
🌹HAPPY READING🌹
Tiba-tiba ide jahil terlintas dalam pikiran Zahra. "Mas kamu nggak mau minta maaf juga?" tanya Zahra.
"Iya Sayang. Aku juga minta maaf," ucap Kenzo.
"Aku akan maafin, tapi dengan satu syarat," ucap Zahra.
"Apa?" tanya mereka serentak dengan semangat.
"Tunggu sebentar," ucap Zahra lalu bangun dan berlari menuju kamarnya.
"HATI-HATI, SAYANG!" teriak Kenzo melihat Zahra berlari dengan lincahnya, bahkan saat menaiki tangga. Kenzo hanya takut istrinya jatuh dan berakibat fatal nantinya.
Zahra yang mendengar teriakan Kenzo langsung merubah langkahnya yang tadi berlari, sekarang berjalan. "Maaf Mas," ucap Zahra dengan senyum lebarnya. Lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Bunda ambil apa, ya Ayah?" tanya Sela pada Kenzo.
"Mana saya tahu, saya kan ikan!" jawab Kenzo ketus menatap anaknya itu.
Sela menatap kagum setelah mendengar jawaban Ayahnya. Bukannya marah, anak itu malah bertepuk tangan senang. "Cela dapat kata balu lagi," ucap anak itu riang.
Dan benar saja, kekesalan Kenzo bertambah melihat senyum dan tawa anaknya itu. Niatnya ingin membuat Sela kesal, malah dia yang bertambah kesal sekarang.
"Sama anak harus lebih sabar, Ken," ucap Bu Sari menyemangati Kenzo. Dia kasihan juga melihat Kenzo yang selalu dibuat kesal oleh Sela, tapi dia tidak bisa membelanya, karena terkadang apa yang dikatakan gadis kecil itu adalah benar, meskipun membuat orang kesal.
"Itu Bunda kembali, Sayang," ucap Bu Sari melihat Zahra yang sudah berjalan menuruni tangga.
Sela melihat Bundanya yang berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan dibelakang punggungnya. Begitu juga dengan Kenzo, dia sedikit was-was mendengar apa syarat yang akan diberikan istrinya itu. Perasaanya tiba-tiba jadi tidak enak melihat senyum manis istrinya itu.
Zahra berdiri di depan Sela dan Kenzo. "Sela, Mas," ucap Zahra pelan.
"Ini," ucap Zahra girang menunjukkan apa yang ada di tangannya.
.....
Zahra tertawa keras melihat anak dan suaminya yang sedang berjoget mengikuti suara musik dari sebuah aplikasi, yang saat ini sedang disenangi banyak orang. Tangannya dengan tenang memegangi dua ponsel, yang satu untuk merekam semua kegiatan anak dan suaminya, dan yang satu lagi memutar musik yang digunakan oleh Kenzo dan Sela untuk beegoyang. Begitu juga dengan Bu Sari, beliau tertawa sampai mengeluarkan air mata melihat anak dan Ayah itu.
"Hahaha ayo semangat Ayah!" ucap Sela senang sambil menggoyangkan pinggulnya keatas dan kebawah dengan tangan yang di putar-putar di depan dadanya.
Kenzo rasanya ingin menangis saja sekarang. Dia benar-benar diberi hukuman yang sangat berat oleh Zahra. Besok-besok dia tidak akan mau lagi membuat istrinya itu kesal.
Bayangkan saja, Zahra memberikan dua daster miliknya kepada Sela dan Kenzo. Sela dan Kenzo harus memakai daster itu sambil berjoget ria. Dan tidak lupa bibir Ayah dan anak itu diolesi lipstick merah menyala oleh Sela. katanya biar anak dan Ayah itu makin semangat.
Kenzo menerima dengan pasrah, kesal, jengkel dan semuanya bercampur menjadi satu. Dia tidak bisa menggambarkan perasaan apa yang ada di hatinya saat ini. Jika menolah, maka kemarahan istrinya yang akan dia dapat, jika diterima, maka dia harus rela terlihat seperti orang gila saat ini. Dunia benar-bebar menguji kesabaran Kenzo.
Berbeda dengan Kenzo, Sela dengan senang hati menerima persyaratan bundanya itu. Ini yabg sangat dia inginkan. Bergoyang bersama sang Ayah dan nanti akan dimasukkan ke akun miliknya. Anak itu dengan sangat semangat menggerakkan pinggulnya lincah. Entah darimana anak itu belajar, yang jelas dia terlihat seperti ahli dalam berjoget. Dan tentu saja tingkah Sela membuat Kenzo semakin kesal. Anak itu sangat menikmati kegiatan mereka, Kenzo benar-benar ingin pergi ke langit ke tujuh saat ini juga.
"Semangat Mas!" ucap Zahra menyemangati suaminya yang nampak bergoyang asalan.
"Sayang, udah ya," rengek Kenzo pada Zahra.
"Udah, Nak. Ibu ikut kasian melihat suami kamu," ucap Bu Sari yang tak tega melihat Kenzo.
Zahra mematikan musik dan kamera yang ada di ponsel yang berbeda itu, menandakan kegiatan mereka sudah harus dihentikan. "Kok belhenti, Buna?" tanya Sela.
"Heh udah! Pinggang Ayah udah mau patah ini," ucap Kenzo pada anaknya itu.
"Udah tua makanya gitu," jawab Sela santai. Dia sebenarnya juga lelah, tapi semangatnya sangat membara saat ini.
Sela dan Kenzo mendudukkan tubuh mereka di karpet berbulu yang ada diruang keluarga. "Katanya nggak capek," ucap Kenzo menyindir Sela yang kini ikut selonjoran sambil memukul-mukul pelan kakinya yang terasa pegal.
"Capek itu manuciawi, jadi ciapapun boleh," ucap Sela menjawab. Sungguh, Kenzo benar-benar tidak akan menyangkan jawaban itu yang akan diberikan anaknya. Mulut pedas tingkat dewa memang anaknya itu.
Zahra ikut mendekat kepada anak dan suaminya. Sedangkan Bu Sari sudah pamit terlebih dahulu untuk ke kamar karena sudah mengantuk.
"Lihat, Mas, Sela, bagus kan," ucap Zahra senang melihatkan rekaman videonya.
"Waaah, Cela cantik banget dicana," ucap anak itu takjub melihat wajahnya yang cantik di kamera.
Sela dan Zahra asik melihat-lihat video itu. Kenzo yang memperhatikan ikut tersenyum. Sekarang aku tak menyesal melakukan ini. Ada hadiah besar yang aku dapatkan, senyum istri dan anakku. Batin Kenzo senang melihat tawa lepas anak dan istrinya.
.....
Hari ini, Zahra memilih untuk menunggui anaknya disekolah. Saat ini, dia sedang duduk bersama Kina dan beberapa orang tua murid lainnya. Sejak Bu Nita tidak ada, orang tua murid banyak yang berbaur dengan Zahra, dan mereka juga saling bertukar cerita.
"Bu Nita itu yang selalu meminta kami menjauhi Bu Zahra. Dia itu benar-benar jahat, jadi sangat bagus kalau anaknya pindah sekolah," ucap salah satu orang tua murid itu bergosip. Dan ikut ditimpali oleh Ibu-ibu yang lainnya.
Zahra dan Kina hanya tersenyum dan sesekali mengangguk menanggapi perkataan para Ibu-ibu itu. Ini sudah hal biasa, mereka semua hanya berani mengatakan Bu Nita dibelakang, tali jika di depan Bu Nita langsung, mereka sangat tunduk dan takut.
Zahra mengernyit sakit merasakan nyeri di perutnya. Tangannya meremas kuat dan sebisa dia tahan agar tak membuat semua orang yang ada disana khawatir. Lama semakin lama, sakitnya semakin menjadi. Wajah Zahra sangat pucat dan keringat dingin yang membasahi badannya karena menahan sakit.
Kina yang duduk disebelah Zahra terkejut ketika menoleh melihat wajah Kakaknya itu. "KAKAK!" pekik Kina khawatir melihat Zahra yang sudah lunglai. Begitu juga dengan Ibu-Ibu yang lain.
Sela dan Shasa yang melihat seperti syara ribut dari kelas mereka, ikut berlari keluar. Begitu juga dengan guru dan beberapa siswa lainnya.
"BUNA!"
......................
Nanti video Sela dan Ayah Ken, akan ada di Instagram aku, jadi jangan lupa mampir, ya 😉
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏