
Hai teman teman semua. Jumpa lagi sama kisah ini, ya. Setelah sekian purnama, sekian musim.kita lewati akhirnya author berjumpa lagi dengan reader setia. Terimakasih untuk selalu ada dan mengikuti kisah Zahra dan Kenzo. Maaf jika terlambat, semoga ini mengobati rindu diantara kita yaaaa
🌹HAPPY READING🌹
Dee tersenyum sendu menatap Zahra yang nampak sangat berbahagia. Takdir sangat baik, rasanya Dee ingin mengutuk takdir yang sudah mempermainkan kehidupan keluarganya. Tapi lagi-lagi, Pencipta selalu mengirimkan seseorang untuk dia terus iklhas dan bersyukur.
"Sayang," suara lirih dan sebuah genggaman tangan membuyarkan lamunan Dee serta Zahra.
"Mas."
"Abi."
Zahra dan Dee menoleh begitu mendengar suara lirih nan terdengar merdu itu berasal dari ranjang rumah sakit. Mereka segera mendekat, Dee mendorong kursi roda Zahra, setelah itu dia duduk di kursi sebelah ranjang.
"Kamu bangun, Mas," ucap Dee yang terdengar bodoh di telinganya sendiri. Sudah jelas Ibra bangun, tapi bibir seksinya masih saja berucap seperti itu.
Ibra tersenyum menatap Dee yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku bangun, Sayang," ucap Ibra lirih. Badannya masih terasa ngilu dan perih di bekas operasinya.
Tangan Dee terulur menggenggam lembut tangan yang terbebas dari infus. "Kamu berhasil, Mas," ucap Dee sambil mengangguk dan tersenyum.
"Abi," panggil Zahra lembut sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Ibra mengalihkan pandanganya kebawah, tepat pada Zahra yang duduk di kursi roda. "Anak Abi," ucap Ibra lirih dengan senyum kecilnya.
Bukannya tersenyum, Air kata Zahra luruh begitu saja mendengar Ibra yang kembali menyebutnya dengan panggilan favoritnya. Panggilan yang sudah sangat lama sekali dia rindukan.
"Nak," ucap Dee menggenggam tangan Zahra.
Zahra menggeleng. "Zahra bukannya sedih, Umi," ucap Zahra mengerti arti panggilan Uminya tersebut.
Zahra menghapus air matanya. Dia tersenyum menatap Dee dan Ibra bergantian. "Terimakasih banyak, Abi. Terimakasih sudah kembali menganggap Zahra sebagai anak, Abi," ucap Zahra tulus menatap Ibra.
Ibra tersenyum. Dia memutar sedikit kepala menghadap depan dengan pandangan lurus ke langit-langit kamar inapnya.
"Bukan salah kamu, Nak. Abi terlalu jahat karena pernah mengacuhkan mu. Maafkan Abi pernah menganggap mu tidak ada, Zahra. Maafkan Abi pernah menganggap mu menjadi segala sumber dari masalah ini, Zahra. Maafkan Abi," ucap Ibra memejamkan mata diakhir kalimatnya. Sungguh, di hati kecilnya dia menyayangi Zahra. Sama seperti dulu sebelum dia mengetahui yang sebenarnya.
Tangan Zahra dengan gerakan lambat terulur menggenggam tangan Ibra. "Tidak pantas Abi minta maaf sama Zahra. Zahra yang sangat berterimakasih, Abi," ucap Zahra tulus. Tidak terasa air mata wanita itu kembali mengalir membasahi pipinya. Dee yang melihat itu berinisiatif menghapus air mata di pipi Zahra.
"Umi, Abi," panggil Zahra pelan.
"Iya, Nak," jawab Dee. Sedangkan Ibra diam dengan kepala yang kembali menghadap Zahra.
"Terimakasih banyak," ucap Zahra tersenyum sambil menjeda sebentar perkataanya. "Terimakasih banyak kepada Abi yang sudah mendonorkan ginjalnya buat Zahra. Terimakasih banyak kepada Abi yang sudah rela bertarung nyawa untuk Zahra. Terimakasih banyak kepada Abi yang dengan ikhlas mempertaruhkan hidup Abi," ucap Zahra dengan suara bergetar menatap Ibra lembut.
Setelahnya, Zahra beralih menatap Dee. "Terimakasih, Umi. Terimakasih sudah menjadi ibu untuk Zahra. Terimakasih karena sudah menerima Zahra menjadi anak Umi. Terimakasih atas kasih sayang Umi yang sangat tulus kepada Zahra. Meskipun Zahra merupakan anak yang dibawa oleh wanita pengganggu rumah tangga Umi, Umi tetap berlapang hati menerima Zahra. Bahkan, Umi menyayangi Zahra layaknya anak sendiri. Tiada ketulusan dan kebesaran hati yang lebih terpuji dari itu, Umi. Terimakasih banyak," ucap Zahra dengan suara bergetar menatap Dee.
"Terimakasih kepada Umi dan Abi. Abi yang sudah rela mengorbankan diri, hingga mempertaruhkan nyawanya. Dan Umi, Umi sudah rela mengizinkan suami Umi untuk berkorban untuk seorang anak yang bukan darah dagingnya. Tidak ada lebih memalukan dari ini sebenarnya, Umi. Zahra, anak yang dibawa oleh wanita yang sudah menghancurkan rumah tangga Umi dan Abi, wanita yang sudah membuat Abang dan Adek hidup tanpa Ayah selama bertahu-tahun, wanita yang membuat Umi pernah merasakan hidup menjadi seorang janda. Maafkan Zahra, Umi," ucap Zahra melanjutkan perkataanya.
"Dan sekarang, Zahra kembali mengulang masa lalu. Karena Zahra, Umi, Kakak dan Abang hampir menjadi janda lagi dan menjadi yatim, hiks," ucap Zahra menunduk. Sakit bekas operasinya tidak sebanding kini dengan sesak yang dia rasakan.
"Maafkan Zahra, Abi, Umi," ucap Zahra mengangkat tangannya pelan dan mengatupkan didepan dada.
Dee mengangguk menatap Zahra dengan mata berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, Dee memeluk tubuh Zahra lembut. Senyum terbit di bibir Zahra ketika menerima pelukan dari Dee.
"Tidak ada terimakasih dalam hubungan Ibu dan anak, Nak. Kamu memang bukan lahir dari rahim Umi, tapi dalam kehidupan Umi ada kamu, Nak. Ada kamu diantara Abang Al dan Kina. Kamu adalah adik dan kakak untuk mereka," ucap Dee lembut.
Zahra mengangguk. Dia memejamkan mata hingga air yang menganak sungai itu jatuh membasahi pipi putih pucatnya.
"Zahra," panggil Ibra.
Dee melepaskan pelukannya pada Zahra. Membiarkan Zahra menghapus air mata dengan tangannya.
Zahra memandang lembut Ibra yang ada disana. "Iya, Abi," jawab Zahra.
Zahra mengangguk dengan senyumnya mengiyakan perkataan Ibra.
"Maaf jika Abi harus mengatakan ini, Nak. Zahra, Abi dan Abang Al sudah sama-sama mengetahui bagaimana hubungan kita, bisakah kita bersikap agar tidak membuat dosa, Nak. Meskipun Abi menganggap mu sebagai anak, dan Abang Al menganggap mu sebagai adik, tapi tidak ada ikatan yang menghalalkan kita untuk bersentuhan, Nak," ucap Ibra lembut agar tidak menyinggung Zahra.
"Mas," ucap Dee sedikit protes dengan apa yang Ibra katakan. Dee setuju dengan apa yang disampaikan Ibra, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk Ibra menyampaikan itu.
Zahra menatap Ibra dan tersenyum. "Tidak Umi, apa yang disampaikan Abi adalah hal yang benar dan tepat. Zahra paham, Abi. Zahra menerima semua itu. Tapi boleh Zahra minta sesuatu, Abi?" tanya Zahra.
"Tanyalah, Nak," jawab Ibra.
"Jangan hilangkan status Zahra sebagai anak Abi dan Umi, ya," ucap Zahra sendu memandang Ibra dan Dee.
Ibra dan Dee serentak mengangguk. Mereka bertiga tersenyum menyalurkan kasih sayang yang begitu besar antar satu dengan yang lainnya.
"Buna," suara kecil dari pintu membuat mereka semua menoleh.
"Kemari, Nak," ucap Zahra.
Sela. Anak itu berjalan dengan wajah cemberutnya sambil menghentakkan kaki kesal ke lantai.
"Shasa mana, Sayang?" tanya Dee.
"Chaca ke kantin bareng Ayah, Nek," jawab Sela.
"Sela kenapa tidak ikut?" tanya Dee lagi.
Sela menggeleng. "Macih mau cama Buna," ucap anak itu menatap Zahra.
"Buna lama bicala cama nenek, jadi Cela kecal nunggu cendili di lual. Makanya langcung macuk," jawab Sela menjelaskan akibat kekesalannya tanpa ada yang bertanya.
"Nenek, Kakek bagaima-."
"Kakek!" pekik Sela senang ketika melihat Ibra yang sudah membuka mata dan tersenyum kepadanya.
"Cekalang nggak boleh cedih lagi. Kakek dan Buna cudah bangun, Yeay," ucap Sela senang mendekat keranjang Ibra dengan langkah riangnya.
"Naik kecini boleh nggak, Nek?" tanya Sela menunjuk ranjang Ibra.
Dee menatap Ibra. "Boleh, Sayang. Tuan putri di perbolehkan naik. Sebelah sini untuk Sela, dan sebelah sini untuk Shasa," ucap Ibra menjawab sambil menunjuk sisi kiri dan kanannya.
Dengan riang anak itu naik dibantu oleh Dee.
"Kakek, Buna," ucap Sela mulai berceloteh.
"Kenapa Sayang?" jawab Ibra. Sedangkan Zahra hanya tersenyum bersama Dee.
"Kemalin, waktu Kakek dan Buna belum bangun, Nenek, Ayah dan Mama Kina nangis telus," ucap Sela dengan nada mengadunya.
"Sayang," panggil Ibra menatap Dee lembut.
Dee tersenyum. "Bentuk khawatir dan kasih sayang, Mas," jawab Dee lembut dan tersenyum.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘