
🌹HAPPY READING🌹
Sela berjalan mendekati Zahra. "Ini foto ciapa?" tanya Sela melihat sebuah bingkai foto dipelukan Bundanya.
Dengan perlahan tangan mungil Sela mengambil foto tersebut.
Berhasil, anak itu berhasil mengambil bingkai fotonya. Sela membalikkan bingkai tersebut. "Ayah," gumam Sela ketika melihat wajah seorang lelaki yang sejak kemaren dia panggil sebagai Ayah.
Sela memandangi Zahra dan foto Kenzo secara bergantian. "Apa tangan Allah cudah bekelja cepelti yang Buna bilang?" tanya Zahra memandangi langit. Seolah anak itu sedang bertanya dan berbicara dengan Penciptanya.
"Apa Ayah itu Ayah kandung Cela?" lanjut Sela lirih. Anak itu memandangi wajah Zahra yang masih nyenyak dalam tidurnya. Dia dapat melihat mata Bundanya yang sedikit bengkak.
"Apa Buna menangis?" monolog Sela pada dirinya sendiri.
"Apa yang teljadi? Kenapa Buna celalu menangis jika menyangkut Ayah? Jika Buna benci Ayah, kenapa Buna tidul peluk foto Ayah?" tanya Sela lagi entah pada siapa.
Anak itu dengan perlahan mengembalikan bingkai foto pada Zahra. Dia berjalan keluar dengan perlahan tanpa mengangguk tidur Zahra.
"Cela tidak mungkin beltanya pada Buna, Nenek juga tidak mungkin. Cela halus cali tau cendili," gumam Sela setelah sampai di depan pintu kamar Zahra.
"Sela," panggil Bu Sari yang mendatangi Sela.
"Huust, Buna macih tidul, Nek," ucap Sela berbisik dengan jari telunjuk di depan mulutnya. Anak itu memberi kode Bu Sari agar tidak bersuara dengan kencang.
Bu Sari tersenyum gemas dengan Sela. Setelah itu dia mengajak Sela untuk segera sholat bersama tanpa membangunkan Zahra. Bu Sari yakin, sebentar lagi juga Zahra pasti akan bangun.
.....
"Buna macih tidul, Nek," ucap Sela setelah kembali dari kamar Zahra.
Bu Sari melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit, dan Zahra masih setia dalam tidurnya. Apa semalaman Zahra memikirkan apa yang aku katakan hingga tertidur seperti ini? Tidak biasanya dia tidur sampai siang begini. Jika memang iya, semoga kamu mengambil keputusan yang baik untuk kalian berdua, Zahra. Batin Bu Sari bertanya-tanya.
"Kalau begitu, untuk hari ini biar Nenek yang antar Sela, ya," ucap Bu Sari.
Sela mengangguk. Mereka berdua keluar rumah dan segera berangkat ke sekolah Sela.
Sedangkan di kamarnya, Zahra mulai mengerjapkan matanya saat sinar matahari sudah sangat terang mengenai indera penglihatannya.
"Astagfirullahalazim, sudah jam setengah tujuh," ucap Zahra kaget saat melihat jam dinding di kamarnya.
Dengan segera Zahra keluar kamar dan pergi ke kamar mandi untuk mensucikan dirinya. Dengan segera Zahra melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim
Setelah selesai sholat subuh, Zahra keluar kamar. "Sela, Ibu," ucap Zahra sedikit berteriak memanggil Bu Sari dan Sela.
"Pasti mereka sudah pergi," gumam Sela setelah tidak mendengar jawaban apapun dari Sela dan Bu Sari.
Zahra pergi ke dapur untuk melihat semua donatnya. "Sudah dibawa Ibu juga ternyata," ucap Zahra setelah melihat lima box donat yang dia siapkan semalam sudah tidam ada di tempat semalam dia letakkan.
"Aku harus siap-siap kerja," ucap Zahra dan segera mempersiapkan dirinya untuk pergi bekerja ke toko kue.
.....
Zahra dan Bu Sari sampai di depan sekolah Sela. "Sela yakin tidak mau Nenek antar sampai kelas?" tanya Bu Sari untuk kesekian kalinya.
Untuk kesekian kalinya juga, Sela menggeleng. "Sela tidak akan sendiri, Nek. Kan ada Anna," ucap Sela mengangkat boneka Anna.
Bu Sari menghela nafas pelan dan tersenyum. "Yasudah, kalau begitu Nenek pamit ke Panti, ya," ucap Bu Sari.
Sela mengangguk. "Nenek hati-hati, ya," ucap Sela mengambil tangan Bu Sari. "Assalamu'alaikum, Nek," ucap Sela menciumi punggung tangan Bu Sari.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Sari.
"Allah yang akan menunjukkan jalan dan menjawab cemuanya," gumam Sela menyemangati dirinya. Anak itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun, langkah kaki Sela terhenti ketika sebuah suara melengking memanggil namanya dengan keras.
"Sela."
Sela berbalik dan melihat Shasa yang tengah melambaikan tangan kepadanya. Senyum terbit di bibir anak itu, ternyata yang memanggil adalah sahabatnya sendiri. Sela berjalan mendekati Shasa yang didampingi oleh Dee dan Kina.
"Acalamu'alaikum, Caca, em ...,"
"Panggil Nenek saja, Nak," ucap Dee ketika melihat kebingungan Sela. Ini memang pertama kali Dee dan Kina bertemu dengan Sela.
"Acalamu'alaikum, Nenek, Tante," ulang Sela pada Dee dan Kina.
"Waalaikumsalam," jawab Dee dan Kina secara bersamaan disertai dengan senyum tulus mereka.
"Nenek, Mama, Sela ini sahabat aku," ucap Shasa memperkenalkan Sela pada Dee dan Kina.
"Wah, benarkah? Kamu sangat cantik, Nak," ucap Dee mengusap lembut pipi Sela.
"Telimakaci, Nek," jawab Sela dengan senyum manisnya.
Tatapan Dee terkunci ketika melihat senyum Sela. Senyum ini mengingatkan aku pada anakku. Batin Dee yang begitu terpaku melihat senyum Sela.
"Nek, Ma, kalau begitu Shasa ke kelas bersama Sela saja. Nenek dan Mama sudah boleh pulang," ucap Shasa dengan senyum manisnya.
"Kamu jangan naka-nakal di kelas, ya Sayang. Harus belajar rajin, dan dengan guru menjelaskan," ucap Kina menasehati Shasa yang sangat-sangat suka berbicara.
Shasa tersenyum tanpa dosa dan mengangguk. "Kami pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum," ucap Shasa pamit. Mereka menyalami tangan Dee dan Kina secara bergantian, setelah itu pergi dengan tangan bergandengan menuju kelas.
"Umi," panggil Kina setelah kini tinggal mereka berdua.
"Iya, Nak," jawab Dee.
"Kita tunggu kakak dimana?" tanya Kina. Karena sesuai rencana mereka, pagi ini mereka akan menunggu Zahra di sekolah. Dee yakin, Zahra akan kembali kesini.
"Kita tunggu di tempat kemarin bertemu dengan Kakak kamu, Nak," jawab Dee.
Kina mengangguk. Mereka berjalan menuju lorong dimana Zahra dan Kina bertemu kemarin.
Sedangkan di kelas, Shasa dan Sela sudah duduk di bangku mereka masing-masing.
"Caca," panggil Sela pada Shasa yang duduk di sebelahnya.
"Iya," jawab Shasa.
"Apa nanti aku boleh kelumahmu?" tanya Sela. Anak itu berpikir untuk mencaritahu mengenai Ibunya. Dia yakin, Kenzo pasti tinggal serumah dengan Shasa karena Kenzo merupakan Papi Shasa. Dengan begitu, dia bisa mencari semua jawaban yang saat ini ada di hati dan pikirannya.
Mata Shasa berbinar membulat mendengar penuturan Sela. "Boleh, Sela," ucap Shasa riang dengan mengangguk yakin. Dengan kedatangan Sela, itu artinya dia punya teman bermain nanti.
Sela ikut tersenyum senang. "Terimakaci Caca," jawab Sela senang.
Semoga Cela menemukan jawabannya. Batin Sela dengan harapan penuh. Begitu banyak harap yang dia inginkan untuk segera terkabul.
Anak itu menandai Shasa yang kembali sibuk dengan pensil dan buku gambarnya dari samping. Kalau benar Ayah adalah Ayah kandung Cela, belalti Caca adalah caudala Cela. Kita bukan hanya cahabat, tapi kita caudala. Batin Sela senang.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍