
🌹HAPPY READING🌹
Setelah ini tidak akan ada lagi surat terkutuk seperti ini. Batin Al kesal dan langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Tanpa permisi, Al langsung membuka pintu ruang kepala sekolah dan masuk tanpa menghiraukan kepala sekolah yang menatapnya bingung.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Albarra?" tanya Kepala sekolah sopan. Al merupakan orang yang sangat berpengaruh untuk kemajuan sekolah ini. Al merupakan donatur terbesar di sekolah yang saat ini dia pimpin.
Tanpa menjawab, Al meletakkan amplop yang tadi dia ambil dari Sela di meja kepala sekolah.
Kepala sekolah yang melihat itu mengernyitkan dahinya bingung. "Apa ini, Tuan?" tanya kepala sekolah. Dia masih belum tahu jika amplop itu adalah amplop yang sama dengan yang tadi dia berikan pada Sela. Karena, semua surat dari sekolah akan di bungkus dengan amplop sama.
"Silahkan buka dan baca sendiri," ucap Al tegas.
Kepala sekolah menurut. Dia membuka amplop tersebut. "Ini ..."
"Ya! Itu adalah surat panggilan yang tadi anda berikan pada salah satu murid disini yang bernama Sela. Cabut catatan mengenai pembiayaan sekolah Sela. Dan ingat! Jangan berani-berani memberikan surat terkutuk ini kepada Sela jika kau masih ingin menjadi kepala sekolah disini," ucap Al. Dia tidak peduli apakah kepala sekolah tersebut tahu atau tidak, tapi yang pasti, Al sangat marah dan malu membaca surat tersebut.
"Tapi Tuan-"
"Tapi kenapa?" tanya Al cepat.
"Sela sudah menunggak lewat waktu yang diberikan. Bahkan untuk uang masuk sekolah saja, dia belum lunas," ucap Kepala Sekolah.
"Terus?" tanya Al menatap tajam kepala sekolah.
Kepala sekolah yang merasa benar dengan berani balas menatap mata Al. "Setiap murid disini harus segera melunasi biaya sekolah, Tuan. Jika tidak mampu, maka kami akan memberikan keputusan untuk mengeluarkannya. Sekolah kita ini bukan sekolah biasa, Tuan, ini adalah sekolah terbaik," ucap Kepala sekolah.
"Berapa tunggakan Sela?" tanya Al.
Kepala Sekolah nampak membuka sebuah buku dan mencari-cari nama Sela. "Ini Tuan," ucapnya memperlihatkan kepada Al besarnya nominal yang harus seger dilunasi oleh Zahra nanti.
Al mengeluarkan selembar cek dan bulpen dari saku jasnya. Lelaki itu menuliskan nominal yang sungguh tidak terduga oleh kepala sekolah.
"Ini," ucap Al mendorong kasar cek tersebut.
Kepala sekolah mengambil cek tersebut dengan tangan bergetar. "Sa-satu miliyar," ucap Kepala sekolah gugup.
"Itu semua adalah biaya pendidikan Sela hingga dia menyelesaikan sekolah di yayasan ini. Dan jangan pernah memberi surat terkutuk itu lagi kepadanya," ucap Al berbalik hendak meninggalkan ruang kepala sekolah. Namun, belum kakinya melangkah, Al kembali berbalik. "Aku tidak peduli kau tahu atau tidak. Tapi satu yang pasti, jangan pernah melukai hati cucu kandung keluarga Hebi. Atau masa depanmu akan terancam!" ucap Al tegas dan berlalu keluar dari ruangan kepala sekolah.
Al menghela nafas pelan saat dia keluar dari ruangan kepala sekolah. "Huh, Cek Kenzo benar-benar sangat berguna. Setidaknya lu membayar sedikit tanggung jawab untuk anak Lo, Ken," ucap Al lega.
Ya, cek yang ada di saku Al adalah milik Kenzo. Lelaki itu mendapatkannya karena sebelum dia ke sekolah Sela, dia pergi ke kantor Kenzo untuk mengambil beberapa lembar cek yang digunakan untuk kerjasama perusahaan Al dan perusahaan Kenzo. Dan saat membaca surat tadi, ide itu langsung terlintas di kepala Al. Tapi, mengenai kemarahan Al kepada kepala sekolah, itu bukan main-main. Siapapun yang menghina atau melukai keluarganya, maka sedikit kemungkinan bagi orang tersebut untuk melihat matahari esok hari.
.....
Mata Zahra menatap sendu seorang wanita yang kini berjalan kearah mobil yang saat ini dia tempati. Kita akan bahagia walau hanya berdua, Nak. Batin Zahra mengingat bagaimana harapan Sela yang begitu besar mengenai Kenzo.
Kenzo tersenyum tampan saat melihat wanita tersebut berjalan mendekati mobil mereka. Kenzo membuka kaca dan mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang, di sebelah Zahra. Sedangkan dia pindah ke kursi kemudi. Karena sopir yang tadi mengantar mereka sudah keluar dari mobil atas perintah Kenzo.
"Hai," sapa wanita itu ramah mengulurkan tangannya pada Zahra.
Zahra diam sebentar. Hingga beberapa detik, dia menerima uluran tangan wanita tersebut untuk bersalaman. "Halo," jawab Zahra.
"Kenalin, aku separuh jiwa Kenzo."
DEG
Jantung Zahra berdetak cepat mendengar perkataan wanita tersebut. Separuh jiwa Kenzo? Jadi benar dugaannya bahwa wanita ini adalah istri Kenzo.
Zahra hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan wanita tersebut. Entahlah, Zahra tidak tahu harus bagaimana memperkenalkan diri saat ini. Bibirnya selalu berucap tidak pada Kenzo. Tapi hatinya sakit mendengar perkataan wanita ini yang mengatakan bahwa dia adalah separuh jiwa Kenzo.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Zahra," ucap wanita tersebut.
"Saya?" tanya Zahra menunjuk dirinya sendiri.
Wanita tersebut mengangguk. "Iya, kamu. Istri separuh jiwa saya," ucap wanita tersebut menatap Kenzo.
Kenzo yang mendengar itu berdecak pelan. "Jangan berbelit-belit," ucap Kenzo kesal.
"Tapi-"
"Atau aku akan berubah pikiran," ancam wanita tersebut.
Dengan kesal Kenzo keluar dari mobil dan menunggu dengan berdiri bersandar di kap mobil depan.
"Pantas Kenzo tergila-gila padamu, Zahra," ucap wanita tersebut memulai pembicaraan setelah Kenzo keluar dari mobil.
Zahra menggeleng. "Jangan salah paham. Aku hanya bagian dari masa lalunya," ucap Zahra tak enak. Dia takut perkataanya akan melukai hati wanita yang dia ketahui adalah istri Kenzo sekarang.
"Aku juga masa lalunya, Zahra. Dan juga akan ada dalam bagian masa depannya, bahkan kalian," ucap Wanita tersebut.
"Maksudnya?" tanya Zahra tak paham.
"Aku adalah Kinzi, Zahra."
Deg
Ya Tuhan, apalagi ini? Jadi dari tadi Zahra mengumpat kan hal yang tak pasti kebenarannya. Maafkan Zahra Ya Allah. Batin Zahra menyesal atas segala prasangka yang membuat hatinya terluka.
"Kak Kinzi?" ucap Zahra memastikan.
Kinzi mengangguk. "Iya, Zahra. Aku Kinzi, saudara kembar dari suamimu," ucap Kinzi lebih menjelaskan siapa dirinya.
"Zahra senang Kakak dalam keadaan baik-baik saja sekarang," ucap Zahra tulus.
"Terimakasih, Zahra," ucap Kinzi.
Kinzi memegang tangan Zahra. Mata Kinzi menatap Zahra dengan tulus dan sendu. "Maaf jika aku terlambat bangun, Zahra," ucap Kinzi menyesal. Harusnya dia bisa lebih cepat bangun dari koma sialan itu.
Zahra tersenyum menggeleng. "Bukan salah Kak Kinzi. Mungkin ini bagian dari kehidupan yang harus Zahra jalani," ucap Zahra.
"Apa Kak Kinzi sudah memaafkan Abang Zahra?" tanya Zahra dia takut Kinzi akan mengangguk rumah tangga Al.
"Aku tidak pernah marah kepada Abang mu, Zahra. Awalnya aku memang marah, tapi Al membuka pikiranku. Karena jika kami tetap bersama, maka kami tidak akan bahagia. Kami hanya ditakdirkan untuk menjadi seorang teman, tidak lebih," jawab Kinzi yakin.
Senyum mengembang keluar dari mulut Zahra. "Terimakasih sudah berlapang dada, Kak," ucap Zahra tulus.
"Zahra," panggil Kinzi lembut.
"Kenzo mencintaimu, Zahra," lanjut Kinzi.
Zahra yang mendengarnya hanya tersenyum kecut. "Itu bukan cinta, Kak. Kak Ken hanya ingin menebus penyesalannya, tidak lebih. Dia mencintai wanita lain yang merupakan adik Zahra," ucap Zahra.
Kinzi menggeleng. "Kina maksud kamu?" tanya Kinzi.
Zahra mengangguk dengan senyum sendunya. "Apa yang diucapkan, belum tentu sebuah kenyataan, Zahra," ucap Kinzi mencoba memberi penjelasan.
"Perkataan Kenzo dulu hanya untuk menutupi perasaanya, Zahra. Hatinya saat itu dipenuhi dendam dan amarah. Saat ini semua yang keluar dari mulutnya adalah sampah, Zahra," ucap Kinzi meyakinkan Zahra.
"Tapi sampah itu memberi bau yang sangat menyengat bagi hati Zahra, Kak. Bahkan sampah itu melukai dengan tajamnya," jawab Zahra menatap Kinzi dengan mata berkaca-kaca.
"Zahra tentu tidak perlu mengatakan bagaimana perlakuannya. Zahra yakin, Kakak pasti tahu apa yang terjadi saat itu," lanjut Zahra.
Kinzi mengangguk. "Aku mengerti, Zahra, bahkan itu sangat menyakitkan. Tapi-"
"Tapi apa Kak? Apa Kakak ngomong seperti ini agar Zahra memaafkan dan kembali menerimanya?" ucap Zahra melihat Kenzo yang berdiri di luar mobil.
......................
Hai teman-teman, bertemu lagi dengan tulisan aku. Semoga kalian selalu sabar dan tidak bosan, ya.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz untuk melihat keseruan Sela bersama Ayah Ken dan Buna, ya. Dan juga banyak kata kata indah disana yang bisa jadi semangat kalian 🤗😘