
🌹HAPPY READING🌹
Zahra tersenyum melihat jawaban tulus Sela. "Berarti Sela hanya butuh Bunda, kan?" tanya Zahra hati-hati.
Sela terdiam sebentar, lalu anak itu mengangguk. Zahra tersenyum melihat anggukan Sela. Sela juga ikut tersenyum, tapi beberapa detik, senyum itu berubah menjadi senyum kepedihan. Air mata anak itu kembali runtuh begitu saja menatap Bundanya.
"Jangan buat Cela yatim lagi, Buna," ucap Sela dengan nada bergetar.
"Sayang," ucap Zahra tak kuat melihat reaksi wajah anaknya. Senyum bahagia yang tadi dia lihat di wajah anaknya, kini berubah menjadi senyum kesedihan yang menyayat hatinya.
Sela menangkup kedua tangannya di dada. "Buna, Buna boleh tidak kembali pada Ayah. Tapi jangan lalang Cela buat celalu ketemu dan cayang Ayah, ya Buna," ucap Sela memohon kepada Zahra.
Zahra diam. Entahlah, hatinya serasa tidak ikhlas jika Sela selalu menikmati waktu bersama Kenzo. Zahra takut Sela akan melupakannya nanti.
"Tidak bisa, ya Buna," ucap Sela sendu menatap Zahra yang hanya diam tanpa menjawab permintaan yang dia ajukan.
Sela berdiri dengan wajah sendunya. Anak itu melangkah meninggalkan Zahra yang masih diam dan menuju kamarnya.
Bu Sari yang mendengar percakapan Zahra dan Sela dari tembok dapur, hanya bisa menghela nafas pelan. Bu Sari berjalan mendekati Zahra yang masih duduk dengan posisi yang sama di tempatnya.
"Nak," panggil Bu Sari lembut.
Zahra menoleh. Dia mencoba tersenyum menjawab panggilan Bu Sari. "Iya, Bu," jawab Zahra.
"Sekeras ini hati kamu, Nak?" tanya Bu Sari menatap Zahra.
Zahra mengangkat kepalanya. Wanita itu menatap Bu Sari dengan pandangan sendu. Dia menggeleng, dia tidak keras hati, dia juga ingin memberikan kebahagiaan untuk anaknya, tapi biar dia melakukan dengan caranya sendiri tanpa harus melibatkan Kenzo. "Bukan seperti itu, Bu," ucap Zahra.
"Lalu bagaimana, Nak? Tidakkah kamu memikirkan Sela?" ucap Bu Sari mencoba membuka pikiran dan hati Zahra.
"Zahra selalu memikirkan Sela, Bu," jawab Zahra.
"Jika kamu memikirkan Sela, tidak seperti ini yang kamu lakukan. Dan jangan pernah bertanya seperti itu, Nak. Karena pertanyaan kamu membuat dia harus memilih antara Bunda dan Ayahnya. Dia baru saja merasakan kasih sayang seorang Ayah, jangan renggut itu terlalu cepat. Bagaimanapun perlakuan orang tuanya, tidak ada anak yang bisa memilih antara seorang Ibu dan Ayah, karena mereka adalah kekuatan seorang anak," ucap Bu Sari.
"Lalu Zahra harus bagaimana, Bu? Apa Zahra harus kembali pada Kenzo? Apa Zahra harus menerimanya dan melupakan semuanya? Apa Zahra harus membuka kembali luka yang masih belum kering ini, Bu?" tanya Sela menatap Bu Sari sendu.
Bu Sari menggeleng. "Ibu tidak meminta kamu untuk kembali pada Kenzo. Ibu juga tidak meminta kamu melupakan semuanya, Nak. Tapi setidaknya biarkan Sela leluasa bertemu dengan Ayahnya. Bukankah kamu sudah berjanji untuk memberi kebebasan agar Sela dengan bebas menghabiskan waktu bersama Kenzo? Lalu kenapa sekarang kamu kembali mengekangnya? Kamu boleh menjadi wanita berpendirian, tapi jangan sampai egois sebagai seorang ibu, Nak," ucap Bu Sari.
Zahra terdiam. Kepala wanita itu tertunduk menyembunyikan air mata yang menetes tanpa bisa dia cegah. "Zahra hanya takut Sela mendapat kebahagiaan yang sempurna dari Kenzo, Bu. Zahra hanya takut Sela akan menjauh dari Zahra. Zahra tidak sanggup," ucap Zahra dengan suara bergetar menyampaikan isi hatinya. Benar, bukannya Zahra melarang, tapi dia hanya takut jika Sela menemukan kenyamanan dan kebahagiaan yang lebih saat bersama Kenzo. Hingga nanti Sela akan melupakannya.
"Dan kamu percaya anak kamu akan seperti itu?" tanya Bu Sari.
"Maksud Ibu?" ucap Sela tak paham.
"Sela bukan anak kecil seperti biasanya, Zahra. Dia dibesarkan dengan begitu banyak pelajaran hidup. Jika dia benar seperti itu, sekarang dia tidak akan pulang ke rumah ini. Dia akan memilih tinggal di rumah Ayah, nenek ataupun keluarganya yang lain. Mereka lebih memiliki kenyamanan yang layak dari pada kita. Tapi kamu lihat, anak kamu yang luar biasa itu tetap memilih untuk bersama Bundanya," ucap Bu Sari yang membuat Zahra bungkam. Benar apa yang dikatakan Bu Sari, jika Sela mau, dia pasti sudah tidak disini lagi bersama dirinya.
"Dan satu lagi, Nak. Anak kamu bukan anak yang egois," ucap Bu Sari dan langsung berdiri meninggalkan. Zahra yang semakin terdiam mencerna setiap apa yang dikatakan oleh Bu Sari.
Maafkan Bunda telah melukai hati kamu, Nak. Batin Zahra mengingat apa yang tadi dia katakan pada Sela. Zahra mengerti sekarang, pertanyaan yang tadi dia tanyakan pada Sela membuat anak itu tidak nyaman.
.....
"Acalamu'alaikum, Ayah," sapa suara mungil yang dapat menambah kebahagiaan Kenzo.
Kenzo berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Sela. "Waalaikumsalam, Anak Ayah. Kok tahu Ayah datang?" tanya Kenzo.
Sela tersenyum. Pipi bulat anak itu nampak berwarna kemerahan alami pagi ini. Ini yang Kenzo suka, Sela memiliki kecantikan dari Bundanya. "Tadi Cela liat Ayah Dali jendela kamal, jadi langcung Cela buka pintu," jawab Sela.
"Pintarnya Anak Ayah. Peluk dulu, yuk," ucap Kenzo merentangkan tangannya. Tanpa diminta, Sela langsung berhambur memeluk Kenzo.
Pagi ini Sela bangun dengan wajah segarnya. Anak itu melupakan pembicaraannya semalam dengan Sang Bunda. Dia tidak ingin merusak harinya, jadi dia menganggap bahwa pembicaraan semalam hanya mimpi. Yang ingin dia lakukan sekarang, hanya menyayangi Ayah dan Bundanya secara adil. Zahra yang tadi melihat sikap anaknya ceria, ikut senang. Dia tidak ingin perkataannya semalam membuat Sela menjadi murung.
"Ayah cudah calapan?" tanya Sela setelah pelukan mereka terlepas.
Kenzo menggeleng. "Belum, Nak," jawab Kenzo.
"Kalau gitu Ayah calapan sama Cela, Buna dan Nenek, ya," ajak Sela.
Tanpa ragu Kenzo mengangguk. Ini yang dia inginkan. Dia tahu anaknya pasti akan perhatian padanya, oleh karena itu dia sengaja untuk tidak sarapan dirumahnya tadi.
Dengan tangan yang saling bergandengan, Kenzo dan Sela berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Zahra dan Bu Sari yang sedang menata menu sarapan mereka.
"Buna, Nenek. Ayah ikut calapan, ya," ucap Sela menatap Zahra dan Bu Sari.
Zahra hanya menatap Kenzo datar. Kemudian wanita itu beralih tersenyum menatap Sela. Zahra mengangguk mengiyakan permintaan Sela.
"Ayo Ayah," ucap Sela senang menyeret Kenzo yang lebih besar darinya untuk segera duduk di.
"Ayah, kulcinya cuma tiga. Ayah duduk di kulci Cela, ya," ucap Sela.
"Sela," ucap Zahra gak setuju.
"Tidak apa, Buna. Biar Cela duduk dipangkuan Ayah," ucap anak itu menatap Bunda dan Ayahnya penuh harap.
Kenzo tersenyum dan mengangguk. Tanpa menunggu lagi, Kenzo duduk dan mengangkat tubuh Sela untuk duduk di pangkuannya.
Dengan penuh rasa bahagia, Sela menikmati setiap suapan dari Kenzo. Berbeda dengan Zahra yang menatap Kenzo kesal. Sejak tadi, kaki lelaki itu tidak pernah diam di bawah meja. Kaki Zahra selalu menjadi incarannya. Tapi Kenzo berlagak seolah tidak terjadi apa-apa. Ingin sekali Zahra marah melampiaskan kekesalannya, tapi dia tidak mau mengangguk kesenangan anaknya.
Awas saja nanti. Batin Zahra menatap Kenzo dengan tatapan permusuhannya.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘