
🌹HAPPY READING🌹
Senyum tak luntur sejak tadi pagi dari bibir Zahra. Setelah dua Minggu di rawat di rumah sakit, kini Zahra sudah boleh keluar dari rumah sakit. Sedangkan Ibra sudah resmi keluar dari rumah sakit tiga hari yang lalu. Ya, meskipun lelaki itu keluar masuk dan tidur di rumah sakit dengan seenaknya, tapi dia dinyatakan benar-benar sembuh dari tiga hari yang lalu.
Zahra melihat Sela dan Bu Sari yang memasukkan pakaian ke tas besar. Anak itu dengan tangan mungilnya nampak lincah melipat pakaian walaupun terlihat berantakan.
"Bunda nggak boleh bantu, Nak?" tanya Zahra lagi. Karena sejak tadi dia menawarkan untuk membantu, Sela selalu menolak dan memaksa Zahra agar duduk saja.
"Tidak boleh, Buna. Nanti Ayah malah. Cela kuat kok," jawab Sela dengan yakinnya sambil tangan mungil miliknya mengelap sebutir keringat di dahinya. Anak itu bersikap seolah dia sedang melakukan kerja keras. Padahal dia baru memasukkan delapan baju ke dalam tas. Sedangkan Bu Sari, dia membenarkan semua pekerjaan Sela yang salah. Mulai dari melipat baju yang sembarangan, letak yang tak beraturan, dan beberapa baju yang tercecer di lantai.
"Kan Ayah tidak ada disini, Sayang. Jadi, biar Bunda bantu, ya. Bunda sudah sangat sehat," ucap Zahra meyakinkan.
"No, no, no," ucap Sela menggerakkan jarinya telunjuknya ke kiri dan ke kanan pertanda melarang Zahra untuk ikut. "Capek kuping Cela tuh dengal Ayah ngomel-ngomel, Buna. Jadi, Buna duduk manis, oke," lanjut Sela.
Zahra pasrah. Wanita itu menuruti anaknya untuk duduk diam sambil memakan Buah yang sudah di potong kecil-kecil.
Setelah setengah jam, pekerjaan Sela dan Bu Sari selesai. "Capek, huh," ucap Sela merebahkan tubuhnya di sofa. Diikuti Bu Sari yang tersenyum melihat Sela.
"Kamu kayak jadi kuli aja, Nak," jawab Zahra.
"Ini lebih dali kuli, Buna," jawab Sela.
Zahra dan Bu Sari terkekeh pelan mendengar perkataan Sela. Anak itu benar-benar, semakin lama sifatnya semakin mirip dengan Kenzo.
"Ayah kemana cih, Buna. Ini udah ciang, tapi kenapa belum jemput juga," gerutu Sela yang tidak kunjung melihat kedatangan Kenzo ke rumah sakit.
Zahra tersenyum. "Ayah harus ke kantor, Nak. Banyak pekerjaan yang harus Ayah selesaikan. Kan satu Minggu kemarin Ayah tidak ke kantor, jadi hari ini Ayah harus ke kantor dulu, ya," ucap Zahra memberi penjelasan kepada Sela.
"Sela mau makan buah?" tawar Bu Sari yang sudah berdiri mengambil buah di meja sebelah bed Zahra.
Zahra mengangguk. Gadis kecil yang masih menggunakan seragam sekolahnya itu berdiri dan berjalan mendekati Bu Sari. Sejak pulang sekolah, Sela memang langsung ke rumah sakit diantara oleh Kina dan Shasa. Tadi Kina dan Shasa juga ada di rumah sakit, tapi mereka harus segera pulang karena permintaan Zahra. Zahra kasian melihat Shasa yang sudah nampak mengantuk. Karena tidur di rumah sakit tidak akan nyaman, jadilah Zahra meminta Zahra untuk membawa Shasa pulang.
"Enak, Nek. Buna mau?" tawar Sela pada Zahra.
Gadis itu sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sebelah ranjang Zahra. Sedangkan Bu Sari duduk di kursi lainnya.
Zahra menggeleng. "Sela makan saja yang kenyang, ya," ucap Zahra menolak.
Dengan senang hati Sela mangangguk dan memakan buah yang sudah di potong kecil itu.
.....
"Apa pekerjaan ku masih banyak?" tanya Kenzo pada Arman.
"Masih ada beberapa Fila lagi, Tuan," jawab Arman.
Kenzo menghela nafas lelah. Sudah dari pagi, tapi tangannya tidak henti mencoret bentuk abstrak di kertas-kertas penting itu.
"Aku akan istirahat sebentar," ucap Kenzo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
"Baik Tuan. Jika begitu, saya permisi," jawab Arman sopan. Meskipun mereka bersahabat, tapi Arman tetap menolak ketika Kenzo menyuruhnya untuk bersikap layaknya sahabat. Karena dia ingin profesional dan pekerjaannya. Namun jika diluar, maka Arman akan bersikap biasa dan nampak sangat dekat dengan Kenzo layaknya sahabat kecil.
Setelah Arman keluar dari ruangannya, Kenzo mengeluarkan ponsel. tangannya bergerak membuka aplikasi hijau untuk melakukan panggilan video Dengan istri tercintanya.
"Acalamu'alaikum, Ayah," ucap Sela girang dibalik layarnya setelah panggilan video terjawab.
Kenzo tersenyum. "Waalaikumsalam, Nak," jawab Kenzo.
"Ayah kenapa lama? Cela udah celecai dari tadi belecin baju Buna dibantu Nenek," celetuk anak itu dengan wajah lelahnya diperlihatkan pada Kenzo.
"Cama aja , Buna," jawab Sela yang nampak melihat kesamping.
Sela kembali menatap layar. Ponsel Kenzo kini dipenuhi oleh wajah menggemaskan Sela. Kenzo tersenyum, melihat dan mendengar suara anaknya saja bisa menghilangkan lelah yang tadi menggerogoti tubuhnya. Rasanya, bebannya saat ini pergi begitu saja.
"Nanti Ayah datang, ya. Sela, Bunda dan Nenek tidak boleh pulang sebelum Ayah jemput," ucap Kenzo.
Sela nampak mengangguk di layar ponsel Kenzo. "Ayah mau?" tawar Sela mengangkat buah yang ada ditangannya menunjukkan pada Kenzo. Sedangkan ponselnya dia sandarkan pada bantal Zahra.
Kenzo menggeleng. "Sela makan yang banyak, ya. Ayah senang kalau sela gendut," jawab Kenzo.
"Tidak mau!" jawab Sela reflek berteriak yang mengagetkan mereka semua. Sela reflek menutup mulutnya dan menggerutu dalam hati. Mulutnya ini benar-benar tidak bisa diajak kerja sama.
"Gendut itu tanda sehat, Nak," jawab Kenzo.
Sela bersyukur. Untung Ayahnya itu tidak marah, kalau sampai marah karena tadi suaranya tinggi, maka dipastikan dia akan kena nasehat panjang Kenzo.
Sela menggeleng mendengar perkataan Kenzo. "Cehat itu bukan gemuk bukan juga kulus, Ayah. Sehat itu adalah clim alias langsing. Cepelti Cela cama Chaca," jawab Sela.
"Siapa yang bilang kayak gitu, Nak?" tanya Kenzo. Anak nya ini semakin lama semakin banyak mendapat kosa kata baru.
"Buna, Mommy Bella dan Mama Kina," jawab Sela santai.
Kenzo hanya tersenyum menggeleng. Ketiga wanita di keluarga Hebi memang benar-benar kompak dalam memberi kata-kata mutiara untuk Sela dan Shasa.
"Bunda mana, Nak?" tanya Kenzo menanyakan wanita yang sejak tadi ingin dia lihat.
Sela mengangkat ponselnya. "Ini," ucapnya ketika menghadapkan ponselnya pada Zahra yang duduk di sebelahnya.
"Sudah makan, Sayang?" tanya Kenzo.
"Sudah, Mas. Mas jangan capek-capek ya. Jangan lupa makan dan minum air putih yang cukup," ucap Zahra ketika melihat wajah lelah Kenzo.
"Capeknya hilang saat lihat wajah kamu, Sayang," jawab Kenzo jujur.
"Gombal," celetuk si mungil Sela.
Kenzo dan Zahra terkekeh kecil mendengar sindiran sang buah hati untuk mereka. "Itu namanya cinta, Nak," ucap Kenzo.
"Cinta nggak bikin kenyang, Ayah," jawab Sela.
"Siapa lagi yang ajarin kali ini?" tanya Kenzo lagi.
"Mama Tamala," jawab Sela jujur.
Kenzo dan Zahra hanya menggeleng. Kenzo merasa anaknya ini benar-benar jelmaan dirinya saat kecil dulu.
Tapi dibalik semua itu, Kenzo bahagia. Andai aku tetap egois dengan dendam tak beralasan itu, aku tidak akan mendapat kedua bidadari ini. Batin Kenzo bersyukur dan bahagia atas senyum dan tawa istri serta anaknya.
Setelah itu, mereka kembali melanjutkan obrolan lewat panggilan Video hingga Kenzo mengakhirinya karena harus segera melanjutkan pekerjaan agar bisa cepat menjemput Zahra, Sela Bu Sari di rumah sakit.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏