
🌹HAPPY READING🌹
Sampai di halaman terakhir, Kevin dapat melihat keterangan dari singkatan-singkatan yang dibuat Zahra.
"IK \= Ibu Kandung."
DEG
Jantung Kenzo berdetak cepat membaca kalimat tersebut. Tangannya bergetar dengan wajah yang percaya. "I-ini semua nggak mungkin salah paham kan," ucap Kenzo khawatir.
"Enggak-enggak, Zahra adalah anak Haidee dan Ibra. Jadi ini pasti keliru. Pasti ini bohongan," gumam Kenzo.
Kenzo mengambil buku tersebut dan segera berlari keluar rumah. Tujuannya saat ini adalah rumah kedua orang tuanya. Hatinya sungguh tak tenang dengan apa yang ada di benaknya saat ini.
Kenzo mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. "Ini nggak mungkin," gumam Kenzo untuk kesekian kalinya.
Lima belas menit, mobil Kenzo sampai di rumah kedua orang tuanya.
"Pa, Ma!" teriak Kenzo dari ruang tamu.
"Pa, Ma!" panggil Kenzo yang kedua kalinya. Namun tidak mendapat balasan apapun.
Kenzo pergi ke lantai dua untuk menuju kamar orang tuanya.
"Pa, Ma," panggil Kenzo melihat Papa dan Mamanya yang sedang duduk berdua di atas ranjang.
"Benar-benar tidak sopan kamu, Kenzo!" ucap Anggara kesal. Dia sedang bermesraan dengan istrinya, dan Kenzo dengan seenaknya masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kenzo mau bicara sama Papa dan Mama. Kenzo tunggu di ruang keluarga," ucap Kenzo dan langsung berbalik meninggalkan Anggara dan Melani.
"Apa ini ada hubungannya dengan Zahra, Pa?" tanya Melani.
"Papa nggak tahu, Ma. Kita turun aja, yuk," ucap Anggara yang langsung disetujui Melani.
Mereka berdua turun turun dari ranjang dan keluar dari kamar untuk menyusul Kenzo yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Ada apa, Ken?" tanya Melani yang kini sudah duduk bersama Anggara di sofa depan Kenzo.
"Ma, Kenzo mau tanya sesuatu," ucap Kenzo.
"Tentang apa?" tanya Melani.
Kenzo menatap Melani dan Anggara secara bergantian. Jujur saja, sekarang ini dia sedang mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya kepada kedua orang tuanya.
"Siapa Ibu kandung Zahra?" tanya Kenzo ragu.
Anggara dan Melani saling pandang. Setelahnya Anggara tersenyum mengejek kepada anaknya itu. "Untuk apa kamu menanyakan itu? Bukankah kamu tahu semuanya tentang Zahra, hingga kamu dengan keyakinan penuh memperlakukannya dengan sangat tidak baik?" tanya Anggara menatap sengit anaknya itu.
"Pa, tolong jawab saja pertanyaan Kenzo," ucap Kenzo.
"Sekarang kamu bertanya kepada kami, Nak. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin kamu bertanya sebelum melecehkan menantu Mama?" ucap Melani menatap sendu anaknya itu.
"Ma, Kenzo-"
"Tidak ada gunanya kamu bertanya sekarang, Kenzo. Pulang dan cari tahu semuanya sendiri. Dengan begitu penyesalannya akan terasa lebih menyakitkan," ucap Anggara dan langsung pergi meninggalkan Melani dan Kenzo berdua di ruang keluarga.
Kenzo menghela nafas pelan dan beralih menatap Melani. "Ma," panggil Kenzo dengan nada memalasnya.
"Mama tidak tahu, Nak. Kali ini tolong gunakan kecerdasanmu dengan sangat baik," ucap Melani menyusul Anggara ke kamarnya.
Kenzo menyenderkan punggungnya ke sofa. Menatap langit-langit rumahnya yang dihiasi lampu kristal tersebut. "Semoga tidak benar," gumam Kenzo.
Setelah itu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Arman, saya punya tugas untuk kamu," ucap Kenzo langsung setelah Arman diseberang sana mengangkat panggilannya.
"Pekerjaan apa, Tuan?" tanya Arman diseberang sana.
"Selidiki seluruh masa lalu keluarga Hebi," ucap Kenzo.
"Tapi Tuan-"
"Tidak ada tapi-tapian, Arman. Bayarannya sepuluh kali lipat gajimu," ucap Kenzo.
Kenzo memutus panggilannya setelah mendengar jawaban Arman. Tangannya terulur memegang jantungnya yang berdetak tak karuan. Kecemasan dan ketakutan benar-benar hadir dalam diri Kenzo saat ini.
.....
Zahra membuka matanya dengan perlahan. Kepalanya terasa sangat berat hingga tidak sanggup untuk mendudukkan badannya.
"Kak Bella," ucap Zahra ketika melihat Bella yang duduk di pinggir ranjangnya.
"Zahra udah bangun?" ucap Bella sambil membantu Zahra untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Zahra meringis merasakan area bawahnya yang terasa sangat sakit dan pedih. Dan Bella melihat itu semua.
"Zahra," panggil Bella lembut.
Zahra tersenyum dan menatap Bella. "Iya Kakak Ipar," jawab Zahra dengan nada cerianya.
Bahkan kamu berusaha ceria dihadapan Kakak, Zahra. Batin Bella sendu melihat senyum Zahra yang serat akan luka.
Bella menggenggam kedua tangan Zahra. "Maafin Kakak, ya Zahra," ucap Bella sendu.
"Minta maaf?" tanya Zahra tak tenang. Dia takut Bella akan mengetahui semuanya. Dia tidak ingin rumah tangga Al dan Zahra renggang hanya karena ini.
"Jangan sembunyikan semuanya dari Kakak, Zahra. Kakak tahu, Kakak tahu semuanya," ucap Bella.
Ya, Bella memang mengetahui semuanya. Dia memaksa Al untuk menceritakan semuanya. Tapi dengan syarat, Bella tidak akan bertindak diluar kendali untuk mengambil keputusannya.
"Kak, semuanya tidak ada hubungan dengan Kakak," ucap Zahra mencoba mengelak.
"Jangan bohong Zahra," ucap Bella menggeleng dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kak, Zahra ikhlas kok. Semua ini membentuk Zahra menjadi wanita yang lebih tegar lagi. Biar bisa kayak Kakak dan Umi," ucap Zahra dengan senyum manisnya.
Bella membawa Zahra kedalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Zahra yang tidak tertutup oleh hijabnya.
"Terimakasih telah berkorban untuk rumah tangga Kakak, Zahra," ucap Bella lirih.
Zahra melepaskan pelukannya dan menatap Bella dengan lembut. "Boleh Zahra minta sesuatu sama Kak Bella untuk bayarannya?" tanya Zahra.
Zahra mengangguk yakin. "Apapun untuk Adik Kakak yang cantik," ucap Bella.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalin Abang ya, Kak. Tolong selalu jaga senyum di bibir Abang. Tolong selalu buat Abang beruntung memiliki Kakak. Jangan biarkan Abang memiliki rasa bersalah karena semua ini, Kak," ucap Zahra.
"Setulus ini kamu Zahra," ucap Bella sendu.
"Zahra akan lakukan apapun untuk Abang dan Adek. Semua ini bahkan belum bisa membayar luka yang dulu ada karena kehadiran Zahra. Sekarang Zahra ingin kehadiran Zahra berguna untuk Abang dan Adek. Zahra sangat menyayangi mereka Kak," ucap Zahra lembut.
"Kami semua juga sangat menyayangi Zahra. Zahra adalah berlian untuk kami semua," ucap Bella.
Tapi Zahra sampah bagi suami Zahra sendiri, Kak. Batin Zahra sedih mengingat Kenzo. Tapi sebaik mungkin semua itu dia sembunyikan dari Bella.
Zahra kembali meringis saat area bawahnya terasa sangat perih. "Zahra kenapa Dek?" tanya Bella yang melihat perubahan raut wajah Zahra.
Zahra tersenyum dan menggeleng. "Badan Zahra cuma pegal aja, Kak," jawab Zahra.
"Kak," panggil Zahra.
"Iya Zahra," ucap Bella memandang Bella.
"Jangan sia-siakan perjuangan Zahra, ya. Seberat apapun masalah dalam rumah tangga Kakak dan Abang nanti, tolong jangan pernah tinggalkan Abang," ucap Zahra sekali lagi meminta kesetiaan Bella kepada Al.
"Kakak janji, Zahra. Ada tulang rusuk Al dalam tubuh Kakak. Jadi Kakak tidak akan menyakiti Al dengan membawa sebagian anggota tubuhnya," ucap Bella dengan senyum lembutnya.
Tanpa mereka sadari, Al mendengar semuanya dari balik kamar Zahra.
Inikah adik yang dulu tidak aku terima kehadirannya? Abang janji akan adil dan sayang sama Kina dan Zara. Kalian adalah wanita-wanita terbaik Abang. Batin Al yakin.
......................
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz