
🌹HAPPY READING🌹
“Kamu bukan beban, Sayang,” jawab Kenzo tak terima.
“Aku yakin, umi dan abi jika mendengar ini juga pasti akan kesal,” lanjut Kenzo dengan sedikit cemberut.
Zahra hanya tergelak kecil melihat respon Kenzo.
“Lalu bagaimana bisa kamu membuat turk muchever bekerjasama dengan perusahaan ku, Sayang?” tanya Kenzo penasaran.
“Waktu mendengar perusahaan mas dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Zahra meminta bantuan pada paman emre, Mas,” ucap Zahra memberitahu.
Dahi Kenzo berkerut mendengar penuturan Zahra. “Bukankah Paman emre dan ayah belum tahu jika kamu sudah mengetahui semuanya, Sayang?” tanya kenzo heran.
Zahra mengangguk mengiyakan perkataan Kenzo. “Zahra menelpon paman emre dan mengatakan semuanya, mas. Zahra memberitahu paman emre jika Zahra sudah mengetahui semuanya. Dan Zahra langsung meminta paman emre untuk langsung mengajukan Kerjasama sama perusahaan mas. Karena Zahra tahu, mas tidak akan meminta bantuan pada ayah. Gengsi mas terlalu tinggi. Buktinya, saat tahu Zahra yang meminta Kerjasama itu, mas langsung memutuskanya kan,” ucap Zahra kesal.
“Kamu tahu, sayang?” tanya kenzo tak percaya.
“Ya tahu lah, Mas. Paman emre yang beritahu semuanya. Awalnya paman emre tidak mau kasih tahu Zahra, tapi dengan segala bujukan akhirnya paman memberitahu,” jawab Zahra.
“Bukan bujukan, Sayang. Lebih tepatnya kamu pasti memaksa paman emre,” ucap Kenzo terkekeh pelan.
Zahra ikut tergelak mendengar perkataan kenzo, karena memang benar begitu adanya.
“Tapi sayang, dalam lubuk hati yang paling dalam aku sangat berterimakasih untuk itu. Kamu menenangkan pikiranku sejenak dan membuat semuanya membaik. Dan juga, karena aku tahu semuanya ini, aku jadi lebih giat berusaha dan menguji kepiawaianku dalam urusan bisnis. Aku berterimakasih untuk itu,” ucap Kenzo yang semakin mengeratkan pelukannya pada Zahra.
Tidak mendengar adanya jawaban dari Zahra, kenzo menunduk melihat istrinya itu. Senyum terbit dibibir kenzo ketika melihat sang ratu telah memejamkan matanya dengan nafas yang sudah beraturan. “Selamat tidur, Sayang. Maaf sudah membuat kamu Lelah. Cup,” ucap Kenzo memberikan kecupan singkat di dahi dan bibir Zahra.
Kenzo mengangkat tubuh Zahra dan menidurkannya. Menutupi tubuh Zahra dengan selimut sebatas leher. Setelah memastikan Zahra tidur dengan nyaman, kenzo turun dari kasur dan memakai celananya yang tergeletak tak berdaya dilantai. Kehausan melanda kerongkongannya, hingga memaksa kenzo untuk turun ke dapur.
.....
Kaki kenzo melangkah dengan pasti menuju dapur. Dari pertengahan tangga, kenzo dapat melihat lampu dapur yang menyala.
“Siapa di dapur?” monolog kenzo.
Kenzo terus melangkah kakinya menuju dapur dengan cepat. Sampai di pintu dapur, kenzo melihat salah satu kursi meja makan terletak begitu saja di dekat seklar lampu dapur.
“Gadis kecilku,” gumam Kenzo yang sudah menduga bahwa itu adalah Sela.
Kenzo semakin yakin saat meihat pintu kulkas yang sudah terbuka. Senyumnya tertahan ketika melihat tubuh kecil Sela yang sudah duduk di depan kulkas dengan pintu kulkas yang sudah terbuka. Bahkan kenzo dapat melihat tangan anak itu yang sudah penuh dengan noda kue ulang tahunnya tadi siang.
“Enak banget,” ucap Kenzo yang langsung berdiri dibelakang Sela.
Nampak ekspresi terkejut dari Sela saat mendengar suara ayahnya. Dengan reflek anak itu menjatuhkan kue yang ada di tangannya dan beralih mengusap dadanya.
“Astagfilullah, Ayah,” ucap Sela dramatis.
“Anak ayah tidak tidur?” ucap Kenzo mengangkat tubuh Sela kegendongannya. Tangan kenzo bergerak merapikan rambut sela yang sangat berantakan seperti singa.
“Cela kebangun Ayah. Tadi makan kue ulang tahunnya cedikit banget, makanya keingat telus dan nggak bica tidul,” jawab Sela disertai kekehan kecilnya.
Kenzo menutup pintu kulkas dengan kakinya dan membawa Sela ke wastafel untuk membersihkan tangan anak itu yang terkena noda kue.
“Cela macih mau kuenya, Ayah,” ucapnya protes saat Kenzo mencuci tangannya.
“Besok kita beli kue yang lebih enak. Kue itu kebanyakan krimya, Sayang. Tidak baik untuk Kesehatan,” ucap Kenzo menasehati.
“Janji becok beli kue?” tanya Sela.
Kenzo mengangguk yakin.
“Sela yang pilih kuenya nanti,” jawab Kenzo yang dibala anggukkan berbinar dari Sela.
“Telimakacih, Ayah,” ucap Sela senang dan mengecup pipi Kenzo.
.....
Suara adzan berkumandang memenuhi gendang telinga Zahra hingga membangunkannya. Tangan Zahra meraba ke sisi kasur sebelahnya dan tidak menemukan siapa-siapa.
“Kemana Mas ken?” monolog Zahra.
Tidak ingin ambil pusing, Zahra bangun dengan selimut tebal yang melilit tubuhnya dan berjalan pelan ke kamar mandi. Tiga puluh menit, Zahra selesai dengan kegiatannya, termasuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Kaki Zahra melangkah keluar kamar dan pergi ke kamar sela yang ada tepat disebelah kamarnya.
Kosong.
“Kemana sela?” gumam Zahra bingung. Pasalnya, ini sudah dua kali dia tidak menemukan anak dan suaminya saat bangun tidur.
“Apa mereka Kembali tidur di bawah?” tanya Zahra entah pada siapa.
Dengan cepat Zahra menutup pintu kamar sela dan segera berjalan menuruni tangga.
Satu persatu kaki Zahra melangkah menuruni tangga. Sampai diujung tangga terakhir, mata bergerak ke segala arah untuk mencari ayah dan anak itu.
Sabar Zahra. Batin Zahra begitu kakinya berhenti tepat diruang televisi.
.....
Zahra menggeleng. "Biarin, Bu. Biar kasi pelajaran mereka. Siapa suruh tidur di ruang keluarga gitu. Udah gitu isi kulkas acak-acakkan lagi. Biarin kelaparan sekalian," gerutu Zahra kesal.
Saat turun tadi pagi untuk mencari anak dan suaminya, Zahra melihat kenzo dan sela yang tidur dengan posisi mengenaskan di depan televisi ruang keluarga. Setengah badan kenzo yang sudah keluar dari karpet, dan kaki sela yang bertengger indah di kepala ayahnya itu. Jangan lupakan wajah mereka yang kotor karena noda kue ulang tahun.
"Membiarkan anak dan suami kelaparan adalah dosa loh nak," ucap Bu Sari yang membuat Zahra terdiam sebentar.
"Tidak dosa, Bu. Ini hukuman karena mereka tidur sembarangan dan nggak bangun-bangun sampai sekarang. Kan menghukum yang bersalah itu nggak dosa, Bu," ucap si bumil dengan sangat percaya dirinya.
Bu Sari hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Zahra yang seperti melepas dendam pada anak dan suaminya.
.....
Suasana makan siang kali ini terasa berbeda dan sedikit berisik karena perdebatan ayah dan anak itu. Mereka berdua saling menyalahkan karena kejadian tadi pagi hingga mereka ketiduran, dan baru terbangun pukul sebelas siang. Alhasil, Kenzo harus meliburkan diri untuk kantor dan begitu juga dengan Sela.
"Buna, jangan malah lagi," rengek Sela.
"Iya Sayang. Jangan marah terus ya," ucap Kenzo ikut membujuk Zahra.
"Siapa marah? Orang aku cuma kesal," ucap Zahra santai dengan memakan Ayam kecap ditangannya dan bermaksud menggoda Sela dan Kenzo. Pasalnya, siang ini Zahra hanya memberi anak dan ayah itu telur dadar satu potong ceker Ayam yang sudah di goreng tanpa cabe. Bayangkan bagaimana hambarnya makan siang Sela dan Kenzo.
Sela dan Kenzo menelan ludah menatap ayam kecap Zahra. Zahra yang melihat tatapan memuja anak dan suaminya pada ayam kecap itu menghentikan kegiatannya. "Mau?" tanya Zahra menawarkan.
Dengan serentak Sela dan Kenzo mengangguk. "Bunda mau ngasih, tapi baby bilang nggak boleh kasih Ayah dan Kakaknya," ucap Zahra tak enak dengan tangan mengusap-usap perutnya. Seru juga ternyata jika hamil begini, alasan ngidam bisa diutamakan untuk memenuhi keinginan.
"Gala-gala Ayah, cela cuma mam cekel Ayam," ucap Sela kesal menatap Ayahnya.
"Kamu yang mulai. Semalam siapa yang mulai lempar kuenya dari kulkas?" tanya Kenzo.
"Calahin tangan Cela lah. Kan bukan Cela yang lempar, tapi malah catu anggota tubuh Cela. Halusnya Ayah nggak lempar wajah Cela, tapi tangan ini. Kemalin Ayah balaskan di hidung, jadinya kan tangan yang catu lagi ikut belain hidung Cela," ucap anak itu mengomel dengan tetap mempertahankan bahwa dirinya adalah benar.
"Siapa juga yang mau lempar hidung kamu? Salah hidung kamu kenapa letaknya disitu," jawab Kenzo yang membuat Sela semakin kesal.
"Ayah dulhaka!" teriak Sela kesal setengah mati mendengar jawaban Ayahnya.
"Kamu juga!" jawab Kenzo kesal.
"Ayah!"
"Kamu!"
"Ayah!"
"Kamu!"
"Ayah!"
"Kamu!"
BRAAKKK.
"DIAM!" teriak Zahra menengahi anak dan suaminya itu. yang tak henti-hentinya saling menyalahkan.
Zahra menghela nafas pelan. Anaknya gambaran the real wanita tak pernah salah. Bapaknya gambaran Lelaki pandai bersilat lidah. Batin Zahra menatap anak dan suaminya bergantian.
"Baikan bikin masalah, ngambeknya kayak orang bisu," ucap Zahra menatap Kenzo.
Mendengar perkataan Bundanya, Sela menjulurkan lidahnya menertawai Kenzo yang dimarahi Bundanya.
"Kakak juga," ucap Zahra yang langsung menghentikan gerakan lidah Sela.
"Mau makan atau tidak?" tanya Zahra lagi.
"Mau Buna."
"Mau Sayang."
"Kalau begitu jangan adu mulut didepan makanan, tidak baik. Bersyukur masih bisa makan, kalau kelaparan bagaimana? Nggak bersyukur banget," gerutu Zahra yang membuat Kenzo dan Sela langsung memakan makan siang mereka.
meskipun sudah makan, Sela dan Kenzo masih saling melirik satu sama lain. Anak dan ayah itu benar-benar cerminan sekali, tidak ada bedanya, kecuali gender mereka.
Sabar ya, Dek. Ayah dan Kaka kamu memang menguji kesabaran. Batin Zahra mengusap perutnya lembut.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏