Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 217



🌹HAPPY READING🌹


Empat bulan kemudian.


Kandungan Zahra sudah semakin besar saat ini. Itu artinya kehamilan Zahra sudah memasuki waktu delapan bulan. Menunggu satu bulan lagi, maka dia dan Kenzo akan bertemu dengan anak-anak mereka di dunia ini. Wanita itu nampak sedikit kesusahan berjalan karena ukuran perutnya yang besar.


Minggu ini semua penghuni rumah sengaja tidak kemana-mana untuk menemani si ibu hamil.


"Sayang," panggil Kenzo yang datang dari dapur dan berjalan ke kamar mereka yang berada di lantai satu. Ya, Kenzo memang memindahkan kamar mereka ke lantai satu agar Zahra tidak kesusahan untuk naik turun tangga. Begitu juga Sela, gadis kecil ini juga ikut pindah ke kamar bawah dengan alasan takut sendirian diatas sana.


Oiya, sekedar informasi, si kecil Sela kini sudah memasuki bangku sekolah dasar sejak semua bulan yang lalu. Jadi dia sudah memakai seragam merah putih saat ini. Begitu juga dengan Shasa, mereka bersekolah ditempat yang sama, dan masih satu yayasan dengan taman kanak-kanak mereka dulu.


Zahra tersenyum menatap suaminya yang datang dengan piring berisi beberapa buah yang sudah dipotong dadu.


"Terimakasih Mas," ucap Zahra menerima piring itu dari tangan Kenzo.


Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Sayang. Sela dimana?" tanya Kenzo yang menanyakan keberadaan anaknya. Karena pasalnya, tadi anak itu bermain di kamar ini.


"Dibelakang, Mas. Katanya mau liat para peliharaannya," jawab Zahra.


Ya, meskipun kambing Sela sudah dipindah ke kandang yang disiapkan Kenzo dengan beberapa orang yang mengurus disana, Sela juga memelihara beberapa burung dan ikan yang ada di akuarium cukup besar yang diletakkan di taman belakang rumah mereka.


"Anak itu benar-benar hobi sekali beternak," ucap Kenzo tak habis pikir. Entah siapa yang dia tiru, tapi anak itu sangat senang sekali mengkoleksi berbagai binatang.


"Alhamdulillah, Mas. Itu lebih bermanfaat daripada Sela melakukan hal yang enggak-enggak kan?" tanya Zahra.


Kenzo mengangguk. "Iya juga Sayang. Anak-anak Ayah apa kabar?" tanya Kenzo beralih mengusap perut Zahra.


"Alhamdulillah baik, Ayah," jawab Zahra menirukan suara anak kecil.


Kenzo tersenyum. "Aku nggak sabar mau lihat anak-anak kita lahir, Sayang. Kalau waktu lahiran, aku boleh nemenin kamu di dalam kan, Sayang?" tanya Kenzo yang tak tahu.


Zahra mengangguk. "Boleh Mas. Asal dokter mengizinkan," jawab Zahra.


"Kalau nggak dikasih izin aku bakar rumah sakit Abi," ucap Kenzo tak terima.


"Kamu bukannya buat aku tambah tenang, malah bikin takut ih!" ucap Zahra kesal.


Kenzo terkekeh pelan. "Enggaklah Sayang. Bercandanya begitu," jawab Kenzo.


"Yasudah, kamu lihat Sela dibelakang Mas. Nanti anak itu jatuh atau kenapa. Kan dia suka manjat kalau lihat burung-burungnya," ucap Zahra.


"Terus kamu sama siapa?" tanya Kenzo.


"Aku cuma di kamar, Mas. Nggak akan kemana-mana. Bisa sendiri kok ini. Lagian semuanya sudah kamu angkut kesini tuh," ucap Zahra menunjuk beberapa botol minum, buah dan cemilan yang disiapkan Kenzo untuk istrinya. Kenzo benar-benar tidak membiarkan Zahra kecapean karena banyak gerak.


"Yasudah. Aku lihat Sela sebentar, ya. Sebentar lagi Ibu pasti pulang dari panti," ucap Kenzo mengingat Bu Sari.


Zahra mengangguk ."Iya suamiku," jawab Zahra lembut.


Kenzo tersenyum dan mengecup dahi Zahra. Setelahnya mencuri kecupan singkat dibibir wanita itu. Zahra hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang kini sudah berlalu pergi ke luar kamar.


Setelah kepergian Kenzo, tangan Zahra memegang lembut perutnya dengan mata terpejam menahan sakit yang tak ketara. "Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita pasti ketemu. Kalian harus kuat sedikit lagi, ya," ucap Zahra sendu.


Zahra tidak takut jika nanti dia tak selamat saat melahirkan anaknya. Yang dia takutkan adalah ketika di yang tidak berhasil melahirkan sang anak dengan selamat ke dunia ini.


"Ya Allah," ucap Zahra merintih menahan nyeri, sakit dan keram yang kembali menyerang kehamilannya beberapa minggu ini.


Tidak ingin menyakiti anaknya, Zahra hanya mengusap lembut perutnya yang besar itu. Mulut Zahra tak hentinya mengucapkan istighfar untuk meredakan sakit diperutnya. "Kalian haru kuat ya, Nak. Ayah dan Kakak sangat mengharapkan kehadiran kalian. Kalian yang kuat dan baik-baik disana, ya," ucap Zahra dengan suara yang melemah dan mata yang mulai terpejam.


.....


Bu Sari kembali dari panti asuhan. Wanita paruh baya itu meletakkan beberapa belanjaan yang dibeli saat tadi singgah di mini market.


"Sepi," gumam Bu Sari melihat sekitar yang tidak ada siapa-siapa.


Bu Sari melangkahkan kakinya menuju taman belakang. Disana dia melihat Kenzo dan Sela yang nampak memberi makan burung-burung Sela.


"Nak Kenzo," panggil Bu Sari sedikit berteriak.


Kenzo yang mendengar panggilan Bu Sari berbalik. "Ibu sudah pulang," ucap Kenzo.


Bu Sari mengangguk. "Dimana Zahra?" tanya Bu Sari.


"Di kamar, Bu," jawab Kenzo singkat.


Bu Sari kembali mengangguk dan berlalu pergi menyusul Zahra ke kamarnya.


Sampai di kamar Zahra, Bu Sari mengetuk pintu kamar. Namun tidak ada balasan dari dalam. Tanpa persetujuan, Bu Sari menekan handel pintu dan membuka pintu yang tidak terkunci itu.


Mata Bu Sari membulat melihat darah yang membasahi spray kasur itu.


"KENZO!" teriak Bu Sari reflek.


Kenzo dan Sela yang berada di taman belakang mengentikan kegiatannya mendengar teriakan Bu Sari.


"Ayo kita nyusul Nenek, Ayah," ucap Sela khawatir.


"Ayo Nak," jawab Kenzo. Ayah dan anak itu berlari memasuki rumah dan berjalan menuju kamar Kenzo.


"KENZO!" teriak Bu Sari lagi.


"Kenapa Bu?" tanya Kenzo yang datang bersama Sela.


"ZAHRA!" ucap Bu Sari.


Kenzo beralih menatap sang istri yang nampak sangat pucat. "Astaghfirullah, Sayang!" pekik Kenzo khawatir melihat kondisi Zahra.


"A-ayah da-darah," ucap Sela gemetar menunjuk kaki Zahra yang sudah berdarah.


Mata Kenzo mengikuti tunjuk anaknya. "Kita ke rumah sakit, Bu," ucap Kenzo langsung mengangkat Zahra ala bridal style dan membawanya keluar.


"Sela ikut Nenek," ajak Bu Sari menggandeng anak yang sudah bergetar itu.


Diperjalanan, Sela tak hentinya menangis melihat sang Bunda yang tidak sadarkan diri dengan darah membasahi kaki Bundanya. Zahra rebah dipangkuan Kenzo di bangku belakang. Sedangkan Bu Sari dan Sela duduk di bangku depan dengan sopir disebelah mereka.


"Nenek Bunda," tangis anak itu menatap Bundanya.


Bu Sari mengusap air mata cucunya itu. " Sela sabar, ya. Bunda pasti baik-baik saja," ucap Bu Sari menenangkan anaknya.


"Sela mau sama Bunda. Sela mau cium Bunda. Sela mau duduk sebelah Bunda, Nenek," ucap anak itu yang sedikit memberontak dipangkuan Bu Sari.


"Sela duduk sama Nenek, ya. Biar Bunda sama Ayah dibelakang," ucap Bu Sari lembut.


"SELA MAU SAMA BUNDA!"


"SELA. JANGAN BANYAK TINGKAH SAAT LAGI KAYAK GINI!" bentak Kenzo reflek melihat anaknya yang tak bisa diam dan menambah suasana menjadi panik.


Sela yang mendengar bentakan Kenzo menunduk takut. Anak itu diam dan menyembunyikan tubuhnya yang bergetar dibalik badan Bu Sari. Mulutnya tak henti menyebut Bunda dan Bundanya.


"PAK LEBIH CEPAT LAGI!" bentak Kenzo pada sopir.


Pak Sopir mengangguk saja dan menambah laju kecepatan mobilnya. Apa boleh buat, disaat genting seperti ini akan lebih aman jika menuruti perkataan Tuannya.


Kenzo tak hentinya memeluk Zahra. "Sayang buka mata kamu, ya," ucap Kenzo lembut.


"Jangan buat aku takut, Sayang. Ayo buka matanya ya," sendu Kenzo memukul pelan pipi Zahra.


Perlahan kelopak mata itu mulai terbuka dengan leman. "Mas," panggil Zahra lemah sekali.


"Sayang, jangan tutup mata lagi, ya. Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit. Sabar ya," ucap Kenzo mengusap air mata yang ada di sudut mata Zahra.


"Sakit Mas," adunya dengan suara bergetar.


Kenzo mengangguk. Sela yang melihat Bundanya sedikit sadar ikut tersenyum senang. Anak itu takut untuk bersuara setelah mendapat bentakan dari Ayahnya tadi.


"Sabar ya, Sayang. Anak-anak Ayah yang kuat, ya. Sebentar lagi kita sampai, Nak," ucap Kenzo berusaha menahan sedihnya.


"Mas," panggil Zahra lagi.


"Iya Sayang," jawab Kenzo.


"Selamatkan anak-anak kita, ya. Apapun yang terjadi, selamatkan mereka, ya," ucap Zahra lemah dengan mata yang tak mampu lagi dia buka.


"BUNDA!"


"ZAHRA!"


"SAYANG!"


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang sudah publish di aplikasi hijau dengan judul CINTA WANITA MUDA. Semoga kalian suka dan menikmati kisahnya.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍