Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 42



🌹HAPPY READING🌹


Ibra, Dee, Kevin, Sofia dan Yana berjalan mengikuti tim penyelamat yang mengatakan bahwa mereka menemukan seorang mayat perempuan.


Semoga ini bukan kamu, Nak. Batin Sofia dengan harapan yang masih sangat besar jika anaknya masih selamat.


"Apa mayatnya bisa dikenali?" tanya Dee dengan bahasa Yaman pada salah seorang tim penyelamat tersebut.


"Sangat sulit. Karena kami perkirakan, dia tertimbun lumpur dan terendam banjir sudah dua hari, dan-"


"Tidak usah diteruskan," ucap Dee cepat. Dia tidak mau mendengar perkataan yang membuat hatinya sakit.


Yana yang mengerti semua perkataan mereka hanya bisa berdoa, meskipun air matanya ikut menetas mendengar perkataan tim penyelamat tadi. Aku gagal menjaga Amanah, Ya Allah. Maafkan aku. Batin Yana sakit.


Sofia yang paham dengan segala rasa bersalah Yana menggenggam tangan wanita tersebut. "Bukan salahmu. Mungkin ini memang sudah takdir. Zahra selalu berpesan padaku, tidak ada manusia yang menjadi penyebab manusia lainnya tersakiti. Pasti ada campur tangan Tuhan atas semua itu. Entah itu takdir, nasib ataupun azab dan cobaan sekalipun. Yang perlu kita lakukan hanya sabar dan tetap percaya pada ketentuannya," ucap Sofia tegar.


Yana hanya mengangguk meskipun air matanya tak berhenti menetes sedari tadi.


"Ini mayatnya, Tuan, Nyonya," ucap Tim penyelamat tersebut setelah mereka sampai disana.


Ibra dan Kevin saling pandang. Kevin mengangguk dan maju untuk lebih dekat. Dia berjongkok di depan mayat tersebut dan mulai membuka resleting pembungkus mayat tersebut.


Tidak ada bau busuk dari mayat tersebut setelah Kevin membukanya. Padahal mayat ini sudah tak bisa dikenali sama sekali.


"Itu bukan Zahra," ucap Sofia menangis.


Dee yang melihat itu dengan sekuat tenaga ikut mendekat. Matanya meneliti mayat tersebut, hingga pandangan Dee terhenti pada jari tangan mayat tersebut yang nampak bercahaya.


"Ini cincin pernikahan Zahra dan Kenzo," ucap Dee bergetar.


"Hiks, Mas," ucap Dee melihat Ibra.


Ibra langsung memeluk Dee yang sudah tak bertenaga. "Cincin ini pasti banyak dijual kan, Mas," ucap Dee meyakinkan dirinya.


Sofia mengambil cincin tersebut dari tangan Dee dan menatapnya. "Hanya Zahra yang memiliki cincin ini, Dee. Cincin ini didesain langsung oleh Zahra saat dia masih kecil. Ini adalah cincin impiannya. Hingga saat akan menikah dengan Kenzo, Zahra langsung memesan cincin seperti ini," ucap Sofia dengan tangisnya.


"Kamu Ibunya, harusnya kamu optimis kalau itu bukan Zahra, Sofia," ucap Dee tak terima.


"Sayang," ucap Ibra.


"Enggak Mas, itu bukan Zahra. Cincin itu bisa dimiliki banyak orang. Dia bukan Zahra!" ucap Dee yakin.


"Wanita ini juga meninggal dalam keadaan hamil, Nyonya," ucap Tim penyelamat tersebut.


Tangis Yana dan Dee semakin pecah mendengarnya. "Tidak! Itu bukan Zahra," ucap Dee yang sudah terduduk di tanah.


"Maafkan aku tidak bisa menjaga Zahra," ucap Yana dengan segala penyesalan dan rasa bersalahnya.


"Wanita mana saja bisa hamil kan, Mas. Semua wanita bisa hamil, kan. Itu bukan Zahra," ucap Dee yakin.


"Bawa jenazahnya. Kami akan memakamkan anak kami dengan layak," ucap Ibra.


"Enggak! Dia bukan Zahra, Mas," ucap Dee yakin.


"Kamu yang menguatkan kami, Dee. Kenapa kamu yang seperti ini?" ucap Sofia sendu.


"Anak kita masih hidup, Sofia," ucap Dee kekeuh dengan nada lirih.


"Bukankah kamu yang mengajarkan iklhas, Dee, hiks? Tolong kuatkan kami," ucap Sofi menangis.


Kevin berdiri dan memeluk Sofia. Tangannya mengusap lembut punggung Sofia yang bergetar.


.....


Kenzo menyusuri jalanan yang benar-benar kumuh akibat banjir. Sepatu yang awalnya sangat bersih dan mengkilat, kini sudah seperti sepatu bekas yang keluar dari lumpur. Warna yang semula hitam berubah menjadi coklat akibat lumpur. Tapi semua itu tidak berpengaruh pada Kenzo. Hati dan pikirannya hanya berfokus pada Zahra, istri kesayangannya.


"Aku yakin kamu pasti selamat, Sayang," gumam Kenzo meyakinkan dirinya disaat yang lainnya sedang ke tempat lain untuk melihat seorang mayat wanita yang ditemukan oleh tim penyelamat.


Kenzo mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Sampai pada sudut sebuah rumah, dia melihat seorang anak laki-laki yang duduk termenung sambil memandangi rumah tersebut.


Kenzo ingin sekali mendekat, tapi dia tidak akan bisa mengerti jika nanti diajak bicara oleh anak tersebut. Karena rasa penasaran dan kasihannya, Kenzo membelokkan langkahnya menuju anak lelaki tersebut.


"Assalamu'alaikum," ucap Kenzo pelan.


Anak laki-laki tersebut menoleh sebentar dan kembali melihat pada rumah di depannya. Kenzo ikut berjongkok disebelah anak tersebut. "Kehilangan memang menyakitkan," ucap Kenzo dengan Bahasa Indonesia.


Nampak raut keterkejutan dari mata Kenzo mendengar anak tersebut berbahasa Indonesia. Karena jika di lihat dari wajahnya, anak ini seperti bukan orang Indonesia. Wajah Arab sangat melekat pada dirinya.


"Kamu bisa berbahasa Indonesia?" tanya Kenzo.


Anak kecil tersebut tidak mengangguk. "Saya datang kesini sehari sebelum bencana datang. Niat yang awalnya ingin berkumpul dengan seluruh keluarga disini, kini berubah menjadi kesendirian," ucap anak laki-laki yang berusia sepuluh tahun tersebut.


"Mengapa duduk disini? Mungkin keluargamu ada di tempat pengungsian," ucap Kenzo.


Anak laki-laki tersebut menggeleng. Kemudian dia menatap Kenzo dengan mata berkaca-kaca. "Ada wanita yang sangat aku sayangi disana," ucap anak laki-laki tersebut menunjuk rumah di depannya.


"Wanita yang kau sayangi?" tanya Kenzo tak paham.


Anak lelaki itu mengangguk. "Ibu ada disana," ucap anak itu sendu.


"Lalu mengapa tidak meminta bantuan tim penyelamat untuk membantu Ibumu?" tanya Kenzo heran.


"Mereka tidak menemukannya," ucap anak lelaki tersebut.


"Aku ingin menunggu Ibu disini. Pasti dia akan kembali. Tidak ada seorang Ibu yang tega meninggalkan anaknya sendiri, bukan. Jadi kau boleh pergi, jika nanti Ibu melihat ada lelaki yang bukan muhrimnya disini, Ibu tidak akan mau keluar," ucap anak itu optimis dengan pemikirannya.


"Tapi-"


"Pergilah, mungkin keluargamu juga sedang menunggu kedatanganmu," ucap anak lelaki tersebut.


Kenzo berdiri dan menatap jauh ke dalam rumah tersebut. Kenzo membalikkan badannya dan melangkah pergi.


Saat langkah Kenzo sudah sedikit jauh, dia mendengar suara teriakan yang diselingi tangis. Kenzo berbalik dan melihat seorang wanita yang keluar dari rumah tadi dengan pakaian penuh lumpur dan wajah yang sangat kotor. "Ibu," teriak anak kecil tadi. Mereka berdua saling berpelukan erat. Ikatan antara Ibu dan Anak ini benar-benar terasa sangat nyata.


Kenzo memegang dadanya yang terasa berdebar kencang. "Apa keyakinanku bisa seperti anak itu, Zahra?" tanya Kenzo pada dirinya sendiri.


"Aku mohon selamatlah. Jika bukan karena aku, selamatlah demi Umi dan Bunda, Sayang. Mereka Ibu terbaik di dunia karena memiliki putri sepertimu," gumam Kenzo.


Kenzo kembali melangkahkan kakinya untuk menyusuri kota yang terkena banjir tersebut. Kepalanya terus ke kiri dan ke kanan dengan doa yang selalu terucap di mulutnya.


Langkah Kenzo terhenti ketika melihat seorang wanita duduk membelakanginya. "Zahra," gumam Kenzo. Dia melihat postur tubuh Zahra pada wanita tersebut.


Kenzo berjalan cepat dengan senyum mengembangnya. "Zahra," panggil Kenzo lembut.


Wanita bercadar tersebut menoleh dan nampak menunduk melihat Kenzo. Tangan Kenzo bergerak menyentuh wanita tersebut. Tapi belum sempat kulitnya bersentuhan dengan kain baju wanita tersebut, sebuah tangan sudah menahannya. "Jangan menyentuh wanita sembarangan disini, Kenzo," ucap Ibra yang datang tiba-tiba.


"Abi," ucap Kenzo.


"Dia Zahra, Abi," ucap Kenzo lagi sambil menunjuk wanita tersebut.


Ibra hanya diam dan menggeleng menjawab perkataan Kenzo. "Dia bukan Zahra," ucap Ibra.


Kenzo mengalihkan pandangannya pada Dee, Sofia dan Yana. Kenzo melihat mata mereka yang bengkak. Walaupun wajahnya tertutup cadar, tapi Kenzo yakin mereka menangis.


"Ada apa, Umi?" tanya Kenzo pada Dee.


Dee menggeleng. Dia tidak tahu harus berkata bagaimana pada Kenzo. Dia tidak tahu harus bagaimana menyampaikan semuanya pada Kenzo.


Melihat Dee yang hanya diam, Kenzo kembali mengedarkan pandangannya dan melihat tim penyelamat di belakang mereka dengan sebuah bungkus mayat di atas tandu yang mereka jinjing di bahu. "Itu mayat siapa, Umi?" tanya Kenzo.


"Bunda, itu mayat siapa?"


"Itu mayat siapa, Bibi?"


Mereka semua hanya diam mendengar pertanyaan Kenzo.


"Abi," panggil Kenzo menatap Ibra dengan wajah penuh tanya.


"Kita harus segera memakamkan Zahra, Nak," ucap Ibra lirih.


DEG


......................


Akhirnya aku update lagi. Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.


Aku mau mengucapkan mohon maaf lahir batin ya teman-teman. Semoga kita kembali suci setelah melewati ramadhan penuh berkah ini. Semoga kita semua bisa berjumpa dengan ramadhan tahun depan, dan pastinya kalian kembali bertemu dengan tulisan-tulisan aku berikutnya.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍