Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 12



🌹HAPPY READING🌹


"Maksud kamu, Nak?" tanya Melani.


Zahra mengalihkan pandangannya kepada Melani. "Kak Kenzo selalu menggendong Zahra, Ma. Dia menggantikan kaki Zahra yang lumpuh dengan gendongannya," jawab Zahra dengan senyum manisnya beralih menatap Kenzo.


Zahra menatap mata Kenzo lekat. "Kak Kenzo memiliki ketulusan yang tidak banyak orang ketahui, Ma," jawab Zahra dengan pandangan tak lepas dari Kenzo.


Kenzo membalas tatapan Zahra. Tangannya mengepal mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Zahra.


"Kenzo ke taman belakang!" ucap Kenzo langsung berdiri dan berjalan meninggalkan mereka semua. Taman belakang rumah Kenzo memiliki pemandangan indah pada malam hari. Lampu-lampu taman yang berwarna warni, ditambah bunga-bunga yang bertambah hidup karena cahaya lampu.


Zahra hanya memandangi kepergian Kenzo dengan pandangan tak luput dari punggung Kenzo yang sudah menghilang. Tidak apa setelah ini Kak Ken marah sama Ara. Tapi satu yang pasti, Kak Ken tahu bagaimana Ara sangat menjaga kesucian dan derajat suami Ara. Batin Zahra.


Anggara yang melihat Kenzo pergi ikut berdiri. "Papa susul Kenzo dulu, ya," pamit Anggara.


"Jangan lupa ajak masuk, Pa. Kita makan malam bareng," ucap Melani.


Anggara mengangguk dan segera pergi ke taman belakang menyusul Kenzo.


"Mau bantu Mama menata makan malam?" tawar Melani kepada Zahra.


"Tapi Ma-"


"Zahra tidak merepotkan Mama. Ayo Mama bantu," ucap Melani cepat memotong perkataan Zahra. Dia tahu, Zahra pasti merasa tidak enak dengan keadaanya.


Melani membantu Zahra menaiki kursi roda yang tadi sudah diturunkan dari mobil Kenzo oleh penjaga rumah. Setelah itu, mereka pergi ke meja makan untuk menata makanan yang sudah disiapkan oleh pelayan.


.....


Anggara sampai di taman belakang. Melihat Kenzo yang seperti orang termenung, Anggara langsung menghampirinya.


"Pa," ucap Kenzo saat melihat Papanya sudah duduk disebelahnya.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Anggara tanpa basa-basi.


Kenzo menggeleng tanpa menatap Anggara.


Anggara tertawa pelan melihat jawaban Kenzo. "Kamu tentu tidak lupa siapa Papamu ini, Kenzo," ucap Anggara.


Kenzo menoleh kepada Anggara. "Maksud Papa?" tanya Kenzo.


"Hanya binatang yang memperlakukan istrinya seperti binatang peliharaan, Kenzo!" ucap Anggara pelan namun terdengar tegas ditelinga Kenzo.


"Kenzo nggak ngerti Papa ngomong apa," ucap Kenzo.


"Menyuruh istrimu menyeret dirinya sendiri di lantai. Menempatkannya di kamar bekas gudang. Menghina kelumpuhannya. Apalagi yang kamu lakukan, Kenzo?" ucap Anggara tegas.


Kenzo langsung menatap Anggara dengan tatapan terkejutnya. Setelah itu dia berubah bersikap biasa dan kembali mengalihkan pandangannya. Kenzo lupa siapa Papanya ini. Anggara sama berkuasanya dengan Ibra. Dia memiliki mata-mata dimanapun untuk memantau keadaan keluarganya.


"Itu urusan Kenzo dengan istri Kenzo, Pa," jawab Kenzo.


"Kau sudah mengakuinya sebagai istrimu ternyata," ledek Anggara.


Kenzo mendengus kesal mendengar perkataan Anggara. Papanya ini benar-benar membuatnya jengkel.


Wajah Anggara berubah serius setelah menertawai Kenzo. "Ingat, Kenzo! Zahra adalah wanita baik. Berhenti memperlakukannya seperti itu atau kamu akan tahu akibatnya!" ucap Anggara.


"Kenzo melakukan hal yang benar untuk Kinzi, Pa," balas Kenzo.


"Kinzi pasti akan marah melihatmu seperti ini," ucap Anggara.


"Papa tidak akan pernah mengerti. Kinzi itu kembaran Kenzo, separuh jiwa Kenzo ada pada Kinzi. Dan keadaan Kinzi sekarang adalah karena Al, Pa!" ucap Kenzo.


"Buka pikiran kamu, Kenzo! Papa terima pendapat kamu jika Al yang bersalah. Tapi kenapa Zahra yang kamu jadikan pelampiasan?" tanya Anggara.


"Zahra adalah anak kesayangan keluarga Hebi. Jika dia terluka, maka seluruh keluarga Hebi akan terluka," ucap Kenzo.


Ternyata kamu bodoh karena tidak menyelidiki siapa Zahra sebenarnya, Kenzo. Papa hanya bisa menunggu penyesalan kamu. Batin Anggara mendengar jawaban Kenzo.


"Masih ada adiknya Zahra, bukan?"


Kenzo tertawa sumbang. "Kenzo tidak mungkin menyakiti orang yang Kenzo cintai. Kenzo diam dan merelakan Kina menikah dengan Aska, karena Aska adalah orang baik. Kenzo akan bahagia jika Kina bahagia," ucap Kenzo.


"Papa tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga Kenzo. Apa yang Kenzo lakukan, itu semua untuk Kinzi!"


"Papa diam, karena Papa melihat ketulusan dan keikhlasan yang sangat besar dari Zahra. Papa hanya tidak ingin perjuangannya sia-sia untuk membuka hati kamu," jawab Anggara.


"Zahra bisa saja mengadukan semua kelakuan kamu kepada Ibra dan Al. Tapi dia tidak melakukan itu karena menjaga nama baik kamu, Kenzo!" lanjut Anggara.


"Lalu kenapa Papa tidak menyampaikan semuanya kepada Al? Papa mengetahui semuanya," ucap Kenzo


"Jika itu bisa aku lakukan, maka aku sudah lakukan itu sejak kemarin."


"Ingat, Kenzo! Jika nanti Zahra pergi meninggalkanmu, jangan pernah menyesal dan meminta bantuan Papa!" lanjut Anggara berdiri dan hendak pergi meninggalkan Kenzo.


"Zahra," ucap Anggara kaget melihat Zahra yang tersenyum di kursi rodanya. Kenzo yang mendengar itu ikut membalikkan badannya.


"Makanannya udah siap, Pa. Mama udah nunggu kita di dalam," ucap Zahra.


Anggara menghela nafas pelan dan mengangguk. Dia mendekati Zahra. "Kamu ke meja makan bareng Papa," ucap Anggara.


Zahra mengangguk. Setelah itu Anggara dan Zahra pergi meninggalkan Kenzo yang menatap mereka dengan pandangan tak terbaca.


*Flashback On*


Siang tadi, Anggara datang ke rumah Kenzo dan Zahra seorang diri. Maksud kedatangannya adalah untuk memastikan informasi yang dia dengar dari anak buahnya. Anggara tahu, Kenzo pasti tidak ada di rumah jika siang hari, oleh karena itu dia datang untuk memantaunya.


Anggara memasuki rumah Kenzo. Mata Anggara membulat melihat Zahra yang menyeret tubuhnya sendiri dengan kain pel yang ada ditangannya.


"ZAHRA!" teriak Anggara langsung merampas pel tersebut dari tangan Zahra.


"Pa-Papa," ucap Zahra kaget.


"Apa-apaan ini, Nak? Jadi kabar yang aku dengar itu benar?" tanya Anggara menatap Zahra tajam.


Zahra menunduk takut melihat Anggara. Tangannya nampak gemetar melihat emosi Anggara.


Anggara yang mengerti akan ketakutan Zahra mengambil nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Papa tidak marah kepada Zahra. Papa hanya malu dengan apa yang dilakukan oleh Kenzo," ucap Anggara lembut.


Zahra mengangkat kepalanya menatap Zahra. "Keinginan Kak Ken adalah perintah untuk Zahra, Pa," ucap Zahra.


"Tapi kamu bukan pembantu, Nak," jawab Anggara.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Kenzo harus mendapat ketegasan dalam hal ini," ucap Anggara.


"Pa, Jangan. Zahra mohon," ucap Zahra memohon. Dia takut, jika Kenzo dihukum, maka dendam Kenzo akan berimbas kepada rumah tangga Al dan Kina. Dan Zahra tidak mau itu sampai terjadi. Kini saatnya dia yang berkorban untuk Abang dan Adiknya.


"Tapi Zahra-"


"Pa, biar Zahra yang membuat Kak Kenzo sadar akan semuanya. Biar Zahra berjuang membuka hati Kak Kenzo," ucap Zahra memohon.


"Tapi ini kelewatan, Zahra!"


"Ini tidak kelewatan, Pa. Zahra ikhlas dengan semua ini. Jika Zahra saja ikhlas, kenapa Papa tidak? Zahra yang menjalaninya. Jika nanti Zahra sudah tidak kuat, Zahra sendiri yang akan pergi dan menyerah, Pa," ucap Zahra menangkup kedua tangan di depan dadanya.


"Nak, jangan bertindak bodoh hanya karena Kenzo, Nak," ucap Anggara menatap Zahra sendu.


Zahra menggeleng sambil tersenyum menatap Anggara. "Orang lain mungkin menganggap Zahra bodoh, tapi bagi Zahra, ini bentuk sabar dan ikhlas Zahra, Pa. Jika bodoh, sudah sejak awal Zahra mengadukan semua ini kepada Abi dan Ayah Zahra," jawab Zahra tenang.


"Nak-"


"Pa, Zahra mohon," ucap Zahra.


Anggara mencoba meredam emosinya. "Baiklah, Papa akan mendukung apa yang kamu lakukan. Tapi Papa mohon, jika nanti kamu sudah tidak tahan dan Kenzo sudah keterlaluan, tolong jangan pergi ke tempat lain. Pergi ke Papa dan Mama, Nak. Papa yang akan membantu kamu pergi. Papa dan Mama membutuhkan anak seperti kamu. Ikhlas dan sabar kamu sangat berpengaruh untuk penyesalan Kenzo nantinya," ucap Anggara.


Zahra tersenyum. Dia senang, meskipun suaminya tidak mencintainya, tapi mertua yang baik telah Zahra dapatkan. "Papa sama sepeti Abi dan Ayah. Kalian lelaki hebat dalam hidup Zahra," ucap Zahra.


*Flashback Off*


......................


Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘


Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗