Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 122



🌹HAPPY READING🌹


Zahra kembali bersama Kenzo ke ruang keluarga. Di sana, hanya ada Kevin sendiri. Sepertinya si kecil Sela sudah tidur bersama Bu Sari.


"Ayah," panggil Zahra lembut.


Kevin tersenyum. Mata yang tadinya fokus pada ponsel kini beralih menatap Zahra yang sudah berdiri di depannya. Sedangkan Kenzo duduk di sofa depan Kevin.


Zahra bersimpuh di depan kaki Kevin. Tangannya memegang kedua lutut Ayahnya itu.


"Duduk disini, Nak," ucap Kevin hendak membantu Zahra berdiri. Namun, wanita itu menolak dan tetap bertahan dengan posisinya.


"Ayah mau balik ke Turki kapan?" tanya Zahra.


"Dua hari lagi, Nak," jawab Kevin.


"Selama dua hari itu, Ayah tinggal bersama Zahra disini, ya," ucap Zahra memohon.


Kevin tersenyum dan mengangguk. "Ayah akan tinggal disini sebelum pergi ke Turki," jawab Kevin.


"Jangan bilang pergi. Ayah hanya kembali ke Turki untuk bekerja, dan nanti akan balik lagi kesini," ucap Zahra yang enggan rasanya mendengar kata pergi. Entahlah, telinga wanita itu rasanya sangat menolak untuk mendengar kata pergi.


Kevin menatap Kenzo sebentar mendengar perkataan Zahra. Melihat Kenzo yang mengangguk, Kevin mengerti. "Ayah pasti akan balik lagi kesini, Nak," jawab Kevin.


"Janji?" tanya Zahra mengacungkan jari kelingkingnya kepada Kevin. Kevin dan Kenzo terkekeh kecil. Melihat Zahra yang seperti ini, membuat mereka seperti melihat Sela versi dewasa.


"Janji, Nak," jawab Kevin menyahuti jari kelingking Zahra dengan jari kelingkingnya.


Zahra tersenyum. Setelah itu di merebahkan kepalanya ke lutut Kevin. Tidak terasa, air mata wanita itu mengalir mengalir begitu saja.


Kevin merasakan celananya basah lantas melihat Zahra. "Zahra kenapa, Nak?" tanya Kevin.


Dengan perlahan, Zahra mengangkat kepalanya. Kenzo juga terkejut melihat istrinya itu yang sudah kembali menangis.


"Setelah dipikir-pikir, banyak sekali orang yang berkorban untuk Zahra, Ayah," ucap Zahra menatap dalam Kevin.


"Umi dan Abi yang mengorbankan rumah tangga mereka dulu karena kehadiran Zahra. Mas Ken yang mengorbankan punggungnya untuk menyelamatkan Zahra dari lampu gantung itu. Adek Kina yang berkorban masa kecil tanpa di dampingi Abi. Abi yang memberikan ginjalnya untuk kesehatan Zahra. Dan Ayah, Ayah mengorbankan seumur hidup untuk menjadi Ayah Zahra. Dan orang tuan kandung Zahra yang berkorban nyawa untuk keselamatan hidup Zahra," ucap Zahra dengan membatin di akhir kalimatnya.


Percayalah, perkataan yang diucapkan dengan suara bergetar menahan tangis, itu adalah sebenar-benarjya sakit dan sesak yang dia lepaskan.


"Apa Zahra tidak mau Ayah menjadi Ayahnya Zahra?" tanya Kevin.


Zahra menggeleng tegas. "Sangat. Zahra sangat bersyukur bahwa Ayahlah yang merawat Zahra. Setelah semua kebaikan yang Allah berikan, rasanya Zahra sangat tidak pantas untuk terus mengeluh, Ayah. Terimakasih," ucap Zahra dengan menyembunyikan kepalanya di lutut Kevin.


Kevin mengangkat kepalanya menghalau air mata yang siap jatuh membasahi pipinya. Sedangkan Kenzo memalingkan wajah tidak mau melihat tangis sang istri.


"Ayah," panggil Zahra lirih.


"Iya Nak," jawab Kevin menatap Zahra dengan mata memerah.


"Ayah tidak menyesal jadi Ayahnya Zahra, kan?" tanya Zahra sendu.


Kevin menggeleng yakin. "Keputusan paling baik yang pernah Ayah ambil adalah menjadi Ayah kamu, Nak. Tidak ada sedikitpun penyesalan dalam hidup Ayah menjadikan kamu anak ayah. Apa Zahra ingin tahu satu hal?" tanya Kevin.


Zahra menatap Kevin dengan pandangan bertanya.


"Zahra adalah anugrah termahal yang pernah Ayah dapat dalam hidup, Nak," ucap Kevin tulus tersenyum baru menatap anaknya.


Tanpa sepatah katapun lagi, Zahra memeluk perut Kevin. Sungguh, tidak ada kasih sayang lebih besar dari pada ini.


"Terimakasih, Ayah," ucap Zahra tulus dengan suara bergetar.


Kevin hanya mengangguk menanggapi perkataan Zahra. Kevin yang melihat itu tersenyum haru. Sungguh, dia bersyukur memiliki orang-orang baik dalam hidupnya. Istrinya yang bagaikan bidadari, anak yang bagaikan malaikat, serta mertuanya (Dee, Ibra dan Kevin) yang menerima kekurangan dan memaafkan kesalahannya di masa lalu.


.....


Pagi ini, meja makan keluarga dipenuhi oleh celoteh si kecil Sela. Anak itu tidak hentinya berseru senang, karena hari ini, dia akan diantar oleh Ayah dan Bundanya ke sekolah.


"Ini adalah hali Celaca telbaik dalam hidup Cela, Kakek," ucapnya pada Kevin yang juga menyantap sarapannya.


"Kenapa, Nak?" jawab Kevin.


"Memang teman-temannya Sela sering pamer, Nak?" tanya Kenzo.


Sela mengangguk. "Meleka itu cuka cekali pamel Ayah, padahal kan itu tidak baik," ucapnya kesal.


"Sudah tahu tidak baik, terus kenapa tadi Sela bilang mau pamer juga, Nak?" tanya Zahra membalikan perkataan anaknya itu.


Sela terdiam. Benar juga apa kata Bundanya ini. Dia akan berdosa jika pamer sama teman-temannya.


"Em ... maksud Cela itu, Cela bukan pamel, Buna. Hanya membelitau," ucap Sela mengelak.


"Namanya saja yang kamu ganti," ucap Zahra terkekeh kecil. Mereka semua yang dewasa sudah selesai makan, hanya Sela yang belum menghabiskan sereal nya. Karena anak itu selain mengunyah, mulutnya juga bercerita apapun.


"Cepat habiskan, Nak. Jika tidak Sela akan terlambat," ucap Bu Sari.


Dengan patuh Sela mengangguk dan memakan sereal nya dengan tenang.


"Ayah jadi ke perusahaan Abi?" tanya Kenzo.


Kevin mengangguk. "Ayah ada janji dengan Abi kalian," jawab Kevin.


"Kan bisa ketemu nanti malam, Yah," ucap Zahra.


Ya, nanti malam keluarga besar itu akan mengadakan makan malam bersama di rumah Zahra dan Kenzo. Sekalian dengan kedua orang tua Kenzo.


"Urusan laki-laki nggak bisa ditunda, Nak," jawab Kevin yang hanya dianggukki oleh Zahra. Bagaimanapun meminta Ayahnya untuk beristirahat, namanya lelaki pasti akan terus melakukan apapun yang mereka senangi.


.....


Keluarga kecil itu sudah sampai di depan sekolah Sela. Kenzo dan Zahra ikut keluar dari mobil dan mengantar Sela.


"Buna," rengek Sela. Sejak tadi anak itu merengek meminta agar Zahra menungguinya di sekolah. Sama seperti Kina yang kadang menunggui mereka di sekolah.


"Kenapa Nak?" tanya Zahra lembut.


"Buna tungguin, ya. Maca Mama Kina telus yang nugguin," ucapnya memelas.


Tidak lama setelah itu, Shasa datang bersama Aska dan Kina.


"Sela kenapa Kak?" tanya Kina.


"Cela mau Buna yang temani Cela cama Chaca di cekolah, Mama. Tapi Buna nggak mau," ucap Sela yang menjawab pertanyaan Kina.


"Shasa juga mau sama Bunda," ucap Shasa setelah mendengar jawaban Sela. Anak itu langsung berpindah disebelah Zahra dan menggenggam tangannya.


Sela dan Shasa sama-sama menatap Kina meminta bantuan. Kedipan sebelah mata mereka berikan untuk memberi kode pada Kina.


Kina merotasikan matanya seraya berpikir. Sepersekian detika lampu terang muncul di kepalanya.


"Kak, aku sama Mas Aska ada keperluan ke Dokter, jadi kali ini kakak yang temani anak-anak ya?" rayu Kina.


"Dokter?" beo Aska yang tak mengerti. Setahunya, mereka tidak ada jadwal apa-apa untuk ke dokter sekarang.


"Kamu lupa, Mas. Kita kan mau ke Dokter kandungan Mas. Kan kita kamu program hamil adiknya Shasa," ucap Kina


Wajah Aska yang awalnya bingung berubah berbinar. "Ayok, Sayang," ucap Aska.


"Titip anak-anak ya," ucap Aska melenggang pergi menggandeng tangan Kina meninggalkan Zahra dan Kenzo cengo melihat mereka.


Sedangkan kedua gadis kecil itu bersorak ria dalam hatinya.


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏