Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 110



Hai teman teman semua. Jumpa lagi sama kisah ini, ya. Setelah sekian purnama, sekian musim kita lewati akhirnya author berjumpa lagi dengan reader setia. Terimakasih untuk selalu ada dan mengikuti kisah Zahra dan Kenzo. Maaf jika terlambat, semoga ini mengobati rindu diantara kita yaaaa


🌹HAPPY READING🌹


Kini mereka semua berkumpul di dalam ruangan Zahra. Ibra memaksa untuk ikut ke ruangan Zahra karena dia tidak mau ditinggal sendiri di ruangannya.


Sela dan Shasa nampak sangat antusias bercerita tentang sekolah mereka kepada Ibra. Mereka berdua duduk di kedua sisi ranjang yang sudah disediakan untuk Ibra. Dee yang melihat itu hanya tersenyum dan duduk tenang di kursi sebelah ranjang.


Kenzo? Lelaki itu terus saja ber manja dengan menjatuhkan kepalanya ke paha Zahra yang duduk selonjoran di ranjang. Tangan lembut Zahra tak hentinya mengusap rambut lebat Kenzo. Al, Aska dan Thomas yang melihat itu berdecak malas. Sedangkan Kina dan Bella asik dengan Adam yang sejak tadi berceloteh tak jelas.


"Ck. Dasar manja!" ucap Al melempar kulit kacang yang ada ditangannya. Kenzo yang merasakan punggungnya kena lemparan Al tak acuh sama sekali. Yang penting sekarang dia ingin ber manja-manja dengan Zahra.


"Suami Zahra lagi mode bayi, Bang," jawab Zahra dengan terkekeh kecil. Meskipun ngilu di bekas operasinya masih terasa, namun semua itu tak ada apa-apanya dengan semua kebahagiaan ini.


"Mode bayi sih mode bayi, tapi jangan menjijikan begitu," ucap Aska ikut menimpali.


Kenzo mengangkat kepalanya dari paha Zahra dan menatap kesal ketiga lelaki yang duduk di sofa. "Apa Lo?" ucap Thomas yang melihat pandangan tak bersahabat Kenzo.


"Dasar manusia kesepian!" jawab Kenzo sarkas dan kembali menjatuhkan kepalanya ke paha Zahra.


"Aww. Sakit, Sayang," rengek Kenzo saat merasakan punggungnya dicubit oleh tangan lembut Zahra.


"Jika bukan karena mereka, kita tidak akan bersama, Mas," ucap Zahra lembut.


"Tuh dengerin!" jawab Al keras saat mendengar Zahra membela mereka bertiga.


Kenzo menggerutu tidak jelas dengan kepala yang sudah dibenamkan di paha Zahra. Mereka semua yang melihat aksi suami mereka hanya geleng-geleng kepala.


Kedua orang tua Kenzo tidak bisa ikut karena mereka harus mengurus pekerjaan ke luar negeri yang mendadak. Masalah yang ada di cabang perusahaan di Italia harusnya diselesaikan oleh Kenzo. Tapi melihat keadaan Zahra yang baru membaik, akhirnya Anggara memutuskan untuk menggantikan Kenzo dan pergi ke Italia bersama sang istri, Melani. Sedangkan Kinzi harus terbang ke Turki untuk kegiatan fashion show-nya.


Akhirnya keluargaku tersenyum lepas. Batin Dee senang melihat senyum manis terbit dibibir anak-anaknya. Inilah yang Dee inginkan, kebahagiaan dan takdir baik yang sebenarnya untuk keluarganya.


Sela turun dari ranjang Ibra dan berjalan menuju sofa. "Mama," panggil Sela dengan wajah polosnya menatap Thomas.


Mata Thomas membola mendengar panggilan Sela. Sedangkan yang lainnya menahan tawa melihat ekspresi Thomas.


"Uncle, Sayang," ucap Thomas lembut mengingatkan Sela.


Sela menggeleng. "Panggilan peltama itu yang terbaik, iyakan Daddy? Papa?" ucap Sela menanyakan kebenaran pendapatnya pada Al dan Aska.


Aska dan Al mengangguk semangat membenarkan perkataan Sela.


"Sela," panggil Zahra sambil menggeleng memberi peringatan kepada Sela.


Sela hanya tersenyum polos tanpa dosa menanggapi peringatan Zahra. Kali ini dia benar-benar akan menanyakan rasa penasarannya selama ini kepada Thomas atau Mama Tamara yang dia ketahui. Selama ini, dia menahan mulutnya agar tidak bertanya kepada Thomas.


"Mama Tamala," panggil Sela lagi menatap Thomas.


"Terima nasib, Thom," ucap Al sedikit mengejek Thomas.


Thomas menghela nafas pelan dan berusaha tersenyum menatap Sela. Tidak bisakah anak kecil ini melihat betapa gagahnya Thomas sekarang? Jas dan kemeja mahal yang membalut tubuhnya atletisnya, seolah tak berfungi di mata Sela.


"Kenapa Sayang?" ucap Thomas lembut.


"Mama Tamala kan sama kayak Ayah, ken-"


"Ayah beda dengan Mama Tamara, Sela," ucap Kenzo cepat begitu mendengar perkataan Sela yang menyamakan dirinya dengan Thomas.


"Ayah dengal dulu," ucap Sela menjawab perkataan Kenzo sambil menghadap lelaki itu. Setelah itu, dia kembali memutar tubuhnya dan menghadap Thomas. "Mama Tamala kan sama laki-laki kayak Ayah, kenapa Mama Tamala kemalin pake jilbab dan baju kayak Buna? Telus Mama Tamala juga pakai bedak kayak Buna, Mama Kina dan Mommy Bella, malahan lebih tebal. Tapi kenapa sekalang belubah?" tanya Kina menatap Thomas dari ujung rambut hingga ujung kepalanya. Seolah-olah anak itu sedang mengomentari semua yang ada di tubuh Thomas.


"Itu dulu sebelum sadar, Sayang. Sekarang uncle sudah normal lagi," jawab Thomas benar adanya. Jika dia menjawab berbelik-belit, maka komentator kecil ini akan terus bertanya nanti.


"Padahal lebih cantik jadi pelempuan. Kayak Sela dan Shasa," celetuk Sela dan mengambil air putih di meja untuk di minumnya.


Mereka semua yang ada disana tersenyum dan terkekeh kecil melihat dan mendengar interaksi antara Sela dan Kenzo.


Mata Zahra melihat satu persatu wajah keluarganya. Kebahagiaannya masih belum lengkap karena sejak tadi dia tidak melihat seorang lelaki yang mempunyai peran penting dalam hidupnya.


Ayah Kevin kemana?" Batin Zahra bertanya-tanya. Karena sejak dia membuka mata, dia sama sekali belum melihat keberadaan Kevin.


.....


Kini diruangan itu hanya ada Kenzo dan Zahra. Sedangkan yang lainnya sudah kembali ke aktivitas merak. Ibra kembali ke kamarnya untuk istirahat ditemani oleh Dee. Sela dan Shasa ikut pulang bersama Bella dan Kina. Sedangkan Al dan Aska setahu Zahra kembali ke perusahaan, begitu juga dengan Thomas.


"Mas," panggil Zahra lembut.


"Belum tidur, Sayang?" tanya Kenzo yang sedang melipat sajadahnya. Lelaki itu baru selesai melaksanakan sholat Zuhur.


Zahra menggeleng. "Mas," panggil Zahra lagi.


"Kenapa Sayang? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kenzo lembut sambil duduk di kursi sebelah ranjang.


"Ayah Kevin kemana, Mas?" tanya Zahra langsung.


Kenzo diam dan menatap dalam istrinya itu. Dia mengambil nafas banyak dan membuangnya perlahan.


"Ayah Kevin baik-baik saja, Sayang," jawab Kenzo.


"Tapi kenapa tidak datang kesini. Semua orang ada, tapi Ayah kemana?" tanya Zahra mendesak Kenzo.


"Ayah di-"


Ceklek.


Pintu ruangan Zahra terbuka. Di sana berdiri seorang lelaki yang sejak tadi ditunggu kedatangannya oleh Zahra. Senyum manis terbit di bibir Zahra melihat Kevin yang berjalan mendekatinya.


"Ayah datang, Zahra," ucap Kevin.


"Ayah kemana saja? Sejak tadi Zahra menunggu kedatangan Ayah," ucap Zahra dengan wajah sedikit cemberut menatap Kevin.


Kevin tersenyum melihat Zahra yang masih sama seperti putri kecilnya dulu.


"Tadi Ayah ada keperluan sebentar, Nak. Zahra istirahatlah, Ayah akan disini bersama Kenzo," ucap Kevin.


Zahra menurut. Matanya juga sudah merasakan kantuk sejak tadi. Dia sengaja menahan kantuknya untuk menunggu kedatangan Kevin.


Lima belas menit, Zahra sudah nampak memejamkan matanya. Kevin duduk di sofa dengan pandangan kosong ke Zahra.


"Kenapa, Ayah?" tanya Kenzo berjalan mendekati Kevin dan ikut duduk di sofa.


"Sofia terancam hukum mati, Ken," ucap Kevin lirih.


DEG


Tubuh itu menegang mendengar nama wanita yang membesarkannya. Mata terpejamnya dia pertahankan agar tidak terbuka dan tetap dengan posisi tidurnya. Bunda Sofia.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, karena kisah ini sebentar lagi akan menuju end teman-teman.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏