Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 34



🌹HAPPY READING🌹


Tidak ada penundaan dalam urusan hati, Tuan. Hanya ada dua kemungkinan jika anda menundanya. Dia diambil oleh lelaki lain yang lebih bertanggung jawab, atau dia akan pergi dengan kebahagiaan yang dia ciptakan sendiri. Sedangkan Tuan, penyesalan selalu hinggap disini, Tuan. Kata-kata yang tadi diucapkan Arman di Bandara semakin mengganggu pikiran Kenzo. Kenzo menyesap minuman soda yang sudah berapa kaleng dia habiskan. Hari pertama mencari kemana Zahra pergi tidak menghasilkan apapun.


Kenzo tertawa sumbang mengingat kebodohannya. Setelah itu dia melempar kaleng minuman tersebut ke sembarang arah dan mengambil kunci mobilnya. Kenzo keluar dari kamarnya dengan langkah cepat.


Setengah jam mengendarai kendaraannya, Kenzo sampai di parkiran rumah sakit. Bercerita dengan Kinzi adalah salah satu pilihan yang dapat Kenzo lakukan untuk mengurangi beban hati dan pikirannya.


Kenzo melihat keberadaan orang tuanya yang baru keluar dari ruang rawat Kinzi. Dengan langkah cepat Kenzo mendekati Anggara dan Melani.


"Pa, Ma," sapa Kenzo.


"Kamu sendiri, Nak?" tanya Melani. Sedangkan Anggara hanya diam. Tidak ada niat dalam hatinya untuk berbicara dengan Kenzo barang sedikit saja.


"Iya Ma," jawab Kenzo pelan. Dia menatap Anggara yang membuang pandangannya. "Pa," panggil Kenzo.


Anggara menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.


"Kenzo mau bicara berdua sama Papa," pinta Kenzo.


"Bukankah kamu tidak membutuhkan kedua orang tuamu?" tanya Anggara tegas.


Kenzo menggeleng. "Kenzo butuh bicara sama Papa," ucap Kenzo kekeuh.


"Ke taman rumah sakit," ucap Anggara langsung berjalan meninggalkan Melani dan Kenzo.


"Kenzo susul Papa dulu, Ma," ucap Kenzo pamit pada Melani.


Melani mengangguk. "Apapun yang terjadi, jangan pernah gunakan emosi kamu seperti sebelumnya," ucap Melani yang dibalas anggukan kepala oleh Kenzo.


Kenzo pergi menyusul Anggara sedangan Melani kembali masuk ke ruangan Kinzi.


"Ada apa?" tanya Anggara begitu Kenzo sudah duduk di sebelahnya. Mereka berdua duduk di kursi panjang yang tersedia di taman rumah sakit. Ditemani lampu taman yang membantu rembulan menerangi malam.


"Bantu Kenzo, Pa," ucap Kenzo tanpa basi-basi yang mampu membuat Anggara menoleh seketika.


Anggara tergelak pelan mendengar perkataan Kenzo. "Tidak salah kamu meminta bantuan Papa?" tanya Anggara remeh.


"Kenzo tidak pernah salah mengenai Zahra, Pa," jawab Kenzo.


"Tidak pernah salah? Lalu penyebab istri kamu pergi itu apa? Apa itu tidak sebuah kesalahan?" tanya Anggara tajam.


"Kenzo akui itu adalah hal salah. Tapi setiap orang bebas punya kesempatan kedua kan, Pa," ucap Kenzo sendu.


Anggara mengangguk. "Kamu benar, setiap orang punya kesempatan kedua, tapi bukankah Zahra banyak memberi kesempatan kepadamu agar berubah padanya? Dia selalu memberimu kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan sikap tegar nya," ucap Anggara.


"Kenzo menyesal, Pa," ucap Kenzo lirih.


"Harus! Kamu memang harus menyesal, Kenzo," ucap Anggara tegas.


"Bantu Kenzo menemukan Zahra, Pa?" pinta Kenzo dengan suara lirih.


Anggara menatap Kenzo. Selain Kinzi, Zahra adalah wanita yang bisa membuat Kenzo menjadi lelaki gila seperti ini.


"Bukankah Papa sudah pernah bilang, jika nanti kamu menyesal jangan pernah datang untuk meminta bantuan Papa," ucap Anggara. Dia ingin Kenzo berusaha sendiri untuk mengetahui keberadaan Zahra. Bisa saja Anggara membantunya, tapi dia ingin anaknya itu menjadi lebih bertanggung jawab dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri.


"Tidak ada sedikit rasa kasian dari Papa untuk membantu Kenzo?" tanya Kenzo sendu.


Anggara menggeleng. "Bahkan Papa sangat iba dengan kamu. Tapi ini adalah bentuk perjuanganmu, Kenzo. Jangan hanya menerima senang dalam hidupmu. Sesekali rasakan perjuanganmu," jawab Anggara dan langsung pergi meninggalkan Kenzo yang masih termenung karena kata-katanya.


Kenzo tertawa lirih menertawakan kebodohannya. "Perjuangan, kebodohan, penyesalan, semuanya harus dilewati secara bersamaan," ucap Kenzo sendu.


"Beri aku petunjuk walau sedikit saja, Zahra," ucap Kenzo dengan harapan yang sangat membuncah dalam hatinya.


Zahra akan mencurahkan cinta dan sayang sepenuhnya jika sudah mencintai, Kak Ken. Tapi Zahra juga tidak main-main jika sudah memilih pergi. Perkataan Zahra saat itu kembali berputar dalam benak Kenzo.


"Kamu membuktikan semua ucapanmu, Zahra," ucap Kenzo sendu.


.....


Jika di Jakarta sudah menunjukkan malam hari, maka lain di tempat Zahra berada sekarang ini. Saat ini masih menunjukan sore hari di Tarim.


Zahra melipat pakaiannya untuk dirapikan ke dalam lemari. Zahra memangku pakaian yang sudah dia lipat di pahanya dan membawanya ke lemari yang ada di kamar sederhana miliknya. Dengan telaten tangan Zahra memasukkan pakaiannya ke tempat yang terjangkau oleh tangannya.


Pada baju terakhir, Zahra mengentikan kegiatannya dan memandang baju kemeja berwarna navy tersebut dengan pandangan sendu. "Pasti Kak Ken sudah menandatangi surat perceraiannya. Sekarang Kak Ken pasti bahagia, dan dia bisa kembali menata rumah tangga dengan wanita yang sempurna melebihi Zahra," ucap Zahra lirih.


"Maafkan Zahra yang sudah lancang mencuri satu kemeja milik Kak Ken," lanjut Zahra dan meletakkan kemeja tersebut di bagian paling atas.


Zahra berbalik dan terkejut ketika melihat Yana yang sudah berdiri di ambang pintu. "Umi," panggil Zahra lembut.


"Sudah selesai, Nak?" tanya Yana.


Zahra mengangguk dengan senyum manisnya. "Sudah, Umi," jawab Zahra.


"Mau bantu Umi?" tawar Yana.


"Bantu apa Umi? Jika bisa pasti Zahra bantu kok," ucap Zahra yakin.


"Ikut Umi ke ladang, yuk. Umi kenalkan Zahra sama para pekerja disana," ucap Yana.


"Zahra mau, Umi," jawab Zahra senang. Zahra memang cadarnya yang tadi dia ambil dari kasur, dan setelah itu mereka keluar kamar Zahra dan menuju belakang rumah.


Di ladang hanya tersisa lima orang saja. Yang lainnya sudah ada yang pulang terlebih dahulu karena pekerjaan mereka sudah selesai.


Zahra memandang lima perempuan bercadar tersebut dengan mata berbinar. Kecantikan mereka sangat terpancar dari mata yang sangat jernih itu. Batin Zahra takjub.


Saat Zahra menekan tombol di pegangan kursi rodanya, Zahra merasakan nyeri pada perutnya. Zahra meremas perutnya menahan nyeri tersebut.


Yana yang memahami perubahan ekspresi Zahra langsung mendorong kursi roda Zahra kembali ke kamar dan menyuruh pada wanita tersebut untuk kembali pada kegiatannya.


"Zahra kenapa, Nak?" tanya Yana khawatir melihat Zahra yang meringis kesakitan.


"Perut Zahra tiba-tiba nyeri, Umi," ucap Zahra menahan sakit perutnya.


Tangan Yana terulur mengusap-ngusap lembut perut Zahra, dan meraba-raba seperti seorang dokter yang memeriksa pasiennya.


"Zahra, boleh Umi bertanya, Nak?" ucap Yana lembut ketika merasakan sesuatu yang ganjal dari keadaan Zahra.


"Boleh Umi," jawab Zahra.


"Apa Zahra sudah menikah, Nak?" tanya Yana yang membuat Zahra terdiam sambil menggigit bibir bawahnya.


"Zahra adalah seorang janda, Umi," jawab Zahra jujur menundukkan kepalanya.


Mata Yana berkaca-kaca mendengar jawaban Zahra. Bagaimana bisa gadis sekecil ini sudah menyandang status seorang janda.


"Umi, apa Zahra ..."


Yana mengangguk sambil tersenyum mengiyakan praduga Zahra.


"Bagaimana Umi bisa tahu?"


"Sebelum memutuskan pindah kesini, Umi adalah seorang Dokter kandungan, Nak."


......................


Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Jangan lupa follow Instagram aku ya @yus_kiz