
🌹HAPPY READING🌹
Ruang rawat Zahra dipenuhi oleh semua keluarga. Mereka nampak asik bercengkrama satu sama lain. Semua mata tertuju pada dua gadis kecil yang nampak diam-diaman saat ini. Zahra duduk di sofa dengan infus masih tertancap di punggung tangannya. Tiang infus gadis itu diletakkan di sebelah sofa. Kenzo setia duduk di sebelah Zahra.
Sedangkan Ibra, lelaki itu dengan manja tidur di ranjang Zahra, dengan Dee yang terus mengelus rambut yang mulai memutih itu. "Mas," panggil Dee pelan.
"Iya Sayang," jawab Ibra.
"Anak-anak kita bahagia ya, Mas," ucap Dee dengan pandangan penuh kasih menatap anak-anak dan cucunya yang tengah berkumpul di Sofa bersama Kevin dan Bu Sari juga.
Ibra tersenyum dan mengangguk. "Semoga setelah ini hanya ada canda dan tawa, Sayang," ucap Ibra lembut. Melihat anak dan cucunya tersenyum lepas, membuat Ibra bersyukur atas semua yang dia lalui. Ternyata benar, kesakitan dan air mata yang dulu tiada hentinya memberikan mereka pembelajaran untuk bisa meraih bahagia seperti sekarang.
Sedangkan di sofa, Sela dan Shasa masih saling diam-diam tanpa ada yang mau saling menyapa. Para orang tua yang ada disana menatap geli kedua gadis kecil itu.
Ini hanya perkara uang siapa yang akan digunakan untuk beli eskrim, tapi kedua malah berakhir diam-diaman seperti ini.
Tadi, Sela dan Shasa akan ke kantin rumah sakit untuk membeli eskrim. Sela yang mau membayarkan eskrim Shasa di tahan oleh anak itu. Karena katanya, dia yang akan membayar eskrim nya dan eskrim Sela. Karena Sela juga mau uangnya digunakan, terjadilah adu keras kepala antara mereka berdua karena ingin saling membayarkan eskrim tersebut. Karena tidak ada yang mau mengalah, berakhirlah dengan diam-diaman seperti ini.
Sela dan Shasa duduk saling memunggungi dengan tangan mereka yang saling bersedekap dada. Mau tau mereka dapat uang dari mana? Tentunya itu adalah pemberian dari Daddy Al kesayangannya. Al memberi mereka masing-masing uang sepuluh ribu rupiah untuk membeli eskrim. Hanya perkara uang sepuluh ribu, dua gadis kecil itu melakukan perang dingin. Daddy Al benar-benar emang.
"Akbar lihat deh, kakak-kakak kamu kayak anak kecil, Sayang," ucap Bella yang sedang memangku Akbar. Anak itu nampak asik dengan permen lollipop ditangannya.
"Sela sama Shasa nggak mau sapaan gitu?" tanya Kina ikut menimpali. Dia gemas dengan wajah lucu kedua gadis kecil ini yang berusaha agar terlihat garang. Namun, bukannya takut mereka malah nampak lucu dan menggemaskan.
Kedua gadis cilik itu dengan serentak mengangkat kedua bahunya tidak peduli satu sama lain. Tapi percayalah, dalam hati mereka sedang bertengkar antara memaafkan dan tetap diam seperti ini.
"Uang sepuluh ribunya mana?" tanya Al pada kedua gadis cilik itu.
Sela dan Shasa serentak mengambil uang dari saku baju mereka. Saat ini mereka menggunakan wajah yang sama, hanya warna saja yang membedakan. Sela memakai jumpsuit biru mint, dan Shasa memakai jumpsuit hijau mint.
Tangan mereka memberikan uang itu kepada Al yang diterima sumringah oleh lelaki itu. "Buat modal eskrim kita, Akbar," ucap Al pada anaknya dan memasukkan uang tersebut ke saku celana Akbar.
"Itu uang kami, Daddy!" ucap Sela dan Shasa bersamaan karena tidak terima uangnya diberikan kepada Akbar.
"Jangan berteriak pada orang Tua Sela, Shasa!" ucap Kenzo tegas menasehati Sela dan Shasa.
Sela dan Shasa diam dan menunduk mendengar nasehat Kenzo. Mereka takut, karena nada bicara Kenzo yang sudah tegas dan serius. Jika sudah begini, bersiaplah mereka menerima kultum panjang.
"Sela, Shasa," panggil Aska yang duduk di sebelah Kina.
"Iya, Papa."
"Iya, Papa Aka."
Jawab Sela dan Shasa bersamaan sambil menunduk. Anak-anak itu berdiri dengan kepala tertunduk dan jari-jari mereka yang saling memilin dengan perasaan cemas dan badan yang mulai panas dingin.
Mereka menyesali mulut mereka yang berbicara dengan nada keras tadi kepada Al.
"Siapa yang ajarin Shasa sama Sela bicara dengan nada keras seperti itu?" tanya Aska tegas.
Mereka berdua diam tidak menjawab. Percayalah, mereka lebih pilih dimarahi Ibra daripada dimarahi Aska, Kenzo dan Al. Karena Kakek mereka masih bisa di ajak bercanda, tapi jika Kenzo, Aska dan Al yang marah, mereka harus siap mental.
"Kalau bicara sama orang tua, nggak sopa kalau membelakangi, Nak," ucap Kina memberitahu Sela dan Sasha.
Sela dan Shasa mengangguk. Kedua gadis cilik itu berbalik badan menjadi menghadap Aska. Namun masih dengan kepala tertunduk, tak berani menatap Aska.
"Papa tanya, siapa yang ajarin bicara keras?" tanya Aska lagi.
Sela dan Shasa sama-sama menggeleng. Mereka berdua sedikit menolehkan kepala menatap kepada Kevin dan Bu Sari untuk meminta bantuan.
Kevin dan Bu Sari hanya tersenyum dan menggeleng pertanda mereka harus menghadapi dan menerima nasehat Aska. Karena saat ini, mereka memang harus diberi nasehat agar tidak terbiasa hingga dewasa nanti.
"Maaf, Papa."
"Maaf Papa Aka."
"Minta maaf untuk apa?" tanya Aska tegas.
"Minta maaf karena udah bicara dengan suara keras sama Daddy," ucap Shasa angkat bicara.
Sela mengangguk menyetujui perkataan saudaranya itu. "Iya Papa Aka. Cela janji nggak bicala kelas lagi, maaf," ucap Sela ikut menimpali.
"Shasa juga janji, Papa," ucap Shasa ikut janji pada Aska.
Dee dan Ibra yang melihat kedua cucunya di interogasi hanya diam dan senyum sesekali. Sela dan Shasa harus dinasehati sesekali agar mereka tidak bertindak dengan semena-mena.
"Lalu kenapa Sela dan Shasa masih diam-diaman?" tanya Aska lagi.
Sela dan Shasa sama-sama angkat kepala.
"Shasa dulu," ucap Aska cepat ketika melihat kedua gadis cilik itu akan membuka mulut untuk menjelaskan.
"Sela nggak mau pakai uang Shasa. Kan Shasa mau bayarin eskrim nya Sela. Uang Shasa ada sepuluh ribu, jadi cukup untuk bayar eskrim. Kan eskrim nya satu lima ribu, jadi kalau dua pas sepulu ribu, Papa. Tapi Sela nggak mau," ucap Shasa menjelaskan.
Aska mengangguk masih dengan wajah tegasnya, begitu juga dengan yang lainnya. Tidak tahu saja, dalam hati mereka tertawa mendengar penjelasan Shasa yang saling diam hanya karena perkara uang sepuluh ribu.
"Sekarang Sela yang jelaskan," ucap Aska kepada Sela setelah selesai mendengar penjelasan Shasa.
"Cela maunya pakai uang Cela, Papa Aka. Bila Cela yang bayalin Chaca. Bial Uangnya Chaca nggak belkulang. Kalena kata Ayah, kalau kita celing bayalin Olang, maka uang kita makin banyak," jawab Sela polos yang dianggukki oleh Shasa ketika mendengar kalimag terakhir Sela.
Semua mata kini menatap Kenzo yang menampilkan wajah cengonya mendengar penjelasan Sela.
"Ya kan ngajarin Sela dan Shasa biar sedekah, Sayang" ucap Kenzo pada Zahra yang menatapnya tajam.
"Niat Sela dan Shasa baik, tapi caranya bukan seperti itu. Kalau mau memberi, kalian bisa sedekah kepada orang yang kurang mampu, ya. Kalian bisa sedekah kepada pengemis dijalanan atau ngasih mereka makan. Begitu maksud Ayah Kenzo, Nak," ucap Al lembut membenarkan pikiran-pikiran kedua gadis cilik ini.
"Atau Sela san Shasa juga bisa sedekah kalau lagi sholat di mesjid bareng Nenek. Kan Sela dan Shasa sering ke mesjid bareng Nenek kalau mau sholat," lanjut Al.
Sela dan Shasa saling pandang. "Maafin Cela, ya Chaca. Yacudah, bayar esklim nya pakai uang Chaca aja, bial uang Cela nggak kulang dan bisa dikaci di kotak mejid," ucap Sela polos yang membuat mereka semua tepuk jidat mendengar perkataannya.
"Shasa juga mau masukin di kotak mesjid," ucap Shasa.
"Begini saja. Bayar eskrim nya pakai uang sendiri-sendiri, dan sisanya masukin kotak mesjid, ya," ucap Kenzo memutuskan apa yang harus dilakukan kedua gadis cilik itu.
"Kenapa Papi nggak ngusulin begitu dari tadi? Kan Shasa bisa cepat baikan dengan Sela," ucap Sela.
"Kalian yang salah paham," jawab Kenzo.
"Kata Mommy Bella, Mama Kina, Nenek dan Buna, pelempuan celalu benal Ayah, no debat," ucap Sela dengan suara sok tegasnya.
"Kalaj begitu kami beli es Klim dulu," ucap Sela dan langsung menarik tangan saudaranya itu untuk ke kantin membeli es krim. Jangan heran, Shasa dan Sela sudah hapal seluk beluk rumah sakit ini, jadi mereka tidak akan hilang. Toh jika hilang, mereka tinggal sebut nama Kakek mereka, dan semua akan terselesaikan.
"Makanya, ngasih uang itu yang banyakan kek. Ini ngasih uang sepuluh ribu, bener-bener pelit!" gerutu Kina kepada Abangnya itu.
"Abang ngajarin mereka hemat," timpal Al tak terima.
"Pasal satu, wanita selalu benar," potong Zahra bersama dengan Bella pada Al.
Kevin yang sedari tadi diam menyaksikan tersenyum lepas. Senyum anak-anak dan cucuku saja sudah cukup untuk saat ini. Batin Kevin yang sudah menganggap Al, Kina dan yang lainnya sama seperti Zahra, anaknya.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏