
🌹HAPPY READING🌹
"Apa kebaikan Kenzo tidak ada artinya untukmu?" tanya Thomas pelan, namun terdengar sangat tegas.
"Apa dia sudah mati? Jika sudah, bunuh juga aku," ucap seseorang yang kini bersimpuh tak berdaya di hadapan Al, Aska dan Thomas.
Al melangkah maju. Dia bersimpuh dengan lutut sebagai tumpuan, memandang lekat seseorang yang kini menjadi dalang dibalik kecelakaan yang menyebabkan Kenzo harus terbaring di rumah sakit.
"Jujurlah. Jika kau jujur, kami tidak akan menyakitimu lebih dalam lagi," ucap Al menatap manusia di depannya.
"Apa kalian tega menyakitiku?" ucap manusia tersebut dengan wajah yang sangat memuakkan.
PLAK.
Tanpa aba-aba Al langsung menampar manusia di depannya. Al menarik kasar dagu manusia tersebut dan mencengkeramnya kuat. "Dasar manusia tidak tahu diri. Beraninya kau melukai keluargaku. Dimana harga dirimu? Apa kebaikan kami selama ini tidak berarti untukmu?" ucap Al tajam.
Manusia tersebut tersenyum remeh. "Cuih."
"Anjing! PLAK!" lagi-lagi Al menampar manusia di depannya yang sudah berani meludahi wajah tampannya.
Thomas dan Aska hanya diam melihat itu semua. Mereka hanya menikmati apa yang Al lakukan. Sama sekali tidak ada belas kasih di wajah mereka melihat manusia tersebut. Karena dia memang pantas menerima itu semua.
"Permisi, Tuan," ucap seseorang memasuki ruangan tersebut.
Aska, Thomas dan Al berbalik. "Oh, Arman. Masuklah," ucap Al menyuruh Arman untuk masuk.
"Ini Tuan. Semuanya ada disini," ucap Arman menyerahkan sebuah flashdisk kepada Al.
"Semua bukti ada disini, Arman?" tanya Al memastikan.
Arman mengangguk yakin. "Itu adalah bukti kejahatannya selama dua puluh lima tahun ini, Tuan," ucap Arman mantap.
"Kau yakin Arman?" kini giliran Aska yang bertanya.
Arman mengangguk memandang Aska. "Jejak digital tidak bisa di hapus, Tuan," jawab Arman.
"Kerja bagus, Arman. Tidak salah Kenzo begitu mempercayaimu. Maaf, jika kami sempat mencurigaimu," ucap Thomas merasa tak enak.
Arman tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Tuan," jawab Arman yang memandang lama Thomas.
Thomas yang dipandang lama menjadi salah tingkah sendiri. "Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Thomas tak enak.
Arman terkekeh pelan. "Hampir saja saya jatuh cinta pada Tamara, Tuan," jawab Arman yang mengundang gelak tawa Al dan Aska. Sedangkan Thomas mendengus kesal dan meninju pelan perut Arman.
"Kau bisa mati jika aku benar-benar memukulmu," ucap Thomas ketus.
"Aku sungguh takut akan itu," ucap Arman. Mereka tertawa melihat wajah Thomas yang benar-benar kesal.
Untung aku bertaubat lebih cepat. Jika tidak, bisa habis aku di bully mereka. Batin Thomas kesal menatap Al, Arman dan Aska.
"Lepaskan aku!" suara tersebut menghentikan tawa mereka semua.
Al memandang datar manusia didepannya. "Tidak sebelum kami semua mengetahui siapa kau sebenarnya!" ucap Al tajam.
"Kau tidak akan bisa melawanku!" ucap manusia tersebut.
"Tunggu tanggal main untukmu. Maka kita akan bersenang-senang!" ucap Al tegas.
Al merapikan jasnya seolah mengusir debu yang melekat di jas mahalnya. "Kau mengotori tangan dan pakaianku," ucap Al menatap jijik manusia tersebut.
"Ayo pergi," ucap Al mengajak mereka semua pergi meninggalkan manusia yang menjadi tersangka tersebut.
"Kerahkan semua penjaga kita, Aska," ucap Al yang segera di angguki oleh Aska.
Setelah memastikan semua penjaga melakukan pekerjaannya untuk menjaga ruangan tersebut, barulah mereka pergi meninggalkan bangunan kuno yang mewah itu.
.....
"Kakak sudah makan?" tanya Kina menatap Zahra.
Zahra yang sejak tadi memperhatikan Kenzo terbaring di ranjang, menoleh dan tersenyum. "Kakak sudah makan, Dek," jawab Zahra.
Kina menggeser duduknya mendekati Zahra. Dia menggenggam lembut tangan Kakaknya itu. "Cinta Kakak akan menjadi obat untuk Kak Ken. Ketulusan Kakak akan menjadi semangatnya, dan kesabaran Kakak akan menjadi senjatanya," ucap Kina menyemangati Zahra.
Zahra mengangguk. "Kamu tetap jadi adik Kakak, ya. Apapun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan Kakak, ya," ucap Zahra sendu menatap Kina.
"Kina disini bersama Kakak," jawab Kina memeluk tubuh Zahra dari samping.
Ditengah perbincangan mereka. Aska datang bersama Anggara. "Mas Aska," ucap Kina bangun dan menyalami tangan Aska. Aska membalas dengan mencium lembut dahi Kina. Setelah itu dia berganti menyalami tangan Anggara.
"Papa," ucap Zahra ikut berdiri dan menyalami tangan Anggara.
"Papa dan Kak Aska kesini barengan? Kemana yang lain?" tanya Zahra menanyakan Al, Ibra dan Dee, Dan Melani, Mama Kenzo.
"Papa tadi bertemu Aska di depan. Jadi sekalian kesini barengan, Nak. Dan Mama sedang menemani Kinzi untuk mengurus sesuatu, nanti mereka akan menyusul kesini," jawab Anggara.
Zahra mengangguk. Setelah itu mereka semua duduk di sofa yang ada di ruang rawat Kenzo.
"Dimana Shasa dan Sela?" tanya Aska.
"Shasa sama Sela main di kamar itu, Mas," jawab Kina menunjuk sebuah kamar yang terletak di belakang ranjang Aska.
"Aku mau ketemu Shasa dan Sela dulu, ya. Mari Om," ucap Aska pamit.
Mereka sama-sama diam. Hanyut dalam pikiran masing-masing dengan pandangan yang tak lepas dari Kenzo.
Zahra berdiri dan berjalan mendekati ranjang Kenzo. Zahra duduk di kursi sebelah ranjang Kenzo dan menggenggam erat tangan lelaki tersebut. Seulas senyum cantik terbit di wajah Zahra.
Dulu, Zahra memang mencintai Kak Aska, Kak. Tapi sekarang, cinta Zahra sudah untuk Kak Ken. Zahra bersyukur, andai dulu Zahra tidak menerima lamaran Kak Ken, maka Zahra tidak akan dicintai sebesar ini, Zat tidak akan di sayangi setulus ini, dan Zahra tidak akan dilindungi senyaman ini. Terimakasih, Kak Ken. Lelaki hebat yang mengajarkan Zahra arti egois, arti cinta, ketulusan dan pengorbanan. Bangun, ya Kak Ken. Banyak yang menanti Kakak disini. Batin Zahra tulus dengan pandangan yang tak lepas dari wajah terlelap Kenzo.
Deg.
Zahra tersentak kala merasakan tangannya di elus lembut oleh tangan Kenzo. "Pa, Kina, Tangan Kak Ken gerak."
.....
Diruang kerja Al, kini sudah ada Ibra dan Dee. Al memang meminta Ibra dan Dee untuk datang ke ruangannya.
"Dia pelakunya, Abi, Umi," ucap Al memberikan sejumlah bukti mengenai kecelakaan yang menimpa Kenzo.
Mulut Dee menganga tak percaya. "Jangan sembarangan menuduh, Nak," ucap Dee tak yakin.
"Benar, Umi. Al tidak menuduh, bukti yang berbicara," jawab Al.
"Mas," panggil Dee pada Ibra dengan mata berkaca-kaca.
"Tenang dulu, Sayang," ucap Ibra mengusap lembut tangan Dee.
"Aku harus menelpon Kevin untuk segera kembali," ucap Ibra dan langsung mengeluarkan ponselnya.
Saat Ibra menelpon Kevin, ponsel Al yang berada di atas meja kerjanya berdering. Al langsung berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya. "Ya, As," ucap Al setelah melihat nama Aska yang tertera di layar ponselnya.
"Cepat kerumah sakit, Kenzo sudah sadar."
......................
Kira-kira siapa ya, teman-teman tersangkanya? Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘
Hai teman-teman, bagi kalian yang mau baca karya baru aku (TAKDIR DALAM PERNIKAHAN : MENJADI TEMAN RANJANG SUAMIKU) silahkan lihat di aplikasi yang hijau, ga. Cerita ini ada di aplikasi KaBeeM APPle (baca huruf kapital ga teman-teman). Kalian pasti tahu, kan, aku mau coba cari rezeki di tempat baru teman-teman, semoga kalian suka dan merestui karya aku disana. Karena restu kalian merupakan nyawa bagi seorang penulis amatiran sepertiku, terimakasih 🙏🙏🤗