Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 6



🌹HAPPY READING🌹


Adzan subuh telah berkumandang. Perlahan kelopak mata indah milik seorang gadis yang sejak beberapa waktu yang lalu telah sah menjadi seorang istri itu, perlahan mulai terbuka.


"Udah subuh," gumamnya pelan dan duduk dari tidurnya.


Zahra mengedarkan pandangannya ke segala ruangan yang saat ini dia tempati. Zahra hanya mampu tersenyum dibalik semua yang dia terima.


"Ternyata semalam tidak mimpi," gumam Zahra Sendu mengingat perlakuan Kenzo kepadanya.


"Harusnya Ara bisa sholat subuh bareng Kak Ken. Harusnya wajah yang pertama Ara tatap itu wajah Kak Ken," ucap Zahra sendu.


Zahra menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Tenang Zahra. Semua ini akan berlalu. Allah hanya sedang menguji kesabaran dan ketegaranmu. Waktu bucin suamimu akan datang seiring berjalan waktu," ucap Zahra menyemangati dirinya.


"Bismilah," ucap Zahra dengan senyum mengembangnya.


Zahra menyeret tubuhnya sendiri dan keluar dari kamar menuju kamar mandi yang berada di sebelah kamar kecilnya.


"Kayaknya Kak Ken benar-benar mempersiapkan semuanya buat Ara," ucap Zahra melihat baskom dan gayung yang ada di sana. Memudahkannya untuk mengambil wudhu. Letak kran yang tidak tinggi benar-benar memudahkan Zahra.


Setelah selesai, Zahra kembali ke kamar dan melaksanakan sholat subuh.


Sedangkan di kamarnya, Kenzo terbangun dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Sudah jadi suami ternyata," gumam Kenzo tersenyum sumbang mengingat apa yang telah dia lakukan kemarin kepada Zahra.


"Hari menyenangkan akan dimulai Kenzo," ucap Kenzo bangun dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


.....


Zahra selesai dengan kewajibannya. Dia keluar dari kamar dan melihat kursi rodanya yang masih ada dibawah tangga. Zahra menyeret dirinya mendekati kursi roda, dengan segala kelihaiannya, Zahra bisa menaiki kursi rodanya.


"Mumpung Kak Ken belum keluar, jadi bisa pakai kursi roda dulu," ucap Zahra senang dan segera menuju dapur.


Saat Zahra membuka pintu kulkas, sebuah tepukan berhasil mengagetkannya. "Astagfirullah," ucap Zahra memegang dadanya.


"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" sebuah suara berhasil membuat Zahra membalikkan badannya.


"Maaf, Ibu ini siapa?" tanya Zahra melihat wanita paruh baya yang ada didepannya saat ini.


"Sayang Bu Sina, pembantu disini, Nyonya,* ucap Bu Sina.


Pembantu? Bukannya kemarin Kak Kenzo bilang tidak ada pembantu atau pelayan dirumah ini. Apa aku salah dengar, ya? Batin Zahra bingung. Pasalnya, kemarin Kenzo mengatakan padanya bahwa dirumah ini tidak ada pembantu yang akan menolong semua pekerjaan yang akan Zahra lakukan.


"Maaf, Bu, tapi suami saya bilang, di rumah ini tidak ada pembantu," ucap Zahra tak enak.


"Saya pembantu di rumah utama, Nyonya. Nyonya besar yang meminta saya untuk kesini," jawab Bu Sina.


"Mertua saya?" tanya Zahra memastikan.


Bu Sina mengangguk mengiyakan pertanyaan Zahra. Zahra nampak senang dengan kehadiran Bu Sina. "Bisa bantu Zahra masak buat suami Ara, Bu?" tanya Zahra senang.


"Bisa Nyonya," jawab Bu Sina.


"Jangan panggil Nyonya, Bu. Ara tidak setua itu. Panggil Nak Ara saja, ya," ucap Zahra.


"Baik, Nak Zahra," ucap Bu Sina mengikuti apa yang dikatakan Zahra.


Setelah itu mereka berdua sibuk dengan perlengkapan dan peralatan memasak untuk membuat sarapan.


Senyum selalu mengembang di bibir Zahra. Ini adlah hari pertamanya berada di rumah sang suami, jadi dia harus membuat sarapan yang spesial untuk Kenzo.


Satu jam berkutat di dapur, Zahra dan Bu Sina sudah selesai dengan kegiatannya. "Bisa bantu tata semuanya di meja makan, Bu?" pinta Zahra lembut.


"Siap, Nak," jawab Bu Sina mengangguk patuh.


Zahra mengikuti Bu Sina dari belakang dengan kursi rodanya. Zahra tersenyum puas setelah semua masakannya dan Bu Sina tertata rapi di meja makan.


Zahra mengedarkan pandangannya dan melihat Kenzo yang baru keluar dari kamar dengan jas yang sudah melekat di tubuh indahnya.


Zahra langsung turun dari kursi rodanya. Dia tidak ingin Kenzo melihatnya menggunakan kursi roda.


Bu Sina yang melihat tindakan Zahra terkejut. "Nak Zahra kenapa di bawah?" tanya Bu Sina.


Zahra tersenyum dan menggeleng. "Biar nanti Kak Kenzo yang gendong Zahra untuk duduk di kursi, Bu," alibi Zahra dengan wajah senangnya. Berbeda dengan hatinya yang kini sudah tak karuan. Jika Kenzo tidak mengangkatnya, maka Bu Sina akan mengetahui semuanya.


Kenzo sampai di meja makan dan melihat keberadaan Bu Sina. "Bu Sina disini?" tanya Kenzo kaget.


"Nyonya besar meminta saya untuk datang, tuan muda," jawab Bu Sina tersenyum kepada Kenzo.


Gawat. Batin Kenzo was-was. Dia takut jika Bu Sina disini terus, maka itu akan menganggu semua aksinya. Dan Bu Sina bisa mengadukan semuanya kepada Mama dan Papanya.


Penglihatan Kenzo beralih pada Zahra yang ada dibawah. Tanpa aba-aba, Kenzo langsung mendekati Zahra dan menggendongnya ala bridal style.


"Maaf telat ya, Sayang," ucap Kenzo memaksakan senyumnya memandang Zahra.


Zahra tersenyum menang menatap Kenzo. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat. Kenzo memutuskan kontak mata mereka dan mendudukkan Zahra di kursi.


Setelah mendudukkan Zahra, Kenzo duduk di sebelah Zahra dan menatap Bu Sina. "Bu Sina," panggil Kenzo.


"Bu Sina tidak perlu datang kesini, Kenzo dan Zahra bisa hidup mandiri. Bilang sama Mama, Zahra yang akan menyiapkan semuanya," ucap Kenzo menatap Zahra menatap Zahra dengan senyum terpaksanya. Sungguh, hatinya saat ini sangat kesal melihat senyum di wajah Zahra.


"Tapi Tuan Muda-"


"Pergi, Bu Sina!" ucap Kenzo tegas.


Bu Sina yang mendengar itu mengangguk patuh. "Jika butuh apa-apa, Ibu siap membantu, Tuan Muda," ucap Bu Sina.


Kenzo mengangguk. "Sopir saya akan mengantar Ibu kembali ke rumah," ucap Kenzo.


"Saya pamit, Tuan Muda."


"Hem."


Kenzo menatap Zahra yang kini hanya menunduk setelah kepergian Bu Sina. "Kemana keberanianmu?" tanya Kenzo.


"Ma-maaf, Kak Ken," cicit Zahra.


"Angkat kepalamu!"


Zahra mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo yang ternyata juga menatap tajam ke arahnya.


"Turun!" ucap Kenzo pelan namun tegas.


"TURUN!" teriak Kenzo melihat Zahra yang gak kunjung turun dari kursi.


Zahra turun dari kursi yang cukup tinggi itu dengan susah payah.


"Ingat! Di rumah ini ada CCTV, jangan sampai aku melihatmu sekalipun menggunakan kursi rodamu," ucap Kenzo menatap Zahra tajam.


Zahra hanya bisa mengangguk dan mengenal nafas pelan. Setelah itu Kenzo berdiri dan melangkah meninggalkan Zahra.


"Kak Ken," panggil Zahra sedikit teriak.


Kenzo menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Zahra yang tengah menyeret dirinya sendiri. Sampai di depan Kenzo, Zahra menjulurkan tangannya sambil menengadah menatap Kenzo.


"Salam dulu," ucap Zahra menjawab kebingungan Kenzo.


Bukannya memberikan tangannya, Kenzo berjongkok dan menyamakan tinggi badannya dengan Zahra. "Bukan istri sepertimu yang harus menyalami tanganku!"


......................


Jangan lupa buat terus singgah dan jangan lupa kasih like, vote, komen, dan hadiahnya juga ya teman-teman. Aku sayang kalian 🌹🌹🌹😘


Jangan lupa follow Ig author ya @yus_kiz untuk informasi mengenai karya author 🌹🌹🤗