
🌹HAPPY READING🌹
Enam Tahun Kemudian .....
Rumah kecil yang sangat sederhana itu diisi dengan suara tangis seorang anak perempuan lucu. Anak yang nampak imut dengan pipi chabi dan mata bulatnya, hidung mungil nan mancung, serta bibir yang sangat diidamkan banyak wanita dengan warna merah alami. Ujung hidungnya nampak merah karena menangis. Jilbab yang menutupi kepalanya dan membungkus rambutnya sudah berantakan dan basah karena air mata.
Seorang wanita cantik berusaha menenangkan anak tersebut. Anak yang selama enam tahun ini menjadi alasannya untuk terus bertahan. Banting tulang untuk menghidupi malaikat kecilnya. "Cup, cup, cup. Anak Bunda jangan nangis lagi, ya," ucap wanita tersebut menenangkan anaknya.
"Hiks, kaki cela cakit, Buna. Cepedana jahat buat Cela jatuh," ucap sang anak mengadu pada Bundanya.
Wanita tersebut tersenyum dan mengusap lembut air mata di pipi anaknya. "Sepedanya tidak jahat, Nak. Tapi Sela harus lebih hati-hati lagi. Bawa sepedanya harus pelan, nggak boleh kencang," ucap wanita tersebut membujuk anaknya.
Anak perempuan kecil tersebut mengerjap lucu. Mata yang dihiasi dengan bulu mata yang lentik itu nampak sangat menggemaskan. "Belalti cela yang calah, ya Buna?" tanya anak itu polos.
Wanita itu kembali tersenyum gemas melihat reaksi anaknya. "Bukan Sela juga yang salah. Hanya saja harus lebih hati-hati lagi, ya Nak," ucap wanita tersebut.
Anak tersebut tersenyum disertai dengan anggukan dari kepalanya. Hingga panggilan dari arah dapur mengalihkan perhatian mereka.
"Zahra," panggil suara seorang wanita yang sudah tak lagi muda dari dapur.
"Bunda ke dapur dulu, ya Nak. Sela lanjut main bonekanya saja, ya. Bunda harus kerja lagi," ucap wanita tersebut.
Anak perempuan itu mengangguk patuh dan membiarkan Bundanya pergi ke dapur. Sedangkan dia melanjutkan kegiatan mainnya bersama sebuah boneka usang yang nampak sangat lusuh. Warna yang tadinya putih gading itu sudah kecoklatan karena lusuhnya.
"Ini gulanya berapa, Zahra?" tanya wanita paruh baya tadi pada wanita tersebut.
Ya, dia adalah Zahra Thalita. Seorang wanita cacat yang dengan segala rasa syukurnya bisa selamat dari bencana banjir yang terjadi enam tahun lalu di kota Tarim. Kota yang dulu menjadi pilihannya untuk menenangkan hati dan pikiran. Kota yang dulu menjadi pilihannya untuk menjemput kebahagiaan yang seutuhnya.
Setelah melahirkan buah hatinya, keajaiban terjadi pada Zahra. Kaki yang selama dua puluh empat tahun ini tidak berfungsi, kini sudah bisa dia gunakan untuk berjalan setelah melahirkan anaknya. Proses persalinan yang mempertaruhkan nyawa, ternyata memberi berkah yang tak ternilai untuk Zahra. Meskipun harus belajar berjalan layaknya anak kecil, tapi karena kegigihannya, Zahra bisa menggunakan kakinya layaknya manusia normal.
Jangan salahkan, bahkan Zahra juga melalui proses merangkak. Kakinya yang memang tidak berfungsi dari lahir benar-benar dilatih layaknya anak kecil yang baru berjalan. Pengalaman yang dari dulu Zahra inginkan akhirnya bisa dia dapatkan. Melewati proses belajar berjalan saat kecil didapati Zahra saat dia dewasa. Jika tangan Tuhan sudah bekerja, tidak kata mustahil di dunia ini. Enam bulan setelah melahirkan, Zahra bisa berjalan normal.
"Gulanya sepuluh sendok saja, Bu. Nanti biar Zahra aduk yang lainnya," ucap Zahra pada Bu Sari. Wanita paruh baya yang membantunya selama ini. Wanita paruh baya yang memberinya tempat tinggal dan kasih sayang layaknya seorang anak.
Zahra mengambil sendok dan memberi resep lain pada adonan kuenya. Inilah kegiatan Zahra sekarang. Membuat kue dan diletakkan di warung-warung untuk menyambung hidupnya. Mencari nafkah untuk menghidupi si kecil yang selalu menjadi sumber semangatnya.
Bu Sari memperhatikan Zahra yang nampak sangat fokus dengan kegiatannya. "Kamu tidak ingin kembali, Nak?" ucap Bi Sari pada Zahra.
Kegiatan Zahra terhenti mendengar perkataan Bi Sari. "Kembali kemana, Bu? Rumah Zahra kan disini," ucap Zahra tenang.
"Jangan memendam sendiri kesedihanmu, Nak. Kembalilah dan bahagia bersama keluargamu," ucap Bu Sari lembut.
"Apa Ibu tidak senang dengan kehadiran Zahra dan Sela?" tanya Zahra pelan menatap Bu Sari.
Bu Sari menggeleng pelan. Dia tersenyum dan menggenggam lembut tangan Zahra. "Ibu sangat bersyukur atas kehadiranmu dan Zahra. Kehadiranmu membuat Ibu bisa melepas rindu kepada anak Ibu yang sudah meninggal. Tapi Sela berhak tau mengenai keluarga besarnya, Nak. Dia memiliki Nenek, Kakek, Om, Tante, serta Ayahnya sendiri," ucap Bu Sari.
"Zahra sudah sangat bahagia seperti ini, Bu," ucap Zahra yakin.
Bu Sari menghela nafas pelan mendengar jawaban Zahra. Selalu seperti ini jawaban yang dia dapatkan setiap kali mereka berbicara mengenai keluarga Zahra.
"Yasudah, kalau begitu Ibu mau menemani Sela dulu main di depan," ucap Bu Sari.
Zahra mengangguk. Bu Sari pergi dari dapur dan meninggalkan Zahra sendiri. "Mereka sudah bahagia tanpa Zahra, Bu. Cukup sudah Zahra menjadi beban untuk mereka," gumam Zahra pelan. Senyum terbit di bibir Zahra ketika mengingat kenangan saat dia ingin kembali ke rumah keluarganya, namun dia memilih pergi.
*Flashback On*
Zahra mengerjapkan matanya saat sinar matahari terasa sangat dekat dengannya. Dia melihat sekeliling, kota yang tadinya sangat indah, kini sudah kotor akibat banjir yang melanda. Zahra melihat sekelilingnya, banyak sekali tumpukan sampah. Saat tangannya menyentuh sesuatu yang sangat dingin. "Astagfirullahalazim," ucap Zahra kaget saat matanya melihat seorang mayat wanita yang ada di sebelahnya.
Zahra meraba-raba perutnya. "Semoga kamu masih ada di dalam sini, Nak," ucap Zahra penuh harap.
"Anda siapa?" ucap Zahra dalam bahasa Indonesia. Untuk sesaat Zahra lupa bahwa saat ini dia berada di Kota Tarim.
Zahra menggeleng pelan saat dia sadar dengan bahasa yang dia gunakan. Saat Zahra hendak mengulangi pertanyaannya, orang yang tadi menepuk bahunya menjawab. "Saya relawan dari Indonesia," ucap wanita yang sudah tak lagi muda.
Senyum terbit di wajah Zahra. Tuhan sungguh sangat baik kepadanya. Setiap satu kesusahan, ada seribu kebaikan yang dia dapatkan.
"Nama saya Sari. Panggil saja Bu Sari," ucap wanita tersebut memperkenalkan dirinya.
"Mau aku antar pada keluargamu?" lanjutnya bertanya pada Zahra.
Zahra terdiam sebentar. Dia tidak ingin membuat keluarganya bertambah khawatir karena keadaanya. Zahra menggeleng sambil tersenyum. "Bisa bawa saya kemana Ibu pergi? Nanti saya akan menemui keluarga saya," ucap Zahra.
Bu Sari mengangguk. Dia hendak mengulurkan tangan untuk membantu Zahra berdiri. Namun dengan sopan Zahra menolak. "Maaf, saya seorang gadis cacat," ucap Zahra tenang dengan senyumnya.
Ada rasa tak enak di hati Bu Sari. Dia pergi sebentar dan meminta bantuan relawan lainnya agar membantu membawa Zahra. Hingga akhirnya Zahra ikut Bu Sari untuk ke poskonya yang ada di bagian Utara Kota Tarim. Sangat bertolak belakang dengan lokasi yang dijumpai Ibra dan yang lainnya.
Saat Zahra akan pergi, tanpa Zahra sadari, cincin yang dia gunakan terlepas dari tangannya. Mungkin karena licin, cincin itu terjatuh begitu saja.
Delapan bulan setelah kejadian itu, Zahra memutuskan untuk memberi kejutan kepada keluarganya. Selama delapan bulan ini, Zahra tinggal di Indonesia bersama Bu Sari. Ternyata Bu Sari hanya tinggal seorang diri karena anaknya sudah meninggal karena ikut membantu relawan Indonesia ke Palestina. Hingga anaknya gugur saat membela Islam.
Selama delapan bulan, Zahra merawat dirinya dan juga kandungannya yang sehat sampai sekarang ini. Zahra ingin memberi kejutan pada keluarganya bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja saat ini, bahkan sangat baik. "Perut Adek Kina pasti juga sebesar ini sekarang," ucap Zahra membayangkan Kina yang nampak lucu dengan perut besarnya.
"Sudah siap pergi, Nak?" ucap Bu Sari.
Zahra mengangguk dengan semangat. Bu Sari mendorong kursi roda Zahra dan mereka pergi menuju kediaman keluarga Hebi.
Setengah jam menaiki taksi, Zahra dan Bu Sari sampai di depan rumah keluarga Hebi.
"Berhenti, Bu," ucap Zahra pada Bu Sari yang mendorong kursi rodanya.
Bu Sari menghentikan kursi roda Zahra. Zahra melihat dari celah pagar ke taman depan rumah. Di sana semua keluarga nampak berkumpul. Hingga jantung Zahra berdetak kencang saat melihat seorang lelaki yang merupakan Ayah dari Anak yang di kandungnya, Kenzo. Senyum nampak mengembang di bibir mereka semua. Hingga pandangan Zahra jatuh pada seorang wanita cantik berhijab yang nampak sangat dekat dengan Kenzo. "Mereka nampak sangat bahagia, Bu," ucap Zahra sendu.
Bu Sari mengusap lembut bahu Zahra. "Kita harus kesana, Nak," ucap Bu Sari.
Zahra melihat dirinya sendiri. Memandang kakinya yang sampai saat ini masih bergantung pada kursi roda. Kehadiran Zahra pasti hanya akan merepotkan. Lebih baik Zahra sudah dianggap meninggal, dari pada kembali menjadi sebuah beban. Batin Zahra sendu.
Zahra mengusap lembut perutnya saat matanya melihat Kenzo yang juga menatap perut Kina yang nampak membesar dengan pandangan sendu. Zahra beranggapan bahwa Kenzo memandang seperti itu untuk menyalurkan cintanya pada Kina, padahal kenyataanya, entahlah, Kenzo yang tau sendiri mengenai hatinya. Ternyata Kak Ken sangat mencintai Kina. Meskipun hanya dalam diam, tapi cinta Kak Ken untuk Kina sepertinya tidak akan pudar. Zahra senang, keluarga semua bisa memaafkan dan menerima Kak Ken layaknya keluarga sendiri lagi. Lanjut Batin Zahra lirih.
"Kita pergi saja, Bu," ucap Zahra menatap Bu Sari.
"Tapi Nak-"
"Alangkah lebih baik seperti ini saja, Bu. Ibu masih mau menerima Zahra dirumah Ibu, kan?" tanya Zahra sendu.
"Kamu sudah seperti anak Ibu sendiri, Nak. Tapi kamu tahu kehidupan Ibu sekarang. Apa kamu tidak keberatan hidup susah?" ucap Bu Sari tak enak. Dia melihat rumah keluarga Hebi saja sudah merasa tak enak.
"Zahra sudah biasa susah, Bu. Bahkan lebih dari yang Ibu bayangkan," ucap Zahra.
*Flashback Off*
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Sebentar lagi kita akan memasuki babak baru kehidupan Zahra. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍