
🌹HAPPY READING🌹
Zahra mengernyit sakit merasakan nyeri di perutnya. Tangannya meremas kuat dan sebisa dia tahan agar tak membuat semua orang yang ada disana khawatir. Lama semakin lama, sakitnya semakin menjadi. Wajah Zahra sangat pucat dan keringat dingin yang membasahi badannya karena menahan sakit.
Kina yang duduk disebelah Zahra terkejut ketika menoleh melihat wajah Kakaknya itu. "KAKAK!" pekik Kina khawatir melihat Zahra yang sudah lunglai. Begitu juga dengan Ibu-Ibu yang lain.
Sela dan Shasa yang melihat seperti syara ribut dari kelas mereka, ikut berlari keluar. Begitu juga dengan guru dan beberapa siswa lainnya.
"BUNA!"
"BUNDA!" pekik Sela dan Shasa berbarengan melihat Zahra yang sudah tak sadarkan diri di pelukan Kina.
"Mama, Buna kenapa?" tanya Sela dengan tangis yang sudah tak bisa dia tahan.
"Sela tenang ya. Kita bawa Bunda ke rumah sakit. Ibu guru, bisa bantu angkat Kakak saya?" mohon Zahra meminta tolong dan langsung dianggukki oleh guru disana.
Sela dan Shasa mengikuti langkah beberapa orang yang mengangkat Zahra. "Cela ikut ya, Mama," mohon Sela setelah mereka sampai dan menidurkan Zahra di mobil.
Kina mengangguk."Sela dan Shasa duduk di depan. Biar Mama yang temani Bunda dibelakang," ucap Kina yang langsung dipatuhi oleh kedua gadis kecil itu.
"Terimakasih, Bu guru semua," ucap Kina tulus.
"Semoga Ibu Zahra baik-baik saja," ucap Ibu guru khawatir melihat wajah pucat Zahra yang kini tak sadarkan diri.
"Kalau begitu kami pamit dulu. Izin untuk Sela dan Shasa juga. Assalamu'alaikum," ucap Kina pamit.
Sopir melakukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit. Sela dan Shasa tak hentinya menangis melihat Zahra dibelakang. "Sela dan Shasa harus tenang, kalau kalian menangis begini, Mama jadi bingung," ucap Kina.
"Buna baik-baik aja kan, Mama? Buna pasti bangun kan?" tanya Sela sendu dengan sesegukan.
"Sela jangan sedih, ya. Bunda pasti baik-baik aja," ucap Shasa yang juga sesegukan menenangkan saudaranya itu. Sela dan Shasa saling berpelukan di bangku mobil untuk saling memberi kekuatan.
"DALAH!" pekik Sela ketika melihat kaki Zahra ada sedikit noda darah di betisnya. Gamis yang digunakan Zahra sedikit tersingkap sehingga Sela bisa melihatnya.
"Mama ada dalah di kaki Buna, hiks," ucap Sela lagi dengan menangis kencang.
"Astagfirullahallziim. Pak, lebih cepat lagi, Pak," ucap Kina pada sopir yang langsung dipatuhi oleh sopir tersebut.
"Mama, Bunda Zahra pasti baik-baik aja kan?" tanya Shasa sedih. Dia tidak kuat melihat saudaranya menangis kencang seperti ini.
"Shasa berdoa ya, Nak. Shasa harus kuat biar Sela bisa kuat juga," ucap Kina bijak pada anaknya.
Shasa mengangguk. Anak itu memeluk saudaranya dan memberi ketenangan kepada Sela.
Lima belas menit, mobil sampai di rumah sakit. Para suster dengan sigap meletakkan Zahra di brangkar dan membawa ke UGD. Sebelum ke rumah sakit, Kina sudah menelpon pihak rumah sakit terlebih dahulu agar menyediakan semua yang dibutuhkan untuk memeriksa Zahra.
"Mama," ucap Sela dan Shasa memanggil Kina berbarengan dengan mata anak-anak itu yang sudah berkaca-kaca.
"Bunda tidak akan apa-apa, Sayang," ucap Kina memeluk kedua gadis kecil itu.
"Mama hubungi Ayah Kenzo dulu, ya," ucap Kina.
Sela dan Shasa menurut dan duduk berbarengan di kursi tunggu.
Kina mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kenzo.
"Assalamu'alaikum," jawab Kenzo dari seberang sana.
"Waalaikumsalam, Kak Kenzo," jawab Kina gemetar. Dia sungguh takut memberitahu Kenzo mengenai keadaan Zahra, tapi jika tidak diberitahu, maka Kenzo akan lebih marah lagi.
"Kenapa Kina? Apa Kina butuh bantuan Kakak?" tanya Kenzo.
Kina menggeleng. "Kak Zahra, Kak," ucap Kina terputus.
"Zahra kenapa, Kina?" tanya Kenzo cepat.
"Rumah sakit mana?" tanya Kenzo khawatir.
"Rumah sakit keluarga kita, Kak," jawab Kina. Setelah mengatakan itu, Kina mendengar sambungan teleponnya terputus. Dia berharap Kenzo bisa mengendalikan emosinya dan membawa mobil dengan hati-hati.
.....
Diruanganya, Kenzo menegang mendengar kabar yang dikatakan oleh Kina. "Kamu harus baik-baik saja, sayang," ucap Kenzo cemas dan berjalan kencang keluar dari ruangannya.
Tanpa mempedulikan Arman yang memanggilnya, Kenzo berlari menuju lift untuk segera sampai di parkiran.
Kenzo mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Berbagai pikiran buruk menghantui kepalanya saat ini. "kamu harus baik-baik saja, Sayang," gumam Kenzo tak hentinya mencemaskan Zahra.
Sepuluh menit, mobil Kenzo sampai di rumah sakit. Dengan memarkirkan mobilnya sembarang, Kenzo keluar begitu saja dari mobil dan langsung berjalan menuju UGD.
"Sela, Shasa!" teriak Kenzo begitu melihat kedua gadis kecil yang menangis dalam pelukan Kina.
"Ayah!"
"Papi!" teriak Sela dan Shasa berbarengan dan langsung berlari memeluk Kenzo.
"Ayah, Buna tadi beldalah, hiks," ucap Sela yang kembali menangis dalam pelukan Kenzo. Begitu juga dengan Shasa, anak itu benar takut Bunda Zahranya akan kenapa-napa. "Bunda tadi pucat sekali, Ayah. Wajah Bunda jadi putih," ucap Shasa menyambung perkataan Sela.
"Buna baik-baik saja kan, Ayah?" tanya Sela sesegukan.
Kenzo mengangguk. "Sela dan Shasa berdoa, ya. Bunda Zahra akan baik-baik saja," ucap Kenzo menenangkan kedua gadis kecil itu.
Kenzo membawa Sela dan Shasa duduk di kursi tunggu. "Apa yang terjadi, Kina?" tanya Kenzo.
"Tadi tiba-tiba Kakak pingsan saat kami duduk bersama ibu-ibu yang lainnya menunggui Sela dan Shasa, Kak Ken. Kakak seperti kesakitan hingga pucat dan keringat dingin. Dan juga ..."
"Dan juga apa?" tanya Kenzo was-was ketika Kina menjeda perkataanya.
"Ta-tadi, ada darah di kaki Kak Zahra," jawab Kina dengan suara bergetar.
"Darah?" tanya Kenzo.
Kina mengangguk. "Apa Kak Zahra sedang hamil, kak?" tanya Kina pada Kenzo.
Kenzo terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tapi selama ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Zahra sedang hamil. "Aku tidak tahu, Kina. Karena tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa Zahra hamil," jawab Kenzo.
"Semoga Kak Zahra baik-baik saja," gumam Kina dengan terus berdoa untuk Zahra.
Kenzo termenung memikirkan perkataan Kina. Hingga dia ingat, setelah mereka menikah kembali, dan ini sudah beberapa bulan, dia memang selalu rutin berhubungan dengan Zahra. Kenzo tidak pernah melihat bahwa Zahra sedang haid atau sebagainya.
Apa jangan-jangan? Batin Kenzo bertanya-tanya.
"Tuan Kenzo," panggil Dokter yang baru keluar dari UGD dan sudah mengenal Kenzo tentunya, menantu dari keluarga Hebi.
"Bagaimana istri saya, Dokter?" tanya Kenzo cepat.
"Bisa kita bicara di ruangan saya?" tanya Doker tersebut.
Kenzo mengangguk cepat. "Kakak titip Sela, Kina," ucap Kenzo.
Kenzo berjalan mengikuti langkah Dokter setelah menitipkan Sela pada Kina.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏