Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 181



🌹HAPPY READING🌹


Ibra memanggil penjaga yang dia tugaskan membantu merawat kudanya untuk mengeluarkan kuda ke gelanggang milik Ibra.


"Pakai atributnya," ucap Ibra memberikan atribut berkuda pada Sela dan Shasa.


"Bismillah dulu, oke," ucap Ibra setelah kedua cucunya selesai menggunakan atribut dan telah menaiki kuda.


Sela dan Shasa saling pandang. Mereka seolah ingin memberi kejutan pada sang Kakek. "Satu, dua, tiga, go!" teriak Sela dan Shasa bersamaan.


Ibra dibuat melongo melihat cucu-cucu perempuannya itu. Bagaimana bisa?


Mata Ibra dengan lihai mengikuti Sela dan Shasa yang sedang beriringan menunggangi kuda mereka.


"Itu cucu-cucu gue kan?" gumam Ibra tak percaya dengan gerakan lincah kedua cucunya dalam berkuda.


Ibra sangat takjub. Dia dapat melihat Sela dan Shasa dengan lihai menunggangi kuda mereka. Tangan dan kaki mereka bekerjasama dengan baik. Bahkan posisi badan mereka seperti seorang atlit kuda yang sudah profesional.


Ini pasti ada yang dilewatkan oleh Ibra. "Nanti gue harus bertanya nih," gumam Ibra lagi entah pada siapa.


Lima belas menit, Sela dan Shasa kembali.mendekati Ibra dengan langkah kuda mereka yang hanya berjalan. "Mau bertanding, Kakek?" tanya Shasa dan Sela bersamaan seolah menantang Ibra.


Ibra tersenyum senang. "Kakek pasti akan kalah nanti. Sekarang ayo turun dan lepas dulu atributnya," ucap Ibra.


Sela dan Shasa menurut. Mereka turun dari kuda dengan sedikit melompat kebawah.


"Kakek nggak nyangka kalian benar-benar jago," ucap Ibra setelah kedua cucunya sudah selesai melepas atribut berkuda tersebut.


"Sela dan Shasa gitu loh," jawab mereka berdua dengan bangga. Ibra ikut bangga, kedua cucunya itu ternyata sangat menguasai olahraga yang sangat-sangat elit menurutnya.


"Sekarang kemana lagi?" tanya Ibra menggandeng kedua gadis kecil itu dikedua sisinya.


"Mau lihat kebun Nenek. Mana tahu stroberi yang waktu itu kita tanam udah jadi," ucap Shasa yang dianggukki oleh Sela.


"Mana mungkin udah ada buahnya, Sayang. Kalian baru menanamnya kemarin-kemarin ini. Kita harus sedikit bersabar menunggu dia berbuah," ucap Ibra.


"Yang penting masuk rumah kaca, Kakek," jawab Sela.


"Baiklah-baiklah. Kalian yang atur sekarang," ucap Ibra menuruti keinginan kedua cucunya ini.


Di kebun milik Dee juga memiliki rumah kaca khusus berbagai macam tanam kesayangannya.


"Wah, bunga nenek makin banyak," ucap Sela berdecak kagum melihat sekeliling rumah kaca itu. Rumah kaca itu memang tidak luas, tapi rumah kaca milik Dee ini memiliki tingkat dua. Dan ditingkat dua, khusu tanaman langka yang sangat dia rawat dengan tangannya sendiri. Terdapat meja dan kursi ditengah-tengah rumah. Sederhana, namun terlihat sangat mewah. Mata Sela dan Shasa disuguhi dengan banyak warna dari bunga-bunga milik Dee.


"Mata Sela rasanya seger banget, Kakek," ucap Sela masih dengan menatap bunga-bunga indah itu.


"Hu'um," gumam Shasa setuju.


Ibra terdiam mendengar kata yang diucapkan Sela. "Kamu sudah lancar semua huruf, Nak?" tanya Ibra.


Sela tersenyum malu dan mengangguk. Padahal dirinya dari tadi memberi kode, tapi namanya orang yang sudah tua agak lambat mikirnya, jadi Sela maklum.


"Wah, hebat. Kedua cucu Kakek memang nggak bisa diragukan," ucap Ibra memuji tanpa membedakan semua cucu-cucunya.


Mereka masih melanjutkan langkah kaki mengelilingi rumah kaca tersebut. Merasakan sedikit lelah, Ibra mengajak kedua cucunya untuk duduk di kursi yang ada disana.


"Minum dulu. Ini buat Sela, dan ini untuk Shasa," ucap Ibra memberikan minum. Dee memang menyediakan stok minuman dirumah kaca miliknya agar tidak repot jika dia haus ketika berkebun.


"Kakek," panggil Shasa setelah meneguk minuman.


"Iya," jawab Ibra lembut.


"Tadi, aku sama Sela cerita-cerita sama teman-teman disekolah tentang pacaran. Pacaran itu apa, Kakek?" tanya Shasa polos. Begitu juga dengan Sela yang menunggu jawaban Kakeknya.


Ibra tersedak mendengar pertanyaan cucunya itu.


"Minum lagi, Kakek," ucap Sela mengusap punggung Ibra seperti apa yang Bundanya lakukan jika dia tersedak minuman.


Setelah sedikit tenang, Ibra menutup botol minumnya. "Anak-anak kecil tahu darimana pacaran?" tanya Ibra.


"Kan tadi Shasa udah bilang dari teman sekolah, Kakek," jawab Shasa.


"Pertemanan yang gak baik," gumam Ibra menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


"Pacaran itu tidak baik, Nak. Dosa," jawab Ibra.


"Benarkah?" tanya Sela memastikan.


"Pacaran itu Zina, tidak menyenangkan. Yang senang itu pacaran setelah menikah. Jadi kalian harus punya pasangan hidup yang sah baru boleh pacaran," jawab Ibra yang tidak memikirkan bahwa jawabannya sangat susah dicerna oleh otak kedua gadis kecil itu.


"Berarti, Kakaknya Sena Zina dong, Kakek?" tanya Sela polos.


"Siapa itu?" tanya Ibra tak tahu dengan siapa yang disebut oleh Sela.


"Itu loh, teman kita yang ngasih tahu pacaran itu," jawab Sela lagi.


Ibra mengangguk. "Dan jika kalian sudah mendekati Zina, maka bukan hanya kalian yang menanggung dosa, tapi juga kedua orang tua kita. Papa dana mama, juga Ayah dan Bunda kalian," ucap Ibra menjelaskan dengan lebih sederhana.


"Nanti tinggal taubat dan minta maaf sama Allah, Kakek," jawab Sela yang disetujui Shasa.


Ibra menghela nafas pelan. Kedua cucunya ini benar-benar kompak dalam hal apapun. Terutama dalam membuat orang pusing.


"Intinya pacaran harus setelah menikah, udah titik pakai tanda seru," jawab Ibra.


Kedua gadis kecil itu hanya mengangguk dengan wajah polos mereka.


"Em, Kakek," panggil Sela lagi.


"Iya."


"Apa kita harus mencari pasangan seperti Ayah kita?" tanya Sela yang sudah tidak tahan dengan rasa penasarannya.


Ibra menggeleng. "Yang pasti, kita harus mencari pasangan baik dan menyayangi kita, Nak. Yang tidak meninggalkan kita dalam keadaan apapun," jawab Ibra.


Shasa mengangguk setuju dan berseru senang. "Shasa mau yang kayak Papa sifatnya. Penyayang dan nggak pernah ninggalin Mama," ucapnya Semangat.


Sela diam menatap Ibra dan Shasa bergantian. Dia ragu untuk bertanya lagi. Mungkin mengerti sampai disini saja sudah cukup untuknya.


.....


Zahra memandangi punggung anaknya yang berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Kini mereka berdua sudah sampai dirumah. Mereka pulang setelah selesai makan siang bercerita bersama dirumah Dee.


Sejak makan siang tadi, Zahra memperhatikan anaknya yang lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya yang selalu berisik bersama Shasa. Bahkan di mobil, anak itu lebih banyak diam dan hanya menjawab seadanya pertanyaan Zahra.


Zahra melangkahkan mengikuti Sela. Dia harus bertanya agar anaknya tidak memendam sendiri isi pikirannya.


Zahra mengetuk pintu kamar Sela terlebih dahulu. "Boleh Bunda masuk, Nak?" tanya Zahra dari balik pintu.


"Masuk aja, Bunda. Pintunya nggak dikunci," jawab Sela sedikit berteriak dari dalam.


Zahra membuka pintu dan langsung masuk ke kamar Sela. Dia melihat Sela yang sedang merapikan pakaian sekolahnya yang baru dibuka dan masih menggunakan baju singlet dan celana pendeknya.


"Mandirinya anak Bunda," puji Zahra.


"Harus dong," jawab Sela senang.


Setelah Sela selesai, dia naik ke ranjang dan ikut duduk di sebelah Zahra. "Apa apa, Buna?" tanya Sela.


Zahra tersenyum. "Ada yang Sela pikirkan, Nak?" tanya Zahra mengusap lembut rambut Zahra.


Sela terdiam sebentar. Setelahnya, anak itu menggeleng dengan menampilkan senyumnya pada sang Bunda.


"Jangan memendam sendiri, Nak. Bunda tahu bagaimana anak bunda ini," ucap Zahra lembut.


Mendengar perkataan Zahra, Sela langsung memeluk Bundanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tidak terlalu erat karena dia masih mengingat calon adiknya yang ada di perut Zahra dan tidak mau menyakitinya. Dia tidak mau memikirkan ini, tapi tipe Sela yang pemikir membuat dia harus memendamnya saja.


"Ada apa, Nak?" tanya Zahra lagi.


"Bunda," panggil Sela dengan suara bergetar dan.masih memeluk Zahra.


"Iya Nak," jawab Zahra.


"Sela durhaka nggak bunda kalau nggak mau punya pasangan kayak Ayah?"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏