
🌹HAPPY READING🌹
"Aku ada tugas untukmu, Arman," ucap Kenzo tanpa basa-basi. Bahkan, lelaki itu tidak mengucapkan selamat pagi sedikitpun pada Arman atau sapaan yang lainnya.
Arman juga tidak protes, dia sudah tahu bagaimana kebiasaan bosnya itu yang tidak suka bertele-tela. "Tugas apa, Tuan?" ucap Arman sopan.
"Aku ingin kau selidiki orang ini beserta keluarganya," ucap Kenzo memberikan sebuah foto kepada Arman.
"Dia siapa, Tuan?" tanya Arman penasaran.
"Dia wanita yang sudah berani menghina anak dan istriku!" ucap Kenzo dingin dengan tangan terkepal.
"Akan saya laksanakan, Tuan," ucap Arman patuh.
Punya nyali besar juga wanita ini. Batin Arman kagum. Jika saja wanita itu tahu bagaimana kejamnya Kenzo, maka bisa dipastikan wanita itu akan mundur sebelum berperang.
"Aku mau informasinya nanti siang!" lanjut Kenzo aku tegas tanpa mau dibantah.
Dengan patuh Arman mengangguk. Dia pamit keluar untuk segera mengerjakan apa yang Kenzo perintahkan.
"Aku seperti pernah melihat wanita ini. Tapi dimana?" gumam Kenzo setelah sampai di ruangannya dan menatap lekat foto yang tadi diberikan oleh Kenzo.
Tidak ingin larut dalam penasarannya, Arman segera mengetikkan sesuatu di laptop yang ada didepannya. Tangannya dengan lihai menekan tombol-tombol di laptop tersebut.
.....
Disekolah nya, Sela belajar dengan serius bersama Shasa. Kedua anak itu nampak sangat kompak dalam menyelesaikan gambar mereka.
Zahra dan Kina yang melihat itu tersenyum senang. "Nggak nyangka ya, Kak. Anak kita sama besar," ucap Kina dengan senyum menghiasi wajahnya.
Zahra mengangguk setuju. "Bukankah ini dulu mimpi kita, Dek?" tanya Zahra menatap Kina.
Kina mengangguk setuju. Saat mereka masih berusia belasan, ini adalah mimpi yang selalu mereka ceritakan ketika tidur. Memiliki anak yang seumuran, menemaninya sekolah bersama dan menjadikan anak mereka sahabat seperti sekarang ini. Meskipun mereka saudara, tapi Sela dan Shasa juga membangun persahabatan yang sangat baik. Entahlah, tingkah Shasa dan Sela memang membuat semua keluarga geleng kepala.
"Tidak berencana untuk menambah adik buat Sela, kak?" tanya Kina penasaran.
"Jika Allah memberi amanah, kenapa tidak?" ucap Zahra bertanya balik kepada sang adik.
"Tidak ada doa penolak rezeki, bukan?" ucap Kina dengan nada bercandanya. Mereka berdua saling tertawa bersama. Sudah lama sekali rasanya tidak tertawa lepas berdua seperti ini. Biasanya, sebelum mereka menikah, tawa bahagia adalah kebiasaan mereka sebelum tidur.
Ditengah tawa Kina dan Zahra, wanita yang tidak diundang datang menghampiri mereka.
"Baru istri pemilik sekolah saja, sudah bangga. Haha hihi disini seenaknya!" ucap Nita ketus yang datang tiba-tiba.
"Hai, Bu Nita," ucap Zahra ramah menyapa Bu Nita tanpa mempedulikan sindirannya.
"Jangan sok baik, Kamu. Kamu ingat, ya! Saya akan beri pembalasan kepada anak kamu yang mulutnya sama sekali tidak disekolahkan itu. Benar-benar tidak sopan!" ucap Nita ketus.
Kina yang sudah berapi-api hendak memprotes dicegah oleh Zahra. Zahra menahan tangan Kina yang hendak berdiri. Hingga akhirnya, Kina pasrah dan membiarkan kakaknya melawan wanita tidak tahu diri didepan mereka.
"Saya selalu mengajarkan anak saya untuk sopan, Bu. Dia akan sopan kepada orang yang juga sopan," ucap Zahra memberi jawaban.
"Kamu mengatakan saya tidak sopan?" tanya Nita marah.
"Saya tidak bilang itu. Tapi jika ibu merasa begitu, ya mau gimana," ucap Zahra santai. Pengakuan suaminya kemarin membuat Zahra sedikit berani melawan ejekan dan hinaan yang dilontarkan Bu Nita kepadanya.
"Berani kamu, ya!"
"Kenapa saya harus takut. Ibu bukan Tuhan yang harus saya takuti," jawab Zahra santai. Wanita itu masih nampak tenang melawan setiap perkataan kasar Juta. Kina yang melihat itu tersenyum bangga.
Ini baru si singa betina Zahra. Batin Kina senang melihat Bu Nita yang semakin merah padam karena Zahra.
"Saya ini istri seorang konglomerat, ya. Suami saya itu seorang direktur utama di perusahaan Turki. Jadi jangan mentang-mentang kamu istri pemilik sekolah ini, bisa tidak sopan pada saya. Suami kamu tidak ada apa-apanya dibanding suami saya!" ucap Nita sombong membanggakan suaminya yang merupakan pekerja dia perusahaan luar negeri.
"Pekerjaan suami Ibu tidak ada urusan dengan saya. Jadi jangan promosi begitu, Bu," jawab Zahra.
"Sakit jiwa!" ketus Kina begitu menatap kepergian Nita.
"Jika kita ikut marah, maka kita sama sakit jiwa sepeti dia, Dek," ucap Zahra dengan senyum manisnya.
"Bisa-bisanya ada orang seperti itu di dunia ini, Kak," ucap Kina tak habis pikir.
"Jangankan manusia seperti Bu Nita, Dek. Banyak yang lebih parah dari itu. Bunda Sofia contohnya," ucap Zahra dengan membatin di ujung kalimatnya.
"Semoga kita tidak termasuk golongan manusia seperti itu, ya Kak," ucap Kina.
"Aamiin," jawab Zahra tulus.
.....
"Bagaimana?" tanya Kenzo tanpa basa-basi ketika Arman memasuki ruangannya.
"Ini akan mengejutkan bagi anda, Tuan," jawab Arman..
"Apa maksudmu?" tanya Kenzo penasaran.
"Bacalah, Tuan," ucap Kenzo memberikan sebuah file kepada Kenzo.
Kenzo menerima file tersebut dan membukanya. Dia membaca setiap detail huruf yang terangkai menjadi kata dan membentuk sebuah kalimat.
"Kejutan besar," ucap Kenzo senang dengan senyum sumringahnya. Kartu As wanita yang selama ini menghina istri dan anaknya sekarang sudah dia ketahui.
"Ternyata bukan siapa-siapa," ucap Kenzo tersenyum senang.
"Apa yang akan anda lakukan, Tuan?" tanya Arman.
"Aku akan mengubungi Ayah Kevin untuk ini, Arman. Sekarang kau boleh keluar. Terimakasih," ucap Kenzo tulus.
Arman tersenyum dan mengangguk. Ini lah perubahan yang dia suka dari Kenzo sekarang ini. Kenzo bisa menghargai setiap pekerjaannya meski hanya dengan kata terimakasih. Itu rasanya sudah lebih dari cukup.
Kenzo mengeluarkan ponselnya. Tangannya dengan lihai mencari nama seseorang yang akan dia hubungi.
"Assalamu'alaikum," sebuah suara terdengar dari balik telepon Kenzo setelah panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam, Ayah," jawab Kenzo.
"Ada apa, Ken? Apa semua baik-baik saja? Zahra tidak apa-apa kan?" tanya Kevin beruntun.
Kenzo tersenyum. "Tidak apa-apa, Ayah. Semua baik-baik saja. Tapi aku butuh tindakan Ayah saat ini," ucap Kenzo.
"Tindakan apa?" tanya Kevin dari seberang sana.
"Tuan Emir Geraldi. Aku ingin Ayah memberi dia kejutan," ucap Kenzo menyebutkan nama seseorang yang saat ini menjadi tujuannya.
"Emir Geraldi? Siapa dia?" tanya Kevin tak tahu.
Kenzo tergelak kecil. Ayahnya saja tidak mengenal nama itu, bagaimana istri lelaki itu bisa dengan sangat sombong menghina Sela dan Zahra, dua wanita kesayangan Kenzo.
"Emir Geraldi, salah satu sopir utama di Türk Mücevher."
......................
Terimakasih kalian masih setia mengikuti kita Zahra dan Kenzo. Semoga kalian tidak bosan dan tetap setia.
Tinggalkan jejaknya ya teman-teman. Like, komentar dan vote kalian sangat berguna buat aku. Aku sayang kalian 🌹🌹😍
Dan jangan lupa untuk follow Instagram aku @yus_kiz. Jangan lupa ikuti juga novel aku di aplikasi hijau ga teman-teman, TERIMAKASIH 🤗🙏