
🌹HAPPY READING🌹
Sampai di ruang kerja, Kenzo menepuk dahi karena lupa membawa laptop yang dia tinggalkan di kamar. Dengan sangat terpaksa, Kenzo berbalik dan kembali menuju kamarnya.
Saat sampai di depan kamar, Kenzo membuka pintu dengan pelan karena takut membangunkan Zahra yang masih tidur.
Saat pintu terbuka, sayup-sayup Kenzo mendengar Zahra berbicara melalui telepon.
"Türk Mücevher akan baik-baik saja ditangan Ayah Kevin dan Paman. Tiba saatnya nanti, pasti Zahra akan datang."
DEG
Jantung Kenzo berdetak kencang mendengar perkataan Zahra. Dia menutup pintu kembali dengan pelan. Kenzo bersandar di dinding kamar dengan tangan terkepal menahan emosi dan rasa terkejutnya.
"Jadi selama ini, aku orang bodoh didepan istriku sendiri?"
"Jadi disini aku yang dibohongi? Jadi disini aku yang berlindung dibalik kekayaan istriku?" monolog Kenzo sendiri dengan mata memerah menahan emosinya.
Dengan langkah besarnya, Kenzo menuruni tangga dan berjalan menuju ruang kerjanya. Dengan lemas, Kenzo merebahkan tubuhnya di sofa. Niat awalnya yang ingin melanjutkan pekerjaan, harus tertunda karena rasa kecewa yang dia dapat saat ini. Badan Kenzo terasa panas dingin setelah mendengar perkataan istrinya dengan seseorang dari balik telfon.
Kenzo kembali mendudukkan dirinya dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya. Pikirannya saat ini kacau. Haruskah dia berterimakasih atau justru terlihat bodoh di mata istri dan Ayah mertuanya sendiri.
Saat teringat sesuatu, Kenzo berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. Tangannya bergerak membuka laci meja dan mengambil beberapa file disana. Dengan mata lincah, Kenzo membaca setiap kata yang tertata di kertas tersebut.
Helaan nafas berat terdengar keluar dari mulut Kenzo. "Aku akan terus berusaha," ucap Kenzo dengan sekuat tekad yang dia miliki.
Kenzo mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengubungi Arman. Tidak peduli ini tengah malam, yang pasti pesannya tersampaikan pada asistennya itu.
"Halo Arman," ucap Kenzo setelah panggilan terhubung.
"Halo, Tuan. Apa terjadi masalah?" tanya Arman khawatir dari seberang sana.
"Putuskan kerjasama kita dengan Türk Mücevher, Arman!" ucap Kenzo tegas Sirat akan keyakinan.
"Tapi kenapa, Tuan?"
"Lakukan apa yang aku perintahkan!"
"Perusahaan akan rugi j-"
"Lakukan, Arman! Kita akan mencari jalan lain!" jawab Kenzo tegas memotong perkataan Arman. Setelah mengatakan itu, Kenzo memutus sambungan teleponnya sepihak.
"Aku tidak marah, hanya saja aku ingin mengobati kebodohan ku terlebih dahulu," gumam Kenzo lirih menatap lurus foto besar dirinya dan Zahra yang ada di dinding ruang kerjanya.
.....
Suara Adzan terdengar sangat merdu hingga membangunkan Zahra untuk segera melaksanakan kewajibannya. Zahra membuka matanya, saat tangannya bergerak ke sisi lain ranjang, dia tidak menemukan keberadaan sang suami.
"Mas Kenzo tidak ada?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.
Zahra mendudukkan dirinya dan menggulung rambutnya yang terurai. "Apa Mas Ken diruang kerja? tapi tidak biasanya Mas Ken kerja sampai ketiduran disana," gumam Zahra sendiri.
Zahra bangun terlebih dahulu dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus mandi besar terlebih dahulu sebelum menyembah sang pencipta.
Satu jam, Zahra selesai dengan kegiatannya serta kewajibannya sebagai muslim. Zahra bingung, karena sampai saat ini, Kenzo belum juga masuk ke kamar mereka.
Zahra memasang jilbab instannya dan keluar dari kamar. Wanita itu berjalan menyusuri tangga untuk menyusul Kenzo ke ruang kerjanya.
Dengan pelan, Zahra membuka pintu ruang kerja Kenzo. Bibir Zahra tersenyum melihat sang suami yang tertidur sambil duduk di kursi kerjanya.
Zahra berjalan mendekat, memperhatikan dengan lekat wajah tampan sang suami saat tertidur. Satu tangan Zahra menguap perutnya yang sudah mulai membuncit. "Ayah tampan, Nak," gumam Zahra pelan.
Tangan Zahra terulur mengusap lembut dahi Kenzo. Menyingkirkan sedikit rambut Kenzo yang menutupi dahinya.
"Mas," panggil Zahra lembut.
Tanpa menunggu lama, Kenzo yang merasa sedikit sentuhan pada wajahnya membuka mata. Mata Kenzo langsung bertemu dengan mata indah Zahra disertai senyum manis wanita itu yang menyambut harinya.
Tapi beda dengan Zahra, Kenzo hanya diam dan terus memandangi wajah itu. Beberapa menit terdiam, Ke zo akhirnya tersadar dan menjauhkan tangan Zahra dari wajahnya. "Aku akan mandi," ucap Kenzo singkat dan langsung berdiri. Kakinya melangkah keluar ruangan kerja dan meninggalkan Zahra yang terdiam melihat sikapnya.
"Mas Ken kenapa?"
.....
"Sela sudah bangun?" tanya Zahra melihat Selanyang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melilit tubuhnya sebatas bahu.
Sela tersenyum cerah. "Cudah dong, Buna. Tadi Cela bangun langcung mandi," jawabnya bangga.
Zahra tersenyum senang. "Wah, anak Bunda udah semakin besar, ya. Ada yang bisa Bunda bantu?" tanya Sela.
Sela menggeleng. "Kan Cela mau punya adik, jadi halus mandili, alias mandi cendili," jawabnya percaya diri.
Zahra hanya geleng kepala dengan senyum bangga melihat tingkah anaknya itu. "Sekarang pakai bajunya," ucap Zahra berjalan mengambil pakaian sekolah Sela yang ada di dalam lemari.
"Cela cendili aja, Buna. Cela bica kok, Buna bantuin Ayah aja. Ayahkan lebih manja dali Cela," ucapnya saat Zahra hendak membantu memakaikan pakaian sekolah yang sudah diambil dari lemari.
"Sela bisa?" tanya Zahra ragu.
"Jangan lagukan anakmu, Buna," jawabnya mantap.
"Ya sudah, kalau Sela butuh bantuan, panggil Bunda, ya," ucap Zahra lembut.
"Iyah, Buna," jawab Sela dengan senyum mengembang menatap Zahra yang berjalan keluar kamarnya.
.....
Zahra kembali ke kamarnya untuk membantu Kenzo bersiap-siap.
Tidak melihat Kenzo, Zahra berlahan ke walk in closet, dan ternyata suaminya sedang mengambil pakaian kerja yang akan dia gunakan.
Zahra diam, Kenzo ternyata tidak memakai baju yang sudah dia siapkan diatas kasur mereka.
"Aku bantu, ya," ucap Zahra lembut saat melihat Kenzo akan mengambil bajunya dari dalam lemari.
"Aku bisa sendiri," jawab Kenzo dingin menghentikan kegiatan tangan Zahra.
DEG
Jantung Zahra berdetak kencang mendengar nada dingin suara Kenzo. Ini tidak seperti biasanya, Kenzo pasti akan sangat senang jika Zahra memanjakannya. Tapi kali ini, lelaki itu seperti enggan untuk menerima bantuannya.
"Mas, nanti kemeja kamu bisa kusut kalau ambilnya kayak gitu," ucap Zahra saat Kenzo menarik kemejanya dengan meremas kemeja tersebut.
"Tenang saja, aku tidak mengacak isi lemari ini," jawab Kenzo dingin.
"Mas, bukan begitu maksudnya," ucap Zahra ingin menjelaskan. Belum Zahra menjelaskan, Kenzo sudah pergi terlebih dahulu keluar dari walk in closet.
Zahra hanya mengingatkan Kenzo agar lebih pelan mengambil kemejanya supaya tidak kusut. Tapi lelaki itu malah salah paham dan menyangka bahwa Zahra menuduhnya mengacak-acak isi lemari.
"Aku pakaikan, ya," ucap Zahra setelah menyusul Kenzo kembali ke dekat ranjang. Tanpa menunggu Kenzo menolak, Zahra langsung mengambil dasi yang ada di atas ranjang dan memakaikannya di leher Kenzo.
Tangan Zahra memang bekerja memasang dasi, namun matanya terus menatap Kenzo yang sejak tadi mengalihkan pandanganya, seperti enggan untuk menatap wanita itu.
"Sudah, Mas," ucap Zahra dengan mata tak beralih pada Kenzo.
"Aku akan pulang terlambat. Jadi tidak usah menungguku," ucap Kenzo mengambil tas kerjanya.
Saat akan melangkah keluar kamar, Kenzo menghentikan langkahnya dan berbalik.
Kenzo membungkuk di depan Zahra dan mencium perutnya. "Ayah pergi dulu, ya. Doakan Ayah," ucap Kenzo dan langsung pergi begitu saja tanpa memandang Zahra sama sekali.
Zahra yang melihat sikap Kenzo diam mematung. Bahkan Kenzo melupakan kebiasaanya untuk mengecup seluruh wajahnya sebelum bekerja. "Aku salah apa?"
......................
Kenzo berulah lagi??? Jangan lupa terus ikuti kisahnya ga 🤗
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏