Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 37



🌹HAPPY READING🌹


"Semoga kamu bisa kuat di dalam sana, ya Nak," ucap Zahra dengan tangan yang terus mengelus perut ratanya.


Tanpa Zahra sadari, Yana mendengar semua yang terucap dari mulut Zahra. Saat Yana ingin memanggil Zahra untuk menggaji bersama, langkahnya terhenti di ambang pintu melihat Zahra yang dengan riangnya memberi kabar kepada para keluarganya.


"Zahra," panggil Yana lembut.


Zahra mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Yana. "Iya Umi," jawab Zahra.


Yana berjalan mendekati Zahra dan ikut duduk di tepi ranjang.


"Sudah selesai memberi kabar kepada semuanya, Nak?" tanya Yana lembut.


Zahra mengangguk dengan senyum manisnya. "Sudah Umi. Dan semua keluarga senang mendengar kabar baik ini, Umi," ucap Zahra bahagia.


"Apa Zahra bahagia, Nak?" tanya Yana.


Zahra terdiam mendengar perkataan Yana. Pertanyaan yang diucapkan Yana membuatnya bingung sekaligus merasa canggung. Tapi Zahra mencoba yakin dan mengangguk. "Zahra yakin, Umi. Zahra bahagia," jawab Zahra.


"Apapun masalah yang Zahra hadapi, tetaplah bahagia dan tersenyum. Karena perasaan dan keadaan hati seorang ibu, akan mempengaruhi pertumbuhan sang anak. Jadi Zahra harus jadi ibu yang kuat untuk anak Zahra," ucap Yana.


Zahra mengangguk yakin. "Anak adalah amanah yang harus Zahra jaga, Umi. Seluruh hidup Zahra sudah untuk dia sekarang," ucap Zahra menunjuk perutnya.


Yana tersenyum mendengar penuturan Zahra yang sangat yakin dan tegar. Kamu benar-benar seorang hamba yang spesial, Nak. Batin Yana takjub dengan ketegaran Zahra.


"Mau mengaji bareng Umi, Nak?" tanya Yana.


"Mau Umi," jawab Zahra semangat.


Yana membantu Zahra untuk menaiki kursi rodanya. Setelah itu mereka keluar dari kamar Zahra dan pergi ke mushalla kecil yang ada di rumah Yana untuk mengaji bersama.


Suara merdu Yana dan Zahra saling bersahutan membaca ayat suci Al-Qur'an. Saat sedang asyik dengan kegiatan mengajinya, terdengar suara riuh dan ribut dari luar dengan lafaz takbir dan istigfar yang saling bertautan.


"Ada apa ya, Umi?" tanya Zahra heran.


"Sebentar, Nak. Biar Umi lihat dulu," ucap Yana berdiri dan memasang cadarnya. Yana berjalan ke arah pintu rumah untuk melihat apa yang terjadi.


Mata Yana membulat sempurna melihat para tetangga dan masyarakat berbondong menyelamatkan diri. Nampak air bah berwarna coklat itu datang merendam rumah warga.


"Astaghfirullah lazim, cobaan apa ini Ya Allah," gumam Yana khawatir.


"Zahra," ucap Yana pelan mengingat Zahra yang masih mengaji di musholla rumahnya.


Yana berlari ke mushalla dengan langkah tertatih dan perasaan khawatir yang sangat luar biasa.


"Ada apa, Umi?" tanya Zahra heran melihat Yana yang datang dengan tergesa-gesa.


"Kita harus segera menyelamatkan diri, Nak," ucap Yana.


"Tapi kenapa, Umi? Zahra belum selesai ngajinya," ucap Zahra.


Yana diam dan tetap membantu Zahra menaiki kursi rodanya dan setelah itu memasang cadar Zahra. Setelah memastikan Zahra benar-benar duduk dengan baik, Yana mengambil Al-Qur'an kecil yang tadi mereka gunakan untuk mengaji dan meletakkan di pangkuan Zahra yang sudah duduk di kursi roda.


"Umi sebenarnya ada apa?" tanya Zahra melihat Yana ke belakang yang tengah mendorong kursi rodanya untuk segera keluar dari rumah.


"Zahra dengar Umi, ya. Apapun yang terjadi, jangan berhenti beristigfar dan minta bantuan sama Allah ya, Nak," ucap Yana.


"Kenapa Umi?" tanya Zahra dari balik cadarnya.


"Air bah datang, Nak. Entah apa yang terjadi, sepertinya bencana banjir akan melanda kota suci ini," ucap Yana.


Zahra terdiam dengan perasaan khawatirnya. Tangannya dengan reflek langsung memegang perutnya yang masih rata. Pikiran Zahra hanya tertuju pada anaknya saat ini.


"Umi pergi saja duluan, kalau Umi masih mendorong Zahra seperti ini, maka kita berdua tidak akan selamat, Umi," ucap Zahra meminta Yana untuk pergi menyelamatkan diri terlebih dahulu.


Yana menggeleng kuat. "Kita akan selamat bersama, Nak. Allah bersama kita," ucap Yana.


Badan Yana dan kursi roda Zahra terhuyung ke kiri dan ke kanan karena dorongan hamba lain yang menyelamatkan diri mereka beserta keluarga lainnya.


"Umi pergi duluan, Umi. Airnya sudah mulai dekat," ucap Zahra.


"Jangan buat Umi menyesal, Zahra," ucap Yana kekeuh dan mempererat pegangannya pada kursi roda Zahra.


"Umi pergi, Umi," ucap Zahra mencoba melepaskan pegangan tangan Yana pada kursi rodanya.


Semakin kuat Yana memegang kursi roda Zahra, semakin kuat usaha Zahra melepaskan tangan Yana dari kursi rodanya. Air sudah semakin dekat, jika Yana terus mendorongnya seperti ini, maka mereka berdua tidak akan selamat. Ditambah dengan desakan yang terjadi dengan hamba lain yang juga menyelamatkan diri mereka.


"Cepat pergi, Umi," ucap Zahra kekeuh.


Zahra melihat air yang semakin dekat mencubit tangan Yana. "Aawwhh," ucap Yana kaget dan merasa kesakitan, hingga akhirnya tanpa sadar tangannya terlepas dari kursi roda Zahra.


"ZAHRA!" teriak Yana kencang yang melihat Zahra hilang karena terdorong oleh orang lain yang menyelamatkan diri.


.....


Sesuai perkataan Dee, saat ini Kenzo sedang dalam perjalanan menuju rumah Ibra. Ada banyak harap dalam diri Kenzo bahwa dia akan segera mengetahui keberadaan Zahra.


Ciiitttt.


Ban mobil Kenzo bergesekan kuat dengan aspal saat kucing dengan tiba-tiba melintasi jalan. Untung Kenzo melihat kucing tersebut, jika tidak bisa dipastikan kucing tersebut akan tertabrak.


Kenzo memegang dadanya yang terasa nyeri dan sakit. "Ini kenapa?" gumam Kenzo khawatir.


Kenzo memejamkan matanya sebentar dengan kepala yang disandarkan pada kursi mobil. "Semoga bukan apa-apa," gumam Kenzo meyakinkan dirinya sendiri.


Setelah merasa tenang, Kenzo melanjutkan kembali perjalanannya ke rumah Ibra dengan perasaan campur aduk yang tak menentu.


Setengah jam, mobil Kenzo sampai di depan gerbang rumah Ibra. Kenzo membunyikan klakson, hingga satpam yang berjaga membukakan gerbang memberi akses Kenzo untuk memasuki halaman rumah Ibra.


Kenzo turun dari mobil dan segera melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah Ibra.


"Kamu datang lebih awal, Kenzo," ucap Ibra yang sedang duduk di ruang tamu bersama yang lainnya. ketika melihat Kenzo yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Dalam urusan cinta juga dibutuhkan kedisiplinan, Abi," ucap Kenzo yakin.


Tanpa di suruh, Kenzo langsung duduk di bagian sofa yang kosong di sebelah Aska. Aku bahkan lebih baik dari lelaki yang dulu disukai istriku. Batin Kenzo menatap Aska. Kenzo memang mengetahui itu, dia sangat bersyukur karena Aska telah memilih Kina sebagai istrinya, hingga dengan mudah dia mendapatkan gadis istimewa pilihannya.


"Jadi dimana istri Kenzo?" ucap Kenzo tanpa basa-basi bertanya pada mereka semua yang ada disana. Kenzo menatap Dee, Ibra, Kina, Al, Bella, Aska, Sofia dan Kevin yang juga menatapnya.


Saat Sofia akan membuka mulutnya, suara telepon rumah mengurungkan niatnya.


Kina meminta izin pada mereka semua untuk mengangkat telepon terlebih dahulu. Karena posisinya yang paling dekat dengan telepon rumah.


"Assalamu'alaikum."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz