Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 208



🌹HAPPY READING🌹


"Anak itu memiliki nasab, Ib. Gue adalah Ayahnya," jawab Kevin.


"Tapi anak dari luar pernikahan it-"


"Gue melakukannya saat kami terikat hubungan halal pernikahan!" jawab Kevin cepat memotong perkataan Ibra.


Ibra terdiam. "Ma-maksud Lo?"


Kevin menengadahkan kepalanya menghalau air mata yang siap kembali jatuh. "Karena satu hal gue ngelakuin itu, Ib," ucap Kevin sendu.


"Gue boleh tahu siapa perempuan itu?" tanya Ibra.


"Nanti Lo bakal tahu," jawab Kevin menatap jauh ke depan.


"Terus sekarang apa yang buat Lo menyesal seperti ini?" tanya Ibra lagi.


"Karena gue nggak dukung semua perjuangan dia, Ib. Gue biarin dia berjuang sendiri hingga akhirnya memilih pergi," jawab Kevin sendu.


"Dia pergi karena lelah berjuang atau -"


"Dia pergi karena ucapan gue," ucap Kevin cepat dengan sorot mata yang sirat akan segala kekecewaan.


Ibra mengusap wajahnya kasar. Kenapa sahabatnya itu juga ikutan bodoh seperti dirinya dulu?


"Gue nggak mau kasih nasehat buat Lo, Vin. Karena gue juga nggak lebih baik daripada Lo. Tapi satu hal yang pasti, jangan sampai Lo nggak berjuang buat tanggung jawab, setidaknya demi anak yang kini entah dimana keberadaanya," ucap Ibra bijak.


Kevin hanya mengangguk menjawab perkataan Ibra.


"Apa karena ini Lo minta gue buat ikut kesini?" tanya Ibra.


Kevin mengangguk. "Cuma Lo tempat gue cerita, Ib," jawab Kevin sendu.


Ibra mengangguk. "Gue bakal marah lagi kalau Lo nggak cerita dan menahan semuanya," ucap Ibra yang dibalas anggukan oleh Kenzo.


Ibra berdiri dari duduknya. "Buktikan kalau Lo itu laki-laki," ucap Ibra sambil menepuk pelan bahu Kevin dan berlalu pergi keluar dari kamar Kevin.


Kevin menatap punggung Ibra yang sudah menghilang dari balik pintu. Tangannya terulur mengambil sesuatu yang selalu dia simpan dalam saku celananya. "Kamu dimana, Sugar?" gumam Kevin sendu. Mengingat bagaimana perempuan itu mengejarnya dengan sangat gigih membuat Kevin terkekeh pelan. "Kini saatnya aku yang berjuang," ucap Kevin.


Dia tahu dia berdosa, dia tahu dia manusia yang jauh dari kata sempurna. Kevin bukan lelaki dengan paham agama yang baik, dia juga bukan lelaki dengan agama yang sempurna, tapi dia tahu apa yang dia lakukan sangat dilarang dalam agamanya. Dia telah menelantarkan makhluk Tuhan yang paling dimuliakan dalam agamanya. "Aku menerima dengan ikhlas jika sisa hidupku akan habis untuk penyesalan ini," gumam Kevin sendu.


.....


Ibra memasuki kamarnya. Matanya menangkap sosok Dee yang masih duduk diatas ranjang dengan mata menatap jauh ke depan. Sepertinya wanita itu belum menyadari kedatangan Ibra.


"Sayang," panggil Ibra lembut.


Dee menoleh. Air mata wanita itu jatuh ketika menatap mata Ibra.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Ibra khawatir.


"Siapa Mas?" tanya Dee pelan.


Dahi Ibra berkerut. "Siapa apanya?" tanya Ibra bingung.


"Siapa yang dihamili Kak Kevin?" tanya Dee lagi.


DEG


Jantung Ibra berdetak cepat mendengar perkataan istrinya itu. "Ka-kamu dengar semuanya?" tanya Ibra gugup.


Dee mengangguk. "Siapa wanita itu, Mas?" tanya Dee lagi.


Hatinya sakit mendengar segala cerita Kevin Ibra dari balik pintu kamar Kevin.


"Tadi, saat mau panggil kamu ke kamar Kak Kevin, aku nggak sengaja dengar semuanya, Mas. Maaf jika aku menguping, Mas. Tapi aku nggak menyesali perbuatan aku," ucap Dee.


Ibra menghela nafas pelan. Dia ikut duduk bersandar di kepala ranjang dan membawa tubuh sang istri ke dalam dekapannya.


"Siapa wanita itu, Mas?" tanya Dee lagi setelah berada dalam pelukan Ibra.


Ibra menggeleng. "Kevin tidak mengatakan siapa wanitanya, Sayang. Tapi satu hal yang pasti, dia sudah menyesali semuanya," ucap Ibra.


"Kalian selalu menjadikan penyesalan sebagai bentuk untuk memperbaiki kesalahan. Penyesalan itu tidak ada gunanya jika semua sudah terlambat seperti ini," ucap Dee.


"Tapi setidaknya penyesalan bisa menjadi hukuman, Sayang," jawab Ibra.


"Hukuman bagi kalian yang bersalah, tapi penderitaan bagi wanita yang menjadi korban keegoisan kalian!" ucap Dee kesal setengah mati. Wanita itu menghapus kasar air matanya dan melepaskan pelukan Ibra pada tubuhnya.


"Mau kemana Sayang?" tanya Ibra melihat Dee yang turun ranjang dengan tergesa-gesa.


"Kak Kevin," jawab Dee singkat.


Ibra reflek berdiri dan segera menahan tangan Dee yang akan melangkah keluar kamar. "Jangan Sayang," ucap Ibra menahan Dee.


"Semuanya harus jelas, Mas! Kak Kevin sudah keterlaluan!" ucap Dee.


"Semua orang punya salah, semua orang punya khilaf, dia sudah menyesalinya, dan sekarang dia akan mulai berjuang, Sayang," ucap Ibra.


Dee menghirup udara banyak dan mengeluarkannya perlahan. Wanita itu mencoba untuk menetralkan emosinya yang siap meluap kapan saja.


"Yang dibutuhkan Kevin saat ini bukan arahan atau nasehat, Sayang. Dia hanya butuh didengarkan untuk semua keluh kesahnya," ucap Ibra.


Ibra menggeleng. "Tidak semua orang yang bercerita membutuhkan nasehat dan masukan, Sayang. Terkadang dia hanya butuh didengarkan. Karena kita nggak tahu, bisa jadi nasehat atau masukan yang kita berikan malah membuat dia menjadi semakin terpuruk," ucap Ibra lembut pada sang istri.


"Kenapa kalian selalu menyakiti wanita?" tanya Dee menatap dalam mata Ibra.


Ibra diam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Dee.


"Sayang," panggil Ibra lembut.


"Jangan jawab itu takdir Tuhan, Mas. Karena campur tangan manusia juga bisa mengarahkan takdir Tuhan," jawab Dee.


"Jangan marah sama aku, Sayang," rengek Ibra.


"Siapa yang marah sama kamu? Aku hanya kesal aja. Lelaki yang aku kenal tidak ada yang baik tau nggak! Suami yang dulu berkhianat, anak yang dulu nggak menghargai wanita dan merendahkan agama seseorang hanya karena dia menganggap dirinya lebih paham agama, dan menantu yang memiliki dendam tak jelas pada anak aku. Dan sekarang, sahabat suamiku yang sudah aku anggap Kakak sendiri, juga melakukan doa bejat dan tidak bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan!" ucap Dee panjang lebar.


"Maaf Sayang," ucap Ibra sendu.


"Sekarang biarin aku bicara sama Kak Kevin dulu," ucap Dee.


"Besok saja, Sayang. Ini sudah malam," ucap Ibra mencegah Dee.


"Mulut aku gatal tahu nggak mau ngomelin Kak Kevin!" ucap Dee kesal.


Tanpa aba-aba, Ibra menggendong Dee ala bridal style dan membawa wanita itu ke ranjang. "Saatnya mengukir cerita indah di Turki," ucap Ibra jahil.


Dee sempat menolak dan bertambah kesal dengan suaminya itu. Tapi dengan segala rayuan dan sentuhan nyaman yang Ibra berikan, Dee terbuai dan mau tak mau menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang baik dan berbakti.


.....


Pagi telah menyapa. Keluarga besar itu tengah melakukan sarapan bersama dengan suara Sela yang selalu saja berceloteh.


"Bunda, kita jadi ke Cappadocia kan?" tanya Sela memastikan rencana yang sudah di susun sejak jauh hari akan terlaksana.


"Besok ya, Nak. Cuaca di Cappadocia lagi nggak baik, jadi balon udara nggak bisa terbang, Nak," ucap Zahra lembut.


"Kata siapa Bunda?" tanya Sela tak percaya.


"Cuaca di Cappadocia memang lagi nggak baik, Sayang. Ada anak buah Kakek yang memberitahu," jawab Kevin. Kevin memang meminta anak buahnya untuk memantau di Cappadocia. Karena cuaca di Cappadocia memang tidak pernah menentu. Dan untuk itu, sebelum pergi ke Cappadocia kita harus survey terlebih dahulu. Baik itu secara langsung atau lewat internet.


"Terus kapan kesana?" rengek Sela dengan mata berkaca-kaca.


"Besok atau lusa, Nak. Kita pasti akan kesana. Hari ini kita dirumah dulu, ya," bujuk Zahra.


Bibir anak itu melengkung kebawah dengan air mata yang sudah mengenang di pelupuk matanya.


Kenzo yang melihat itu langsung menghentikan sarapannya dan menggendong anak itu.


"Sela mau naik balon udara, Ayah," tangis anak itu pecah saat di gendongan Ayahnya.


Entahlah, anak itu hanya kesal karena apa yang dia rencanakan tidak terlaksana dengan baik. Untuk melampiaskan kesalnya, anak itu hanya bisa menangis agar merasa sedikit lega.


"Iya Sayang. Cuaca lagi nggak baik, jadi nggak bisa kalau naik balon udaranya sekarang, Nak," ucap Kenzo lembut berusaha memberi pengertian pada anaknya itu.


"Terus ngapain kesini kalau nggak naik balon udara?" tanya Sela lagi.


Zahra yang melihat suaminya kesusahan menenangkan sang anak langsung berdiri. "Biar sama aku dulu, Mas," ucap Zahra hendak mengambil Sela dari gendongan Kenzo.


Kenzo menggeleng. "Kamu makan dulu, Sayang. Kasian anak kita kelaparan dalam perut Bundanya. Sela.biar aku tenangin. Kamu sarapan aja sama yang lain ya. Aku bawa Sela ke depan dulu," ucap Kenzo lembut dan berjalan membawa Sela keluar dari rumah untuk mengalihkan perhatian gadis kecil itu.


Mereka semua yang melihat sikap Kenzo pada Zahra tersenyum senang. Nampak sangat tulus dan cinta sekali. Tidak ada yang mau ikut campur, mereka membiarkan sepasang suami istri itu melakukan cara mereka.


Sambil sarapan, mereka tetap sambil bercerita. "Zahra," panggil Murat.


"Iya Kakek. Kakek mau nambah?" tawar Zahra yang hendak mengambilkan tambahan makanan untuk Murat.


Murat menggeleng. "Ini sudah cukup, Nak," ucap Murat.


"Nanti kamu ikut ke perusahaan, ya. Sudah saat semua mengenal kamu sebagai pewaris Türk Mücevher, Nak," ucap Murat.


"Bisakah tetap Ayah saja yang menjadi pemimpinya, Kakek?" tanya Zahra. Bukannya gadis itu tidak mau, tapi dia hanya tidak siap untuk memimpin perusahaan sebesar itu.


"Kakek hanya ingin dunia mengenal kamu, Nak," ucap Murat lagi.


"Zahra tidak butuh itu, Kakek. Memiliki keluarga seperti ini saja Zahra sudah senang," ucap Zahra halus.


"Tapi Nak-"


"Jangan paksa Zahra ya, Kakek," ucap Zahra memohon dengan wajah sendunya.


Murat menghela nafas pelan. "Tapi nanti kamu tetap ikut ke perusahaan untuk melihat-lihat, ya. Dan Kakek tidak mau kali ini kamu menolak!" ucap Murat tegas.


Zahra menghela nafas dan mengangguk. "Baik Kakek," jawab Zahra patuh.


......................


Hai teman-teman, untuk kelanjutan kisah Kevin dan Kinzi ada di novel baru yang akan publish ya. Untuk info publish nya akan author share di Instagram author ya. Nanti akan ada kabar baik dan sedikit kabar tak enak yang tak sesuai keinginan pembaca semua.


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. TERIMAKASIH 🤗🙏