
🌹HAPPY READING🌹
Kenzo mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di dada Zahra mencari kenyamanan.
"Mas," panggil Zahra.
"Hem," jawab Kenzo. Mata lelaki itu masih terpejam menikmati sentuhan lembut tangan Zahra di rambut dan kepalanya.
Zahra terdiam sebentar. Dia sedikit ragu memberitahu Kenzo mengenai ini. Tapi dia juga ingin tahu mengenai keadaan Kinzi sekarang. Dia sangat berharap bahwa apa yang tadi dia lihat adalah salah dan tidak sesuai dengan prasangka nya.
"Mas, keadaan Kak Kinzi bagaimana? Apa kamu sudah menghubunginya? Soalnya, tadi saat dirumah sakit, aku melihat seseorang yang begitu mirip dengan Kak Kinzi, Mas," ucap Zahra yakin.
"Sejak Kak Kinzi kembali ke Paris, kita belum menghubunginya lagi Mas. Ini sudah beberapa Minggu. Apa kamu tidak merindukannya?" sambung Zahra.
Merasa tidak ada jawaban dari Kenzo, Zahra menunduk melihat suaminya itu. Zahra menghela nafas pelan dan tersenyum melihat Kenzo yang sudah tertidur di dadanya. "Aku dibiarin ngomong sendiri," gumam Zahra dengan mengusap lembut rambut Kenzo.
Kenzo melihat sekeliling rumah dari balkon. Angin malam tidak terlalu dingin sekarang. Dia memutuskan untuk ikut tidur dengan kepala disandarkan di kepala Kenzo.
.....
Zahra terbangun dari tidur nyenyak nya. Wanita itu membuka mata dan melihat dia sudah berada di kasur. Zahra nampak berpikir sedikit. "Bukanya semalam aku tidur di balkon sama Mas Ken?" tanya Zahra.
"Aku yang angkat, Sayang," ucap Kenzo yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mas," panggil Zahra bingung melihat Kenzo yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Bukannya ini masih subuh banget untuk mulai kerja, Mas?" lanjut Zahra melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Kenzo mengangguk. "Dini hari tadi Arman meneleponku, Sayang. Ada sedikit masalah dengan klien yang bekerjasama dengan perusahaan di Bogor. Klien meminta rapat langsung denganku pagi ini, jadi aku harus ke Bogor sekarang, Sayang," jawab Kenzo dengan sedikit kesal.
"Klien apa itu? Apa dia tidak tahu jika orang harus sarapan dulu. Dan jarak Jakarta-Bogor itu tidak dekat," sebal Zahra.
"Rasanya aku ingin mengumpati klien itu juga, Sayang," sambung Kenzo menggerutu.
"Kalau begitu aku pergi dulu, ya Sayang."
"Sarapan dulu Mas," ucap Zahra yang segera bangun dari tidurnya dan sedikit memaksa. "Aku buatin sarapan dulu, ya," ucap Zahra tanpa memperhatikan dirinya yang masih memakai baju tidur.
"Udah kamu istirahat aja. Aku langsung pergi, ya. Arman sudah menunggu diluar," cegah Kenzo.
"Mas akan pulangkan?" tanya Zahra. Dia tidak ingin semalam saja tidak ditemani tidur oleh Kenzo.
Kenzo tersenyum dan mengangguk. "Selesai meeting, aku langsung pulang. Jakarta-Bogor tidak begitu jauh, Sayang," ucap Kenzo.
"Aku pamit, ya. Anak Ayah baik-baik ya. Ayah kerja dulu, Assalamu'alaikum," ucap Kenzo pamit dan mencium kepala Zahra.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra.
"Jangan lupa ke Sela dulu, Mas," teriak Zahra pada Kenzo yang sudah sampai diambang pintu.
"Iya Sayang," jawab Kenzo.
Pergi kemanapun, mereka harus izin terlebih dahulu kepada si gadis kecil meskipun dia masih tidur. Kenzo memang selalu melakukan itu. Setidaknya untuk mengecup keningnya saja, karena dengan begitu dia merasa lebih lega dan bertambah semangat dalam bekerja.
.....
Sela dan Shasa kini sedang berkumpul bersama teman satu kelasnya. Mereka duduk melingkar dengan bekal yang diletakkan di atas meja mereka masing-masing. Sekolah mereka memang memberikan waktu tiga puluh menit untuk anak-anak menghabiskan bekal makan mereka. Dan waktu itu digunakan oleh Sela dan teman-temannya untuk saling bertukar cerita.
"Jam tanganku bagus kan. Ini tu ada kameranya dan bisa menelpon tau. Bagus kan," ucap Salah seorang gadis kecil yang bernama Sena memamerkan jam tangan barunya. Tangannya diangkat tinggi-tinggi agar temannya bisa melihat jam tangan itu.
Kecil-kecil sudah pintar pamer dan bergosip.
"Wah," decak kagum para teman-temannya yang melihat itu dengan mata berbinar. Termasuk Sela dan Shasa.
"Kamu beli dimana, Sena?" tanya Shasa penasaran.
"Ini beli di mall kemarin sore. Aku diajak pacar kakakku untuk ikut mereka pacaran, dan dibelikan ini," jawabnya semangat.
"Pacar?" tanya Rini, teman lainnya yang duduk disebelah Shasa.
"Pacar itu apa?" tanya Sela yang juga penasaran.
Sena nampak berpikir. "Pacar itu pasangan kita. Begitu kata Kakakku," jawab Sena.
"Dimana kita bisa mendapatkannya?" tanya Sela lagi.
Sena mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
"Aku juga mau punya pacar, biar nanti bisa belikan mainan untuk adik yang ada di perut Bunda," lanjut Sela.
"Sela benar. Nanti kita minta bantuan Mama dan Bunda aja Sela," ucap Shasa menyampaikan idenya.
"Ide yang baik, Shasa," jawab Sela senang dan kedua gadis kecil itu ber tos ria karena ide cemerlang itu.
"Aku pernah dengar Mama bilang seperti ini sama Kakak waktu makan malam. Kakak kalau mau pacaran carilah yang menyayangi kakak seperti Papa menyayangi kita. Yang menjaga kita dengan sebaiknya. Seperti Papa yang selalu menjaga kita dari bayi. Begitu kata Mama," ucap Sena lancar menirukan gaya bicara mamanya sambil berdiri dari kursinya.
"Kita kan masih kecil, jadi belum boleh pacaran. Kalau kakak kamu kan sudah besar, Sena," ucap Ria. Salah satu murid yang duduk di sebelah Sena.
"Iya, tugas kita itu hanya bermain, belajar, makan, buat PR, tidur dan sekolah," tambah teman yang lainnya bernama Nindy.
"Biarkan sajalah, yang penting aku sudah punya jam tangan canggih ini," ucap Sena bangga.
"Ayo makan, jangan pamer lagi, Sena," peringat Ria.
Sena memandang Ria dengan cengirannya. Bahkan anak itu tidak tersinggung dengan ucapan Ria barusan. "Bukan pamer, hanya memberitahu," jawabnya membela diri.
Setelah itu, mereka semua melanjutkan makan bekal yang sejak tadi di diamkan. Tapi tidak dengan Sela, anak itu masih mencerna ucapan Sena tadi mengenai ucapan Mamanya.
Carilah pacar yang seperti Papa. Emang pacar itu untuk apa? Pacar itu seperti apa? Apa mungkin harus mencari yang seperti Ayah? Batin Sela bertanya-tanya. Anak itu sungguh penasaran dengan yang namanya pacaran.
"Nanti kita tanya Nenek. Kan kita nanti main ke rumah Nenek," ucap Shasa yang mengerti isi pikiran sepupunya itu.
Sela tersenyum dan mengangguk. Dia mulai menyuapi bekal tersebut ke mulutnya. Ada sorot sendu dalam mata Sela setelah mendengar perkataan Sena tadi.
Sela takut jika mendapat pasangan seperti Ayah nanti.
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏