menjawab kata yabg keluar dari mulut wanita itu.
"Maaf, Tuan. Kalian dilarang masuk. Dokter harus segera memeriksa dan melakukan operasi," ucap salah satu perawat.
"Izinkan saya masuk, Suster. Izinkan saya menamai istri saya," ucap lelaki itu memohon pada Dokter.
"Kenzo," panggil suara lembut yang lirih dengan tepukan pelan di bahunya.
"Umi, Zahra-"
"Kita harus berdoa, Nak. Biarkan Dokter melakukan yang terbaik, kita harus mengiringi usaha dokter dengan segala doa, Nak," ucap Dee menasehati Kenzo.
Kenzo memejamkan mata sebentar dan kembali menatap wanita yang terbaring lemah di brangkar rumah sakit.
"Kamu kuat, ya. Ingat, disini ada aku dan juga sela yang selalu menanti kehadiran kamu," ucap Kenzo dan memberikan kecupan yang lama di dahi Zahra.
Ya, dia adalah Zahra. Wanita yang beberapa jam yang lalu menjadi korban tembakan oleh wanita yang sudah membesarkannya. Sofia, wanita itu hendak menembak punggung Ibra, namun dengan sigap Zahra melindungi lelaki yang dia anggap sebagai Ayah kandungnya itu. Hingga peluru yang tadinya ditujukan untuk Ibra, berakhir di dada dan perut Zahra.
Dee berjalan mendekati Zahra. "Nak," panggil Dee sendu.
Dengan lemah kepala Zahra menoleh kesamping. Dengan segala sisa tenaganya, Zahra menahan sakit yang teramat sangat ini ditubuhnya.
"Zahra kuat, ya Nak. Doa Umi selalu untuk Zahra. Ingat, Nak. Zahra harus kuat, jangan biarkan Sela kehilangan surganya, ya," ucap Dee mengusap lembut dahi Zahra.
"Ara sayang Umi, Ara sayang Abi, Ara sayang Ayah, Ara sayang Abang, dan Ara cinta kak Ken," ucap Zahra setelah kesadarannya hilang.
"Maaf, Tuan. Kami harus segera mengambil tindakan," ucap Suster.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap Kenzo sendu.
Suster tersebut mengangguk. Dia dibantu beberapa suster lainnya mendorong brangkar tersebut untuk segera masuk keruang operasi.
"Al," panggil Kenzo lirih dengan suara bergetar setelah Zahra benar-benar dibawa keruang operasi.
"Zahra pasti baik-baik saja, Ken," ucap Al memeluk Kenzo layaknya seorang Abang yang menenangkan adiknya yang sedang menangis.
Tangis Kenzo pecah dalam pelukan sahabat sekaligus Abang iparnya itu. Sungguh, Kenzo tidak pernah melihat Kenzo seperti ini. Dulu, saat Zahra pergi, Kenzo tidak se-rapuh ini.
"Sahabat gue nggak selemah ini, Ken," ucap Al mencoba menyemangati Kenzo.
"Gue takut, Al," ucap Kenzo dengan tangisnya.
"Zahra bukan gadis yang lemah, Ken. Banyak rintangan yang lebih besar yang sudah dilalui oleh Zahra. Dan dia berhasil kan. Zahra, Adek gue, istri Lo, adalah wanita kuat, Ken," ucap Al.
Kenzo hanya mengangguk. Dia melepaskan diri dari pelukan Al dan menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya.
Kenzo berjala ke kursi tunggu. Di sana nampak Ibra yang duduk dengan pandangan kosong bersama Dee dan Kevin. Sedangkan Thomas dan Aska ikut ke kantor polisi untuk mengurus Sofia.
"Apa ini yang Abi inginkan?" tanya Kenzo lemah menatap Ibra dengan mata sayunya.
Ibra menggerakkan bola matanya beralih menatap Kenzo. "Maaf," satu kata yang terucap dari mulutnya.
"Ken," peringat Dee menggeleng menatap Kenzo. Ini bukan waktu yang tepat untuk saling menyalahkan. Dee paham, Kenzo pasti kesal dengan sikap Ibra yang tidak menerima Zahra. Namun, disisi lain, Ibra adalah korban sama seperti Zahra. Ibra adalah orang pertama yang terluka akan permainan Sofia. Secara tidak langsung karena kelicikan Sofia, Ibra menjadi pelaku sekaligus korban. Dee takut akan kondisi psikologi suaminya itu. Sejak tadi saat membawa Zahra ke rumah sakit, sampai sekarang, baru satu kata itu yang terucap dari mulut Ibra 'Maa'. Selebihnya, lelaki paruh baya itu hanya diam.
"Maaf," ucap Ibra sekali lagi dengan kepala menunduk.
"Maaf," gumam Ibra sekali lagi dengan kepala yang setia menunduk.
Dee khawatir. Ibra terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang menyesali perbuatannya.
"Al," panggil Dee pada Al yang berdiri di belakang Kenzo.
Al berjalan mendekati Ibra dan bersimpuh di depan lelaki itu. "Abi," panggil Al lembut.
Ibra mengangkat kepalanya. Mata lelaki paruh baya itu sudah dipenuhi oleh cairan bening yang berkumpul di pelupuk matanya. "Maaf," ucap Ibra lagi menatap Al sendu.
Tangan Al terulur menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dari pipi Ibra. "Abi tidak salah. Abi tidak perlu minta maaf," ucap Al lembut.
"Maaf," gumam Ibra lagi. Dee tidak kuasa menahan laju air matanya. Begitu juga dengan Kevin yang tanpa aba-aba merasakan air bening mengalir disudut matanya. Tangan lelaki itu terkepal kuat di dalam saku celananya.
Ibra, sahabat yang dia kenal kuat dan tegar itu, kini nampak sangat rapuh dan hancur. Sungguh, segala perbuatan Sofia benar-benar mempermainkan mental Ibra.
Kau harus membayar semua ini, Sofia. Batin Kevin dengan amarah tertahan di dalam dirinya.
Ya Allah, selamatkan kesehatan mental suamiku, selamatkan keluargaku. Batin Dee menangis melihat keadaan yang terjadi. Baru saja kebahagiaan datang, tapi air mata kembali membasahi semuanya. Luka kembali membalut kehidupan mereka dengan kepedihan yang menyesakkan dada.
"Mas, sudah, ya. Semua akan baik-baik saja. Zahra, anak kita akan baik-baik saja," ucap Dee menenangkan Ibra.
"Maaf," ucap Ibra kembali menatap Dee dengan mata sayu dan berair.
Al tidak kuasa menahan kesedihannya. Lelaki itu menjatuhkan kepalanya ke lutut Ibra. menyembunyikan air mata yang mengalir itu dari semuanya.
"Zahra butuh doa kita, Abi. Bukan keadaan seperti ini," ucap Al dengan suara teredam.
Dari kejauhan, nampak beberapa orang berlari dari ujung lorong. Langkah mereka nampak tergesa-gesa menuju ruang operasi itu. Seorang anak kecil disana sudah menangis dipelukan seorang wanita paruh baya yang dia panggil sebagai Neneknya. Saat suara itu mendekat, mereka semua yang ada di depan ruang operasi menoleh.
"Sela."
"Ayah, hiks," tangis anak kecil itu pecah setelah dia beralih di gendongan Ayahnya.
"Maaf, Kak Ken. Kami semua khawatir," ucap Kina menyesal karena membawa Sela dan juga Shasa ke rumah sakit. Mereka semua khawatir setelah mendapat kabar dari Aska yang memberitahu atas permintaan Dee. Bagaimanapun juga, mereka semua berhak mengetahuinya.
Kenzo mengangguk menjawab perkataan Kina.
"Sela, kenapa menangis, Nak?" tanya Kenzo lembut menghapus air mata Sela.
"Buna," ucap Sela disela tangisnya.
"Maaf, Ken. Sejak tadi Sela gelisah mengingat Zahra. Ibu tidak bisa mencegahnya untuk tidak menangis," ucap Bu Sari tak enak.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Kenzo.
"Buna dimana Ayah?" tanya Sela menatap Kenzo.
"Kita akan bertemu Bunda. Tapi Sela harus berdoa, ya. Kita harus berdoa untuk Bunda," ucap Kenzo berusaha tegar.
Mereka semua yang mendengar itu mengerti dengan apa yang diucapkan Kenzo, kecuali Shasa dan Sela yang masih belum mengerti. Tapi kedua anak itu sudah menangis entah karena apa. Kina mengalihkan pandangannya menatap Ibra yang menatap kosong ke depan. Dia berjalan mendekati Al yang bersimpuh di lantai, dan Dee yang duduk di sebelah Ibra.
"Abi," panggil Kina lembut.
Bola mata Ibra beralih menatap Kina yang sudah ikut bersimpuh disebelah Al. "Maaf."
......................
Maaf baru update setelah sepuluh hari tidak muncul teman-teman. Ada beberapa kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘