
🌹HAPPY READING🌹
"Lelaki ini benar-benar gila," gumam Zahra pelan membuang wajahnya kesamping, namun masih terdengar oleh Kenzo. Kenzo hanya tersenyum dengan semua kelakuannya.
Tuan dan Nyonya kembali satu mobil. Batin Kenzo senang dengan segala kemenangannya.
Kenzo menyelipkan tangannya kebelakang pinggang Zahra. Memeluk erat pinggang ramping tersebut.
"Astagfirullahalazim," ucap Zahra terlonjak kaget ketika merasakan tangan Kenzo memeluk pinggangnya.
"Lepas tangan anda, Tuan!" ucap Zahra menatap Kenzo tajam.
"Kenzo hanya tersenyum dengan segala tingkah lugu yang saat ini di perankan. "Kenapa, Sayang?" tanya Kenzo dengan wajah polosnya.
Ingin sekali rasanya Zahra melempar sendal yang dia gunakan untuk segera didaratkan di wajah Kenzo. Lelaki ini benar-benar membuatnya frustasi.
"Loh, loh, Pak," ucap Zahra hendak protes saat toko kue tempat dia bekerja terlewat begitu saja.
"Jalan terus, Pak. Kita ke rumah," ucap Kenzo tegas.
Zahra langsung menatap Kenzo tajam. "Saya harus bekerja!" ucap Zahra.
"Siapa bilang kamu akan libur?" tanya Kenzo menaikan sebelah alisnya menatap Zahra.
Zahra menghirup udara banyak-banyak untuk meredakan emosinya. Dia tidak ingin jantungnya berumur pendek menghadapi laki-laki seperti Kenzo. "Pak, putar arah, Pak," ucap Zahra kepada Sopir.
"Maaf, Nyonya. Saya hanya diperbolehkan mendengar perkataan Tuan," jawab Sopir tersebut sopan.
"Ya Allah, cobaan apa ini," gumam Zahra mengusap dadanya mencoba bersabar atas apa yang terjadi saat ini. Kenzo benar-benar membuatnya gila.
Kenzo tersenyum senang melihat Zahra yang pasrah. Tangannya semakin erat memeluk pinggang Zahra. Semakin Kenzo mengeratkan pelukannya, Zahra semakin bergeser hingga tubuh mereka sudah mepet ke pintu mobil sebelah kanan.
"Jaga batasannya, Tuan Kenzo," ucap Zahra menunjuk tepat di wajah Kenzo.
"Sama istri sendiri ngapain harus jaga jarak, dosa tau," ucap Kenzo dengan wajah polosnya. Bahkan, lebih polos dari wajah Sela. Dan itu sangat mengesalkan bagi Zahra. Sungguh, ingin rasanya Zahra membuang pria didepannya ini ke palung Mariana biar mati dimakan ikan buas.
"Kata Mama sama Papa, suami harus selalu memanjakan istrinya, Sayang. Contohnya begini, cup," ucap Kenzo mencuri sebuah kecupan singkat di pipi Zahra.
"KENZOOOOO!!!" teriak Zahra kesal mengusap-ngusap pipinya yang terasa basah.
Tawa menggelegar terdengar keluar dari mulut Kenzo. Bangga sekali rasanya membuat Zahra seperti ini. Kekesalan ini lama-lama akan menjadi rindu, dan Kenzo berharap rindu ini akan menjadi cinta abadi sepanjang masa.
Sopir yang membawa mobil hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tuannya yang tampak berbeda di depan para karyawannya. Sikap dingin dan tegas Kenzo benar-benar hilang saat bersama Zahra.
Kenzo yang menyadari ada Sopir langsung diam dan menetralkan tawanya. Dia kembali memasang wajah datar tapi dengan senyum manis menatap Zahra.
"Jangan marah, Sayang. Nanti kamu makin Tua, sedangkan aku masih muda. Nanti dikira kamu jalan sama ponakan lagi, bukan sama suami," ucap Kenzo mencolek dagu Zahra.
Dengan kasar Kenzo melepaskan tangan Kenzo yang berada di pinggangnya. Setelah itu dia memandang keluar jendela. Zahra dapat melihat, jalan yang dia lewati saat ini adalah jalan yang dulu menuju tempat dimana penyiksaannya dimulai. Tempat dimana hidupnya benar-benar mendapat berbagai ujian. Tempat dimana dirinya benar-benar di uji sebagai istri dan sebagai wanita.
Kenzo yang melihat keterdiaman Zahra paham. Terpaksa Kenzo membawa dia kesini, ada sesuatu yang harus mereka luruskan kembali.
Lima menit, mobil Kenzo memasuki pagar rumah mewah tersebut. "Ayo turun, Sayang," ucap Kenzo setelah mobil tersebut berhenti tepat didepan teras rumah besar tersebut.
"Ini bukan rumah saya," ucap Zahra tetap pada posisinya dengan pandangan kosong menatap ke depan.
"Masuk, Sayang," ucap Kenzo kembali dengan nada lembut.
Zahra menoleh sebentar kepada Kenzo. Setelah itu dia mengalihkan pandangannya pada rumah besar tersebut. "Jangan paksa saya, lukanya masih basah," ucap Zahra menatap rumah tersebut sendu. Zahra memang tidak trauma dengan rumah besar ini, namun kesedihannya kembali ketika melihat bangunan ini.
Kenzo menghela nafas pelan. Dia mencoba meraih tangan Zahra dan menggenggamnya lembut. "Masuk sebentar saja," ucap Kenzo memohon.
Zahra menggeleng. "Silahkan ganggu hidup saya. Tapi untuk kali ini, tolong jangan paksa saya. Ini bukan bagian perjuangan, bukan? Jangan mengingatkan kembali kesedihan hidup saya," ucap Zahra menatap Kenzo sendu.
Kenzo mengangguk pasrah. Laki-laki itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Keluarlah. Langsung masuk mobil," ucap Kenzo lewat ponselnya. Setelah mengucapkan itu, Kenzo kembali menyimpan ponselnya.
Tidak berselang lama, pintu rumah itu terbuka. Nampak seorang wanita cantik keluar dari rumah tersebut. Zahra yang melihat itu kembali teringat, wanita itu adalah wanita yang dia lihat enam tahun lalu saat dia ingin kembali pada keluarganya, namun tidak jadi. Itu adalah wanita yang saat itu nampak akrab dengan Kenzo.
Dia bersikap seolah benar-benar mencintaiku. Tapi dia? Jadi dia akan mengenalkan aku dengan istri barunya, baguslah. Batin Zahra sendu menguatkan hatinya.
.....
Disekolah, Sela dipanggil untuk datang ke ruang kepala sekolah. "Acalamu'alaikum," ucap Sela memasuki ruangan yang sangat asing untuknya. Sela datang diantar oleh guru kelasnya. Namun, saat sampai di depan ruangan, Sela dipersilahkan masuk sendiri.
"Ibu panggil Cela?" tanya Sela sopan menunduk takut. Jari tangannya saling bertautan menyalurkan ketakutannya.
Ibu kepala sekolah tersebut tersenyum. Dia berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Sela.
"Duduk disini, Nak," ucap Bu kepala sekolah menggiring tubuh Sela untuk duduk di sofa.
Sela menurut dan mengikuti arahan Bu kepala sekolah.
"Sela," panggil Kepala Sekolah lembut.
"Iya, Bu Gulu," jawab Sela mencoba mengangkat kepalanya.
"Ibu ada surat untuk Sela agar diberikan kepada Bundanya, ya," ucap Kepala Sekolah memberikan sebuah amplop putih kepada Sela.
"Ini apa Bu Gulu?" tanya Sela. Tangannya bergerak menerima amplop tersebut.
"Ini surat untuk Bunda Sela. Setelah sampai di rumah, Sela langsung kasih sama Bundanya, ya. Jangan sampai hilang," ucap Kepala sekolah.
"Baiklah. Terimakasih, Bu Gulu," ucap Sela sopan.
Kepala sekolah mengangguk. "Sekarang Sela boleh kembali ke kelas, ya. Lanjutkan belajarnya," ucap Kepala sekolah.
Sela mengangguk. Anak itu berdiri dan menyalami tangan kepala sekolahnya. "Acalamu'alaikum, Bu," ucap Sela pamit.
"Waalaikumsalam," jawab Kepala sekolah.
.....
Sela keluar dari ruang kepala sekolah. Anak itu berjalan dengan sebuah amplop yang ada ditangannya.
"Sela," panggil seseorang yang menghentikan langkah Sela.
Sela berbalik dan menatap seseorang yang memanggilnya dengan mata berbinar. "Daddy," ucap Sela senang melihat Al yang memanggilnya.
Al merentangkan tangannya. Sela langsung berhambur memeluk Al. "Cela kangen Daddy. Apalagi adik Adam," ucap Sela memeluk Al.
Al tersenyum. Dia memeluk erat ponakan yang sangat mirip dengannya waktu kecil. "Sela darimana, Nak?" tanya Al.
"Dali luang kepala cekolah, Daddy. Dapat ini," ucap Sela melepas pelukannya dan memperlihatkan amplop yang tadi dia terima dari Kepala sekolah.
"Boleh Daddy lihat?" tanya Al yang dibalas anggukan eh Sela.
Al langsung membuka amplop tersebut. Mata Al memanas melihat apa yang tertera di kertas putih tersebut. Tapi sekuat tenaga dia menahannya agar tidak membuat Sela bingung.
"Ibu Kepala Sekolah bilang apa, Nak?" tanya Al.
"Culuh Cela kacih ini cama Buna, Daddy," jawab Sela.
Al menggeleng. "Jangan bilang Bunda, ya. Biar Daddy yang bawa lagi surat ini ke Kepala Sekolah," ucap Al.
"Tapi-"
"Sekarang Sela ke kelas, ya. Biar Daddy yang urus suratnya gantiin Bunda," ucap Al.
"Memangnya boleh Daddy?" tanya Sela polos.
Al mengangguk. "Boleh, Sayang," jawab Al.
"Kalau begitu Cela ke kelas, ya Daddy. Cela cayang Daddy," ucap Sela.
"Daddy juga sayang Sela," jawab Al.
Setelah kepergian Sela, Al meremas kuat amplop yang ada ditangannya. Sebagi salah satu donatur terbesar sekolah, Al merasa malu bahwa Sela, yang merupakan anak dari adiknya sendiri harus menunggak dalam pembayaran sekolah. Bahkan uang masuk sekolah Sela saja belum lunas.
Setelah ini tidak akan ada lagi surat terkutuk seperti ini. Batin Al kesal dan langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘