Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 69



🌹HAPPY READING🌹


Jadi orang gila dulu, nekat tak terbantahkan. Kata-kata Ibra tadi siang selalu terngiang di benak Kenzo. Kenzo menghela nafas lelah, lalu menoleh ke samping. Senyum tampan terbit di bibir Kenzo. Malam ini dia tidak tidur sendiri. Ada seorang wanita kecil nan sangat manis menemaninya.


Tangan Kenzo terulur mengusap lembut rambut Sela yang tak tertutup jilbabnya. Ya, malam ini Sela menginap di rumah Kenzo. Tidak mudah meminta izin kepada Zahra, tapi dengan segala jurus yang Sela miliki, akhirnya Zahra mengalah dan mengizinkan Sela untuk menginap di rumah Kenzo, walau hanya satu hari.


"Anak Ayah memang manis sekali, sama seperti Bunda," ucap Kenzo dengan senyumnya.


"Bantu Ayah jadi orang gila, Nak. Tekad Ayah untuk membuat Bunda kembali akan membawa kita pada kebahagiaan, Ayah janji," gumam Kenzo pelan.


Kenzo menyelimuti tubuh Sela hingga leher. Dia turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Sela yang terbangun karena sentuhan tangan Kenzo di kepalanya membuka mata saat dia mendengar pintu kamar tertutup.


Anak itu menoleh ke pintu. "Ayah kemana malam-malam begini, ya?" tanya Sela entah pada siapa. Anak itu menyibakkan selimut dan segera turun dari kasur untuk mengejar Kenzo.


Sela berjalan dengan kepala menoleh kiri dan kanan mencari keberadaan Kenzo.


"Ayah," panggil Sela. Namun dia tidak mendapat sahutan apapun.


Sela berjalan menuruni tangga dengan pelan. Anak itu nampak lucu dengan baju tidur bermotif Doraemon yang tadi dibelikan oleh Kenzo.


"A-" panggilan Sela terputus ketika dia melihat Kenzo duduk sendiri di ruang keluarga dengan posisi membelakanginya.


Sela berjalan mendekat. Saat sudah berjarak tidak jauh dari Kenzo, samar-samar Sela mendengar isakan kecil dari mulut Kenzo. Sela berjalan mendekat ke belakang Kenzo dengan langkah pelan. Dia tidak mau Kenzo mengetahui kedatangannya.


Sela sedikit berjinjit. Anak itu bisa melihat Kenzo yang tengah memandangi foto Zahra di pangkuannya.


Sela membungkuk menyembunyikan tubuhnya di balik sofa. Ayah cama kayak Buna. Batin Sela mengingat Zahra yang juga suka melihat foto Kenzo saat malam.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Kenzo. Namun, isakan kecil dari mulutnya memberitahu Sela bahwa lelaki itu sedang dalam keadaan sedih yang tak bisa terobatkan.


Andai Buna tidak egois. Batin Sela mengingat keteguhan hati Zahra yang benar-benar tidak mau kembali pada Kenzo.


"Sayang," ucap Kenzo setelah sekian lama. Sela mulai memasang telinganya mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Kenzo.


"Terimakasih sudah membiarkan anak kita mengetahui mengenai keberadaanku. Terimakasih telah memberitahu Sela bahwa aku adalah Ayah kandungnya. Terimakasih telah memberi aku waktu bersama anak kita, Sayang," ucap Kenzo dengan tangan meraba-raba foto Zahra.


Sela yang mendengar itu ikut tersenyum dalam persembunyiannya. Telnyata Ayah cayang Cela. Batin Sela senang.


Anak itu nampak berpikir sebentar, tidak lama senyum terbit di wajahnya. Becok Cela akan ajak Chaca untuk cebuah lencana. Batin Sela senang. Anak itu berdiri dengan perlahan dan berjalan pelan meninggalkan Kenzo.


Kenzo yang sangat hanyut dalam kerinduannya bersama Zahra, sama sekali tidak merasakan keberadaan Sela.


Kenzo meletakkan foto Zahra di dadanya dan memeluk erat foto tersebut. "I love you," gumam Kenzo dengan segala rasa cintanya.


Beberapa menit memeluk foto Zahra, Kenzo berdiri dan membawa foto tersebut ke dalam kamar kecil yang dulu ditempati Zahra.


"Malam ini aku akan tidur di kamar atas bersama anak kita, Sayang. Untuk malam ini saja, besok aku akan kembali tidur disini. Karena tidak mungkin aku membiarkan princess kecil kita tidur di kamar yang penuh luka," gumam Kenzo sendu memandangi kamar tersebut.


Setelah meletakkan foto Zahra di atas meja, Kenzo berjalan keluar kamar dan menutup rapat pintu kamar tersebut, setelah itu dia kembali ke kamar yang berada di lantai dua untuk menyusul Sela.


.....


"Diluar dingin, Nak. Ayo masuk," ajak Bu Sari yang mendekati Zahra.


Zahra menoleh kebelakang. Dia tersenyum menatap Bu Sari sebentar, setelah itu kembali menatap langit. "Malam ini indah, Bu. Tapi tidak dengan suasananya," ucap Zahra.


"Lalu suasana yang bagaimana yang kamu harapkan, nak?" tanya Bu Sari.


"Keceriaan Sela, Bu," jawab Zahra.


Bu Sari tersenyum. "Hanya satu malam, Nak. Dan kamu sudah merasa kesepian seperti ini. Lalu bagaimana dengan Ayahnya Sela?" tanya Bu Sari.


Zahra langsung menoleh dan menatap Bu Sari dengan wajah tak mengerti. "Maksud Ibu?" tanya Sela.


"Kamu hanya sehari, sedangkan Kenzo bertahun-tahun bertahan dalam kesepian seperti ini. Tanpa anak dan istri," jawab Bu Saru yang memang sudah mengetahui bagaimana masa lalu Zahra dan Kenzo.


Zahra menggeleng. "Bukan Zahra yang memberi dia kesepian, Bu. Itu adalah akibat dari semua perbuatannya," ucap Zahra.


"Nak," panggil Bu Sari menyentuh bahu Sela.


"Setiap manusia memiliki kesalahan, kita adalah tempatnya khilaf dan dosa. Dan setiap kesalahan berhak mendapat kata maaf, Nak," lanjut Bu Sari mencoba memberi pengertian kepada Zahra.


"Zahra tidak mengatakan jika Zahra tidak memaafkannya, Bu," ucap Zahra.


Bu Sari mengangguk menyetujui perkataan Zahra. "Begitu juga dengan kesempatan kedua, Nak. Semua orang berhak mendapatkannya," jawab Bu Sari yang mampu membuat Zahra terdiam.


Zahra menunduk dengan senyum sendu diwajahnya. "Semuanya masih terasa sangat menyakitkan, Bu," ucap Zahra dengan mata berkaca-kaca.


"Lukanya masih belum kering," lanjut Zahra dengan suara bergetar.


"Ibu mengerti, Nak. Tapi jika mungkin, lakukan yang terbaik demi Sela," ucap Bu Sari.


Zahra hanya bisa mengangguk menjawab perkataan Bu Sari. Tidak ada yang bisa mengerti. Semua meminta aku untuk memaafkan dan kembali, tapi apa pernah mereka semua berpikir bahwa hatiku juga butuh diperhatikan. Surat perceraian setelah melepas kehormatan, itu sangat menyakitkan. Belum kering darah perawanku, bahkan rasa nyeri dan ngilu daerah intiku masih terasa saat itu, dia melempar semua kesakitan saat kenikmatan belum sepenuhnya aku rasakan. Batin Zahra menangis mengingat semua hal buruk yang mencabik-cabik hatinya. Bahkan mimpi buruk rasanya akan lebih baik dari masa lalunya bersama Kenzo.


.....


Kenzo masih setia memandangi wajah Sela yang kini tidur dalam pelukannya. Anak itu memeluknya dengan sangat erat, seolah tidak ingin terlepas. Kesempatan langka untuk disia-siakan. Batin Kenzo memandangi wajah Sela. Tidur bersama buah hatinya, merupakan hal yang sudah Kenzo inginkan sejak lama.


Sebentar lagi, akan ada Bunda juga di kasur ini, Nak. Mari kita mulai tingkah gila untuk merebut hati Bunda. Batin Kenzo dengan tekad kuatnya untuk mempertahankan dan membuat Zahra kembali, apapun yang akan terjadi. Satu hal yang dia tahu, dia pasti akan berhasil.


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya. Maaf jika aku tidak update beberapa hari ini karena kesehatan yang mulai menurun, tapi sekarang Sela, Ayah Kenzo dan Buna Zahra akan hadir setiap hari ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘