Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 167



🌹HAPPY READING🌹


Zahra terus memandangi ponselnya yang tak kunjung berdering. Matanya juga sesekali melirik keluar jendela, berharap mobil suaminya akan segera datang. Ini sudah setengah jam sejak dia mengirim pada Kenzo, tapi tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan pulang, bahkan pesannya pun tidak dibalas, hanya dibaca saja.


"Kasihan anak Bunda," ucap Zahra mengusap lembut rambut Sela yang menutupi dahinya.


Zahra meletakkan ponselnya di meja. Setelah itu dia menyelipkan tangannya di lipatan lutut dan leher Sela agar bisa mengangkat anaknya untuk dibawa ke kamar.


"Apa yang kamu lakukan, Zahra?" suara Kenzo yang datang tiba-tiba menghentikan kegiatan Zahra.


Zahra tersenyum dan kembali melepaskan tangannya pada tubuh Sela. "Aku mau angkat Sela ke kamarnya, Mas. Tidak enak jika harus membangunkannya," ucap Zahra lembut.


Kenzo melempar tas kerjanya ke sofa dan beralih mengangkat Sela. "Pikirkan, di perutmu ada anakku!" ucap Kenzo tegas dan membawa Sela ke kamarnya.


Zahra memandangi punggung Kenzo yang mulai menjauh. Bahkan suaminya itu tidak mencemaskan ya sama sekali. Tapi tidak apa, setidaknya Kenzo masih mencemaskan anak mereka. "Ini juga anakku, Mas," gumam Zahra pelan.


Zahra mengambil tas kerja Kenzo dan juga ponselnya, setelah itu dia berjalan menyusul Kenzo ke lantai dua. Zahra pergi ke kamarnya untuk meletakkan tas kerja Kenzo, setelah itu dia pergi ke kamar Sela untuk menyusul suaminya.


"Mas," panggil Zahra lembut pada Kenzo yang nampak memandangi wajah damai Sela yang tertidur.


Kenzo tidak menjawab, dia hanya diam dengan terus memandangi wajah Sela. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, hanya dia dan Tuhan yabg tahu.


Tidak mendapat respon dari Kenzo, Zahra menghela nafas pelan. "Mas," panggil Zahra lagi menyentuh punggung tangan Kenzo.


"Aku akan mandi dulu," ucap Kenzo berdiri dan berlalu meninggalkan Zahra.


Zahra mendongak menghalau air mata yang akan jatuh membasahi pipinya. Ini tengah malam, dan dikamar anaknya, dia tidak ingin Sela mengetahui semua ini.


.....


Zahra duduk di ranjangnya menunggu Kenzo yang masih berada di kamar mandi. Ini sudah tengah malam, namun mata wanita itu tidak merasakan kantuk sama sekali. Yang ada dipikirannya saat ini adalah, dia harus bicara dengan suaminya.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka. Kenzo keluar dengan badan yang sudah tertutup oleh pakaian tidurnya, namun tangannya bergerak mengeringkan rambut dengan sebuah handuk hitam kecoil. Zahra langsung berdiri dan mengambil alih handuk yang ada ditangan Kenzo untuk mengeringkan rambut lelaki itu.


Kenzo hanya diam membiarkan apa yang dilakukan Zahra. Dia hanya menurut hingga Zahra memintanya untuk duduk di kursi rias.


"Kenapa basahin rambut malam-malam gini, Mas? Dingin pasti," ucap Zahra disela kegiatannya.


Tidak ada jawaban, Zahra masih tetap setia dengan kegiatannya. Setelah puas menggunakan handuk, Zahra mengambil hair dryer agar rambut Kenzo kering lebih cepat.


"Sudah Mas," ucap Zahra setelah kegiatannya selesai.


"Terimakasih," ucap Kenzo singkat. Lelaki itu langsung berdiri dan berjalan mendekati ranjang.


Zahra yang melihat itu menjadi serba salah. Apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tidak tahu apa kesalahannya hingga suaminya bersikap dingin seperti ini.


"Mas," panggil Zahra lembut dengan tangan memeluk perut Kenzo dari belakang. Wanita itu ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Kenzo yang berbaring memunggunginya.


"Mas, aku salah apa?" tanya Zahra lirih.


"Jangan diam seperti ini. Kita bisa bicara baik-baikkan," lanjut Zahra lagi.


"Aku nggak suka Mas kayak gini. Jangan jadi lelaki dingin lagi, aku takut, Mas," ucap Zahra dengan suara bergetar. Sungguh, dia tidak tahan lagi menahan tangis yang sejak tadi pagi dia tunda keberadaanya.


Tidak kunjung mendapat respon, Zahra mengangkat kepala dan melihat wajah sang suami.


Kenzo tidur.


Jadi sejak tadi dia bicara sendiri. Suaminya bahkan tidak mendengar apa yang dia katakan.


Zahra mencoba tersenyum, tangannya mengusap lembut rambut belakang Kenzo. "Mas pasti capek, ya. Seharian ini kerja terus. Tidur yang nyenyak ya, Mas. I Love You," ucap Zahra mencium dahi Kenzo.


Setitik air mata Zahra jatuh mengenai dahi Kenzo hingga mengalir ke batang hidung lelaki itu.


Kelopak mata Kenzo terbuka ketika mendengar suara langkah kaki menjauh dari ranjang. Dia berbalik dan melihat Zahra yang berjalan menuju kamar mandi.


Tangan Kenzo terulur menghapus air mata yang membasahi hidungnya. Bukannya aku tidak peduli, aku hanya tidak ingin bicara disaat suasana hatiku tidak baik. Aku takut perkataan ku akan melukai kamu, Zahra. Aku takut, perkataan ku nanti menjadi bumerang untuk hubungan kita. Biarkan aku meredakan sedikit emosi yang tidak baik ini, Sayang. Batin Kenzo sendu menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


.....


"Bunda," panggil Sela lembut.


Pagi ini, mereka kembali sarapan bertiga tanpa Kenzo. Hanya ada Bu Sari, Zahra dan Sela. Kenzo kembali meninggalkan sarapannya dan hanya minum susu yang sudah Zahra buatkan.


"Iya Nak," jawab Zahra lembut.


Sela menunduk. Tangannya saling bertautan di bawah meja makan menyembunyikan kegelisahannya pada Zahra.


Zahra yang melihat ada sesuatu dari Sela berpindah duduk disebelah anak itu. Bu Sari yang melihat itu semua paham, Sela pasti menanyakan mengenai Kenzo. Karena tadi, saat Kenzo pergi, Sela menyaksikan sendiri bagaimana Kenzo bersikap tak acuh pada Zahra.


"A-Ayah kenapa, Buna?" tanya Sela takut. Dia takut pertanyaan akan menyebabkan Bundanya sedih. Tapi dia sungguh ingin tahu penyebab Ayahnya seperti itu. Karena dia lebih suka Ayahnya yang cerewet dan banyak bicara daripada yang diam seperti ini.


Zahra tersenyum. Dia tahu anaknya akan bertanya mengenai ini. Anaknya bukan anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dia adalah anak yang peka terhadap sekitarnya.


"Ayah hanya sedang banyak pekerjaan di kantor, Nak. Jadi Ayah sedikit pusing karena kerjaannya," ucap Zahra lembut.


"Apa Ayah banyak keljaan kalena uang Ayah Cela pakai untuk beli kambing, Buna?" tanya Sela pelan.


Zahra tersenyum dan menggeleng. "Bukan, Nak. Pekerjaan Ayah memang sedang banyak, tidak ada kaitan dengan kambing yang Sela beli," ucap Zahra lembut.


"Bilang cama Ayah, Buna. Jangan kelja telalu capek, Cela bica jual kambingnya lagi kalau memang uang Ayah tinggal cedikit. Cela nggak cuka Atah diam-diam kayak gitu," ucap anak itu mengeluarkan isi hatinya.


Zahra terdiam. Bahkan anaknya mengerti bagaimana orang tuanya saat ini. Harusnya dia dan Kenzo yang mengerti akan keadaan Sela, tapi ini malah sebaliknya. Dia tidak mau lagi anaknya mengalami masa-masa sulit dan kesedihan seperti saat dulu mereka belum kembali bersama Kenzo.


Zahra berpikir sedikit setelah mendengar ucapan anaknya. "Sela mau bantu Bunda?" tanya Zahra.


"Apa Buna?"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏