
🌹HAPPY READING🌹
"Dia menghancurkan rumah tangga kita, dia menganjurkan banyak hati," ucap Ibra dengan air mata yang sudah tak tertahan.
"Rasanya aku benci hidup, Sayang. Sakit sekali," ucap Ibra menekan dadanya yang terasa sesak.
Dee menggeleng kuat. "Mas, jika kita seperti ini, bukankah Sofia akan semakin tertawa? Bukankah dia akan semakin bahagia diatas air mata kita?" tanya Dee menahan tangan Ibra agar berhenti menekan-nekan dadanya sendiri.
"Dia menghancurkan semuanya, Sayang. Bahkan kita sempat bercerai karena itu. Anakku Al bahkan sempat membenciku kala itu. Bahkan anak bungsuku, Kina. Dia lahir tanpa suaraku mengadzankannya. Dia benar-benar sangat licik, Sayang," ucap Ibra dengan sakit hati yang tak bisa dia tahan. Andai kedua orang tuanya dan Kiyai Rozak masih hidup, entah apa yang akan mereka rasakan. Sakit hati yang berlebihan ini sungguh sangat menyiksa baginya.
"Dan Zahra, kehadirannya membuat kedua anak kandungku merasakan sakit hati yang mendalam saat itu," lanjut Ibra lirih menatap Dee dengan mata berkaca-kaca.
Dee menggeleng. "Mas, jangan menyalahkan keberadaan Zahra. Ini semua diluar kendali dia, Mas," ucap Dee.
"Andai Zahra tidak pernah ada-"
"Mas," ucap Dee cepat memotong perkataan Ibra yang akan mengutuk keberadaan Zahra.
"Jangan mengutuk anak sendiri, Mas," ucap Dee.
"Dia bukan anakku, Sayang," ucap Ibra sendu.
"Jangan membuat kamu menjadi orang jahat karena semua ini, Mas. Bukan Zahra yang salah," jawab Dee meyakinkan Ibra.
"Andai Zahra tidak ada."
"Mas, Zahra tidak pernah minta untuk dilahirkan. Jikapun dia bisa meminta dan memilih, maka dia akan memilih keluarga yang utuh dan bahagia, Mas. Tidak ada anak yang berharap dilahirkan ke dunia ini jika bukan atas permintaan orang tua kepada Sang Pencipta, Mas," ucap Dee lembut menjelaskan kepada Ibra. Jika Dee menjelaskan dengan emosi, maka dia takut itu akan membuat Ibra semakin terpuruk.
Ibra diam mendengar perkataan Dee. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah lain. Dee menghela nafas pelan melihat Ibra. "Mas, kita ke psikiater, ya," ucap Dee membujuk Ibra.
Ibra menggeleng. "Aku tidak gila, Sayang," jawab Ibra tanpa memandang Dee.
"Mas-"
"Sayang," ucap Ibra memotong perkataan Dee dan beralih menggenggam erat tangan wanita itu. "Selama kamu tidak meninggalkanku, aku akan baik-baik saja," lanjut Ibra.
"Tapi Dokter-"
"Dia hanya Dokter, Sayang. Bukan Tuhan," jawab Ibra cepat.
"Mas berjanjilah satu hal," ucap Dee dengan pandangan sendu.
"Apa Sayang?" tanya Ibra.
"Tetaplah menyayangi Zahra. Kamu bisa tidak memaafkan Sofia, tapi jangan pernah menyalahkan Zahra," ucap Dee.
Ibra terdiam sebentar mendengar perkataan Dee. Setelahnya dia hanya mengangguk tanpa menjawab apapun. Dee menghela nafas pasrah. Untuk saat ini, memaksa Ibra bukan hal yang tepat untuk dilakukan.
.....
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Zahra berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju lift dengan sebuah rantang ditangannya. Sesekali Zahra tersenyum membalas sapaan beberapa perawat yang melewatinya.
Setelah melewati lift dan beberapa koridor, Zahra sampai di depan ruangan Kenzo.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra masuk ke ruang rawat Kenzo.
"Waalaikumsalam," jawab mereka semua yang ada disana.
Zahra tersenyum menatap semuanya. Ruangan Kenzo nampak sudah ramai. Ada Al dan keluarga kecilnya, Aska dan keluarga kecilnya, dan jangan lupakan keberadaan Thomas yang kini tengah duduk bercerita bersama Sela, Shasa dan Adam.
Dahi Zahra mengernyit heran saat melihat ada yang kurang dari keluarganya. "Abang," panggil Zahra pada Al.
"Iya Dek," jawab Al.
"Abi dan Umi?"
"Umi di rumah menemani Abi. Tadi Umi dan Abi titip salam untuk semuanya," jawab Al paham akan apa yang ditanyakan oleh Zahra.
"Abi baik-baik saja kan, Bang?" tanya Zahra sedikit khawatir.
Al tersenyum dan mengangguk. "Abi baik-baik saja, Zahra," jawab Al.
Zahra mengangguk dan mengucap syukur ketika mendengar kabar Ibra yang baik-baik saja.
Zahra berjalan mendekati ranjang Kenzo. Dahinya berkerut melihat ada sesuatu yang kurang dari Kenzo.
"Kenapa Sayang?" tanya Kenzo heran melihat Zahra yang nampak bingung melihatnya.
"Infus kamu kemana, Kak?" tanya Zahra.
Kenzo tersenyum lebar mendengarnya. Thomas, Al dan Aska yang melihat itu menatap remeh Kenzo, terutama Thomas. "Haus kasih sayang banget, Lo," ucap Thomas meledek.
"Ayah memang cepelti itu, Mama Tamala," celetuk Sela yang membuat Thomas merasa kesal seketika.
Para wanita yang ada disana tertawa melihat tingkah polos Sela. Melihat raut wajah kesal Thomas memberi hiburan sendiri untuk mereka.
"Sela, mulai sekarang panggil Uncle Thomas, ya. Kan tadi Sela sudah janji," ucap Thomas lembut.
Sela menggeleng. "Lidah Cela lebih nyaman manggilnya Mama Tamala," jawab Sela.
"Iya Mama. Shasa juga suka manggil Mama Tamara. Nama yang bagus," ucap Shasa ikut menyetujui perkataan Sela.
"Terserah, terserah!" ucap Thomas ketus pada Sela dan Shasa yang sudah cekikikan di tempatnya.
"Makanya, pilih nama jangan Kebagusan, Thom," ucap Kenzo.
"Mas," panggil Zahra yang sejak tadi tidak kunjung mendapat jawaban dari Kenzo.
"Aku sudah boleh pulang malam ini, Sayang," ucap Kenzo.
"Malam ini?" tanya Zahra tak percaya.
Kenzo mengangguk senang menjawab pertanyaan Zahra. Zahra melihat Kenzo dari ujung kaki sampai ujung rambutnya memastikan keadaan lelaki itu benar-benar baik.
"Kamu tidak memaksa atau mengancam Dokter, kan Mas?" tanya Zahra dengan mata memicing menatap Kenzo curiga.
"Iya, Buna," jawab si mungil Sela.
Zahra menajamkan matanya menatap Kenzo. "Anak kecil nggak mungkin bohong," ucap Zahra cepat ketika melihat Kenzo hendak protes atas apa yang Sela katakan.
"Sayang, aku sudah baik-baik saja. Dan mau tidak mau, malam ini aku pulang, dan besok kita akan menikah," ucap Kenzo lancar tanpa kendala apapun.
"Mas," ucap Zahra tak percaya.
"Tidak ada penolakan lagi, Sayang. Besok kita akan kembali sah menjadi suami istri," ucap Kenzo gak terbantahkan.
"Tapi-"
"Tidak ada tapi-tapian, Sayang. Aku sudah bilang ini pada Papa, Mama, Abi sama Umi," ucap Kenzo.
"Apa kamu melupakan Ayah dan Bundaku?" tanya Zahra yang membuat mereka semua diruangan itu terdiam mendengar sedikit suara keras Zahra.
Suasana yang tadinya hening mendadak sunyi setelah Zahra mengatakan itu. Zahra yang menyadari nada suaranya sedikit tinggi menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maaf, Zahra hanya reflek tadi," ucap Zahra tak enak.
"Tenang, Sayang. Semuanya sudah beres, kamu hanya perlu mempersiapkan diri untuk memberikan adik pada Sela," ucap Kenzo dengan niat mencairkan kembali suasana.
"Brengsek!"
"Gila!"
"Hyper!"
Berbagai macam umpatan keluar dari mulut Al, Aska dan Thomas yang mendengar perkataan Kenzo. Sungguh, lelaki itu benar-benar kurang belaian sekali.
Zahra? Bahkan wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat ini. Sungguh, disaat ramai dan banyak orang seperti ini, bisa-bisanha Kenzo berbicara seperti itu. Bahkan disini ada Sela dan Shasa yang masih masa aktif-aktifnya bertanya.
"Aw, sakit sayang," rengek Kenzo ketika Zahra mencubit lengannya.
"Rasain!" ucap Zahra ketus.
"Tapi aku serius, Mas. Ayah dan Bunda-"
"Aku sudah mengurus semuanya, Orang tuamu pasti datang, Sayang. Sekarang bantu aku berkemas, ya," jawab Kenzo yang membuat Zahra pasrah.
Aku berjanji, Sayang. Setelah kita kembali terikat dalam pernikahan, aku akan memberitahu semuanya. Aku hanya tidak ingin kamu merasa sendiri, kamu punya keluarga, ada aku dan Sela yang akan selalu bersamamu. Batin Kenzo tulus menatap Zahra.
......................
Selamat malam Minggu semuanyaaaaa
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗