Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 165



🌹HAPPY READING🌹


"Kenapa Asisten Arman?" tanya Zahra melihat gelagat aneh Arman.


"Em, Saya akan bertanya dulu pada Tuan apa dia bisa menerima tamu atau tidak, Nyonya," jawab Arman yang membuat Zahra terkejut.


"Apakah seorang istri ini juga termasuk tamu?" tanya Zahra.


"Bu-bukan begitu, Nyonya. Hanya saj-" perkataan Arman terpotong begitu Zahra langsung mendorong pintu ruangan Kenzo dan masuk tanpa permisi.


DEG


Jantung Zahra berdetak kencang melihat pemandangan di depannya. "Mas Kenzo!" teriak Zahra lantang melihat keadaan ruang kerja Kenzo yang sangat kacau. Kertas yang berserakan dimana-mana, pecahan kaca yang sangat tidak berbentuk, serta meja kerja lelaki itu sudah terbalik tak berdaya.


Zahra meletakkan rantang di meja dan berlari mendekati Kenzo yang terduduk di kursi. Sungguh, Zahra sangat terkejut melihat keadaan suaminya yang sangat kacau seperti ini.


"Mas Kenzo," ucap Zahra lirih menghapus jejak air mata yang ada di pipi Kenzo.


Kenzo hanya diam dan terus memandangi Zahra. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Entahlah, melihat Zahra membuat dia teringat akan segala kebodohannya, segala kegagalannya dalam memimpin perusahaanya, dan segala kekurangannya menjadi kepala keluarga. Benarkah harga dirinya sangat rendah karena menerima bantuan keluarga istrinya itu? Entahlah, yang pasti Kenzo sangat-sangat kecewa pada dirinya sendiri.


"Kita obati lukanya, ya Mas," ucap Zahra pelan menarik lembut tangan Kenzo dan mengajaknya duduk di sofa.


Setelah Kenzo duduk, Zahra mengambil kotak P3K yang tersimpan di lemari kaca ruangannya. Kenzo hanya memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Tahan ya, Mas. Ini akan sedikit sakit," ucap Zahra saat akan menempelkan kapas yang sudah memiliki kadar alkohol didalamnya agar luka ditangan Kenzo cepat kering.


"Iisshhhh," ringis Kenzo saat kapas dingin itu menyentuh permukaan lukanya.


Zahra ikut meringis mendengar rintihan Kenzo, tapi kali ini dia harus tega agar luka itu cepat kering.


"Kenapa bisa seperti ini, Mas? Apa ada masalah dengan pekerjaannya?" tanya Zahra lembut disela kegiatannya mengobati luka Kenzo.


Kenzo hanya diam dengan tatapan lurus menatap Zahra. Tidak mendapat respon Kenzo, Zahra mengangkat kepalanya. Pandangan mereka bertemu, terdapat sirat luka, sedih dan kecewa yang dapat Zahra lihat di mata Kenzo.


Sedangkan Kenzo dapat melihat pandangan lembut nan teduh Zahra untuknya. Beberapa detik, Kenzo mengalihkan pandangan mereka. "Pergilah, ini sudah selesai," ucap Kenzo sambil menarik tangannya yang sudah dirasa baikan.


"Mas," panggil Zahra lembut.


"Pulanglah, pekerjaanku sangat banyak. Aku akan pulang terlambat hari ini," ucap Kenzo langsung berdiri.


Kenzo mengambil ponselnya dan mengubungi Arman. "Kirim orang untuk membersihkan ruangan ku, Arman," ucap Kenzo tegas dan langsung mematikan telfonnya tanpa menunggu jawaban Arman.


Zahra menghela nafas pelan. Dia ikut berdiri dan mencoba meraih tangan Kenzo. "Kita sarapan dulu, ya Mas. Aku udah siapin sarapan buat kamu. Tadi Mas nggak sarapan sebelum berangkat, biar kerja ada tenaganya juga, ya," ucap Zahra lembut.


"Aku tidak lapar," jawab Kenzo singkat.


"Aku tidak menanyakan kamu lapar atau tidak, aku hanya meminta Mas makan sebelum mulai bekerja lagi," ucap Zahra kekeuh dan langsung membuka rantang untuk mempersiapkan bekal di atas meja.


Saat Zahra akan menyuapkan makanannya ke mulut Kenzo, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.


"Maaf, Tuan. Mereka adalah orang-orang yang akan memperbaiki ruangan anda," ucap Arman hormat.


"Kerjakanlah!" ucap Kenzo singkat, padat dan jelas.


"Tapi-"


"Tidak apa-apa, Asisten Arman. Kalian bekerja saja, aku dan suamiku akan ke ruangan pribadi. Ayo Mas," ucap Zahra menjawab raut bingung di wajah Arman.


Tanpa meminta persetujuan Kenzo, Zahra kembali menyusun rantang dan menjinjing dengan sebelah tangan, sedangkan tangan yang lain menarik Kenzo agar mengikutinya ke kamar pribadi yang ada diruangan Kenzo. Kamar yang khusus untuk dia dan suaminya.


.....


"Mas, sarapan ya," ucap Zahra yang kini kembali menyodorkan sendok berisi nasi goreng kepada Kenzo.


Zahra tersenyum melihat Kenzo menerima suapannya. Meskipun tidak bicara sama sekali dan tidak melihatnya, setidaknya Kenzo masih mementingkan kesehatan perutnya sendiri.


Satu suap.


Dua suap.


Tiga suap.


Empat siap.


Lima suap.


"Aku kenyang," ucap Kenzo dan langsung berdiri mengambil minuman yang ada di kulkas mini kamar tersebut.


"Sekarang pulanglah. Aku akan kembali bekerja," ucap Kenzo memunggungi Zahra.


"Zahra mau tetap disini menemani suami Zahra kerja," ucap Zahra.


"Jangan menganggu pekerjaanku. Istri yang baik, pasti paham yang terbaik untuk suaminya!" ucap Kenzo dan langsung berjalan keluar kamar meninggalkan Zahra yang termenung mendengar perkataan lelaki itu.


"Apa salah Zahra sebenarnya?" tanya Zahra lirih pada dirinya sendiri.


"Aws," ringis Zahra ketika merasakan keram lagi di perutnya.


"Anak Bunda jangan nakal, ya. Tadi itu Ayah tidak marah, Ayah hanya sedang banyak pikiran," ucap Zahra pelan mengusap lembut perutnya.


Dengan pelan, Zahra membereskan sisa sarapan mereka. Zahra menyusun rantang dan berdiri untuk keluar kamar.


Cepat sekali kerja mereka. Batin Zahra tak percaya ketika melihat ruang kerja suaminya yang hampir selesai. Hanya tinggal membersihkan serpihan meja yang hancur tadi.


Tidak mempedulikan itu, Zahra berjalan mendekati Kenzo yang sudah duduk di kursi kerjanya dengan meja yang baru.


"Mas," panggil Zahra pelan.


Kenzo hanya diam dengan tetap fokus pada kertas yang dia baca.


Zahra menghela nafas pelan. "Zahra pamit, ya. Semangat kerjanya suami Zahra. Cup," ucap Zahra dengan memberikan kecupan singkat dibibir Kenzo dengan sedikit membungkuk.


"Assalamu'alaikum, Mas," ucap Zahra lagi mengambil tangan Kenzo dan menyalaminya. Setelah itu, Zahra keluar dari ruangan Kenzo dengan menahan sakit dan sesaknya melihat Kenzo yang sama sekali tidak merespon apapun yang dia lakukan.


Kenzo menendangi pintu ruangan yang sudah tertutup. Dia menghela nafas kasar dan menghempaskan file ditangannya dengan sedikit keras.


"Kamu tidak seharusnya seperti itu, Kenzo!" ucap Anggara yang tiba-tiba sudah berada diambang pintu ruangan Kenzo.


Kenzo mengangkat kepalanya. "Papa," ucapnya pelan.


"Apa yang kamu lakukan pada Zahra?" tanya Anggara tanpa basa-basi.


"Ini masalah Kenzo, jadi Papa tidak usah ikut campur," jawab Kenzo mengalihkan pandangannya.


"Tapi kamu melukai menantuku!"


......................


Kenzo kenapa ya? Dia ngapain ya?? Jangan lupa terus ikuti kisahnya ga 🤗


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏