
🌹HAPPY READING🌹
Zahra menatap sebuah nomor ponsel yang ada di layar ponselnya. Hari ini, wanita itu tidak menemani Sela di Sekolah, karena tadi pagi Dee datang menjemputnya bersama Shasa. Hari ini Nenek cantik itu ingin menemani kedua cucunya untuk bersekolah selagi sang suami Ibra pergi ke perusahaan bersama Al.
"Telfon tidak, ya," ucap Zahra dagu menimbang-nimbang apa yang akan dia lakukan.
"Bismillah, semoga saja tidak ketahuan," ucap Zahra menekan tombol hijau pada layar ponselnya untuk melakukan panggilan.
"Assalamu'alaikum," ucap Zahra ketika sambungan teleponnya diangkat oleh seseorang yang berada jauh di seberang sana.
"Waalaikumsalam. bu kim?" jawab seseorang tersebut dengan bahasa Turki.
"Ben Zehra Emre amca," jawab Zahra lagi dengan bahasa Turki seperti yang digunakan oleh lawan bicaranya dibalik telepon.
"Oh, Zahra. Ada yang bisa Paman bantu?" tanya Emre setelah mengetahui bahwa yang menelponnya adalah anak dari atasannya sendiri.
"Benarkah Zahra pewaris Türk Mücevher, Paman Emre?" tanya Zahra yang membuat Emre terdiam diseberang sana.
"Jangan bohong, Paman. Zahra sudah tahu semuanya. Dan Zahra yakin, Paman pasti mengetahui itu dari Ayah," ucap Zahra. Karena Zahra percaya, Emre adalah salah satu sahabat Kevin yang sangat dekat dengannya.
Emre merupakan sekretaris sekaligus tangan kanan Kevin di Turki. Sudah belasan tahun dia bekerja dengan Kevin. Tentu hal itu membuat dia cukup mengenal dan dekat dengan Zahra. Anak gadis cantik yang sangat dijaga oleh sahabatnya itu. Setiap Kevin pergi ke luar negeri atau ke Indonesia untuk berkunjung, maka Emre yang akan menyelesaikan dan menggantikan tugas Kevin disana.
"Jika sudah tahu, mengapa bertanya kembali, Nak?" tanya Emre yang memang sudah menganggap Zahra juga seperti anaknya.
"Zahra hanya memastikan, Paman," jawab Zahra.
"Ada apa, Zahra? Tidak biasanya Zahra menelpon Paman begini," ucap Emre heran. Lelaki paruh baya itu bicara bahasa Indonesia dengan sedikit terbata-bata.
"Paman, apa keuntungan Zahra sebagai pewaris Türk Mücevher?" tanya Zahra.
"Kamu adalah pemiliknya, Nak. Jadi Zahra bisa melakukan apapun," jawab Emre.
"Apa selama ini Paman yang menjalankan perusahaan bersama Ayah secara diam-diam selain perusahaan Ayah Kevin sendiri?" tanya Zahra.
Diseberang sana Emre mengangguk meski Zahra tak melihatnya. "Iya, Nak. Dan sampai sekarang kami masih memimpin dengan bergerilya," ucap Emre.
"Terimakasih, Paman," ucap Zahra tulus.
"Sudah kewajiban Paman, Zahra," jawab Emre lembut dari seberang sana.
"Paman," panggil Zahra dengan sedikit ragu.
"Ada apa, Zahra? Katakanlah," ucap Emre.
"şirket, Zahra'nın kocasının şirketiyle işbirliği yapabilir mi?" tanya Zahra dengan bahasa Turki nya.
"Şirketin adı ne oğlum?" tanya Emre.
"DK Group," jawab Zahra cepat.
"Akan coba Paman diskusikan dengan Ayah, Nak," ucap Emre mempertimbangkan apa yang disarankan Zahra.
"Jangan beritahu Ayah, Paman. Ayah tidak tahu jika Zahra sudah mengetahui semuanya. Sekarang ini, Zahra meminta sebagai seorang pemilik perusahaan, Paman," ucap Zahra meminta kepada Emre.
"Kenapa Ayah Zahra tidak diberitahu?" tanya Emre.
"Nanti, Paman. Akan ada saatnya. Bisakah Paman mengabulkan permintaan Zahra?" tanya Zahra lagi.
"Jika pemilik sudah berkata, Paman tidak bisa menolak, Nak," jawab Emre dengan nada sedikit bercanda.
"Paman," Rajuk Zahra.
"Baiklah-baiklah. Paman akan segera mengurusnya," ucap Emre.
"çok teşekkür ederim amca," ucap Zahra tulus.
"Zahra'nın rahatlığı için her şey," jawab Emre tulus dari seberang sana.
Zahra tersenyum tulus mendengar perkataan Emre. "Assalamu'alaikum," ucap Zahra mengakhiri panggilan mereka.
"Waalaikumsalam."
Setelah telepon terputus, Zahra mengirup udara banyak untuk melegakan hatinya. "Semoga ini membantu kamu, Mas. Aku hanya tidak ingin suamiku sakit karena memikirkan semua ini sendiri. Aku harus ikut membantumu," gumam Zahra senang.
.....
Ting.
Pintu lift berbunyi, dan Ibra langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan Al.
"Al," panggil Ibra pada Al yang sibuk dengan laptopnya.
Di sana juga ada Aska yang memeriksa beberapa file di sofa.
"Abi," ucap Al langsung berdiri begitu melihat kedatangan Ibra.
Ibra hanya mengangguk dan duduk di sofa sebelah Aska. "Serius sekali. Uangmu tidak akan habis karena bermalasan sedikit," ucap Ibra menasehati Aska.
Ya, selain menjadi wakil di perusahan Ibra, Aska juga memiliki beberapa bisnis butik dan restoran bersama Kina. Jadi, dia juga seorang pengusaha di luar sana.
"Itu hanya kata dari seorang pengangguran, Abi," jawab Aska kembali meledek Ibra yang kini sudah pensiun.
"Punya menantu tidak ada yang sopan," gerutu Ibra yang masih bisa didengar oleh Al dan Aska.
"Istriku tidak seperti Kenzo dan Aska, Abi," ucap Al tak terima.
"Kecuali istrimu," ucap Ibra membenarkan.
"Ada apa, Abi? Tidak biasanya Abi merelakan waktu berdua dengan Umi untuk hanya untuk kesini," ucap Al heran. Karena, meskipun sudah memohon meminta Ibra untuk datang, dia tidak akan datang dan lebih memilih waktu bersama sang istri. Kecuali ada keadaan genting, baru dia akan melepaskan lilitan tangannya itu dari pinggang Dee.
"Ada sesuatu yang mau Abi tanyakan pada kalian," ucap Ibra serius menatap Al dan Aska bergantian.
"Apa Abi?" tanya Aska hati-hati. Karena sejak tadi, Ibra tak henti memandangi file yang ada di tangannya.
"Türk Mücevher, Perusahaan berlian terbesar di Turki," ucap Ibra yang membuat Al dan Aska terdiam.
Al dan Aska saling pandang seolah saling memberi kode atas apa yang akan mereka dengar setelahnya.
"Lalu kenapa dengan perusahaan itu, Abi? Kita juga masih berhubungan baik dengan perusahaan itu," ucap Al yang masih tenang.
"Jangan berpura-pura tidak tahu maksud Abi, Al. Abi tahu semuanya!" ucap Ibra tegas.
Al dan Aska menghela nafas pelan. "Ya, dan semua itu memang benar, Abi," ucap Al membenarkan.
"Sejak kapan kamu tahu?" tanya Ibra.
"Al sudah tahu sejak beberapa tahun lalu ketika melihat berkas kerja sama dengan Türk Mücevher,"ucap Al.
"Kamu langsung percaya tanpa menyelidiki?" tanya Ibra.
"Al tidak meragukan nama Adik Al yang tertera di berkas kerja sama itu, Abi. Zahra adalah pemiliknya," jawab Al pasti.
Ibra tersenyum tak jelas mendengar perkataan Al. Al dan Aska yang melihat itu memandang bingung lelaki yang sudah tak lagi muda itu. "Abi kenapa senyum tak jelas begitu?" tanya Aska.
Ibra mengangguk. "Anakku bukan orang sembarangan ternyata."
.....
Diseberang sana, tepatnya di Turki, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Perbedaan waktu empat jam membuat Emre bisa menerima panggilan Zahra di jam senggang saat istirahatnya.
Setelah tadi menerima telfon dari Zahra, Emre berjalan menuju ruangan Kevin. Asal kalian tahu, ruangan mereka berada di lantai bawah tanah Türk Mücevher. Hanya mereka dan beberapa orang terpercaya yang mengetahui ruangan ini untuk tetap mempertahankan persembunyian identitas mereka. Dari sinilah mereka mengelola Türk Mücevher yang dipercayakan kepada orang-orang Kevin sebagai pimpinan yang diketahui publik.
Meskipun berada di lantai bawah tanah, tapi ruangan mereka terkesan sangat elit. Tidak kalah dengan ruang pimpinan pada umumnya. Ada akses tersendiri yang hanya diketahui oleh beberapa orang.
"Ada apa, Emre?" tanya Kevin begitu melihat kedatangan Emre.
"Zahra sudah mengetahui identitasnya."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏