Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 71



🌹HAPPY READING🌹


Di sekolah, Sela dan Shasa saat ini sedang konsen dengan gambar yang mereka warnai. Shasa nampak semangat dengan kegiatan mewarnainya. Terbukti dengan keringat yang ada di dahinya. Entah anak itu kepanasan atau karena semangatnya, yang pasti keringat itu benar-benar menunjukkan keseriusannya.


Berbeda dengan Shasa, Sela malah mewarnai gambarnya dengan sangat pelan. Ada sesuatu yang saat ini tengah menguasai pikirannya.


Bunda dan Ayah. Dua orang yang sangat penting dalam hidupnya. Dua orang yang kini menguasai pikirannya. Jauh dalam lubuk hatinya, dia masih ingin Ayah dan Bundanya untuk bersatu. Namun, melihat keteguhan hati Bundanya, harapannya seolah hilang begitu saja. Baginya, kebahagiaan Bundanya adalah hal yang penting untuk Sela.


"Chaca," panggil Sela lembut.


"Hem," jawab Shasa tanpa menoleh pada Sela. Anak itu sangat fokus dengan kegiatan mewarnainya.


"Cela mau ke toilet dulu, ya. Nanti kalau Bu Gulu nanya, Chaca izinin Cela, ya," ucap Sela memberitahu Shasa.


Shasa menghentikan kegiatannya. Anak itu menoleh kepada Sela. "Mau aku temenin?" tawar Shasa.


Sela menggeleng. "Chaca celecaiin aja gambalnya. Cela bica cendili. Cela pelgi dulu, ya," ucap Sela pamit.


"Hati-hati ya, Sela," ucap Shasa.


Sela mengangguk. Anak itu keluar dari barisan duduknya dan keluar dari kelas. Anak itu pergi ke toilet yang ada di sebelah kelasnya. Memang, di sekolah Sela dan Shasa, setiap kelas memiliki kamar mandi yang ada di sebelah kelas. Hal ini memudahkan anak-anak untuk dekat ke toilet, dan membuat mereka mandiri agar bisa sendiri.


Sela memasuki kamar mandi. Anak itu tidak benar-benar buang air kecil. Dia hanya berusaha menyembunyikan kesedihan dalam hatinya dari saudaranya sendiri.


Sela mematut dirinya di cermin. Anak itu memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Tanpa dia minta, buliran kristal jatuh begitu saja dari matanya membasahi pipi bulat gadis kecil tersebut. Anak itu memegang dadanya yang terasa sesak. Sungguh, dia sangat menginginkan keluarga yang lengkap.


"Cela punya dua mata, punya catu hidung, catu mulut juga. Cama kayak teman-teman yang lain. Tapi kenapa Cela nggak punya olang tua cama kayak meleka," gumam Sela sendu dengan nada bergetar.


"Cela cama kayak teman yang lain. Tapi kenapa kelualganya nggak lengkap," gumam Cela yang mempertanyakan perbedaan yang dia miliki dengan teman-temannya.


Lelah. Mungkin itulah yang dirasakan oleh anak itu. Meyakinkan Bundanya sudah seperti hal mustahil baginya. Dia hanya berharap, Ayahnya tidak akan berpaling kepada anak lain selain dirinya. Semoga Bundanya tetap menjadi wanita yang selalu mengisi hati Ayahnya.


"Cemoga Ayah tidak mencali anak lain dalam hidupnya," lanjut Sela dengan suara bergetar.


Polos, dan pengetahuan yang masih terbatas, begitulah Sela saat ini. Ketakutan akan kehilangan Ayahnya membuat anak itu sedih.


Sela menampung tangan dengan wajah menengadah menatap langit-langit kamar mandi. "Ya Allah, Cela tahu kamal mandi itu tempat kotor buat beldoa. Tapi Cela tidak mau beldoa di lual, nanti olang-olang tahu kalau Cela lagi cedih, hiks. Ya Allah, jangan pelnah ambil Ayah, ya. Walaupun Bunda tidak mau balik cama Ayah, tapi jangan buat Ayah benci Cela Ya Allah, hiks. Cela tidak minta banyak, kok. Cela cuma minta Ayah celalu cayang Cela. Jangan buat Cela kembali yatim, Ya Allah. Aamiin," ucap Sela mengusap telapak tangan yang sudah basah oleh air mata itu ke wajahnya.


Sela kembali mematut wajahnya di cermin. Anak itu menghidupkan keran air dan membasuh sedikit wajahnya agar tidak ketahuan. Menghirup udara banyak, anak itu menetralkan emosinya. Setelah dirasa tenang, Sela keluar dari kamar mandi dan kembali ke kelasnya.


.....


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mata Kenzo masih setia menatap layar ponsel yang menampilkan setiap pergerakan kedua bidadari nya. Bidadari kecil dan bidadari ratunya nampak sedang bercengkrama di ruang tamu yang dulu menjadi saksi segala pertemuan dan kesedihan yang sudah tumpah begitu saja sejak pertemuan mereka.


Senyum terbit di bibir Kenzo melihat senyum Sela dan Zahra. Anak dan Ibu itu nampak sangat akrab. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Kenzo ikut senang melihatnya. Artinya kedua orang yang mereka sayangi bahagia saat ini. Tapi ada sesuatu yang membuat kesedihan itu muncul di hati Kenzo.


Tawa dari kedua wanita yang di cintai dan dia sayangi tidak bersumber darinya. Bahkan dirinya benar-benar tidak ikut andil dari tawa dan kebahagiaan Sela serta Zahra.


"Apa mungkin aku bisa menjadi sumber tawa dan kebahagiaan kalian, Sayang? Baru sehari, rasanya sudah sangat sesak sekali, bagaimana kamu yang berjuang berminggu-minggu menghadapi sikap kasar dan bajingan aku, Sayang. Aku minta maaf," ucap Kenzo tulus.


"Tapi walaupun bukan karena aku, setidaknya kalian bahagia dan bisa tertawa lepas," ucap Kenzo menghibur dirinya disertai senyum tulus diakhir katanya.


Saat teringat akan sesuatu, Kenzo mengeluarkan rekaman CCTV dan beralih mencari menu kontak di ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo, Arman," ucap Kenzo setelah panggilan tersambung dengan Arman.


"Ya, Tuan," jawab Arman dari seberang sana.


"Dalam dua Minggu tidak ada perubahan, siapkan wanita yang aku katakan," ucap Kenzo tegas dengan segala keyakinannya.


"A-Anda yakin, Tuan?" ucap Arman bertanya ragu.


Kenzo mengangguk yakin di tempatnya meskipun dia tahu Arman tidak akan melihatnya. "Sangat yakin. Dan aku yakin kamu paham dengan apa yang saya maksud. Dalam dua Minggu, jika tidak ada perubahan pada Zahra, kita gunakan wanita yang saya maksud," jawab Kenzo yakin.


"Baik, Tuan. Semuanya akan saya kerjakan," jawab Arman.


Tanpa mengucap salam atau kata penutup, Kenzo memutus sambungan teleponnya.


"Maaf, Sayang, tapi ini perlu agar kamu tidak munafik tentang perasaanmu hingga menyiksa anak kita," gumam Kenzo dengan segala keyakinannya.


Kenzo menarik panjang nafasnya. Dia menggeleng pelan membayangkan apa yang terjadi nanti. "Gila yang benar-benar gila," gumam Kenzo.


.....


Di dalam rumah kecil itu, Sela dan Zahra saling tertawa. Anak itu nampak asik menceritakan kegiatan dan teman-temannya di sekolah, terutama Shasa yang juga merupakan saudaranya.


"Apa Sela bahagia hidup sama Bunda, Nak?" tanya Zahra disela tawa mereka.


Sela mengangguk semangat. Tentu saja anak itu bahagia hidup dengan Bundanya. Jika bukan karena Bundanya, maka dia tidak akan ada di dunia ini.


Zahra tersenyum melihat jawaban tulus Sela. "Berarti Sela hanya butuh Bunda, kan?" tanya Zahra hati-hati.


Sela terdiam sebentar, lalu anak itu mengangguk. Zahra tersenyum melihat anggukan Sela. Sela juga ikut tersenyum, tapi beberapa detik, senyum itu berubah menjadi senyum kepedihan. Air mata anak itu kembali runtuh begitu saja menatap Bundanya.


"Jangan buat Cela yatim lagi, Buna."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘