Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 204



🌹HAPPY READING🌹


Sela yang senang bukan main langsung berlari memeluk lelaki yang sangat dia rindukan itu. "Sela rindu Kakek!" teriaknya sambil berlari.


Hap.


Dengan rapat tubuh anak itu memeluk erat Kevin. Kevin mengangkat Sela dalam gendongannya dan memutar-mutar tubuh kecil itu. "Kakek juga sangat merindukan kamu, Nak," jawab Kevin mengecup seluruh wajah cucunya itu.


Lain halnya dengan Sela, Zahra memandang heran seorang wanita paruh baya yang datang bersama Kevin.


"Ibu Nende," gumam Zahra pelan.


Bu Nende yang menyadari kebingungan Zahra tersenyum lembut. "Hai Zahra," ucap Bu Nende tersenyum lembut.


Zahra balik tersenyum kikuk. Sungguh, kebingungan saat ini sangat melanda hati dan pikirannya.


"Ayah-"


"Nanti Ayah jelaskan, Nak. Sekarang kita ke rumah dulu. Ayo Ib, Dee," ajak Kevin pada mereka semua.


"Gue butuh banyak penjelasan setelah melihat kondisi Lo disini," ucap Ibra menatap sahabatnya itu dari atas sampai bawah. Karena benar saja, Kevin nampak lebih kurus dari sebelumnya.


Kevin terkekeh pelan. "Gue bakal jawab semua pertanyaan Lo," jawab Kevin tenang.


Setelahnya, mereka semua berjalan keluar dari Bandara menuju mobil.


Tiga puluh menit dari perjalanan, mobil mereka sampai didepan sebuah rumah mewah dengan gaya klasik khas Turki. "Ini rumah siapa, Ayah?" tanya Zahra bingung. Pasalnya, rumah mereka dulu bukan seperti ini. Dan juga rumah mereka yang dulu tidak semegah ini.


"Rumah kita, Nak," jawab Kevin.


Zahra hanya mengangguk tanpa curiga sedikitpun. Mungkin Ayahnya membeli rumah baru, pikir gadis itu.


Pintu rumah terbuka. Mereka semua memasuki rumah besar itu. Kedatangan mereka disambut oleh beberapa pelayan yang sudah menunggu.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya dan Nona Muda," ucap para pelayan mengangguk hormat.


"Eriye, tolong bantu bawa barang mereka ke kamar yang kamu siapkan," ucap Kevin kepada Eriye, kepala pelayan dirumah besar itu.


"Baik Tuan," jawab Eriye hormat. Eriye memerintah beberapa pelayan untuk membantu membawa barang-barang mereka.


"Bahasa Indonesia?" tanya Ibra menatap Kevin. Karena pasalnya, setahu dia para pelayan disini tidak bisa menggunakan bahasa selain Turki dan Inggris.


"Aku sengaja mempekerjakan pelayan yang menguasai banyak bahasa. Aku tidak ingin gadis kecilku ini nanti kesusahan," jawab Kevin menatap Sela yang ada di gendongannya.


Sela yang mendengar itu tersenyum senang. "Terimakasih banyak, Yang mulia, ucap anak itu membungkuk hormat dalam gendongan Kakeknya.


Mereka semua tersenyum lembut. "Ayo ke ruang keluarga," ajak Kevin dan meminta semuanya untuk mengikuti langkahnya ke ruang keluarga.


.....


Mereka semua sudah duduk di ruang keluarga dengan si kecil Sela yang tak mau lepas dari pangkuan Kevin. Anak itu benar-benar sangat memanfaatkan waktu untuk bermanja-manja dengan Kakeknya.


"Zahra," panggil Kevin lembut.


"Iya Ayah," jawab Zahra.


"Ada seseorang yang ingin bertemu kamu, Nak," ucap Kevin.


"Seseorang? Siapa Ayah?" tanya Zahra penasaran.


Kevin diam. Zahra yang melihat itu menatap Abi, Umi dan Kenzo. Mereka semua hanya tersenyum melihat kebingungan Zahra.


"Keluarlah, Baba!" ucap Kevin dengan suara sedikit keras.


Tak, tak, tak.


Suara tongkat kayu bertemu dengan lantai marmer itu memenuhi ruangan seketika.


Zahra mengangkat kepalanya. Di ujung ruang keluarga menuju tangga, Zahra melihat seroang lelaki tua berdiri dengan gagahnya dan sedang menatapnya dengan senyuman lembut menghiasai wajah tua itu.


Di samping pria itu juga ada seorang lelaki paruh baya lainnya, kira-kira seumuran dengan Ibra dan Kevin.


Kenzo yang melihat lelaki paruh baya disebelah pria tua itu tersenyum sambil mengangguk-ngangguk kan. Aku sudah menduga semua ini. Batin Kenzo.


Pria tua itu berjalan dengan perlahan mendekati ruang keluarga. Hingga kakinya berhenti di sebelah sofa yang diduduki oleh Kevin.


"Zahra," panggilnya lembut pada Zahra yang sejak tadi memperhatikannya.


Zahra berdiri. Wajah pria tua ini sangat tidak asing untuk nya. Dia seperti melihat wajahnya versi lelaki pada pria tua itu. Mulai dari hidung, mulut, bahkan dahi mereka nampak sama persis. Hanya warna mata mereka yang berbeda. Dan juga kulit dia yang sedikit lebih gelap dari Zahra. Tapi untuk seorang lelaki, pria tua itu termasuk putih.


Kaki Zahra melangkah pelan mendekati pria tua itu. Matanya terus menatap lembut wajah tua itu.


"Apa kamu Ayah kandung Zahra?" tanya Zahra spontan setelah dia berada tepat di depan lelaki itu.


Mata pria tua itu berkaca-kaca. Sungguh, bagaikan mimpi baginya bisa berdekatan dengan satu-satunya keluarga kandung yang saat ini dia miliki.


Pria tua itu menggeleng. "Bukan, Nak, jawabnya dengan suara bergetar.


Tangan Zahra sedikit bergetar dan terangkat untuk menyentuh kulit yang sudah tak lagi regang itu. Entahlah, tidak ada ketakutan dalam dirinya saat ingin menyentuh kulit pria tua di depannya ini. "Apa kamu Kakek Zahra?" tanya Zahra lagi.


"Hiks," tangis bahagia itu akhirnya pecah dari bibir Zahra.


Tapi dia tidak mau gegabah, dia harus memastikan sesuatu terlebih dahulu. "Ayah," panggil Zahra pada Kevin.


Kevin mengangguk. Setelahnya Zahra beralih menatap Kenzo, Ibra dan Dee. Mereka semua juga mengangguk mengerti akan isi kepala Zahra.


Zahra kembali berbalik menatap pria didepannya ini. Kini, tangan Zahra benar-benar menyentuh kulit tua pria itu. "Kakek," panggil Zahra dengan suara bergetar.


Pria itu mengangguk. "Ini Kakek, Nak," jawab Pria itu memegang tangan Zahra yang kini masih menyentuh wajahnya.


"Boleh Zahra peluk?" tanyanya pelan.


Tanpa menjawab pertanyaan Zahra, pria itu langsung membawa tubuh Zahra dalam pelukannya. Memeluk erat cucu yang sejak lama dia rindukan. Memeluk erat darah daging yang lama sekali tidak dia temukan. "Cucu Kakek," gumamnya senang dengan tangan mengusap lembut kepala Zahra yang tertutupi hijab.


Zahra mengangguk. Wanita itu menumpahkan tangisnya dalam pelukan sang Kakek. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi yang pasti saat ini dia sangat senang sekali bisa bertemu dengan keluarga kandungnya.


"Zahra nggak tahu apakah harus senang atau sedih sekarang," ucapnya dalam pelukan pria itu.


"Kenapa harus ada kata sedih, Nak?" tanya pria itu lembut.


"Sedih kenapa baru sekarang, Kek. Kenapa baru sekarang?" tanya Zahra dengan suara bergetar.


"Terkadang waktu memang begitu, Nak. Dia bukan menunda, tapi dia membutuhkan saat yang tepat seperti ini. Ada sesuatu yang kadang harus kita relakan untuk sebuah pertemuan," jawab pria itu lembut.


Pria itu melepaskan pelukannya dan menatap wajah berair Zahra. "Lihat Kakek," ucapnya.


Zahra mengangguk. Dia mengangkat kepala dan menatap pria itu dengan mata sembabnya.


"Wajah kita sama ya," ucap pria itu.


Zahra mengangguk. Tangan Zahra terulur menghapus air mata yang ada di pipi pria itu. "Seberapapun lamanya kita berpisah, darah daging tidak akan pernah terputuskan," ucap Zahra.


"Saat Zahra tahu semua kebenaranya, Zahra sangat menantikan saat-saat seperti ini. Zahra selalu menunggu Ayah Kevin menceritakan semuanya dan mempertemukan Zahra dengan keluarga kandung Zahra. Tapi Zahra tidak berani meminta," sambung Zahra.


"Kenapa Nak?"


"Zahra takut. Zahra takut mendengar kenyataan kalau,,, kalau Zahra memang sudah tidak memiliki keluarga kandung lagi. Zahra takut untuk berharap, Zahra tidak mau lagi penolakan, dan Zahra tidak mau lagi merasakan kehilangan, Kakek," jawab Zahra menatap Pria itu dengan tangis diwajahnya. Bahkan suara wanita itu tercekat karena tidak kuat dengan tangisnya.


"Rasanya sangat tidak enak sekali, hiks," ujar Zahra dengan tangis yang sudah tidak bisa dia tahan.


Pria itu memejamkan mata mendengar tangis cucunya yang terdengar begitu pilu. Tidak hanya dia, bahkan cucunya juga menanggung apa yang dia rasakan.


Sela yang melihat Bundanya menangis seperti membuat mata gadis kecil itu berkaca-kaca. Dia hendak turun dari pangkuan Kevin untuk menghampiri Zahra, namun dihalangi oleh Kevin. "Biarkan, Nak. Bunda Sela tidak apa-apa," ucap Kevin.


"Tapi Bunda menangis, Kakek," ucapnya menatap sendu Kevin.


"Percaya sama Kakek, ya," ucap Kevin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Sela.


Sela menurut. Anak itu kembali tenang dalam pangkuan Kevin. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya menurut dengan harapan bahwa apa yang dikatakan oleh Kevin adalah hal yang benar, jika Bundanya memang baik-baik saja.


Zahra menatap Pria didepannya dengan pandangan sendu. "Bisakah Kakek untuk tidak ikut pergi meninggalkan Zahra?" tanya Zahra lirih.


Pria tua itu mengangguk. "Dosa bagi Kakek meninggalkan dan menelantarkan kamu, Nak," jawabnya pelan.


"Bisakah Kakek berjanji tidak akan mengkhianati Zahra?" tanya Zahra lagi memastikan bahwa ketakutannya dimasa depan tidak akan terjadi. Mengingat bagaimana Sofia memperalatnya dulu, sangat menyakitkan sekali baginya.


"Tidak akan ada yang mengkhianati kamu, Nak. Kakek pastikan itu tidak akan terjadi," jawab pria itu yakin.


"Dulu Ibu yang merawat Zahra melakukan itu, Kek. Dia memperalat Zahra untuk dendamnya," ucap Zahra mengadu.


"Kakek lihat wanita cantik itu?" tunjuk Zahra pada Dee yang sudah berderai air mata disebelah Ibra.


Pria itu mengangguk.


"Dia itu wanita kuat. Wanita baik yang berbesar hati menerima Zahra. Kakek tahu, waktu itu Zahra adalah anak dari wanita yang mengganggu rumah tangganya. Tapi dia masih mau menerima Zahra sebagai anaknya juga. Dan Kakek tahu, wanita yang waktu itu Zahra ketahui sebagai ibu kandung Zahra, dia menggunakan Zahra untuk balas dendam pada wanita baik itu, Kak," ucap Zahra bergetar pada pria didepannya.


Pria itu mengangguk. Dia sudah tau cerita ini dari Kevin. Dia tahu semuanya. "Sekarang tidak akan ada lagi pengkhianatan, Nak," ucap pria tua itu pasti.


Zahra mengangguk. Pria itu berjalan meninggalkan Zahra dan berhenti tepat di depan Kenzo.


Kenzo yang melihat pria tua itu berhenti di depannya sontak berdiri. Kenzo tahu apa yang akan terjadi. Dengan yakin, Kenzo menggeser langkahnya ke belakang agar pria didepannya lebih leluasa untuk mengatur jaraknya.


BUGH


"BABA!"


"TUAN MURAT!"


"Eriye, bawa Sela ka kamarnya!"


......................


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏