Painful Marriage

Painful Marriage
BAB 117



🌹HAPPY READING🌹


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Saat ini, Zahra ditemani oleh Bu Sari. Sedangkan yang lainnya masih berada di kediaman Dee karena tadi mengurus pemakan Sofia.


Ibra memaksa untuk ikut walaupun Dee sudah sangat melarangnya. Lelaki itu bersikeras untuk melihat pemakaman Sofia. Aku takut nanti jenazahnya lari. Alasan konyol yang diberikan Ibra hanya mampu membuat Dee geleng kepala dan akhirnya mengizinkan lelaki itu untuk ikut.


"Bu," panggil Sofia pada Bu Sari yang sedang menata buah pemberian beberapa orang yang datang untuk menjenguk Zahra.


"Iya, Nak," jawab Bu Sari lembut dan berjalan mendekat ke arah Zahra.


Bu Sari duduk di kursi sebelah ranjang. "Ada apa Zahra? Apa ada yang sakit?" tanya Bu Sari sedikit khawatir.


"Ibu, terimakasih banyak, ya," ucap Zahra tulus.


"Terimakasih?" beo Bu Sari tak mengerti dengan maksud perkataan Zahra.


"Terimakasih, karena Ibu memberi kehidupan baru untuk Zahra. Jika saja Ibu tidak menyelamatkan Zahra saat bencana itu, maka Zahra sudah tidak ada disini sekarang, Bu. Bahkan Zahra sudah tidak ada di dunia ini lagi," ucap Zahra menatap Bu Sari lembut.


"Nak," ucap Bu Sari agar Zahra menghentikan perkataanya. Dia sudah menganggap Zahra sebagai anaknya sendiri, tentunya tidak ada pamrih dalam hubungan ibu dan anak, bukan? Seorang ibu hanya akan memberikan ketulusan kepada seorang anak. Begitu juga seorang anak yang memberikan kasih sayang tulus kepada orang tuanya.


"Dan terimakasih juga karena Ibu sudah menerima Zahra dengan ikhlas dan lapang dada dengan semua kerasa kepala Zahra. Zahra sayang Ibu. Ibu mau kan jadi Ibu Zahra?" tanya Zahra.


Bu Sari tersenyum. "Kamu sudah Ibu anggap sebagai Ibu sendiri, Nak. Kamu adalah anak Ibu," jawab Bu Sari.


"Ibu tidak akan meninggalkan Zahra kan?" tanya Zahra sendu.


"Nak, setiap ada pertemuan, akan ada perpisahan. Setiap kedatangan, akan ada kepergian. Meskipun Ibu tidak akan pergi meninggalkan mu, tapi jika mau yang memaksa Ibu untuk pergi, tidak ada yang bisa menghalangi, Nak," ucap Bu Sari lembut mengusap kepala Zahra yang kini tidak tertutup hijab. Karena hanya mereka berdua, maka Zahra tidak menggunakan jilbabnya.


Karena semua Ibu Zahra pergi, Bu. Zahra hanya takut jika Bu Sari juga pergi meninggalkan Zahra nanti. Batin Zahra sendu menatap Bu Sari.


"Bu," panggil Zahra pelan.


"Iya, Nak," jawab Bu Sari.


"Rasanya trauma dengan yang namanya kehilangan," ucap Zahra sendu.


"Apa Zahra memikirkan Bunda Sofia?" tanya Bu Sari menebak apa yang ada di hati Zahra saat ini.


Zahra mengangguk disertai dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Tidak bisa Zahra pungkiri, Zahra sayang Bunda Sofia, Bu," ucap Zahra dengan suara bergetar.


Bu Sari mengangguk. "Ibu paham, Nak," jawab Bu Sari.


"Bagaimanapun juga, Bunda Sofia yang membesarkan Zahra. Meskipun ada unsur terpaksa dan mengambil keuntungan disana, setidaknya dia pernah memberi kasih sayang walau hanya sandiwara, Bu," jawab Zahra lirih.


Bu Sari tertegun mendengar perkataan Zahra. Sungguh kuat anak ini. Dia mampu menerima semua kebenaran tentang dirinya. Dia mampu menampung semua kesedihan yang bertubi-tubi menghampirinya. "Yang dia butuhkan sekarang bukan tangisan kita, Nak. Dia butuh doa sekarang," ucap Bu Sari mengusap punggung Zahra.


Zahra mengangguk. "Zahra akan selalu doakan Bunda Sofia, Bu," ucap Zahra tulus.


Bu Sari tersenyum dan mengangguk. Semoga kedepannya takdir baik selalu menghampiri kamu, Nak. Batin Bu Sari.


"Bu," panggil Zahra lagi pada Bu Sari.


"Iya Nak," jawab Bu Sari.


"Ibu berhenti bekerja dari panti, ya," pinta Zahra dengan wajah memohon.


"Maksud Zahra, Ibu berhenti bekerja, tapi Zahra tidak melarang Ibu untuk datang ke panti. Ibu harus bahagia di masa tua Ibu. Ibu mau, ya?" pinta Zahra penuh harap.


"Tapi, Nak-"


"Zahra mohon, Bu," ucap Zahra sedikit memaksa.


Bu Sari menghela nafas pelan. Setelah itu dia mengangguk dan tersenyum menatap Zahra.


"Dan satu lagi," ucap Zahra tersenyum dan menggantung sedikit ucapannya.


Bu Sari hanya diam menunggu Zahra melanjutkan ucapannya.


"Ibu mulai sekarang dan selamanya, harus tinggal bareng sama Zahra, Mas Kenzo dan Sela, ya,* pinta Zahra.


"Tapi, Nak Kenzo-"


"Mas Kenzo pasti setuju, Bu. Zahra yang jadi bos nya sekarang," ucap Zahra percaya diri.


Zahra tersenyum lebar saat mendengar jawab Bu Sari. Setidaknya, dengan begini dia bisa memantau terus kesehatan dan kehidupan Bu Sari agar tetap baik hingga akhir hayatnya.


"Wah, wah, ada yang bahagia banget," ucap Kenzo yang tiba-tiba memasuki ruang rawat Zahra bersama si kecil Sela.


"BUNA!" pekik Sela senang dan berlari menuju ranjang Zahra.


"Sayang," ucap Sela memanggil Sela.


"Iya Sayang," jawab Kenzo dengan percaya dirinya.


"Aku manggil Sela, Mas. Bukan kamu," ucap Zahra yang langsung membuat Kenzo terdiam dan mengerucutkan mulutnya lucu.


"Malunya kalau jadi Ayah," ucap Sela yang imut meledek Kenzo.


Bu Sari dan Zahra tertawa melihat Kenzo dan Sela.


"Sela," panggil Bu Sari.


"Iya Nek," jawab Sela.


"Temani Nenek ke kantin, mau?" tawar Bu Sari.


"Es Klim?" tawar Sela yang segera dianggukki oleh Bu Sari.


Sela bersorak senang dan kembali turun dari kasur Zahra. Bu Sari dan Sela keluar dari ruangan dan meninggalkan Zahra berdua dengan Kenzo.


Bu Sari paham, Zahra pasti butuh waktu berdua bicara dengan Kenzo mengenai pemakaman Sofia tadi.


"Mas," panggil Zahra.


"Iya Sayang," jawab Kenzo sambil berjalan menuju ranjang. Kenzo duduk di ranjang bagian kaki Zahra agar lebih dekat dengan istri tercintanya itu.


"Umi, Abi dan yang lainnya kemana, Mas?" tanya Zahra saat tidak melihat kedatangan keluarganya yang lain.


"Yang lainnya masih dirumah Abi, Sayang. Berdoa bersama untuk Sofia setelah dari pemakaman," jawab Kenzo.


"Mas tidak ikut?" tanya Zahra memicingkan matanya.


Kenzo tersenyum tanpa dosa. "Sudah banyak yang ikut berdoa, Sayang. Itu pasti cukup buat bantu Sofia agar lebih cepat masuk surga. Toh doa aku belum tentu diterima kan," ucap Kenzo.


"Mas," ucap Zahra sedikit tak suka.


"Iya, iya. Maaf, Sayang, becanda saja Mas mu ini. Umi memintaku untuk kembali agar ada yang menemani kamu, Sayang. Lagian disana juga sudah ada yang menguruskan. Dan sekarang, aku akan mengurus istriku," jawab Kenzo.


"Ayah Kevin ...?"


"Ayah Kevin adalah lelaki yang kuat, Sayang. Nanti, setelah doa, Ayah segera kesini," jawab Kenzo.


"Minta Ayah untuk cepat kesini, ya Mas," mohon Zahra yang dibalas anggukan oleh Kenzo.


"Mas, kapan aku akan keluar?" tanya Zahra.


"Sampai kamu sembuh, Sayang," jawab Kenzo santai.


"Tapi Abi sudah boleh keluar-keluar," protes Zahra melihat Ibra yang nampak bebas tanpa ada kesakitan. Sedangkan dia, padahal mereka sama-sama menjalankan operasi, tapi mengapa dia sembuh lebih lama dari Ibra. Zahra benar-benar berpikir dirinya sangat lemah.


Kenzo menatap Kenzo dengan tatapan menggodanya. "Apa kamu mau keluar dari rumah sakit dan segera membuat adik untuk Sela, Sayang?"


"Mas!"


......................


Buat yang belum lihat pesan Kenzo, kalian bisa lihat di postingan Instagram author yaa 😉


Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.


Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍


Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏