Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 201



🌹HAPPY READING🌹


Sejak pulang dari rumah sakit, senyum tak pernah luntur dari wajah Kenzo. Sampai-sampai gadis kecil yang saat ini duduk di sebelahnya bergedik ngeri melihat sang Ayah yang kelewat normal itu.


"Bunda," panggil Sela pelan pada Zahra yang sedang membaca majalah di sebelahnya.


Posisinya mereka saat ini sedang menikmati waktu sore di kamar Zahra dan Kenzo. Gadis kecil itu duduk diantara kedua orang tuanya. Sang Bunda yang sibuk membaca novel yang kadang bergantian dengan majalah, dan Ayah yang sibuk senyum sendiri dengan laptop di pangkuannya.


"Iya Nak," jawab Zahra tanpa mengalihkan pandanganya dari majalah.


Sela bergeser sedikit mendekati Zahra. Anak itu agak sedikit takut saat ini. Hitung-hitung jika nanti Ayahnya memang kesurupan, dia bisa langsung memeluk Bundanya. "Ayah nggak kesurupan kan, Bunda?" tanyanya berbisik.


Zahra menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Sela. Wanita itu mengangkat kepala dan menatap sang suami. "Coba tanya Ayah. Kayaknya Ayah lagi senang banget," jawab Zahra.


"Takut ih! Nanti Ayah kesurupan tiba-tiba ngamuk gimana?" tanyanya lagi dengan suara berbisik.


"Ayah dengar, Sela," ucap Kenzo.


Sela tersentak kaget. Dengan perlahan anak itu berbalik dan tersenyum canggung. "Hehe, maaf Ayah," ucapnya polos.


Kenzo meletakkan laptopnya di kasur dan beralih mengangkat tubuh Sela keatas pangkuannya. "Sela mau dengar kabar baik nggak?" tanya Kenzo.


"Kabar baik?" beo Sela.


Kenzo mengangguk. Zahra yang juga ikut mendengar itu menghentikan kegiatan membacanya. Dia bergeser dan mendekat kepada anak dan suaminya.


Kenzo mengambil tangan Sela dan meletakkan diperut sang suami. "Disini ada adiknya Sela," ucap Kenzo.


"Kan memang ada, Ayah. Bunda kan lagi hamil," jawab anak itu sok tahu.


Kenzo dan Zahra terkekeh. "Tidak hanya satu, Nak. Tapi ada dua," ucap Zahra.


Otak cerdas Sela mencerna sedikit perkataan Bundanya. Hingga tak lama, matanya membesar dengan binar bahagia. "Kembar!" pekik Sela girang.


"Adik Sela kembar Ayah, Bunda?" tanya Sela senang.


Kenzo dan Zahra mengangguk. "Iya Nak. Adik kamu kembar," jawab Kenzo.


"Alhamdulillah. Sehat-sehat didalam sana adik-adik Kakak Sela cantik," ucap Sela bersyukur sambil mengusap lembut perut sang Bunda.


"Wah, Allah baik banget ngasih kita rezeki banyak, Bunda," ucap anak itu menatap Zahra penuh binar.


Kenzo bangga mendengar perkataan anaknya yang sangat bijak. Dia akui, ajaran sang istri memang sangat baik untuk anaknya. Tidak salah memang Kenzo memiliki Zahra sebagai istrinya. Madrasah pertama bagi anak-anaknya. Meskipun tidak mendalam, namun Sela paham dengan kata bersyukur, memberi, meminta, maaf dan terimakasih. Meskipun anak itu sedikit bandel dan suka membuat kesal, tapi dalam hati Kenzo sangat menyayangi anak itu lebih dari dirinya sendiri.


"Semoga kita bisa menjaga rezeki ini ya, Nak," ucap Zahra.


Sela mengangguk yakin. "Mulai sekarang, Sela yang akan jagain Bunda. Sela yang akan bantuin Bunda," ucapnya semangat.


"Dan ada Ayah yang akan selalu membantu anak ayah ini," ucap Kenzo mencolek dagu lancip Sela.


"Harus dong!" serunya senang.


"Berapa lama lagi adik-adiknya keluar, Bunda?" tanya Sela.


"Lima bulan lagi, Nak," jawab Zahra.


"Masih lama banget," jawab Sela lesu.


"Memang begitu aturannya, Sayang. Selama itu juga, Sela harus selalu siaga dan belajar menjadi Kaka yang baik buat adik-adiknya," ucap Kenzo.


"Iya Ayah. Sela janji akan menjadi anak yang baik untuk Ayah dan Bunda, jadi kakak yang baik buat adik-adik," jawabnya penuh semangat.


"Kalian mau bantu Bunda kan?" tanya Zahra pada suami dan anaknya.


Dengan serentak dan patuh, Ayah dan anak itu mengangguk.


"Berhubung besok kita akan pergi ke Turki dan Bunda belum selesai packing. Jadu-"


Kenzo yang melihat semangat anaknya menurut dengan senang hati. Apapun itu asal buah hatinya bahagia.


.....


Setelah selesai packing barang dan pakaiannya dengan Zahra, Kini Kenzo membantu Sela untuk packing persiapannya dikamar gadis kecil itu.


Lelah, namun ini sangat menyenangkan bagi Kenzo. Menjadi bapak rumah tangga ternyata tidak sesulit yang dia pikirkan.


Kenzo dengan telaten membantu melipat pakaian Sela dan memasukkannya ke koper. "Butuh bantuan, Mas?" ucap Zahra yang sejak tadi memang menjadi pengamat setia anak dan suaminya.


Kenzo menggeleng. "Terimakasih, Nyonya. Tapi saya pasti bisa. Meskipun tidak rapi, tapi bisalah," jawab Kenzo menolak.


Zahra tersenyum. Setelahnya dia beralih pada gadis kecil yang sibuk dengan beberapa barangnya. "Itu mau dibawa juga, Nak?" tanya Zahra melihat Sela memasukkan boneka kedalam tas besarnya.


Sela mengangguk. "Biar Sela ada temannya Bunda," jawabnya.


"Kita liburan, Nak. Bukan pindah. Nanti beli saja disana," ucap Kenzo.


"Memang Ayah punya uang?" tanya Sela polos.


Kenzo berdecak malas. Tidak ada momen tanpa kekesalan jika bersama anaknya itu. "Satu mall sanggup Ayah borong buat kamu," jawabnya sombong.


"Wah, baiklah-baiklah jika Ayah memang memaksa membelikan," jawab Sela dengan tak tahu dirinya dan tangan yang asik mengeluarkan kembali segala macam mainan itu. Hingga hanya menyisakan satu boneka kecil Doraemon bermain bola yang selalu menemaninya. Dan jangan lupa kan Ana, boneka kucel yang menemani Sela sejak kecil. Dia tidak akan pernah terlewatkan oleh anak itu.


Memaksa dia bilang? Padahal Kenzo batu bicara sekali sudah dibilang memaksa.


Sela menghentikan kegiatannya ketika dia teringat akan sesuatu. Dia berbalik menatap Ayah dan Bundanya.


"Ayah, Bunda," panggil Sela lembut.


"Iya Nak."


"Hem."


"Ayah dan Bunda tidak melupakan sesuatu kan?" tanya anak itu.


Zahra dan Kenzo saling pandang karena bingung dengan pertanyaan anak itu.


"Lupa apa Nak?" tanya Zahra.


"Emm... Boleh Sela meminta sesuatu sebelum pergi?" tanya Sela pelan. Kedua tangan anak itu saling bersahutan. Nampak keraguan dalam dirinya untuk mengatakan apa yang dia inginkan.


"Sampaikanlah, Nak. Sela mau apa?" tanya Zahra lembut.


"Sebelum pergi, Sela mau ketemu sama Abang Akbar," cicit Sela pelan.


Zahra tersenyum mendengar permintaan anaknya itu. "Bunda dan Ayah tidak mungkin melupakan Abang, Nak. Besok sebelum ke Bandara, kita akan ke rumah Abang terlebih dahulu," jawab Zahra.


Kenzo yang terdiam kini berjalan mendekati anak gadis kecilnya itu. Dia bersimpuh untuk menyamakan tinggi badannya dengan Sela.


"Ayah dan Bunda tidak lupa, Nak. Rencananya memang besok kita akan ke rumah Abang sebelum pergi," ucap Kenzo lembut pada Sela yang menunduk.


Sela masih setia menunduk. Kenzo yang melihat tingkah anaknya mengangkat dagu Sela.


"Kenapa?" tanya Kenzo lembut melihat mata sang anak yang berkaca-kaca.


"Sela kangen Abang. Sela mau sekali bertemu Abang walau sekali di dalam mimpi Ayah, Bunda."


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏